
Masih ditemani api unggun yang menghangatkan, dan kilauan bintang yang ikut menjadi saksi. Jingga dan Adip duduk terdiam menatap ke arah laut yang disinari temaram cahaya rembulan.
Jingga matanya mulai berkaca- kaca dengan hati yang dipenuhi tanda tanya. Jingga mulai merasa gelagat aneh dari tatapan Adip dan permintaanya yang memanggil Jingga menepi ke tengah bukit menjauh dari Amer dan para pengawal.
“Kenapa, kamu diam?” tanya Jingga ke Adip.
Adip menunduk dan menghela nafasnya lama, mulutnya masih mengatup, seperti sangat berat mengucapkanya. Hal itu pun semakin membuat Jingga gusar dan gelisah.
“Kamu bukan pecundang yang mau menyerah gitu aja kan? Kamu janji kan mau nemuin Babaku? Ayo pulang bersamaku kita ketemu Baba kalau begitu!” ucap Jingga lagi tidak tahan, bahkan suaranya mulai serak.
Jingga tidak pandai menyembunyikan perasaan dan emosinya.
“Kamu masih kuliah kan?” jawab Adip singkat dengan melemparkan pertanyaan balik ke Jingga.
“Kenapa memangnya?” tanya Jingga sewot.
“Apa kamu percaya pada Tuhanmu?” tanya Adip lagi.
“Percaya!”
“Apa kamu percaya takdir?” tanya Adip lagi.
“Percaya!” jawab Jingga lagi dengan berat dan buliran air matanya mulai jatuh. Pertanyaan Adip semakin menandakan hal buruk buat Jingga.
“Aku akan datang ke rumahmu, tapi tidak sekarang dan tidak bersamamu, pulanglah bersama Amer, tugasmu biar diselesaikan anak- anak. Tidak usah pikirkan desa T. Yaah!” tutur Adip pelan dengan tatapannya yang penuh cinta.
Mendengar permintaan Adip, tangis Jingga semakin pecah. Jingga tercekat dan nafasnya sesak tidak bisa berkata- kata hanya terus menggelengkan kepalanya tidak mau. Jingga tidak mau pulang sendiri.
“Kenapa menangis, tolong jangan buat aku sedih!” tutur Adip pelan, “Kamu senang kan? Besok kamu bisa tidur di kamarmu yang nyaman lagi, kamu bisa pegang ponsel lagi, liburanmu kan juga udah mau selesai! Kembalilah kuliah. Oke!” tutur Adip terus meminta Jingga pulang. Tatatapn Adip begitu dalam, penuturan katanya begitu pelan dan lembut.
“Hiks... hiks....” Jingga masih belum menjawab dan menundukan kepalanya.
Adip diam menunggu Jingga mengeluarkan emosinya dan membelai lembut rambut Jingga. Tapi seketika Jingga menepis tangan Adip dengan emosi dan menatap Adip dengan derai air mata.
“Tidak bisakah lebih lama lagi aku melihatmu? Tidak bisakah kamu menemui baba sekarang bersamaku? Kenapa harus secepat ini kita berpisah, aku masih ingin di sini, aku mau disini!” ucap Jingga banyak dengan suara bercampur tangis.
Adip menghela nafasnya berat, suaranya parau, karena sesungguhnya Adip juga sedih.
“Tempatmu bukan di sini, Jingga. Kamu harus kembali kuliah, kamu harus temui Babamu! Pulanglah!” jawab Adip pelan.
"Nggak!" jawab Jingga ngotot.
"Kasihan Amer!" tutur Adip lagi.
“Tapi bagaimana aku menghadapi, Baba tanpamu?"
"Bagaimana kalau Baba nikahin aku sama Pak Rendi, bagaimana aku menolaknya? Bagaimana kalau aku hamil anak Tama? Kamu begini lasti karena kamu hanya ingkar janji kan? Kamu tidak sungguh mencintaiku kan?” tanya Jingga emosi dan berburuk sangka lagi pada Adip.
