
Hari ini semua berkumpul di ruang tamu apartemen Ayyub. Kenapa tidak di rumah alasannya karena Shintia saat ini juga masih berada disana.
Hakim tengah mengurus beberapa asetnya bersama pengacara dan aistennya sementara Ayyub tengah mencoba melihat rekaman jejak cctv di rumah utama tentu saja sebelumnya ia sudah minta izin ke Papa.
Ayyub dan Neera berfokus pada kamar Fazreen dan Kiki namun sesekali Neera juga mengarahkan rekaman pada sudut lain.
Malam disaat terjadinya tragedi penggrebekan itu diputar. Terlihat Shintia pulang dalam keadaan berantakan dan masuk ke dalam kamarnya. Selang beberapa saat ia keluar lagi dan menuju dapur untuk mengambil minum di kulkas.
Bersamaan dengan itu Dio juga ke dapur dan mereka terlihat begitu intim. Gerak geriknya begitu mencurigakan namun Ayyub dan Neera terus memperhatikannya.
Tidak lama setelah itu Shintia masuk kamar begitu pula dengan Dio tapi lima menit berselang Dio dengan celingak celinguk masuk menuju kamar Hakim dan Shintia yang ternyata langsung disambut istri Abang tertuanya itu di depan pintu.
Ayyub dan Neera saling lirik dengan mulut ternganga, orang dewasa pasti tau apa yang terjadi setelah pintu itu tertutup dan tidak ada lagi tanda-tanda Dio akan keluar.
"Bang, di kamar Abang ada cctv atau apapun tidak yang bisa melihat kejadian sehari-hari disana ?" tanya Ayyub pada Hakim.
"Ya tidaklah, buat apa juga Abang menaruh cctv disana" jawab Hakim sekenanya.
"Yah... gimana ini" desah Ayyub.
"Memang ada apa sih ?" tanya Hakim penasaran.
Ayyub menunjukkan rekaman beberapa menit itu pada Hakim dan benar saja tangannya langsung terkepal dan rahangnya mengeras.
"Tapi kita tidak tau Bang apa yang terjadi di dalam, bisa jadi mereka curhat" celutuk Ayyub yang mendapat pukulan di lengannya oleh Hakim.
"Curhat dari mana, kita sudah dewasa sudah sama-sama tau kamu tidak lihat gelagat mereka orang bodohpun tau apa yang akan mereka lakukan" omel Hakim yang merasa kesal.
"Jadi gimana ini Bang ?" tanya balik Ayyub.
"Ya gak gimana-gimana. Sepertinya Abang sudah bulat ingin menceraikan dia. Istri seperti itu tidak baik untuk dipertahankan, Abang rasa Abang tidak sanggup lagi mentolerir kebohongannya terlalu banyak kesalahan fatal yang ia lakukan. Walaupun Abang mencintainya tapi jika ternyata dia tidak merasakan hal yang sama dan malah terus memanfaatkan abang ya buat apa, tidak akan sehat jika rumah tangga didasari dengan kebohongan" putus Hakim pada akhirnya.
"Yang sabar Abang, Insya Allah akan ada kebahagiaan setelah semua kepahitan ini berlalu. Ikhlaskan hati Abang dalam menjalaninya, kami akan mendukung apapun keputusan abang" ingat Neera selalu pada iparnya itu.
__ADS_1
"Iya Dek, terima kasih banyak ya karena kalian selalu siap sedia membantu abang dan selalu berdiri disisi abang" ujar Hakim.
"Pastinya Bang" ujar Ayyub sembari merangkul Abang tertuanya itu.
"Ohiya, tolong kalian kumpulkan semua bukti kecurangannya yang kalian lihat untuk nanti bisa abang gunakan di pengadilan untuk menuntutnya" pinta Hakim yang langsung disetujui Ayyub dan Neera.
Seperti pepatah bangkai yang disimpan rapi baunya akan tercium juga, hal inilah yang sedang terjadi kini. Sepandai apapun mereka menyembunyikan perbuatan mereka ternyata ketahuan juga.
Mereka selalu melakukan hal yang tidak senonoh itu di sudut ruangan atau di tempat kosong yang jarang digunakan. Bukah hanya sekali tetapi kejadian itu sudah berulang dalam waktu yang lama.
Sedang sibuk memutar rekaman mencari bukti lain kini mereka dikejutkan oleh suatu hal yang tak terduga. Sejujurnya hal ini membuat Ayyub naik pitam, emosi seakan membumbung tinggi.
"Kurang ajar lelaki ini" emosi Ayyub yang seketika membuat satu ruangan tercengang kecuali Neera tentunya.
Bahkan triplets yang sedang main di ruang santai ikut terkejut dengan wajah takutnya mereka menyusul ke ruang tamu tempat orang dewasa berkumpul.
