
"Kapan hujan ini reda ya?" Ucap Shata.
"Sabar, sepertinya sebentar lagi akan reda. Kenapa kamu terburu-buru sekali?" Tanya Alysa.
"Karena dia akan menemui ayahnya di kuil" Sahut Tara.
"Wah... Apa benar? Semoga kali ini beliau mau menemuimu ya" Ucap Alysa.
Shatapun hanya tersenyum. Dia tidak ingin memberitahukan kepada siapapun bahwa dia telah bertemu dengan ayahnya dan kini telah menjadi pengawal pribadi sahabatnya, yaitu Pangeran Tara.
"Amiinn.." Ucap Tara sembari tersenyum.
"Daritadi kamu terus yang jawab, padahal aku sedang bertanya pada Shata" Ucap Alysa.
"Daripada di cuekin lebih baik ada yang menjawabkan?" Jawab Tara.
"Iya deh terserah kamu" Jawab Alysa.
"Ibu tadi kemana ya?" Tanya Shata.
"Em.. Ibu mungkin pergi ke kamar menjaga ayah" Jawab Alysa.
"Oh.. Apa boleh kita menengok ayahmu?" Jawab Shata.
"Iya nih, daritadi belum ketemu sama sekali. Kita juga ingin tahu bagaimana kondisinya" Sahut Tara.
"Bukannya tidak boleh, tapi bukankah lebih baik jika ayah benar-benar istirahat total tanpa di ganggu siapapun agar beliau juga cepat pulih" Jawab Alysa.
"Em.. Baiklah kalau begitu" Jawab Shata.
"Eh.. Hujannya udah mulai reda, kami pamit dulu ya.." Sambung Shata.
"Sebentar aku panggilkan ibu" Ucap Alysa.
Alysapun memanggil ibunya. Sedangkan Shata dan Tara sedang bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Disisi lain, Ayah Shata sangat khawatir karena Shata dan Tara tak kunjung kembali, ditambah lagi dengan adanya hujan petir yang sedang terjadi.
"Kok kalian sudah mau pergi saja?" Ucap Ibu Alysa.
"Iya bu, karena kita mau ke kuil, menemui ayah" Jawab Shata.
"Oh.. seperti itu, ya sudah ini kalian bawa ya, semoga kali ini ayahmu mau menemuimu, jika beliau mau menemuimu, tolong sampaikan salamku padanya" Ucap Ibu Alysa.
"Baik, Bu.. Terima kasih banyak" Jawab Shata.
"Kalau begitu, kami pamit dulu. Terima Kasih bu" Ucap Tara.
"Iya nak, hati-hati" Jawab Ibu Alysa.
"Alysa, aku pergi dulu" Ucap Tara.
"Ya, jangan kamu habiskan sendiri itu makanannya" Ucap Alysa.
"Hehehe.. Kamu bisa aja" Jawab Tara.
__ADS_1
"Kami berangkat.."Ucap Shata.
Merekapun pergi meninggalkan rumah Alysa untuk melanjutkan perjalanan ke kuil.
"Ada apa ya? Tara kok pergi ke rumah? Aku jadi penasaran" Batin Alysa. Ternyata Alysa sedari tadi memikirkan ucapan Shata yang menyebutkan bahwa Tara pergi ke rumahnya untuk mencarinya.
"Apa dia suka denganku ya?" Ucap Alysa.
"Dia siapa?" Sahut Ibu Alysa yang mendengar anak perempuannya itu berbicara sendiri.
"Eh.. Enggak bu, tadi Tara ke rumah kita, kata Shata dia mencariku" Jawab Alysa.
"Mungkin hanya ingin berpamitan atau menitipkan kunci rumahnya. Kamu tidak usah berpikir yang macam-macam. Ingat, ayahmu telah menjodohkanmu!" Jawab Ibu Alysa.
