
Sehari telah berlalu sejak malam pertunangan Ayyub. Neera tidak tau apa yang terjadi, lebih tepatnya tidak mau tahu. Tiba-tiba pagi itu masuk pesan dari aplikasi WA yang dikirim oleh adiknya.
Dalam hati Neera tertanya saat membuka pesan yang dikirimkan. Apalagi yang dilakukan suaminya itu. Membuat gempar pesta pertunangannya. Dalam hati ada rasa iba pada Vina karena jelas saja ia sangat malu atas kejadian itu terlebih dia sendiri yang malah mempermalukan dirinya.
Meskipun ia telah disakiti berulang kali tetapi sebagai sesama wanita ia merasakan kepedihan itu. Terlebih lagi ia sangat mengkhawatirkan kedua orang tua Ayyub maupun Vina.
Betapa Neera tahu bahwa keduanya sangat mementingkan harga diri dan kehormatan mereka. Jika seperti ini sama saja artinya melempar kotoran kemuka orang tua.
Walaupun kasihan Neera tidak terlalu mencari tau mengenai masalah ini. Cukup ia hanya mengetahuinya saja. Menurutnya itu bukan hal menjadi urusannya. Terlebih Neera tidak ingin terlibat dengan mereka.
Siang ini Neera sudah pulang, mengganti dua hari kemarin ia bekerja full hingga melebihi jam kerja biasanya. Siang ini ia berencana mengganti waktunya bersama triplets. Tentu saja mereka akan menghabiskan waktu sepanjang hari.
Segera Neera berangkat menuju sekolah triplets untuk menjemput mereka. Akan tetapi bukannya membuat kejutan malah dirinya yang terkejut.
Pasalnya triplets tidak ada di sekolah dan sudah dijemput orang tua. Siapa yang bisa menjemput mereka. Apakah nanny mereka, Neera rasa tidak mungkin. Bukankah tadi dia menyuruh mereka untuk menunggu.
Bahkan pihak sekolah juga telah mengkonfirmasi penjemputan mereka. Apakah keamanan sekolah ini sudah menurun. Haruskah Neera berpikir untuk memindahkan triplets ke sekolah lainnya.
Dengan berat hati Neera pulang berharap triplets dan nanny nya berada di rumah. Suasana hati dan pikirannya sangat kacau, bagaimana jika mereka hilang atau diculik.
Neera melajukan mobil dengan batas kecepatan maksimum. Air mata sudah mulai membanjiri matanya. Meskipun pikirannya sedang kalut, Neera berusaha berkendara sebaik mungkin.
Dengan tergesa Neera turun dari mobil dan langsung membuka pintu rumah. Sontak keadaan menjadi hening karena semua orang sedang terkejut melihat kearahnya.
"Bunda....."
Seketika lutut Neera terasa lemas dan akhirnya tersimpuh di depan pintu.
"Syukurlah sayang, ternyata kalian dirumah"
Ucap Neera sembari memeluk erat Qeenan yang berlari kearahnya. Segera mereka berlarian menuju Neera yang sudah mulai menguasai dirinya lagi.
Pemandangan itu tidak luput dari penglihatan sosok yang tengah berdiri di ruang tengah yang mungkin kehadirannya tidak disadari istrinya itu.
__ADS_1
"Bukankah bunda sudah bilang, bunda akan menjemput kalian segera dan kita akan pergi keluar bermain, dan siapa yang menjemput kalian ?" tanya Neera segera.
"Ayah bunda...." teriak ketiganya.
"Apa ?! Ayah ? Bagaimana bisa ?" seru Neera kebingungan.
"Baguslah sayang jika kamu juga berencana keluar, jadi kita bisa jalan bersama" sela Ayyub yang datang dari arah ruang tengah.
Neera yang menyadari itu hanya terbengong setengah percaya. Bagaimana bisa lelaki itu berada disini sekarang. Bukankah ia telah membuat keributan. Sejak kapan ia disini, dan ada apa dengan barang-barang yang begitu banyak ini.
"Sayang, banyak sekali kerutan di keningmu" celutuk Ayyub yang membuat Neera terpaksa mengembalikan kesadarannya.
"Eh, bagaimana bisa kamu disini ?" pertanyaan bodoh Neera.
"Haha kamu lucu sekali sayang, tentu saja aku kesini dengan pesawat dan mobil hingga ke rumah"
"Tidak, maksudku kenapa kamu kesini"
"Kenapa ? bukankah ini tempat anak dan istriku. Tentu saja untuk hidup bersama kalian"
"Semua sudah ku selesaikan sayang, nanti akan kuceritakan semua dan jangan lupa aku akan menghukum kesalahan yang kamu lakukan dua minggu kemarin" jelas Ayyub.
Mendengar kata hukuman itu Neera menelan paksa saliva yang berada di rongga mulutnya. Jelas saja ia tau hukuman yang dimaksud suaminya itu. Neera juga tau kesalahan yang barusan diucapkan Ayyub.
"Lalu apakah triplets sudah makan siang ?" ucap Neera.
"Belum, makanya kita akan makan diluar hari ini. Kamu segeralah ganti baju dan bersiap" titah Ayyub.
Segera Neera berjalan menuju kamar utama dan mengganti baju yang lebih santai dan terlihat modis. Tidak lupa dengan hijab dan polesan natural pada wajah mulusnya. Kali ini Neera harus mengenakan sepatu sport yang memiliki alas tebal. Jika tidak, bisa-bisa orang akan mengira Ayyub membawa empat anak.
Mereka akhirnya keluar bersama menuju restoran yang sebelumnya sudah di reservasi Ayyub. Tentu saja pria itu sekarang sudah lebih tau dan hapal mengenai Edinburg.
"Joub, apa kamu tidak lelah. Sepertinya kamu baru sampai" ucap Neera yang merasa kasihan pada ayah anak-anaknya itu.
__ADS_1
"Sayang, sebelum itu bisakah kamu memanggilku Sayang, Abang, Mas, Uda atau panggilan sayang lainnya. Aku ini suami kamu, lagipula aku lebih tua dari kamu" ucap Ayyub.
"Baiklah" ucap Neera.
"Apa ? Kamu bicara apa ?"
"Ya, Baiklah"
"Apa ? Aku tidak dengar"
"Iya Sayang"
"Nah gitu dong, kan enak didengarnya"
"Kamu gak capek sayang, kan baru sampe" ulang Neera yang khawatir.
"Enggak dong sayang, apalagi habis ketemu sama kamu dan anak-anak. Hilang semua udah"
"Beneran, apa kamu gak jetlag sama sekali ?"
"Enggak sayang, aku udah biasa kok. Kamu duduk yang tenang aja, terus kalau bisa kamu pegang tangan aku".
"Apaan sih Joub, lebay lu"
"Eh, eh kamu luar biasa banget sama suamimu"
"Iya mas sayang, kamu harus lebih hati-hati anak kita ada di belakang"
"Jadi, kalau triplets gak ada boleh dong ?"
"Terserah"
"Eh, jutek banget sih. Dua minggu ditinggal makin seksi aja. Apalagi manyun gitu pingin minta dicium"
__ADS_1
"Hush ! Mulut kamu sayang. Hati-hati ! Kamh harus tau bahwa diumur ini triplets lagi kritisnya. Gimana kalau mereka tanya ini itu ?"
"Yaudah, tapi nanti dikasih ya yang, aku kangen banget soalnya. Mana kamu ditelpon gak bisa lagi. Malam ini aku akan bikin kamu gak bisa bangun lagi"