"Ayah...." cebik Qal yang sudah akan menangis karena takut mendengar suara marah ayahnya.
"Tidak sayang, Ayah tidak marah. Maafkan Ayah ya sayang, sini peluk dulu ayahnya" ujar Ayyub sembari menampakkan senyumnya.
Ketiganya langsung berlari menuju Ayyub dan memeluk ayahnya. Mereka takut jika Ayahnya marah karena saat marah menurut mereka Ayyub sangat menakutkan.
"Ayah...." isak mereka yang kini sudah menangis di pangkuan Ayyub.
Mungkin mereka shock karena teriakan Ayyub begitu keras dan menggema di ruangan apartemen itu.
"Cup...cup.. enggak sayang, ayah gak marah kok apalagi sama anak-anak ayah, anak ayah kan baik semua" bujuk Ayyub yang berusaha menenangkan mereka semua.
Lagi dan lagi Hakim selalu tersentuh saat melihat sang adik tengah berinteraksi dengan anaknya. Ingin juga ia merasakan tapi apa daya kenyataan tidak selalu sesuai harapan.
Neera yang melihat triplets juga sepertinya sudah mengantuk pergi membuat susu formula dan nanti akan langsung menidurkan mereka saja karena ini sudah jam tidur siang balita itu.
Tidak membutuhkan waktu lama Neera sudah balik membawa tiga botol susu dan menaruhnya di meja.
__ADS_1
"Hayuk sayang, sama bunda kita bobok dulu yuk" ajak Neera yang dijawab gelengan ketiganya.
Tangis mereka sudah berhenti hanya tinggal sedu sedan dengan muka yang basah bekas air mata. Melihat Ayyub yang kesulitan Neera mengambil Qal dan memangkunya dalam posisi setengah telantang.
Neera mengelap mukanya dan menyodorkan botol susu dot ke mulut kecil itu yang langsung diemutnya.
Melihat Ayyub yang masih kesulitan, Neera mencoba mengusap muka kedua putranya yang masih memeluk Ayyub dengan satu tangan sementara tangan satunya menahan Qal. Mereka berdua terlihat begitu kerepotan karena triplets tidak mau dilepaskan dari gendongan.
"Sini Abang bantu mengendong satu" ujar Hakim yang melihat kesulitan kedua adiknya itu.
"Ah lanjut aja Bang kerjaannya nanti malah merepotkan Abang" tolak halus Neera yang segan pada Hakim.
"Tidak apa-apa, tidak ada juga yang merasa direpotkan Abang sudah menganggap mereka seperti anak Abang sendiri" ujar Hakim yang selama beberapa hari ini sangat dekat dengan ponakannya itu.
Mendengar itu Neera langsung memberikan Qal ke pangkuan Uncle nya yang langsung di momong Hakim dengan senang hati. Ia sudah tau kebiasaan ponakannya itu kalau tidur harus di puk puk dulu.
Kini Neera mengambil Qai dari Ayahnya dan mengendong serta memberikan susu juga hal yang sama juga dilakukan Ayyub. Akhirnya mereka break sebentar untuk menidurkan triplets sembari melepas ketengan yang dirasa.
Melihat wajah polos putranya seketika hati Ayyub kembali tenang dan damai. Ia lupa akan emosinya yang tadi meluap. Wajah mereka begitu syahdu dan menenangkan jiwa.
Begitu juga dengan Hakim, melihat wajah tenang ponakannya membuat hatinya menghangat. Tidak ada lagi kebencian bersarang dihatinya. Seakan dipukul mundur seiring dengan napas Qal yang mulau teratur dalam tidurnya.
Lihatlah mulut mungil itu mengedot dengan lucunya disaat mata indah dengan bulu mata lentik itu sudah terpejam. Bisa ia bayangkan betapa cantiknya ponakannya itu saat dewasa nanti.
Hakim berjanji jika besar nanti ia akan menjaga ponakannya itu dengan ketat, takut nanti diperangkap oleh lelaki yang tidak benar. Wah gawat Qalundra, masih kecil sudah memiliki dua orang yang protektif padamu, Ayah Ayyub dan Uncle Hakim.
Lima belas menit cukup membuat ketiga bocah itu pulas dalam tidurnya. Dengan pelan mereka memindahkan triplets ke kamar dan menidurkan mereka dengan posisi nyaman dan aman.
Setelah memastikan triplets bisa untuk ditinggal Neera kembali ke ruang tamu dan ternyata Ayyub sudah memperlihatkan semuanya dan memberi tau Hakim mengenai hal yang membuat ia begitu naik pitam tadi.
Akantetapi belum juga Neera sampai mereka sudah dikejutkan oleh bunyi telepon Ayyub yang berdering dan ternyata telpon dari Fazreen.
"APAAAA ?!!" murka Ayyub.
__ADS_1