
Seperti tawanan yang terpaksa patuh pada sang penyandra, dengan berat hati Jingga duduk di samping Pak Rendi. Pak Rendi menatap Jingga dengan senyum kecil yang penuh arti.
Sementara mata Jingga menatap jauh ke depan enggan melirik apalagi melihat pak Rendi, bibi Jingga seperti terjahit berlapis- lapis benang, tidak bisa dibuka apalagi digerakan.
“Seatbeltnya dipakai, apa mau kupakaikan?!” ucap Rendi santai dan sangat tenang menatap Jingga yang diam.
“Hmmm!” Jingga masih tetap pada posisinya, duduk menghadap ke depan tanpa menoleh, tapi tangan Jingga meraih seatbelt dan mengenakanya.
Pak Rendi memutar kunci mobilnya dengan tenang, mesin menyala. Kata bismillah terangkai dalam hati dan dia putar stir bulatnya. Mobil Pak Rendi melesat menyusuri jalan ibu kota yang halus dan ramai.
Sepanjang jalan Jingga diam seribu bahasa. Suasananya sangat canggung. Sebenarnya AC di dalam mobil sudah cukup dingin, parfum yang digunakan pun beraroma wangi lavender, jok mobilnya juga cukup empuk dan nyaman, tapi tetap saja, hati Jingga tak tenteram.
Jika saja ada jurus menghilang, Jingga akan berusaha mati- matian untuk mempelajari dan bisa mempraktekan, sayangnya itu hanya ada di cerita fantasi yang Jingga tidak tahu dari mana sumber data yang tepatnya. Dan kalau saja ada yang jual pintu doraemon atau pintu dunia lain, Jingga akan menukarkan semua yang dia punya untuk bisa memliki itu sekarang.
Dosen Jingga yang selama ini terlihat kaku, menjaga jarak, galak, dan menyebalkan, kini duduk di sampingnya dan mengaku dengan percaya diri menyukai dan mengancam ingin menikahinya.
“Hah! Yang benar saja, bencana macam apa ini?” batin Jingga di sepanjang perjalanannya.
Pak Rendi memang tampan, Pak Rendi juga mapan, tapi itu semua tak cukup. Baba Ardi, buat Jingga lebih tampan, Baba Ardi juga lebih kaya. Jingga tidak silau akan ketampanan dan harta.
Sejak lahir sampai detik sekarang, Jingga hidup dalam kedisiplinan, keposesifan dan kasih sayang yang berlebih dari Babanya. Jingga merasa sudah cukup menjalani hidup dengan jenis kehidupan yang seperti itu.
Jingga mau, hidupnya sedikit ada warna seperti namanya. Jingga punya impian sendiri tentang kehidupannya nanti setelah keluar dari rumah besar keluarganya. Jingga ingin mempunyai rumah dan surganya sendiri, dengan cerita dan warna yang Jingga suka.
Jingga mau, suami Jingga lebih santai, lebih mengerti Jingga. Jingga ingin ada jeda nafas yang lebih panjang dalam hidupnya nanti. Jingga ingin bisa menghirup udara yang bebas dan segar tanpa kekangan.
Cukup, Baba Ardi saja yang posesif terhadapnya, cukup Baba Ardi orang kaku yang ada di hidupnya, selebihnya Jingga ingin suami yang bisa membebaskanya. Jingga ingin punya suami yang bisa bersama- sama mengepakan sayap untuk terbang ke angkasa dan melihat indahnya dunia dengan berbagai rasa, bukan orang sekaku Pak Rendi.
“Nggak usah tegang gitu mukanya!” ucap Pak Rendi berusaja mencairkan suasana.
“Serah saya lah!” jawab Jingga ketus.
“Ya, tapi saya minta, setidaknya nanti tersenyum ya, saat bertemu ibuku!” Jawab Rendi.
__ADS_1
Mendengar kata ibu, kuping Jingga seperti tersengat aliran listrik yang sangat banyak, berapa wattnya tidak bisa dideskripsikan, Jingga kaget dan langsung menoleh sambil memicingkan matanya.
“Ibuku? Maksud bapak apa?” tanya Jingga.
“Ibuku berkunjung ke apartemenku. Dia ingin bertemu dengan calon menantunya.” Jawab Rendi santai.
“Hoh!” pekik Jingga melongo dan wajahnya langsung pucat, Jingga menelan ludahnya dengan kegertira sempurna. “Bertemu ibu, calon menantu? Lelucon macam ini?” batinya.
“Ya, makanya, jangan cemberutnya ya! Kasian ibuku udah tua, capek- capek dari luar kota masa dikasih wajah cemberut!” jawab Rendi lagi.
