
Jingga berjalan cepat ke parkiran, tapi belum sampai ke tempat yang di tuju, Jingga menghentikan langkahnya di bawah pohon.
"Ya Tuhan? Kenapa harus begini?" gumam Jingga menggigit bibirnya.
"Gawat!"
Jingga langsung balik kanan dan berlindung di balik pohon. Ternyata mobil Pak Rendi dan mobil Tama bersebelahan. Untuk saat ini Jingga tidak mungkin terang-terangan menghampiri mereka di waktu yang sama.
Bukan Jingga tidak mau mengakui Tama sebagai pacarnya dan menunjukanya pada Pak Rendi, tapi Jingga tidak mau kalau Tama tau Jingga ada sesuatu dengan Pak Rendi.
Jingga juga tidak mau Pak Rendi melakukan sesuatu ke Tama, atau melaporkan ke Baba sebelum Jingga sendiri yang cerita. Padahal Baba Jingga juga bisa dengan mudah mencari tahu isi ponsel Jingga.
"Mending pulang sendiri aja!" batin Jingga akhirnya.
Jingga kali ini belajar dari kesalahan, tidak mau asal naik angkot sembarangan. Jingga menelpon Bunanya agar sopir Jingga menjemputnya. Jingga kemudian berjalan melalui pintu gerbang yang berbeda dan menunggu sopir kiriman Bunanya.
"Kata Tuan nggak usah dijemput Non?" tanya Fitri sampai di depan Jingga dan membukakan pintu mobil untuk Jingga.
"Itu kan kata Baba. Kataku nggak! Udah yuk pulang!" ajak Jingga buru-buru masuk ke mobil.
"Siap Non!" jawab Bu Fitri sopir sekaligus bodyguard perempuan di keluarga Gunawijaya.
Sambil berjalan Jingga mengintip dari jendela mobil. Dua mobil laki-laki itu masih terparkir.
"Hihihi" Jingga malah ketawa reflek melihat dua orang itu menunggunya malah ditinggal pergi.
"Non Jingga kenapa?" tanya Bu Fitri.
"Nggak Bu. Nggak apa-apa!" jawab Jingga.
Kemudian Jingga mengirim pesan ke Tama kalau Jingga sudah dijemput sopirnya. Sementara Pak Dosen, karena Jingga tidak punya nomernya dan ngasih pesannya lewat surat, itupun nggak dibalas Jingga. Jadi dibiarkan saja menunggu.
"Maaf ya Kak, Jingga pulang sama sopir Jingga!" ketik Jingga ke Tama.
"Hemm padahal Kaka mau ajakin kamu ke suatu tempat lhoh. Ini kan hari jadian kita," balas Tama
"He...Maaf Jingga harus asuh adik-adik Jingga, kasihan BunAl nya Jingga Kak!" jawab Jingga lagi beralasan.
"BunAl?"
"Iyah. Bunda Alya, Bundanya Jingga. Jingga nggak boleh pulang lebih dari ashar, Kakak!" ketik Jingga lagi dengan jujur menceritakan kebiasaan dirinya dan keluarganya ke Tama yang dia anggap pacarnya.
"Oh ibumu?"
"Iyah!"
"Bukannya kalian punya banyak pembantu dan baby sister? Ngapain kamu ngasuk adikmu?"
"Adik-adikku tidak terbiasa bersama Mbak aja. Mereka mau sama keluarganya aja. Buna, Baba dan Jingga! Kapan-kapan kakak kenalan ya sama adik kembarku!" ketik Jingga lagi bersemangat ingin mengenalkan Tama pada adik-adiknya.
"Hmmm" jawab Tama.
Di tempat nan jauh di sana Tama mengkerucutkan bibirnya karena Tama tidak suka anak kecil.
"Ya udah, kakak Jangan tunggu Jingga. Pulang geh sana!"
"Terus kapan dong, kita bisa kencan?" tanya Tama lagi.
__ADS_1
"Kencan?" tanya Jingga tidak terbayang merencanakan agenda kencan.
"Iyah, kita kan udah pacaran?" jawab Tama.
"Hehehe, Jingga tanya Buna dulu ya Kak!" jawab Jingga lagi dengan polosnya.
"Aiih Jingga, kenapa semuanya serba Buna sih? Kemon Baby kamu udah mahasiswa!" ketik Tama mulai mengajari Jingga keiasaan orang dewasa
"Bentar lagi ujian semester Kak, terus abis itu Jingga mau ikut seleksi yang Ruang Inspirasi. Kayaknya kencan kita masih lama. Maaf ya Kak!"
"Oke, belajar yang rajin ya... see you next time. Kita ketemu di kampus ya!"
"Iya Kak!"
Jingga tersenyum sendiri menutup ponselnya. Wajah Jingga berseri-seri menatap ke luar mobil. Jingga bahagia merasakan status pacar, dan merasa normal. Tiba-tiba mata Jingga dialihkan oleh seseorang.
"Itu kan dia? Kok dia ada dimana-mana sih?" gumam Jingga melihat si laki-laki bertopi.
Si laki-laki itu tampak menyeberangkan seorang nenek renta di lampu merah yang sama tempat Buna Alya tadi pagi melihatnya. Jingga memperhatikan dengan seksama, pria itu memakai kaos oblong dan celana jeans, lebih rapih dari saat pertama bertemu Jingga.
Pria itu pun tampak tersenyum ramah, menggandeng nenek tua dan kemudian membiarkanya pergi.
"Manis." ucap Jingga spontan dan tanpa sadar saat melihat tawa si pria bertopi itu.
