
Jingga tidak menyia- nyiakan kesempatan. Oma dan Opanya bisa jadi senjata dan tiket ijin ikut kegiatan ruang inspirasi. Apalagi saat Babanya tidak ada, Buna kan pasti tidak akan menolak. Jingga pun bersiap mengeluarkan jurus rayuan mautnya.
“Emang keluarga Nak Rendi gimana, Kak? Kata Baba mereka punya pesantren lhoh! Baba itu milihin calon jodoh terbaik buat kamu,” tutur Buna ke Jingga.
Mendengar kata Pesantren, Oma jadi antusias. Bukan Jingga yang menjawab tapi malah Oma yang bertanya sehingga Jingga sedikit menciut.
“No, jangan sampai Oma ikutan setuju suka sama Pak Rendi” batin Jingga dheg- dhegan.
“Pesantren? Emang orang mana?” tanya Oma.
“Iya, Namanya Rendi, Rendi Akbar siapa gitu, Alya lupa. Dia saudaranya Kak Farid Bu, kebetulan dosen Jingga, dia juga dokter, Buna liat sih dia sopan ramah dan baik. Makanya Alya setuju dengan keputusan Mas Ardi. Orang tuanya di kota Y punya pesantren, insya Alloh dia orang baik- baik, dia juga udah S3.” Tutur Buna Alya menjelaskan.
“Oma, Buna, tapi Jingga nggak suka! Jingga belum mau menikah Oma! Jingga masih mau kuliah!” jawab Jingga cepat.
“Kalau orangnya baik dan Jingga bersedia , Oma setuju- setuju saja. Tapi kalau Jingga tidak suka. Oma tidak setuju!” tutur Oma bijak.
Jingga pun tersenyum sangat lega.
“Alya juga udah sampaikan Bu, ke Mas Ardi, tapi Mas Ardi tetap kekeh ingin ada yang jagain Jingga!” jawab Buna ikut- ikutan aduin suaminya ke Oma.
“Dan Jingga juga tetap nggak mau Bun!” jawab Jingga lagi.
“Dicoba dulu, sayang, biar Babamu nggak marah!” jawab Buna.
“Bun. Nggak bisa!” jawab Jingga ngeyel.
“Alya, Jingga sudah dewasa, dulu kamu juga nggak suka kan ibu paksa. Jingga jelaskan pada Oma dan Bunamu, apa alasan kamu tidak mau mencoba mengenal pilihan Babamu!” tutur Oma menengahi.
“Pak Rendi itu kaya Baba Oma, suka maksa, Jingga nggak suka! Ibunya juga Bun, masa kenalan, tanya Buna Jingga ajarin Jingga pakai hijab apa enggak? Jingga bisa masak apa enggak? Jingga pokoknya nggak suka titik! Please Oma, bantu Jingga bilang ke Baba!” tutur Jingga memelas ke Omanya.
“Lhoh bagus dong. Biar Kakak mau pake hijab, dan belajar masak, bener kata Buna kan? Jadi perempuan emang harus bisa masak dan kamu wajib tutup aurat kamu!” sahut Buna membela calon besanya.
“Buna. Jingga kan udah janji, Jingga mau pake hijab tapi nanti, bukan dipaksa begitu, pokoknya Jingga nggak mau sama Pak Rendi!” tutur Jingga lagi terus mengeluarkan jurusnya ke nenek kesayanganya.
Oma menyimak, mencoba memahami maksud Ardi dan Alya. Tapi Oma juga sangat menyayangi Jingga dan mengerti maksdu Jingga. Menikah kan untuk seumur hidup, jadi tidak boleh asal, harus sesuai hati si pelaku.
“Oma akan sampaikan ke Babamu. Alya, dengarkan ibu, menikah itu bukan hanya tentang baik dan buruknya seseorang, tapi ini hidup anakmu seterusnya. Menurut ibu, yang terpenting adalah hati Jingga, kalau Jingga belum siap jangan dipaksa!” tutur Oma.
__ADS_1
Jingga langsung kegirangan, dan memeluk tangan Omanya.
“Makasih Oma! Oma cantik, Jingga sayang Oma!”
“Lagian, kok kamu udah ketemu sama ibunya? Kenapa si Rendi itu nggak nemuin Oma, atau ibunya si Rendi itu nggak ketemu kamu dan Oma!” tanya Oma tegas ke Buna.
“Alya nggak tahu Bu. Mereka komunikasinya sama Mas Ardi!”
“Nah kan, kamu ibunya Jingga, Jingga juga yang menjalani, Ardi nggak boleh begitu. Semua harus dibicarakan dulu, menikah itu bukan main- main lho! Besok Oma akan tegur Ardi!” ucap Oma Nurma lagi.
“Ya Bu!” jawab Buna megangguk.