Alysapun hanya terdiam dan meninggalkan ibu menuju kamarnya, dia sebenarnya sangat tidak ingin dijodohkan dengan siapapun. Dia ingin menjadi istri dari orang yang dia sayangi. Meskipun ada pepatah yang mengatakan "Cinta bisa ada karena terbiasa", dia tidak begitu percaya bahwa cinta karena terbiasa itu dapat menghantarkan dia pada kebahagiaan. Dia sangat yakin, kebahagiaan hanya akan datang karena kedua belah pihak saling mencintai tulus dari hati bukan karena terbiasa bersama.
.......
"Ternyata Alysa anak orang kaya" Ucap Tara.
"Tapi yang pasti tidak akan melebihi kekayaanmu" Jawab Shata.
"Kamu ini ada-ada saja! Bukan begitu, aku kira dia anak orang-orang biasa. Ternyata, dia memiliki rumah semewah dan semegah itu.. Bahkan dia tadi bilang kalau ada beberapa rumah lagi" Jawab Tara.
"Iya sih, aku juga sebenarnya agak terkejut. Aku mengenal keluarga mereka dari kecil. Seingatku, mereka bukan dari keluarga kaya, bahkan dahulu ayahku sering membantu menjualkan dagangan mereka" Jawab Shata.
"Aku juga ingat, dulu mereka sempat bangkrut. Untuk makanpun tidak ada, jadi ayahku yang selalu membantu mereka. Menurutku karena itulah mereka juga sering membantu kita" Sambung Shata.
"Em.. Begitu ya tapi sudahlah.. Namanya rezeki orang berbeda-beda, syukurlah kalau sekarang mereka serba ada dan tidak kekurangan" Jawab Tara.
"Aku mau bapaonya satu" Ucap Tara.
"Haa... Belum juga seperempat perjalanan sudah lapar? Sepertinya kamu tadi juga sudah makan banyak sekali" Jawab Shata sembari memberikan satu buah bapao kepada Tara.
"Hehehe.. Nggak enak aja kalau nggak ngemil" Jawab Tara sembari melahap sedikit demi sedikit bapao yang diberi oleh Shata.
Shatapun hanya menggelengkan kepalanya.
Di kuil, sang Ayah sedang berdoa kepada sang Dewa sembari menunggu Shata dan Tara datang. Tiba-tiba dari arah belakang, dia di kejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba muncul dengan membawa busur panah dan langsung pergi meninggalkannya. Orang itupun tidak berbicara sepatah kata apapun. Ayah Shatapun bingung keheranan, dia memanggil Zheyata untuk meminta tolong mengambilkan busur panah itu. Dengan hati-hati Zheyatapun mengambil busur panah itu.
Tidak lama kemudian....
"Aarrghhhhhh.....!!!" Teriak Zheyata. Ayah Shatapun terkejut , tidak hanya itu saja. Seluruh pengabdi dewa di kuil langsung berlarian mendekati Zheyata.
"Ada apa? Ada apa?" Tanya Ayah Shata.
"Astagaa..!! Ini kenapa? Cepat panggilkan tabib" Jawab salah seorang pengabdi dewa. Akhirnya, pengabdi dewa yang lainnya membagi tugas, ada yang memaggil tabib dan ada yang membantu Zheyata menuju ruangannya.
"Aarrrggghhh ini sakit sekali, tolong aku Dewa" Ucap Zheyata.
Setelah menyentuh busur panah tersebut, tangan Zheyata tiba-tiba saja melepuh tanpa sebab. Padahal, busur panah itu tidak dalam kondisi panas. Ayah Shatapun memberikan pertolongan pertama dengan memasukkan telapak tangan Zheyata ke dalam air sejuk dengan harapan agar bisa sedikit meringankan rasa sakit Zheyata.
"Zhey, maafkan aku. Aku tidak tahu jika akan terjadi seperti ini" Ucap Ayah Shata sembari membantu Zheyata mencelupkan telapak tangannya ke dalam air sejuk.
"Tidak apa-apa Ayah, saya tahu ini bukan karena perbuatanmu tetapi untuk saat ini ada orang yang ingin mencelakaimu. Aku harap kamu selalu waspada dan berhati-hati" Jawab Zheyata.
