Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
96. Aku punya minuman untukmu


__ADS_3

“Nyonya Martha usia 32 tahun, G2 P1 AO usia gestasi 38 minggu, dia sudah masuk ke inpartu kala 2, presentasi bokong!” ucap Adip setibanya Jingga di sebuah rumah kayu di tepi pantai itu. Adip langsung pada intinya, menyampaikan kondisi seperti apa yang akan Jingga hadapi sebagai pasien pertamanya, tanpa salam tanpa menanyakan kabar Jingga setelah satu minggu. 


“Presentasi Bokong? Kala 2?” tanya Jingga langsung melotot dan gemetaran mendengar informasi Adip, lebih dari itu, Jingga juga heran darimana Adip tahu bahasa diagnosa ilmu kandungan begitu? Apakah di hewan juga sama? Sepertinya tidak.


“Iya...aku sempat memeriksanya, ini jatahmu! Pembukaanya sudah lengkap!” jawab Adip memberitahu lagi.


*** Presentasi bokong adalah salah satu keadaan persalinan yang sebaiknya dilakukan di rumah sakit.


Normal dan idealnya bagian bayi yang keluar dulu atau berada di paling bawah adalah kepala. Jika bagian bawah bokong, di rumah sakit akan banyak dianjurkan lahir secara secar.


Bisa dilakukan lahir normal dengan syarat- syarat tertentu. Meski bisa dilahirkan normal pun butuh keterampilan penolong dengan jam terbang tinggi, selain itu akan banyak resiko di ibu dan bayinya.


 


Ibu harus mempunyai tenaga mengejan yang ekstra, panggul jugaa harus  lebih besar. Ibu juga akan mempunyai resiko perdarahan dan mengalami robekan jalan lahir lebih banyak. Untuk resiko pada bayi, bayi bisa asfiksia atau gagal nafas. 


Mendengar informasi dan keterangan dari Adip, Jingga seperti mendapatkan berita kutukan dan hukuman.


Tangan Jingga gemetaran sangat terlihat sekali, Jingga langsung gugup dan gelagapan, dan keringatnya keluar membanjiri keningnya. 


Betapa tidak, Jingga kan mahasiswa. Meski bulan depan dia masuk semester 7, tahun depan dia wisuda tapi kan Jingga belum koas.


Jingga hanya belajar teori buku, artikel dan you tube. Jingga belum berpengalaman menangani hal ini, sementara sekarang di depanya, Jingga dihadapkan pada pilihan yang di tanganya ada dua nyawa yang jadi taruhanya. 


“Kenapa nggak dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit sih? Pak Yoseph dan Bapak Yusuf udah sembuh kan?” tanya Jingga ke Adip masih menyalahkan keadaan menyeramkan itu.


“Haish.... kamu masih sempat menyalahkanku dan berfikir sesuatu yang tidak mungkin? Ibu Marta sudah memasuki kala 2 persalinan! Lakukan apa yang kamu bisa!” omel Adip lagi.


Jingga terdiam masih sangat gugup berdiri di depan ruang Bu Martha mengaduh kesakitan dan dibantu dua orang tetangganya. 


Adi kemuddian maju mendekati Jingga, tanpa ijin dan tidak berfikir lancang. Adip bergerak menarik tangan Jingga, lalu menyerahkan sepasang sarung tangan medis, ke tangan Jingga. 


“Pakailah! Lakukan!” ucap Adip menatap Jingga penuh tekanan dan menggerakan kepalanya mengkode Jingga seger masuk. 


*** Kala II adalah bagian dari proses persalinan dimana pembukaan jalan lahir sudah lengkap dan fase dimana bayi harus segera dilahirkan.


Jingga masih terbengong dan berusaha mengumpulkan kesadaran kalau apa yang dia hadapi sekarang adalah sebuah kenyataan. Ya ini bukan mimpi tapi nyata. Yuri yang tidak paham hanya diam memperhatikan. 


Jingga memandangi handscoon di tanganya, itu bukan handscoon steril sesuai standar pertolongan persalinan seperti di rumah sakit Oppanya. 