"Sebenarnya siapa dia? Apa pekerjaannya? Supir angkot? Aktivis LSM? Atau pengamen?" gumam Jingga terus melihat pria itu.
Setelah menyeberangkan jalan si nenek tua, ternyata pria itu bergabung denga seniman jalanan. Mereka mangkal di lampu merah dengan seperangkat alat angklung.
Belum puas Jingga memperhatikan laki-laki itu, lampu apil menyala hijau. Bu Fitri melajukan mobilnya menjauh.
"Bu!" panggil Jingga ke sopirnya.
"Emang di lampu merah situ sejak kapan ada angklung?" tanya Jingga
"Lho ya udah lama Non!" jawab Bu Fitri tersenyum. Jingga aneh, orang tiap hari lewat jalan itu tapi baru sadar kalau di situ ada kelompok angklung.
"Iya kah?" tanya Jingga.
"Iya, Non kan kalau naik mobil sukanya tidur kalau nggak dengerin musik. Kelompok angklung itu emang tiap hari senin, rabu dan minggu ada di situ!" ucap Bu Fitri menjelaakan.
"Oh gitu?"
"Non suka angklung?"
"He... suka Bu!" jawab Jingga berbohong.
Sebenarnya Jingga bukan suka angklung. Tapi Jingga penasaran dengan salah satu tukang angklung itu. Kenapa Jingga tidak pernah menyadari kalau tukang sopir itu sering mangkal di situ.
Jingga juga baru menyadari saat mengenakan pakaian yang benar, supir bau keringat itu tampak manis dan ganteng. Meski dia lebih hitam, tak serapih Tama dan Rendi, tapi sopir itu tampak lebih maco dan menyenangkan.
"Hhhh... apa sih kenapa aku jadi kepikiran si sopir matre itu sih? Aish kenapa juga aku tadi nggak turun dan samperi dia yak? Dia kan utang sama aku. Ck. Aih bodohnya aku!" gumam Jingga sendiri menepuk nepuk pelipisnya menyadari kalau dari tadi Jingga terpaku hanya untuk memperhatikan si pria bertopi.
Jingga berusaha menoleh ke belakang lagi. Tapi rupanya Mbak Fitri sudah terlalu jauh berlalu. Kelompok si pria bertopi itu tak terlihat lagi.
Tidak lama Jingga dan Mbak Fitri sampai di istana Gunawijaya. Jingga langsung bergegas masuk.
Seperti biasa di area playground Si Biru dan Si Hijau sedang asik main balok tumpuk. Sementara Bunanya tampak duduk mengawasi sambil membaca buku.
__ADS_1
"Asaalamu'alaikum Bun..." sapa Jingga mencium tangan Bunanya dan mencium pipi nya.
"Waalaikum salam Sayang. Kata Baba, nggak usah jemput kamu, ada orangnya Baba yang akan anter. Kok kamu minta jemput?" tanya Buna sama pikiranya dengan Mbak Fitri.
"Nggak apa-apa Bun, udah sih nggak usah dibahas kan yang penting Jingga udah di rumah! Emang Baba udah pulang?"
"Baba hari ini nggak pulang, Baba mau jemput Nila"
"Hah? Jemput Nila?" tanya Jingga terperangah.
"Emem," jawab Buna mengangguk.
"Nila mau pulang?"
"Iya, Nila sakit. Buna sama Baba jadi khawatir! Sekalian Baba ada urusan bisnis di sana. Sepertinya akan lama!"
"Nila sakit? Sakit apa?"
"Buna juga nggak tau, makanya Baba tadi pulang sebentar kabarin Buna, siap-siap. Ini nanti terbang abis maghrib! Doain mereka baik-baik aja. Kamu juga temani Buna ya!" jawab Buna memberitahu kalau Babanya sedang keluar negeri menjemput adiknya.
"Nila pulang buat liburan atau seterunya Bun?"
"Sepertinya seterusnya, Nila kan lulus SMP sekarang!"
"Berarti Nila SMA di sini?"
"Sepertinya begitu"
"Kok sepertinya Bun? Yang bener!"
"Sayang, Buna ikut apa keputusan Baba dan keinginan Nila. Kalau Nila masih mau nimba ilmu dan kejar mimpi di luar, Buna doain. Kalau mau tinggal di sini, Buna juga sangat bahagia anak-anak Buna ada dekat Buna!"
"Kalau Jingga ijin buat kejar impian Jingga, apa Buna dan Baba juga ijinin?" tanya Jingga mulai merayu ijin.
"Tentu dong Sayang, prioritas Baba dan Buna itu kebahagiaan kalian"
"Sungguh?"
"Emem!"
"Tapi kenapa Baba suka galak dan posesif?"
"Karena Baba terlalu sayang dan khawatir ke kamu. Makanya sama Baba yang akur, tunjukin dong kalau kamu bisa dipercaya!"
"Abis Baba suka aneh Bun!"
"Hemm"
"Oh iya Bun, boleh nggak Jingga ikut Ruang Isnpirasi?"
"Apa itu?"
"Pokoknya ini keren Bun. Tapu ada seleksinya. Nanti deh kalau Jingga udah keterima Jingga ceritain!"
"Oke... " jawab Buna mengangguk.
"Ya udah Jingga mandi dulu ya Bund!"
__ADS_1
"Ya.. "
Jingga berlenggang dengan semangat. Sepertinya Tuhan berpihak pada Jingga. Baba Jingga sedang ke Luar Negeri jemput Nila, sekalian menunggu upacara kelulusan Nila dan ada urusan bisnis di sana. Itu artiya Baba akan lama di Luar. Ijin Jingga akan mudah didapatkan kalau sama Buna.