
Sudah seminggu ini Ayyub begitu rungsing memikirkan keadaan rumah tangganya. Seakan semuanya terlihat biasa dan dalam keadaan baik-baik saja tetapi tidak untuknya.
Anehnya saat ia bertanya pada triplets mereka seakan biasa seperti sudah diberikan pengertian oleh bundanya. Setiap kali ditanya mereka akan mengatakan bunda kerja dan seperti tidak ada hal yang terjadi.
Mereka tidak terlihat seperti kekurangan perhatian dan kasih sayang bundanya. Padahal Ayyub berharap mereka akan merengek dan meminta bundanya pulang tetapi diluar dugaannya mereka malah terlihat biasa saja.
Ayyub begitu penasan bagaimana istrinya menyusun rencana sehingga sedemikian apik untuk sebuah kamuflase sehingga anak-anak mereka sedikitpun tidak terlihat khawatir. Hanya ia sendiri yang merasakan bahwa suasana rumah saat ini terasa aneh lebih tepatnya istrinya yang terkesan menghindar dan seminggu ini ia tidak melihat wajah Neera.
Sampai pada suatu hari ia berpura-pura tidur. Menahan matanya agar selalu terjaga. Lalu ia mendengar deru mesin mobil Neera dan terdengar langkah kaki menuju kamar.
Segera ia menutup matanya, ini adalah aroma istrinya yang sangat ia rindukan. Tanpa menghidupkan lampu Neera menuju sudut ruangan meletakkan tasnya dan berlalu menuju kamar mandi.
Nampak sekali kelelahan terpancar dari istrinya karena sedari masuk Neera terus memijiti tengkuknya.
Usai dari kamar mandi Ayyub melihat tubuh Neera yang dibalut handur terlihat sanggat seksi dan menggoda di tengah cahaya remang membuat ia menelan saliva kasar.
Ingin rasanya ia langsung menerkam tetapi ia masih penasaran apa yang selama seminggu ini dilakukan istrinya itu. Ia ingin memastikan apakah benar istrinya itu menghindarinya atau memang sibuk.
Setelah mengganti baju tidur Neera merebahkan badannya disisi lain sofa, dekat dinding karena disisi diisi oleh Ayyub.
Dengan lembut ia membelai dan mengecupi wajah triplets entah apa yang ia bisiki setelahnya ia mengucapkan Amin dan merebahkan dirinya.
Ayyub masih bertahan dengan matanya, ia sudah meminum minuman penguat stamina dan sebelumnya kopi untuk membuat dirinya tetap terjaga.
Pada dini hari ia melihat pergeran Neera lagi menuju kamar mandi dan disana ia menyaksikan istrinya itu berlinang air mata diatas sajadah. Entah apa permasalahan yang dihadapinya terlihat sekali bahwa ia rapuh berbanding terbalik saat ia dalam keseharian.
Setelahnya Neera terlihat berjalan keluar membereskan rumah mereka, menyuci dan menuju dapur. Disana Ayyub masih bertahan dan kembali ke tempat tidur saat mendapati panggilan lirih dari Qee yang menyebut bundanya.
Terlihat Neera bergegas ke kamar dan menyusui Qee, tak lama Qai dan Qal menyusul bangun dan disusui juga. Setelahnya mereka bersenda gurau dan bercerita namun lirih.
Samar-samar Ayyub mendengar Neera melarang mereka bersuara keras dengan alasan takut menganggu tidur ayah padahal dia sendiri yang sebenarnya tidak ingin bertemu Ayyub.
__ADS_1
Pantas saja triplets tidak merasakan kekurangan dan mencari bundanya seperti anak lain jika waktu yang mereka habiskan seintensif dan seberkualitas ini sehingga mereka bisa berbagi dan menceritakan hari mereka pada sang bunda.
Ayyub bingung bagaimana istrinya itu menerapkan sistem pendidikan pada anaknya sehingga mereka terlihat begitu leluasa dan memgerti apapun itu tanpa banyak merengek. Bahkan Neera menjelaskan segala alasan dan juga menceritakan apa yang ia lalui hari ini dengan gaya penyampaian anak-anak sehingga membuat triplets antusias dan memahami maksud bundanya itu.
Terbesit kekaguman pada diri Ayyub ternyata menikahi perempuan cerdas memang lebih penting sehingga akhirnya dalam pengawasan mereka buah hati merekapun ikutan cerdas.
Dalam waktu beberapa jam itu Neera mencurahkan segala cinta dan kasih sayangnya memberikan banyak pelukan, ciuman, dekapan, pujian dan kata-kata cinta yang membuat mereka merasakan cinta ibu yang tiada batas sangat bertolak belankang dengan apa yang ia dapati dari istrinya itu.
Pantas saja triplets terlihat baik-baik saja jika kebutuhan kasih sayang yang mereka dapatkan sudah penuh bahkan nyaris melimpah. Ditambah beberapa pengertian dari sang bunda.
Setelah hampir dua jam Neera terlihat menyusui dan menidurkan mereka kembali. Melihat dada Neera yang menyembul indah membuat Ayyub kembali menelan salivanya kasar ingin juga ia menyesap membuat beberapa tanda disana namun ia harus bersabar karena ini bagian anaknya.
Setelah triplets tertidur Neera memperbaiki pakaiannya dan menyelimuti mereka kembali. Perlahan istrinya itu berjalan keluar dan melewati dirinya begitu saja.
