Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
184. Dikerjai Amer.


__ADS_3

“Selamat, siang, Nona, Tuan! Maaf mengganggu istirahatnya. Kami antar makanan sesuai pesanan!” tutur pelayan hotel menyajikan makanan di meja . 


“Terima kasih,” jawab Amer.


Pelayan hotel kemudian segera pergi, setelah semua sajian terhidangkan dengan baik.


“Huh…,” pekik Jingga kaget. 


Amer berjalan santai ke meja dan melahap hidangan yang disediakan oleh pihak hotel. 


Sementara Jingga masih mengucek matanya dan bingung.


Kenapa tiba- tiba Jingga bangun di kamar hotel yang cukup mewah bersama Amer. Seingat Jingga semalam Jingga duduk di dak kapal bersama suami dan ayahnya. Jingga dipaksa tidur, tapi Jingga tidak bisa tidur dan malah mainan ponsel. Jingga tidur setelah sholat subuh.


“Kita dimana sih?” tanya Jingga ke Amer. 


“Di kayangan!” jawab Amer ngeles sambil mengambil sepotong kue coklat. 


“Iiihh… bug!” Jingga kesal dan melempar bantal sekenanya sampai kue yang dipegang Amer jatuh. 


“Bar.. bar banget sih, main lempar aja,” keluh Amer kesal kuenya jatuh.


“Ditanya baik- baik juga, dasar adik durhaka!” cibir Jingga. 


“Ya udah tau ini di hotel, masih tanya pulak,” jawab Amer lagi.


“Kita udah sampai Ibukota?” tanya Jingga. 


“Belum… kita masih di pulau Panorama,” jawab Amer melanjutkan menyomot kue.


“Oooh,” jawab Jingga mengangguk. 


Lalu Jingga turun dan melihat sekitar termasuk membuka horden kamar.


Jingga baru tahu ternyata di salah satu kota di Pulau Panorama juga ada hotel bagus.


Saat Jingga datang, Jingga kan Bersama rombongan Ruang Inspirasi, mana ada mampir ke tempat- tempat mewah seperti hotel. Yang ada semua di hadapkan pada keterbatasan alat.


“Baba sama Bang Adip, dimana?” tanya Jingga kemudian ikut duduk di dekat Amer dan menyeruput teh panas yang disediakan pihak hotel. 


“Bang Adip pergilah, Baba ada urusan sama Pak Dino, nggak ngerti aku!” jawab Amer asal. 


“Hummm…,” mendengar Adip pergi Jingga langsung cemberut dan mendadak wajahnya menghadirkan aura gelap lagi.


“Bang Adip pergi kemana?” tanya Jingga merasa kehilangan. 


“Taauk,” jawab Amer lagi santai. 


“Dia nggak bilang sama kamu? Atau pamit gitu?” 


“Nggak! Kayaknya sih kerja, bukan urusanku” jawab Amer lagi. 


“Dia kesini lagi nggak? Kapan?” tanya Jingga memburu, Jingga takut nggak ketemu lagi atau akan bertemu lama.


“Kakak kan istrinya, malah tanya ke aku! Gimana sih? Istri macam apa?” jawab Amer lagi semakin membuat Jingga tambah sedih sengaja banget iseng ke kakak rasa adiknya itu.


“Amer!" bentak Jingga. "Aku ketiduran Mer, aku nggak ingat! Aku tanya serius!” 


“Salah siapa tidur!” jawab Amer lagi mencibir. 


“Iiiiih,” keluh Jingga lagi sangat kesal.


"Ya, Amer nggak tahulah!" jawab Amer lagi.


"Bener dia nggak kasih pesen apa- apa ke kamu?"


"Enggak dia pergi gitu aja," jawab Amer.


Jingga langsung bangun dari duduknya dan kembali naik ke kasur masih dengan muka bantalnya.


Sumpahan Jingga rasanya benar- benar seperti dipermainkan, tidak tahu lagi harus dengan ungkapan apa untuk menjelaskan perasaanya yang jengkel dan frustasi. 


Kenapa tidak ada yang mengerti keinginan Jingga dan mau Jingga. Jingga itu kangen Adip. Jingga itu berjuang untuk ketemu Adip. Kenapa semua jadi begini?


Tidak ada kesempatan Jingga ngobrol dengan Adip, jangankan bermesraan melepas rindu, berdua saja sangat susah, dan sekarang, Adip kata Amer pergi. 