“Pak, tunggu- tunggu tolong hentikan mobilnya di depan, kita perlu bahas ini dulu!” ucap Jingga kemudian.
“Bahas gimana? Berhenti dimana? Jalan rame lho!” jawab Rendi menolak halus permintaan Jingga.
Jingg menelan ludahnya menahan emosinya dan berusaha berbicara setenang mungkin.
“Bertemu calon? Bertemu Ibunya anda? Pak maksud nya apa? Sejak kapan saya akan menjadi calon menantu ibu anda, sudah saya jelaskan kan Pak! Saya nggak setuju dengan perjodohan ini. Saya punya pacar, tolong dong Pak. Bapak tau malu atau diri sedikit saja!” ucap Jingga pelan tapi berusaha menyakiti dan menyentil hati Pak Rendi. Jingga berharap Pak Rendi ngerti, Jingga tidak mau jadi istrinya.
Sayangnya, Rendi justru memberikan senyuman kecil. Wajahnya sangat tenang dan kembali tanpa ekspresi, sangat menyebalkan bagi Jingga.
“Woah, anda benar- benar ya Pak! Ingat pernikahan akan terjadi jika kedua belah pihak saling rela dan sepakat menikah, jika tidak jangan bermimpi!”
“Dan aku yakin, pernikahan akan terwujud jika kedua keluarga saling setuju! Dan aku yakin juga, kamu putri yang patuh dan sayang pada Babamu kan?” ucap Rendi lagi.
“Tapi tidak mematuhi untuk menikah dengan Bapak!”
“Oh ya? Tapi saya ragu kamu bisa menolaknya!” jawab Rendi lagi.
“Ssshhhh” Jingga pun menatap Pak Rendi sangat gemas dengan jawabanya, kenapa orang ini sangat bermuka tembok begini.
“Dan saya, akan berjuang sekuat tenaga saya untuk menolaknya!”
“Oh ya? Nyatanya kamu sekarang ada di sini di sampingku! Dan seterusnya akan begitu!” jawab Pak Rendi lagi dengan senyum kemenanganya.
__ADS_1
“Untuk hari ini saja, karena bapak curang selalu mengancamku!” jawab Jingga membela diri.
“Apapun itu, intinya kamu akan tetap ada di sampingku, jadi terimalah, mengerti!”
"Pak, tolong berfikirlah dengan akal sehat. Ini jaman modern dan milenial, bapak bisa menikah dengan orang lain semau Bapak, tapi bukan saya. Bapak nggak akan bahagia menikah dengan saya. Saya nggak cinta bapak!"
"Kamu akan mencintaiku. Aku akan membuatmu begitu!"
“No! Tolong turunkan saya! Dan biarkan saya pergi sendiri!” ucap Jingga meminta.
“Apartemenku sudah dekat, memang mau pergi kemana?” tanya Rendi pelan.
“Saya nggak mau ikut bapak, dan bertemu ibu Bapak, bisa gila saya!” jawab Jingga kesal.
“Babamu berpesan, beliau ingin setelah kepulanganya menjemput adikmu, kita tunangan segera. Hargai orang tuaku sedikit ya!” tutur Rendi pelan menjelaskan.
“What? Tunangan?” tanya Jingga semakin kaget.
“Iya!”
“Nggak ini gila, Baba sepertinya salah minum obat, aku nggak terima aku nggak mau!” jawab Jingga tegas.
“Kalau kamu nggak mau, terus maunya apa? Kamu ingin, aku langsung menikahimu?” jawab Rendi malah semakin melampau dugaan Jingga.
“Oh my God!”
Jingga tercekat, tidak bisa dijelaskan rasanya, yang ada hanya seluruh ototnya menegang, rongga paru di dada Jingga seperti penuh dan tak ada ruang. Jingga benar- benar putus asa, Jingga ingin buka pintu mobil dengan paksa, tapi terlalu berbahaya.
“Bapak gila!” ucap Jingga kemudian, mengumpati dosen yang selama ini dia takuti dengan berani.
Rendi tersenyum lagi.
“Aku sudah lama tergila- gila padamu, Jingga!” ucapnya kemudin membuat Jingga melotot.
__ADS_1
“Apa ini? Pak Rendi tergila-gila sama Jingga, sejak kapan?” batin Jingga bergidik ngeri tidak menyangka.
Kenapa Jingga tidak pernah menyadarinya? Pantas saja setiap ada ujian Pak Rendi selalu menyuruh Jingga yang mengumpulkan. Pantas saja Pak Rendi selalu menerapkan aturan mahasiswanya untuk duduk di depan secara bergilir, dan selalu Jingga beradi digaris lurus yang bisa ditatap Pak Rendi dengan jelas.