“Tidak begitu!”
“Kamu bohong, kamu pembohong!” jawab Jingga lagi dan air matanya semakin deras mengalir.
“Satu bulan lagi!” jawab Adip singkat menyela ocehan Jingga dan menghentikan tangis Jingga.
“Aku tidak mungkin bisa ijin secepat ini, aku bekerja belum genap sebulan, tiba- tiba kembali ke Ibukota. Sementara pekerjaanku masih menumpuk.
Aku akan usaha ijin satu bulan lagi, kalaupun tidak di acc, aku akan menghubungimu setiap aku datang ke kota.
Aku tidak akan lari, Aku akan tepati janjiku. Apapun keadaanmu,aku suamimu.
Kalau memang kamu mencintaiku, katakana pada penghulumu, kamu menolak menikah dengan Pak Rendi. Pernikahan tidak akan terjadi jika tidak ada kesediaan dari kedua mempelai, yang akan menikah itu kamu, bukan Babamu. Hhh!” tutur Adip panjang kali lebar kali tinggi dengan penuh penekana dari sorot matanya memberikan pengertian ke Jingga.
Jingga terdiam.
“Aku percaya padamu! Sangat! Apa kamu percaya padaku juga?” tanya Adip lagi dengan tatapan dalamnya ke Jingga.
__ADS_1
Dada Jingga bergetar ditanya seperti itu. Sebuah pertanyaan berat yang harus bisa dipegang untuk mwnghadapi apapun yang ada di depan mereka nanti.
Ya.
Sebuah hubungan antar dua orang, pondasi penting dan yang utama adalah kepercayaan, saling percaya.
Di sinilah Jingga diuji oleh Adip dan keadaan. Jingga diuji untuk bisa menumbuhkan rasa percaya dan menjaga kepercayaannya. Jingga pun menelan ludahnya mengumpulkan tekad dengan sepenuh hati.
“Aku percaya padamu! Dan aku bisa dipercaya!” jawab Jingga kemudian.
Adip pun tersenyum.
“Sesuatu yang terpaksa dan buru- buru itu tidak baik. Sesuatu yag didapatkan dengan instan pun akan berbeda rasanya dengan yang kita perjuangkan.
Percayalah takdir dan cinta tidak akan salah tempat dan waktu, kita punya itu.
Buktikan cinta kita itu kuat, bukan karena ambisi dan nafsu. Buktikan cinta kita tak tergoyahkan oleh jarak dan waktu. Buktikan kita bisa menghadapi ini.
Kamu hanya perlu katakan pada hatimu, kita pasti akan bersama, kita akan bertemu lagi. Aku masih harus menyelesaikan tugasku di sini begitupun kamu.
Aku tidak mau hanya karenaku, kamu menjadi anak yang durhaka.
Aku mau karenaku kamu jadi terbaik versimu. Bukan sebaliknya.
Tunjukan, pada Baba dan Bunamu, cinta kita tidak salah, cinta kita besar dan bawa kebaikan, bukan menjadikan kamu pembangkang!” tutur Adip menasehati Jingga dengan panjang.
Jingga terdiam menunduk mendengarkan.
“Aku titipkan surat pada Babamu lewat Amer. Aku juga akan menelponmu begitu aku ke kota, tapi aku tidak bisa ikut denganmu sekarang!” lanjut Adip lagi
“Itu berarti kita ldr dan aku tidak bisa melihatmu atau mendengar suaramu?” tanya Jingga lagi masih dengan muka sembab dan cemberut.
Adip tersenyum lagi kemudian memencet hidung Jingga yang memerah dan semakin memerah.
“Hanya sebentar!” jawab Adip.
“1 bulan atau dua bulan lagi, aku sekarang belum gajian, aku harus kumpulkan uang dulu kan untuk bisa beli tiket pulang datang ke Ibukota!” jawab Adip lagi berfikir rasional.