Jingga kira semalam mereka akan pergi bersama, tapi apa ini? Bahkan Adip pergi tanpa berpamitan. Apa ini artinya Jingga ke kota dan tidak sempat berpamitan dengan Adip. Apa ini artinya mereka akan berpisah lagi untuk waktu yang lama. Mereka belum ngobrol masalah pernikahan rumah tangga mereka.


Jingga benar- benar belum dikasih tahu apapun tentang rencana Baba. Di dalam tengkurapnya dan memeluk bantal yang tersedia di atas kasur, Jingga terisak menangis saking kesalnya.


Jingga masih kangen Adip masa baru sampai kemarin lagi, malah si Baba harus Jingga balik lagi. Kan mubadzir banget perjuangan Jingga. Begitu pikir Jingga.


Amer sendiri malah asik ngemil, pumpung di hotel, Amer malah ngecharge dan ngegame tidak peduli apa yang Jingga lakukan. 


**** 


Di kantor balai veteriner. 


Berbeda dengan Jingga yang menangis kesal karena menyesal ketiduran dan tidak tahu apa- apa. Adip justru duduk dan senyum- senyum sendiri serasa di dalam dadanya ada pertunjukan sirkus.


Ada banyak binatang yang menabuh gendang dan menari- nari di dada Adip. Seakan- akan jantungnya mau lompat keluar. 


Betapa tidak, hangatnya pelukan Jingga masih dia rasakan. Apalagi sekarang dia sangat semangat dan bahagia.

__ADS_1


****


Flasback pagi tadi.


Saat perahu sampai, Jingga tertidur sangat pulas karena Jingga begadang. Jingga seperti Buna, jika naik kendaraan lama dan terkena angin suka tertidur susah dibangunkan.


Baba yang begadang juga sangat mengantuk. Baba sudah tua, malas urus Jingga yang sudah puber. Amer sendiri malas , Jingga kan tinggi montokk pasti berat dan kalau dibangunkan suka marah.


“Urus istrimu!” tutur Baba ke Adip memberi perintah.


Secara tidak langsung, Baba mengakui pernikahan illegal Jingga dan Adip. 


Mendengar perintah Baba tentu saja Adip sangat bahagia. Itu kan memang yang ditunggu Adip.


Ya, meski bukan Baba walinya, dan Adip belum berani melakukan banyak hal, karena saat mereka menikah sifatnya darurat, beberapa aturan memang menyatakan mereka sah dan Jingga halal untuk Adip.


Adip pun mendekat ke Jingga. Tangan Adip mendadak gemetaran dan panas dingin. Meski begadang semua kantuk dan lelahnya hilanh berganti gugup.


Di belainya lembut pipi Jingga yang mulus. Dia bangunkan Jingga dan diajaknya turun.


Sayangnya Jingga malah menggerutu dan meracau tidak jelas. Jingga memang baru tidur sekitar satu jaman setelah sholat subuh di kapal. 


“Sayang… bangun udah sampai!” bisik Adip menepuk pipi Jingga. 


“Emmm apaa siih, akuu pusiing, aaah..,” racau Jingga menghempas tangan Adip dan meringkuk lagi. 


Mau tidak mau karena kapal sudah stand by berhenti dan yang lain sudah naik, Adip menggendong Jingga sampai ke hotel.


Amer dan yang lain pun memberi kebebasan ke Adip. Toh mereka sudah menikah dan sebentar lagi akan disahkan secara legal.


Untung hotel yang dipilih tepat di dekat dermaga. Di pusat kota pulau Panorama pembangunan memang sudah bagus. Itu sebabnya Baba tertarik membangun desa Teras dan kawan- kawanya.


Sesampainya di hotel, karena bercampur lelah saat Adip meletakan Jingga di kasur, Adip ikut ambruk. Jingga juga memeluk erat Adip.


Sehingga mereka bertindih.


“Ehm…,” dehem Adip merasa sangat aneh saat tubuhnya berhimpitan dengan Jingga. Ada desirat hangat dan seperti ada magnetnya yang membuat dia ingin merapatkan.


Tapi Adip sadar Jingga tertidur sehingga dia tidak ingin terbuai jadi orang jahat yang mengambil kesempatan. Saat Adip hendak bangun, Jingga bergumam lagi. 


“Diiingiiinn, ehhhh,” racau Jingga meringkuk dan menarik Adip lagi.


