
Langit menghitam sempurna. Cahaya matahari sudah tak tampak lagi, digantikan dengan kerlipan bintang. Jingga berjalan menundukan kepalanya kembali ke asrama dengan tentengan keresek berisi sabun, sikat gigi dan shampo.
Karena Jingga hanya bisa berbelanja di satu- satunya toko yang ada di depan asrama itu, Jingga pun memakai barang seadanya yang harga dan kualitasnya jauh berbeda dengan barang perawatan yang tertinggal.
Hari pertama jauh dari keluarganya ternyata cukup berat. Jingga juga belum melihat ponselnya.
Belum juga genap sehari tak bertemu, wajah Buna dan adik kembarnya terbayang ke benak Jingga. Ada kerinduan yang menyesap ke dalam relung jiwanya, padahal keinginan Jingga ingin pergi lama menghilang dari keteraturan hidupnya itu. Ekspektasi memang tak seindah realita.
“Huuft, aku harus buktikan ke Buna dan Baba, Jingga bisa dipercaya, Jingga sudah dewasa, Jingga bisa hidup baik tanpa pengawal Babanya,” batin Jingga menguatkan diri.
“Ceklek” Jingga membuka pintu kamarnya.
Dua temanya terlihat berbaring memegang ponsel masing-masing dengan santainya. Mendengar kedatangan Jingga, mereka pun menoleh.
“Lo nggak jadi belanja Ngga?” tanya Uti melihat isi kresek Jingga sangat sedikit.
“Toko bajunya udah tutup!” jawab Jingga lesu. Meletakan barang belanjaan di lemarinya.
Jingga benar- benar hanya beli sabun cair merek pasaran yang harganya paling mahal di toko, meski itu semua Jingga anggap sangat murah. Bayangkan saja sabun yang Jingga pakai saat di rumah seharga ratusan ribu, yang Jingga beli sekarang 30 ribu.
Jingga membeli shampo, konditioner, pasta gigi, sikat gigi, parfum, pelembab, deodoran, lipstik dan ikat rambut. Jingga terlihat sangat pucat dan wajanya nanar, di toko itu tidak dijual make up, bedak, sunscream, serum dan perawatan skincare lainya.
"Ya Tuhan, semoga aku nggak jerawatan pakai semua produk ini?" batin Jingga sangat kesal.
Jingga sebenarnya bisa menelfon keluarganya, dengan jet pribadinya Bunanya bisa mengantar apa yang Jingga mau, tapi Jingga tau jika Jingga mengadu Babanya tahu yang ada Jingga akan dipaksa pulang dan tunangan secepatnya. "Ah tidak... tidak!" batin Jingga.
“Hemmm, terus lo gimana?” tanya Tari peduli.
“Gue beli ****** *****, handuk dan braa kok! Untungnya ada, tapi pakaian luar gue nggak ada, boleh pinjam punya kalian dulu nggak?” tanya Jingga cemberut dengan wajah pucatnya. Ini pertama kalinya Jingga merendahkan diri meminjam pakaian orang lain.
“Yakin lo mau pinjam baju kita?” tanya Uti.
Uti tau pakaian yang menempel di tubuh Jingga, selalu pakaian brandid yang harganya jika dibandingkan punya Uti berbanding 10 kali lipat bahkan lebih. Rata-rata pakaian Jingga berharga jutaan. Sementara Tari dan Uti pemburu diskonan di toko online.
“Huum, please boleh ya!” tutur Jingga sangat pasrah, Jingga rasanya ingin menangis.
“Oke! Aku pinjamin, tapi maaf ya, baju kita nggak sebagus punya kamu!” jawab Tari.
“Nggak apa- apa!” jawab Jingga.
__ADS_1
Tari kemudian mengeluarkan kaos oblong kebesaran dengan motif tulisan nggak jelas yang dia beli di toko online pas diskonan harga 20.000. Bawahanya memakai celana kain motif bunga- bunga hasil jahitan homemade saudara Uti yang dijual di pasaran harga 15.000an.
“Makasih ya!” tutur Jingga lemas.
“Ya udah sono lo mandi, abis itu kita makan!” tutur Tari dewasa dan mengayomi Jingga.
“Iyah!”
Jingga kemudian masuk ke kamar mandi, saat sampai di kamar mandi Jingga langsung menjerit.
“Aaaak!” Tari dan Uti pun langsung turun dari kasur tingkatnya panik terjadi sesuatu dengan Jingga.
“Ada apa Ngga?” tanya Uti dan Tari.
“Ada laba- laba!” tutur Jingga berkeringat, jongkok di pojokan seakan melihat hantu.
“Aiih!” dengus Uti emosi lalu menatap Jingga kesal dan berbalik meninggalkan, Uti memang tidak sabaran dan sangat tomboy.
Jingga pun menunduk karena merasa bersalah. Uti terus memaki Jingga, sementara Tari menghela nafasnya menahan kesal tapi kasian.
“Asrama ini jarang dipakai jadi wajar ada laba- labanya, nggak apa- apa, nggak bahaya kok! Santai aja, di pulai P nanti akan banyak hewan juga!” tutur Tari memberitahu.
Jingga menunduk mendengarkan.
“Dia nggak gigit kan? Dia nggak merambat ke gue lagi kan? Dia barusan jatuh ke tangan gue!” jawab Jingga sambik cerita.