Tidak ada ciuman ataupun sentuhan meskipun ia terlelap tidur, tidak seperti triplets. Seketika rasa cemburu itu muncul dan berbagai pertanyaan dan dugaan menyeruak dihatinya.
Apakah benar istrinya menghindarinya, apakah saat di NY Neera melihat ia dengan gadis lain dan lengkap dengan keluargnya ataukah ada hal lain yang disembunyikan Neera selama ini.
Maka dengan segenap keberaniannya Ayyub beranjak dari kasur dan mengikuti istrinya di dapur. Perlahan ia berjalan tanpa suara dan langsung memeluk Neera dari belakang.
Sejenak ia merasakan keterkejutan istrinya itu namun setelahnya hanya tanggapan dingin tanpa ekpresi sehingga ia membalik tubuh Neera dan menatap mata yang selalu menghindarinya.
"Sayang, kamu kenapa ?" tanya lembut Ayyub yang hanya mendapatkan jawaban gelengan dan sentakan bahu.
"Hey honey, what's wrong ?" tanya Ayyub lagi yang bahkan tanpa mendapatkan jawaban apapun.
Istrinya itu kini terlihat sedang sibuk dengan masakan dan bumbu dapurnya. Ayyub masih mencoba bertahan dan menunggu Neera selesai dengan api.
Disela itu ia tetap bertanya pada istrinya itu untuk memancing Neera bicara.
"Sayang, apakah ada masalah, apakah semua baik-baik saja?" kembali hanya jawaban "Yup" yang ia terima.
__ADS_1
Berbagai cara ia lakukan tetapi Neera tetap acuh dan akhirnya membuat emosi Ayyub memuncak hingga keubun-ubun.
Tanpa permisi ia segera mematika api kompor dan menggotong tubuh munggil istrinya diatas bahunya dengan sekali sentakan.
Sangat mudah bagi Ayyub karena tinggi Neera dan dirinya sangat jauh bahkan terlihat tanpa beban ia melakukan itu.
Segera Ayyub membawa istrinya menuju kamar sebelah yang sudah direnovasi kedap suara sehingga triplets tidak akan terganggu dengan suara mereka.
"Ayyub, turunkan" teriak Neera yang sudah menyadari bahwa Ayyub sudah menutup pintu kamar.
"Ayyub., Uda tua dari kamu dan Uda suami kamu Neera, beraninya memanggil nama" geram Ayyub yang memukuli bokong Neera yang ada disamping wajahnya.
"Aw.., Ayyub turunkan. Gue bilang turunin" teriak Neera lagi yang sudah meronta dan memukul keras bahkan menggigit bagian belakang tubuh Ayyub.
Karena merasakan Neera yang terus bergerak nyaris jatuh dan merasakan kesakutan akibat gigitan Neera terpaksa Ayyub menjatuhkan tubuh istrinya diatas ranjang yang ada dikamar itu.
"Apa ?! GUE ?! AYYUB ?! apa tidak ada lagi rasa hormatmu pada suami ?!" sentak Ayyub dengan mata tajamnya mengarah pada Neera dan perlahan mendekatkan wajahnya.
Mendapati tatapan itu Neera sedikit terguncang, rasa takut mulai menyeruak dihatinya namun kembali lagi seakan merasakan bisikan ditelinganya membuat Neera kembali mengerakan hati.
Dengan mennguatkan hatinya ia mengepalkan tangannya dan kembali menegakkan tubuhnya.
'Bismillah, Ya Allah hamb mohon ampun sedikit durhaka pada suami hamba Ya Allah. Ampuni Neera Ya Allah, tapi Neera harus mengatakan ini' do'a dalam batin Neera. Lalu dengan lantang ia berkata.
"IYA, GUE BERANI. MAU APA LOE. APAKAH PANTAS SUAMI SEPERTI LOE UNTUK MENDAPATKAN PENGHORMATAN DARI ISTRINYA ?" sentak Neera dengan mata nyalang dan nada dalam menyampaikan pada Ayyub.
Ayyub yang melihat sisi lain dari istri sedikit terkejut. Tidak pernah sekalipun ia melihat Neera marah dengan cara keras bahkan terkesan memendam tetapi hari ini ia mendapati Neera baru yang sebelumnya belum pernah ia lihat dari diri istrinya itu.
"Gimana bisa kamu seperti ini sekarang. Bahkan kamu bisa menyalangkan matamu pada suami, Neera" ucap Ayyub dengan nada dalam dan mengancam.
Walau bagaimanapun nyali Neera juga ciut mendapati respon Ayyub tetapi sekali lagi ia menguatkan hati sehingga output yang terjadipun diluar kendalinya. Saking banyaknya yang ia pendam selama ini sehingga ia tidak bisa mengotrol lagi.
__ADS_1
"IYA EMANG LOE AJA YANG BISA TAJAMIN MATA LOE, GUE JUGA BISA MARAH. GUE JUGA MANUSIA. GUE GAK TAKUT SAMA LOE. SEKARANG PERGI LOE DARI SINI. GUE GAK MAU LIHAT LOE LAGI. CUKUP GUE HIDUP DENGAN ANAK GUE. TANPA LOE DISISI KAMI" pungkas Neera tak kalah tajamnya.