Sehingga mereka kini berhadapan, Jingga meringkuk di bawah dada Adip. 


“Oke..,” gumam Adip bicara sendiri.


Adip pun kini menyediakan dadanya sebagai tempat Jingga berlindung, memberikan peraduan ternyaman untuk berlindung.


Apalagi Adip juga lelah dan ngantuk. Kamar di hotel kan memang sudah tersetting dingin. Mereka hanya berdua pula. Tangan Adip pun terulur untuk ikut memeluk Jingga merapat ke tubuhnya.


Adip yang hidup sebatang kara, tak pernah pacaran dan jarang tidur di kasur hotel seperti mendapatkan keindahan yang tidak pernah bayangkan sebelumnya.


“Huuuh…,” 


Sayangnya saat Jingga mengeluh dingin, karena memang suhu di hotel ber AC dan di luar mendung, Adip malah merasakan hal yang berbeda.


Semakin lama kantuk Adip bukanya bertambah dan membuatnya tidur, padahal Adip sudah memejamkan mata. Yang ada malah semakin memejamkan mata kuping Adip semakin berdengung dan mendengarkan berisik banyak bisikan datang.


Dalam kejapanan matanya juga bertebaran bayangan yang banyak. Adip malah jadi pening.


Mendadak Adip berkeringat, ada hawa panas datang dan menguasai dadanya. Bahkan ada yang berdenyut di bawah sana dan membuat celananya yang tadinya longgar mendadak sesak, sangat keras seperti memaksa ingin merobek celananya dan memaksa keluar. Sulit dibedakan antara menyiksa tapi ada enaknya.


"Hoh...." Adip terpaksa mengeluarkan lenguhanya. Dadanya bergetar kencang dan matanya merah.


Ditatapnya lekat- lekat puncak kepala gadis yang ada di pelukanya itu. 


“Sabar, Adip belum waktunya, Jingga juga masih kuliah. Kontrakku juga masih 11 bulan lagi, Kasian Jingga, jangan sekarang. Harus didiskusikan dulu,” gumam Adip meneguhkan hatinya sendiri dan mencoba menguasai dirinya kembali.


Tangan Adip yang tadinya gatal ingin berpindah dari merengkuh bahu Jingga ke tempat lain di bagian depan dan membuka sesuatu, kini dia setir pindah haluan untuk membelai kepalanya saja. 


“Cup,” satu kecupan lembut mendarat di puncak kepala Jingga sebagai pelebur semua godaan yang sempat datang. 


Dengan gerakan perlahan dan hati- hati, Adip melepaskan pelukanya. 


“Tidurlah dan istirahatlah. Aku harus urus surat cutiku, sebentar lagi kita akan jadi satu kok. Kita susun masa depan kita yang indah,” ucap Adip berbiacar sendiri sambal memandangi istri cantiknya yang terlelap.


Adip kemudian mengambil guling sebagai penggantinya agar Jingga tetap ada sandaran. Adip menarik selimut tebal yang tesedia agar Jingga tidur dengan nyaman. Jingga masih lengkap dengan pakaian panjang dan hijabnya.


“Huuuuft,” Adip kembali menghembuskan nafasnya memaksa adik kecilnya yang bangun agar kembali tidur. "Tiduuur tiduuur,"


Adip kemudian keluar, di saat yang bersamaan, Amer berjalan ke arahnya mengeluh kesal karena kamar mandi di kamar pesanan Amer water hiternya eror.


“Maaf ganggu ya Bang!” ucap Amer. 


“Nggak apa- apa, aku mau ke kantor. Mandi di sini saja. Jingga masih tidur di dalam,” jawab Adip. 


“Oh oke!” jawab Amer senang. 


Tahu Adip pergi Amer pun masuk ke kamar kakaknya dan betah di situ.


****


Dan sekarang Adip sudah ada di kantornya untuk meminta ijin cuti.

__ADS_1


Awalnya atasan Adip sempat marah- marah karena Adip baru satu bulan bekerja sudah mau cuti menikah. 


Tapi setelah Adip menunjukan laporan pekerjaan dan rencananya, atasan Adip mengangguk setuju.


Lagian di surat perjanjian kerjanya, meski sarat awal mendaftar harus yang belum menikah, tapi tidak ada larangan menikah saat sudah bekerja. Hehe.


“1 minggu saja. Ya!” ucap atasan Adip. 