__ADS_1
Tabibpun datang dan langsung memeriksa kondisi Zheyata.
"Racun mawar hitam" Ucap Sang Tabib.
"Ha? Racun mawar hitam?" Tanya salah seorang pengabdi dewa yang menemui tabib.
"Iya, ini adalah akibat dari racun mawar hitam. Aku akan memberikan pengobatan untukmu setidaknya ini bisa menghambat efek racun menjalar ke seluruh tubuh" Jawab tabib.
Ayah Shata dan pengabdi dewa tersebutpun meninggalkan Zheyata dengan sang tabib.
"Sebenarnya ada apa?" Tanya pengabdi dewa.
"Tadi ketika aku berdoa, tiba-tiba saja ada seseorang yang menemuiku dan memberiku busur panah. Busur panah itu di letakkan di depanku, karena aku sedang membawa dupa pemujaan, aku meminta tolong kepada Zheyata, tidak lama kemudian Zheyata menjerit dan aku melihat tangannya menjadi sangat merah serta melepuh seperti itu" Jelas Ayah Shata.
"Oh.. Seperti itu, berarti untuk saat ini ada orang yang sedang ingin mencelakaimu. Tetapi untuk apa? Dan darimana dia dapatkan racun mawar hitam itu?" Ucap pengabdi dewa.
Kemudian tabib itu keluar.
"Bagaimana bisa ada racun mawar hitam saat ini? Setahuku bunga itu sudah musnah di seluruh penjuru negeri" Ucap Tabib.
"Apakah kamu yakin jika itu adalah racun mawar hitam?" Tanya Ayah Shata.
"Iya aku sangat yakin, dulu pada saat kerajaan kita diserang oleh kerajaan Baradha, kerajaan mereka menggunakan racun mawar hitam untuk mengalahkan pasukan kerajaan kita dan aku dulu termasuk salah satu tabib yang membantu menyembuhkan pasukan yang terluka. Gejala mereka sama persis seperti yang terjadi pada Zheyata" Jelas tabib.
"Jadi, apa mungkin ini kiriman dari kerajaan Baradha? Tapi mengapa ingin mencelakai Ayah Shata?" Ucap pengabdi dewa.
"Setahuku Kerajaan Baradha itu sudah tidak ada lagi sekarang, mereka sudah dimusnahkan oleh kerajaan lain yang lebih hebat dan kuat, dan kini seluruh wilayah kerajaan mereka telah tenggelam menjadi lautan" Jawab Tabib.
"Jika mereka saja tidak ada, lantas siapa?" Jawab Ayah Shata.
"Iya ya, aku juga jadi penasaran" Ucap pengabdi dewa.
"Entahlah.. Aku juga tidak tahu.. Sebentar aku akan kembali memberikan perawatan kepada Zheyata" Ucap tabib.
"Iya silahkan" Jawab Ayah Shata dan pengabdi dewa.
Ditengah kebingungannya. Sang Ayah melihat Shata dan Tara yang telah datang. Dia sangat lega karena ke dua anaknya telah datang dengan selamat. Dia sempat berpikir juga akan terjadi sesuatu pada anaknya.
.........
"Ayahh...." Teriak Shata.
"Kenapa Ayahmu dan pengabdi dewa Zian, tampak tegang?" Ucap Tara. Ya, pengabdi dewa yang memanggilkan tabib itu bernama Zian.
"Kamu kenal?" Tanya Shata.
"Aku mengenal seluruh pengabdi dewa di sini. Dia termasuk pengabdi dewa yang sangat tegas" Ucap Tara.
"Ohhhh... Begitu.." Jawab Shata.
Sesampainya di dekat ayah dan pengabdi dewa Zian.
"Ada apa ini. Kenapa kalian tampak sangat tegang? Apa telah terjadi sesuatu di kuil?" Tanya Tara.
Ayah Shata dan Pengabdi Dewa Zianpun hanya melihat satu sama lain. Mereka bingung dan bimbang. Apakah sebaiknya di beri tahu atau dibiarkan saja agar mereka tidak tahu.
__ADS_1