
"Uhuuk," Robi anak Uwak yang sedang makan bakso sambil mengangkat kakinya langsung kededak dan memuntahkan baksonya.
"Makan yang bener! Kaya anak kecil jadi kesedak kaan?" omel Mamahnya.
"Maaam, coba deh lihat deh ini Adip bukan sih!" ucap Robi melotot.
"Apaan sih. Adip apaan!" jawab Mamahnya sinis.
"Maaah. Cepetan siniih. Inii Adip, Mah!" teriak Robi lagi.
Tapi mamahnya malah sibuk itung jumlah dagangan, yang hendak disetor ke toko toko.
"Kurang ajar si Adip. Belagu banget dia. Mentang-mentang jadi OKB nikah nggak undang aku. Dasar nggak tahu terima kasih. Dia pasti nipu gadis itu nih makanya dia mau," cibir Robi iri dan membanting mangkok baksonya.
"Astagah. Robi! Kamu ini sudah tua. Makan kaya anak kecil!" omel Mamak lagi.
Anak Uwak si Robi memang nakal. SMA saja dijeluarin dua kali, kuliah di DO, di rumah tidak mau bantu di toko kerjaanya pacaran dan mainan hp. Kalau sama Adip ngomongnya kasar dan suka menghina.
"Mak.... Mak ayo kita datang ke resepsinya Adip. Kan kata nya Papah, Uwaknya Adip!" ucap Robi mengajak Mamahnya.
"Adip?"
"Iya. Dia belagu banget Mak. Dia nikahin anak orang kaya!" jawab Robi.
"Anak orang kaya?" tanya Mamaknya Robi lagi.
"Iya... tuh...itu adip kan!" Ucap Robi wajahnya sangat jelek bibir tebalnya manyun dan alisnya mengkerut.
Mamahnya yang bernama Ce Odah langsung memiringkan sudut bibirnya dan mengernyit. Barulah sekarang dia penasaran dengan apa yang ada di tivi.
"Hoooh!" Ce Odah langsung terbengong melihat wajah Adip yang ada di tivi tampak bersaalam dan berfoto dengan Pak Presiden, di samping Adip berdiri perempuan cantik,hidung mancung, alis tebal panjang dan rapih, bibirnya juga merekah seksi, bak Putri kerajaan memegang erat tangan Adip.
"Hoooh hooooh," mendadak ce Odah limbung dan terjatuh, dadanya sesak sangat sakit karena iri.
"Maaah... Maaah...," teriak Robi memanggil Mamahnya yang limbung dan Syok.
Uwak Adip pun langsung masuk ke dalam dan bantu angkat mamahnya. Sayangnya pas Uwak masuk tayangan tivi sudah berganti.
"Mamahmu kenapa?" tanya Uwak.
__ADS_1
"Nggak tahu. Jantungnya kumat Pah!" jawab Robi.
Ce Odah memang badanya gemuk, dan suka marah- marah. Ce Odah punya sakit jantung dan darah tinggi karena suka iri dan serakah. Tiap malam kurang tidur karena selalu memikirkan untung rugi daganganya.
"Serangan jantung gimana?"
"Ceritanya nanti. Ayo bawa ke rumah sakit!" jawab Robi.
Uwak dan Robi pun segera membawa Ce Odah ke rumah sakit terdekat. Sepanjang jalan, Robi pun menceritakan apa yang dia lihat. Lalu Robi searching di Internet dan menunjukan ke Uwak. Uwak juga mendadak ikut pucat.Bukanya bahagia Uwak malah terlihat panik dan takut.
"Apa yang ditakutkan terjadi juga, Adip lebih berhasil dari anakku. Semoga dia tidak mengusikku" batin Uwak.
Mereka sampai di rumah sakit dan Ce Odah langsung ditangani.
****
Di sebuah tempat fitness.
"Bug... Bug....Bug...,"
"Haaah... haaah....,"
"Dasar bodoh... bodooh!" batin Rendi memukul papan tinju sekuatnya.
"Kenapa gue biarin Jingga ikut acara itu? Kenapa gue percaya dengan anak laki-laki itu. Siaalll,"
Rendi merasa sangat patah hati dan menyesali kepercayaan dirinya mendapatkan Jingga. Rendi menunggu Jingga selama 3 tahun sejak Jingga masuk ke kampus.
Kenapa penantian Rendi mengawasi Jingga sia- sia.
"Aku bukan pedofil. Ide bodoh apa ini? Masa iya aku nikahin Nila adik Jingga?" batin Rendi terlihat sangat frustasi dan marah terhadap penuturan Umminya.
*****
Di Villa markas Om Tito.
"Shiiiiit..., praang!"
Tama yang dibully teman- temanya karena Ikun bongkar Tama bersembunyi di Villa Om Tito.
__ADS_1
Tama memantau perkembangan Jingga lewat internet.Tama sangat marah dan cemburu melihat fyp di Intagram, foto Jingga menempel erat di Adip dengan senyum cerianya berseliweran.
Adip terlihat gagah dan tenang, sementara Jingga yang cantik jelita tampak bucin dan centil. Bahkan yang erat menggandeng Adip, Jingga.
"Seharusnya malam itu gue lebih cepat. Jingga pasti jatuh ke tangan gue. Brengseeek...," teriak Tama lagi gagal meniduri Jingga.
Tama hanya sempat melihat indahnya Jingga sesaat.
"Gue harus buat perhitungan dengan Adip. Apa hebatnya pria miskin itu?"gumam Tama lagi
Tama rupanya belum kapok. Tama ingin menyuruh orang mencelakai Adip.
Tama kemudian menelpon anak buahnya yang jadi preman.
"Cari tahu asal usul dan rumah Adipati Wirajaya!" ucap Tama keras.
"Siap Bos!" jawab anak Buah Tama.
****
Di sebuah mess karyawan rumah sakit.
Seorang dokter praktek program spesialis terlihat fokus memandang televisi. Tidak terasa air matanya mengalir.
"Dunia memang sempit Bang. Cintaku memang akan terus jadi cinta dalam diam. Kenapa hatiku sesakit ini? Seharusnya aku bahagia. Non Jingga memang yang terbaik untukmu?" batin Vivi menutup layar androidnya.
"Buna Alya pasti sangat bahagia. Aku juga harus kesana!" batin Vivi segera melepas pakaian prakteknya.
Ponsel Vivi berdering. Rupanya rekan dokter spesialisnya menelpon mengajak bertemu.
"Aku mau kondangan ke acara nikahan Bundaku. Mau temani?"
"Boleh!"
"Oke...,"
"Aku jemput ya!"
"Ya"
__ADS_1
Vivi pun bersiap kondangan bersama rekan sesama dokter yang pernah mengkhitbahnya