“Ya Pak!” jawab Adip, yang penting diberi waktu untuk menikah.


“Maaf bukannya saya tidak mendukung pernikahanmu, ijinku sudah terlalu baik, harusnya nikahnya nanti selesai kontrak!” ucap atasan Adip lagi. 


“Ya, Pak! Saya mohon maaf!” jawab Adip lagi. 


Mau tidak mau, surat cuti Adip keluar.


Setelah tidak bersitegang, Atasan Adip malah menanya- nanyai Adip siapa calonnya.


Akan tetapi Adip tidak menyebut identitas keluarga Jingga, Adip hanya bercerita cinta lokasi selama di pulau P.


“Kamu ya, baru satu bulan kerja, gaji aja belum turun, malah gaet istri! Ambil anak orang!” 


“Ya gimana Pak! Namanya rejeki. Bapaknya yang mau saya nikah segera. Jadi ya saya majulah!” jawab Adip. 


"Kamu nggak hamilin dia kan? Kok bapaknya minta nikah cepet?"


"Ya nggak lah pak. Kan baru satu bulan!" jawab Adip.


"Yaya!"


"Justru makanya, kita nikah dulu Pak. Biar meski nanti LDRan hati udah tenang," jawab Adip lagi.


"Ya. Aku juga dulu LDRan 1 tahun semangat ya!" jawab Atasan Adip malah kasih motivasi.


Pegawai pemerintah yang suami istri sama- sama bekerja dan tugasnya pindah- pindah memang sangat wajar LDR an. Akan tetapi tetap ada usaha bersama dan salah satu mengalah.


Atasan Adip kemudian menepuk bahu Adip dan malah menawarkan pinjaman uang. Gaji dari pusat untuk pekerja di daerah memang tidak tepat waktu.


Atasan Adip hanya tahu Adip karyawan miskin dan sederhana yang ditantang nikah oleh calon mertua karena kasus di desa. Jadi dia iba.


Adip juga tidak jual mahal meski mertuanya kaya raya, terima saja tawaran hutang dari atasanya sebagai alasan bekal beli tiket pesawat agar dia punya pegangan. Siang itu pun Adip mengantongi uang 5 juta.


“Makasih Pak!” jawab Adip pamitan. 


Adip lalu keluar kantor dan membaca pesan Amer. 


“Langsung ke Bandara, Bang!” 


“Oke…,” jawab Adip. 


**** 


Di hotel. 


“Buruan Kak!” omel Amer ke Jingga. 


“Ini beneran kita balik ke Ibukota?” tanya Jingga masih sangat berduka dan sedih. 


“Ya beneran! Buru makanya, udah ditunggu juga!” jawab Amer. 


“Hiks…. Hiks…,” Jingga menangis lagi tidak mau pupang.


“Ya ampun lebay banget sih, disuruh buruan malah nangis!” omel Amer lagi.


Amer sama saja dengan Baba senang mengerjai Jingga. 


“Kenapa harus pulang sih?” protes Jingga. 


“Ya kan rumah kakak memang bukan di sini,” 


“Tapi kan suamiku di sini!” 


“Mana suami, nyatanya nggak ada?” ejek Amer, padahal Amer baru saja wa nan sama Adip. “Udah buru berangkat! Bentar lagi pesawatnya naik, jangan sampai di paksa sama pengawal Baba!” ejek Amer lagi mengancam.


“Nyebelin banget sih kalian. Nggak aku mau di sini!” rengek Jingga lagi kaya anak kecil.


Amer pun menahan geli ingin ketawa.


“Kaak, Bang Adip itu udah pesen, kakak itu masih kuliah. Selesein dulu kuliahnya! Besok ketemu lagi kok. Kan Baba udah setuju!” Amer bohong lagi.


“Apa iya, Bang Adip bilang gitu?” tanya Jingga sambil mengkerucutkan bibirnya.


“Iya lah,” 


“Masa? Kapan?” 


“Makanya jangan kebanyakan tidur!” ejek Amer lagi. 


“Ishhh…!” 


“Udah buru! Baba dan yang lain udah nunggu!” ucap Amer lagi sambil menahan tawa.


*****

__ADS_1


Tau kok tau... authornya Jingga Adip ni, author aneh nggak jelas. Perjalanan ke Ibukota aja berepisod episode


Bismillah nggak apa- apalah ya. Pokoknya nulis senang- senang. Semoga yang baca juga senang. Aamiin.


__ADS_2