Alat pelindung diri yang seharusnya seperti yang ada di rumah sakit Oppa Nando adalah sarung tangan yang sekali pakai, tebal dan panjang melindungi tangan Jingga agar terlindung dari percikan darah yang bisa membawa penyakit menular yang Jingga tidak tahu. 

__ADS_1


Sementara di tangan Jingga hanya ada sarung tangan non steril yang tipis, melindungi telapak tangan saja. Padahal pasien Jingga tidak dicek labolatoriun sama sekali, tidak tahu apakan pasien mempunyai bawaan penyakit menular atau tidak?,


Pasien di rumah sakit Oppa Jingga kan prosedurnya semua pasien lahiran dan rawat inap sudah dicek laborat agar ketahuan apa pasien mempunyai penyakit menular atau tidak, setelah itu dikelompokan sesuai resiko penyakitnya.


Selain Jingga ragu akan kemampuanya menolong dua nyawa sekaligus, plus ini pengalaman pertama, Jingga juga dihantui takut tertular penyakit karena APD yang minim dan seadanya.


Jingga pun meneteskan air matanya lemah gemetaran. Jingga merasa tantangan ini begitu berat, tapi harus dia hadapi. Jingga baru sadar menjadi seorang dokter tak seindah bayanganya seperti Kakeknya dan drama- drama yang dia lihat.


“Kenapa diam? Kau akan membiarkan mereka mati dan kesakitan?” bisik Adip geram mendekat ke Jingga, melihat Jingga malah mematung. 


“Tidak ada handscoon lain selain ini?” tanya Jingga ragu dan memperlihatkan wajah manja dan lemahnya ke Adip. 


“Astaga! Tidak bisakah kau berhenti bertanya dan segera lakukan kewajibanmu?” tanya Adip lagi.


Jingga hanya diam, padahal suara Bu Martha terdengar semakin keras mengaduh kesakitan.


“Kenapa kau masih diam? Kau tidak bisa melakukanya? Apa harus aku yang  melakukanya? Aku veteriner, kau yang dokter? Benar bukan? Atau jangan- jangan selama kuliah kau hanya tidur dan bersolek?” tanya Adip lagi kehilangan kesabaran ke Jingga. 


Mendengar hinaan Adip yang mengatai Jingga hanya bisa bersolek membuat Jingga sakit hati dan tertantang.


Jingga kemudian menatap Adip dengan tatapan sakit dan kecewa. Kenapa Adip selalu merendahkannya? Padahal Jingga selalu melihat Adip sangat menghargai orang lain dan ramah ke orang.


“Okeh!” jawab Adip mengangguk. 


Jinggapun memakai handscoonya dan masuk ke kamar sempit dimana Bu Marta terlihat berbaring kesakitan. 


Jingga memang tidak menguasai ilmu kandungan secara mahir. Apalagi Jingga belum wisuda dan belum pernah terjun ke rumah sakit. Hanya saja Jingga bernah belajar mata kuliah itu, Jingga pernah sekilas mendengarkan ceramah yang diperagakan dengan phantom, Jingga juga pernah melihat videonya, meski hanya sekilas. 


Jingga kemudian mengumpulkan memory otaknya dan menempatkan konsentrasinya pada mode on. Menghadirkan semua langkah di video yang pernah dia tonton. 


Jingga mempraktekan semua teori dan langkah itu sebisanya dan dengan tekadnya.


Pertama Jingga memotivasi Bu Martha dengan lembut dan penuh perhatian, menjelaskan apa yang akan dia lakukan, berdoa, lalu mengkoordinasi kedua tetangga Bu Martha.


Dengan langkah nekat, meski tidak sesuai dengan standar prosedur operasional yang benar Jingga, menolong Bu Martha sebisanya.


Jingga melupakan semuanya yang dia lalui ;nsiapa dia bagaimana dia ; dimana dia; apa yang akan terjadi setelah ini.


Jingga hanya fokus, Jingga harus bisa menolong ibu dan bayi itu selamat, dengan mengerahkan semua teori dan tenaga yang dia kumpulkan. 