Saat Jingga masuk laba-laba itu terjatuh dan berjalan ke rambutnya, langsung Jingga hempaskan. Di rumah Jingga kan kamar mandi sangat luas, ada hiasanya, wangi mengkilat pakai bathub lagi. Tidak ada hewan apa lagi laba-laba.
“Nggak, nyatanya lo baik- baik aja kan? Sekarang dia juga udah merambat ke atas tuh!” jawab Tari menunjuk laba- labanya sudah di atas.
Jingga mengangguk dan menutup pintunya lalu mandi dengan cepat.
“Buna... maafin Jingga? Jingga nggak tahu ternyata ada kehidupan seperti ini di luar, ahh bagaimana ini? Ini seperti dunia lain!” batin Jingga melihat sekeliling merinding. Buat Jingga kamar mandinya seperti di film-film hantu yang dia tonton.
“Hai laba- laba, kamu jangan gigit aku ya. Tutup mata kamu, aku mau mandi kamu bukan siluman laba- laba yang intip aku kan? Kamu bukan laba-laba laki-laki kan?” gumam Jingga bicara sendiri, bayangan Jingga terlalu jauh karena kebanyakan nonton film kolosal fantasi.
Dengan ragu- rahu Jingga langsung mengguyur tubuhnya dengan air, melihat gayungnya tak sebersih di rumah, Jingga pun muntah- muntah.
"Aih... gayung ini pasti banyak bakterinya!" batin Jingga kesal menyadari dari tadi panggal gayungnya dan kerak airnya.
__ADS_1
Jingga pun buru-buru keluar.
Setelah sholat maghrib, mereka kemudian ke tempat makan bersama. Meski dari dapur sudah menyediakan makanan banyak, karena Jingga mandi telat mereka sampai juga sudah telat.
Makanan yang ada hanya tinggal sisa, bahkan lauknya juga sudah habis, hanya tinggal kuah sop dengan sisa daun kol, lalu tumis bihun dan kerupuk.
“Makananya cuma ini?” tanya Jingga lesu dan kecewa.
“Ya iyalah, orang lo kelamaan di kamar mandi, makanya jangan lelet, jadi kehabisan lauk kan?!” omel Uti dengan wajah bersungut- sungut, buat Uti berteman dengan Jingga sangat menyebalkan.
Jingga yang tidak pernah dikasari oleh keluarganya langsung terdiam menunduk dan tidak bisa berkata- kata.
“Maaf!” ucap Jingga lagi dengan lirih, Jingga sangat tertekan.
“Ya udah makan seadanya ya!” ucap Tari bijak menghibur Jingga.
Mau tidak mau Jingga hanya mengambil sangat sedikit makanan, Jingga hanya mengambil nasi bihun dan kerupuk.
“Buna... lihatlah apa yang Jingga makan sekarang? Ini kan karbohidrat semua, nggak ada proteinya nggak ada sayurnya, nggak ada buahnya juga! Ya Alloh semoga aku sehat! Semoga aku nggak gendut, ini kan udah malam, harusnya aku jangan makanan begini!” batin Jingga dalam hati memandangi makanan di depanya dengan ragu.
Di rumah Tuan Ardi kan ada koki khusus dan ahli giziny yang cara masaknya pun dengan ilmu, sangat teliti. Menu- menunya, takaranya semua diatur dan kualitas terbaik.
Jingga melirik ke Uti dan Tari, keduanya makan dengan lahap meski hanya dengan bihun dan kerupuk. Jingga kemudian ikut memasukan makanan itu dengan ragu.
Tidak menunggu lama mereka selesai makan dan kembali ke kamar. Di saat mereka berjalan langkah Jingga memelan. Samar- samar Jingga melihat seseorang yang tampak sedang tertawa bersama segerombolan mahasiswa bermain gitar di depan kamar asrama laki- laki. Laki-laki itu terlihat keren, macho dan berkarisma.
“Itu tukang ojek itu bukan sih?” batin Jingga sambil berjalan.
“Kok dia ada di sini juga? Sebenarnya siapa dia? Iya bukan sih?” batin Jingga ingin terus memastikan.
Sayangnya saat Jinga memastikan pandanganya, laki- laki itu justru membungkukan badan entah mengambil apa di bawah kakinya.
“Hahh... nggak, nggak mungkin tukang ojek itu ada di sini! Aih Jingga? Kenapa gue mikirin tukang ojek nyebelin itu juga. Fokus! Fokus!” batin Jingga membetulkan lamunanya.
Karena Jingga memperhatikan rombongan laki- laki itu, jalan Jingga jadi tidak fokus, dan Jingga tidak menyadari kalau di depanya berdiri laki- laki berbadan tinggi besar berhenti memperhatikan Jingga dengan tatapan dinginya, laki-laki itu berdiri memasukan kedua tangan ke saku celanya.
“Bug!” Jingga menabrak pria itu.
Uti dan Tari menelan ludahnya dengan tatapan ngerinya. Padahal mereka berdua sudah mengkode Jingga untuk berjalan dengan benar, tapi Jingga fokus memperhatikan rombongan mahasiswa yang sedang bermain gitar. Uti dan Tari kan tahunya laki-laki itu sangat dingin dan galak.
__ADS_1
Jingga kemudian mendongakan kepala melihat siapa yang dia tabrak.
“Pak Rendi!” pekik Jingga.