“1 bulan kamu bilang sebentar? Itu lama sekali!” jawab Jingga lagi.
“Jika kita menikah kita akan hidup bersama seterusnya, bertahun- tahun seumur hidup kita, kamu hanya menungguku 1 tahun di sini dan aku akan menemuimu satu bulan lagi! Masih lamaan mana? Hidup kita nanti dengan waktu menunggumu?” jawab Adip lagi.
Jingga diam menunduk tidak menjawab.
“Aku titip salam buat Nenek ya!” lanjut Adip sekarang lebih santai.
“Kamu di sini nggak centil- centil kan sama cewek- cewek? Kamu nggak deket- deket kan sama cewek- cewek? Kamu jangan suka menolong cewek- cewek!” celetuk Jingga tiba- tiba tidak menjawab permintaan Adip menyampaikan salam pada Umma. Jingga malahbmengeluarkan ke khawatiranya.
Adip pun tersenyum geli. Istrinya ini ternyata sangat pencemburu dan manjanya minta ampun.
“Apa aku pernah centil- centil hah? Percayalah. Cuma ada kamu di hatiku, nggak ada yang lain!” ucap Adip menyenangkan Jingga.
“Aku mau kamu katakan pada semua perempuan kalau kamu itu punyaku, kamu itu suamiku! Titik!” ucap Jingga lagi posesif.
Adip semakin ingin tertawa dibuatnya.
“Yaya! Pak Anton pasti sudah cerita tentang pernikahan kita.” jawab Adip lagi.
“Kamu tidak boleh dekat- dekat dengan perempuan manapun, kamu nggak boleh ajak siapapun ke pantai, kamu nggak boleh kasih perempuan manapun minum air kelapa, kamu nggak boleh ajarin orang lain ambil air pakai timba, pokoknya kamu nggak boleh dekat- dekat dengan perempuan!Cuma aku yang boleh dekat!” lanjut Jingga lagi sangat posesif.
Jingga berfikir semua itu adalah detik- detik yang menggetarkan hati Jingga dan terpatri diingatanya yang membuatnya jatuh cinta ke Adip. Jingga tidak mau Adip memperlakukan orang lain sama seperti perlakuan Adip ke Jingga dan membuat orang lain jatuh cinta.
“Ya!” jawab Adip dewasa dan tenang tapi ingin ketawa.
“Bohong, nanti kamu pasti dekat- dekat dengan cewe lain!” jawab Jingga lagi dengan manjanya.
__ADS_1
“Astaghfirulloh, kamu percaya kan padaku?” tanya Adip dewasa.
Jingga menelan ludahnya, ragu dengan dirinya sendiri, Jingga rasanya sangat berat berpisah dari Adip. Di otak Jingga dipenuhi dengan berbagai prasangka.
Jingga kemudian meneteskan air matanya lagi.
“Aku nggak mau pulang, aku mau di sini, aku nggak mau kita pisah! Aku mau bareng sama kamu. Aku nggak mau pulang!” rengek Jingga lagi menangis lagi
Adip kemudian merangkul kepala Jingga dan membiarkanya bersandar di pundaknya.
“Meski hukumnya masih dipertanyakan, tapi kita kemarin sudah menikah kan? Aku berjanji di hadapan warga dan menyebut nama Tuhan dengan kesadaranku, aku suamimu, Jingga. Percayalah ini hanya sebentar, aku akan setia, kamu pun begitu. Kita harus yakin kita akan bertemu lagi dan kita akan bersama setelahnya, ya!” tutur Adip pelan memberi pengertian ke Jingga.
“Janji ya kamu bener setia sama aku!” ucap Jingga bangun dari sandaran dan menatap Adip dengan mata memaksa.
“Iya janji!”
“Pokoknya kamu nggak boleh dekat- dekat dengan perempuan manapun!”