Buna berada di posisi yang serba salah, sebagai Ibu Buna juga mengerti mau Jingga dan ingin yang terbaik untuk Jingga. Sayangnya suami Buna sangat keras dan tidak mengenal kata tidak, Buna kan hanya mau jadi istri yang patuh. Sekarang, sudahlah biar nanti suami dan ibunya sendiri yang beeradu pendapat. Buna konsen ke kehamilanya saja.
“Oh ya, Oma,besok pagi Jingga pengumuman , Jingga mau ikut kegiatan ruang Inspirasi Oma!” tutur Jingga memberitahu rencananya.
Buna yang belum dimintai ijin langsung membelalakan matanya.
“Apa itu Kak?” tanya Buna.
“Jadi untuk mengisi libur semester Bun, Jingga ikut komunitas relawan buat adain pengabdian, ke pelosok, kita nanti kenalin berbagai profesi ke anak- anak sekolah di pelosok, agar mereka punya semangat belajar, kita juga di sana adain pengabdian bakti sosial gitu di masyarakat!” tutur Jingga menggebu – gebu.
“Dimana? Berapa lama?” tanya Buna.
“Sebulan aja Bun! Pengumumanya besok pagi, boleh ya Oma? Buna!” ucap Jingga meminta ijin dengan kerligan matanya.
“Oma dukung cucu Oma, itu kegiatan yang positif, selagi masih muda dan sekolah, kamu memang harus banyak cari pengalaman dan ilmu begitu!” tutur Oma.
“Ijin dulu sama Baba, Jingga. Baba bisa marah kalau kamu sebulan nggak di rumah!” ucap Buna mengkhawatirkan suaminya.
“Ck!” Jingga mendengus dan melirik ke Omanya.
“Bun, Jingga udah dewasa, Buna bantu Jingga bilang ke Baba dong, Jingga bisa jaga diri, iya kan Oma? Masa Jingga kemana- mana harus disatpamin Baba terus!” ucap Jingga lagi semakin gencar menekan Bunanya dan meminta dukungan Omanya.
“Ya, benar apa kata anakmu, Al. Sebulan itu tidak lama, anakmu juga bukan pergi tanpa alasan. Biarkan anakmu berkarya dan belajar! Hidup itu harus punya pengalaman, tau dunia luar, harta kekayaan itu nggak abadi, jadi Jingga juga harus tau kehidupan di luar rumah kita!” tutur Oma menasehati anaknya.
Jingga sangat lega, sepertinya Tuhan mendengar doa Jingga mendatangkan Omanya di waktu yang tepat.
__ADS_1
“Ya! Nanti Buna yang sampaiakan ke Baba!” jawab Buna akhirnya.
“Yey... makasih Bun!” jawab Jingga kegirangan dan balik memeluk Bunanya. Oma Nurma pun tersenyum senang melihat cucunya tersenyum.
Di saat yang bersamaan, Biru dan Bunga turun.
“Seneng banget, ada apa sih?” tanya Bunga.
“Nggak apa- apa!” jawab Jingga tidak ingin berbagi cerita dengan Bunga.
“Ish, Kak Jingga pelit!” ucap Bunga.
“Ya udah makan yuk! Pumpung kumpul biar enak!” tutur Buna mengajak Oma dan Bunga makan.
“Yah, kita udah makan Buna!” jawab Bunga.
“Kok gitu?” tanya Buna kecewa.
“Iya tadi ada tamu, Oma masak banyak. Ada dokter hewan kenalanya Gery, dia mau bantu urusin kucing- kucingnya si Amer!” jawab Oma Nurma.
“Yah!” jawab Jingga manyun.
“Oh gitu, maafin Kak Amer ya Bunga,jadi repotin kamu, Buna udah bilang lho, suruh jual aja tu kucing- kucingnya!” sahut Buna. Sebenarnya Buna suka kucing, tapi Baba dan Jingga tidak, jadi kucing Amer dititipkan ke Bunga.
“Dokter yang tadi datang, selain bantu urus dan obatin, mau bantuin jualin juga Bun! Jadi paling nanti di sisain dikit aja, biar Bunga nggak susah urusnya!” tutur Bunga memberitahu.
“Oh ya? Baik banget dokter hewanya!” ucap Buna.
“Iya, dia juga ganteng dan ramah banget lho Bun! Pokoknya baik deh!” ucap Bunga lagi menceritakan Adip.
Jingga hanya menyimak, dan ikut senang kalau akhirnya kucing- kucing Amer dijual.
“Oh ya, sampaikan salam kenal dan makasih dari Buna ya!” tutur Buna.
“Tadi orangnya wa, katanya besok mau datang buat eksekusi kucing- kucing yang udah mau ada yang adopsi Bun!” jawab Bunga lagi.
“Syukurlah kalau begitu!”jawab Buna.
__ADS_1
“Kak Jingga, besok ikut yuk ke rumah Bunga!” ajak Bunga.
“Hem... liat besok ya!” jawab Jingga.