Adip dan Yuri yang awalnya juga meragukan Jingga kemudian berdiri di dekat pintu, mereka memperhatikan dan menunggu aksi Jingga dengan penuh harap.

__ADS_1


Adip yang veteriner dan hanya mengetahui sedikit ilmu kedokteran, itu juga hanya berdasar dari membaca dan ikut belajar dari teman kosnya tidak banyak berkomentar. Adip hanya memperhatikan Jingga dengan tumpukan rasa rindu yang dia tahan.


Sekitar 15 menit bayi dilahirkan. Sambil tetap menolong melahirkan plasenta dan menolong Ibu. Jingga cerewet dan mengajari tetangga Bu Martha bagaimana menolong bayi Bu Martha. Bayi Bu Martha sempat tidak menangis sejenak, untungnya Bu Martha seorang pekerja keras sehingga kekuatan mengejanya bagus, hanya di rangsang taktil sedikit bayi Bu Martha segera terselamatkan. 


Sekitar 50 menit, Jingga menyelesaikan pekerjaanya. Menjahit luka jalan lahir Bu Martha sebisanya.


Meski belum praktek dan koas. Jingga sering belajar bersama Kakek Nando membahas tentang materi yang ingin Jingga tahu dari Kakeknya yang seorang Dokter Bedah. Jinggapun mengibgat video- video teknik menjahit dari Kakeknya itu.


Adip pun memasang badan menjadi pesuruh Jingga apa saja yang Jingga butuhkan. Adip bersedia bolak balik berlari mengambil alat dari gubuk kecil tempat bidan desa itu praktek. Sementara Yuri mendampingi Jingga di dalam.


Setelah Bu Martha rapi. Jingga juga sudah membersihkan kotoran- kotoran sisa lahiran. Jingga juga sudah memberikan obat. Jingga kemudian mencuci tanganya dan keluar kamar.


“Apa kassanya tadi cukup? Apalagi yang kau butuhkan? Katakan!” tanya Adip perhatian menghampiri Jingga yang keluar kamat.


Adip melihat Jingga yang wajahnya sudah sangat pucat dan keringatan. 


Jingga kemudian menoleh ke Adip, bibir cantiknya merekahkan senyum meski pucat, bahkan mata Jingga terlihat nanar. 


“Dheg!” Adip langsung menelan ludahnya, jantungnya berdebar snagat kencang melihat pertama kalinya Jingga tersenyum sealami itu.


Meski Jingga pucat rambutnya berantakan, keringetan dan kini wajah Jingga dihiasi jerawat, tapi senyum Jingga terasa sangat murni. Sangat indah dipandang.


“Makasih, aku berhasil, aku bisa!” lirih Jingga sangat terharu dan tidak menyangka akan kemampuan dirinya sendiri. 


“Oh... ya!” jawab Adip mengangguk dan salah tingkah. 


Jingga tersenyum lagi sangat lega sampai air matanya menetes. “Aku bisa... aku bisa... Bu Marta dan bayinya selamat!” lirih Jingga lagi sambil menyeka air matanya.


Jingga berdiri melihat Bu Martha mendekap bayinya dengan tenang dari balik celah pintu  kayu.


“Ehm...” Adip berdehem ikut terharu dan merasakan debaran yang luar biasa melihat Jingga begitu.


Kata hati Adip mendorongnya untuk segera memeluk Jingga, tapi akal sehatnya berkata. 


“Ingat Adip, dia calon dokter, anak sultan, anak konglongmerat nomer satu di negara ini. Dia juga calon istri seorang dosen anak kyai dan seorang dokter juga! Siapalah kamu yang pekerjaan tetap saja tidak punya!”  batin Adip dengan penuh kesadaran.


Adip kemudian mengepalkan tanganya dan menelan ludahnya, menahan diri untuk tidak menyentuh Jingga. 


“Kamu pasti haus, ikut aku, aku punya minuman segar untukmu!” ucap Adip ramah ke Jingga.


Jingga menoleh ke Adip dan mengangguk. Ini pertama kalinya juga Adip bersikap baik dan ramah. 

__ADS_1


__ADS_2