“Astaghfirulloh diulangi lagi, lihatlah di desa T mana ada perempuan seumuran kita, di desa- desa lain pun sama. Di kantorku semua teman- temanku suda menikah. Setelah berkeliling desa aku akan banyak bekerja di laboratorium berkutat denga daging hewan. Mana sempat aku dekat- dekat dengan perempuan sih?” jawab Adip lagi dengan pelan dan dewasa.
Jingga pun mengangguk menerima. Adip bersyukur dan lega Jingga bisa mengerti.
"Percaya Jingga, ini ujian buat kita. Kita harus tunjukan, cinta kita bukan cinta sesaat yang penuh nafsu dan ambisi. Kita harus berjuang melalui ini. Berdoalah pada Tuhan agar kita dipersatukan dengan cara yang indah. Buat cinta kita jadikan kita lebih dekat dan mengenal dengan Maha pencipta kita. Kelak kita akan bisa buktikan pada orang- orang sekeliling kita terutama anak- anak kita. Ayah dan ibunya itu kuat, kita punya cinta yang hebat!" tutur Adip lagi mengajari Jingga untuk sabar dan dewasa.
Jingga malah hanya bisa meneteskan air matanya sedih.
"Tapi jangan lama- lama ya. Kamu jangan sakit di sini. Kamu jangan dekat- dekat dengan hewan liar. Kamu harus sehat!" jawab Jingga dengan suara paraunya.
“Iya, ya.... positif thingking dong. Umur kan ada yang atur. Ya sudah besok kan kalian akan menempuh perjalanan jauh, sekarang istirahat ya!” tutur Adip mengakhiri obrolan mereka.
“Apa aku tidak bisa mampir ke desa T lagi?” tanya Jingga tiba- tiba.
“Untuk apa?”
“Tentu saja pamitan dan mengambil barang- barangku!” jawab Jingga lagi.
“Tanyakan pada Amer dan pengawal kalian ya! Aku tidak bisa memutuskan.” jawab Adip.
Jingga mengangguk dan berniat memaksa Amer setuju.
“Yuk masuk yuk!” ajak Adip ke Jingga bangun dan kembali ke gubuk.
“Malam ini aku tidak mau tidur!” jawab Jingga kemudian dengan wajah ngototnya. Adip mengernyit heran.
“Kenapa?” tanya Adip.
“Aku ingin terus melihatmu dan bersamamu, mam ini aja. Sebelum aku pulang, tidak bisakah kita habiskan waktu berdua di sini sampai pagi. Aku benci Amer!” jawab Jingga manyun.
Adip pun tersenyum lagi, permintaa Jingga sangat konyol, tapi Adip pun begitu.
“Nanti kamu sakit, dingin lho!” tutur Adip menasehati meski ingin berpuas- puas bersama Jingga. Adip masih berfikir dengan logika.
“Nggak, pokoknya aku mau berdua dengan suamiku, tidak ada yang boleh mengganggu, aku mau di sini! Aku mau habiskan malamku dengan melihatmu!” jawab Jingga lagi dengan manja memegangi tangan Adip tidak boleh bangun dan pergi.
Jingga ingin menghabiskan malamnya berdua dengan Adip menatap bintang yang berkelip indah dan rembulan yang bersinar tenang.
Adip pun mengangguk mengikuti mau istrinya.
“Oke! Kalau sudah ngantuk bilang ya!” jawab Adip menuruti keinginan Jingga.
Suami istri sirih itu kemudian duduk berdampingan melihat angin dan mendengar deburan obak di bawah sana sambil bercerita, mengucapkan dan merajut mimpi mimpi indah masa depan mereka.
Hingga lama, Adip banyak menuturkan rencana nya, Jingga yang menyender di bahunya tak bersuara.
Adip lama- lama juga merasa berat dan nada basah- basah membasahi bajunya.
__ADS_1
Ternyata Jingga tertidur.
Adip pun tersenyum, Jingga sedikit mendengkur. Adip pun segera menggendong Jingga untuk tidur di gubuk kayu bersama Amer dan yang lain.