
Setelah hampir seharian menemani Nola dan mendengarkan ceritanya sembari memberi banyak masukan Neera keluar dari kamar itu setelah memastikan adik iparnya itu pulas dalam tidurnya.
Perlahan ia menutup pintu dan menemui perawatnya yang ternyata sudah stand by didepan pintu.
"Kamu awasi setiap kegiatan Nola, jangan biarkan dia sendiri dan jauhkan semua benda tajam dari jangkauannya. Alihkan perhatiannya segera jika ia sudah termenung. Panggil saya dan mama jika terjadi sesuatu" ujar Neera memberi petuah pada perawat itu takut jika Nola tidak stabil kembali.
"Baik Bu, saya akan mengingatnya" sopan perawat itu.
"Baiklah, terima kasih banyak mbak, istirahatlah didalam. Nola sudah tidur, kalau begitu saya keatas dulu ya mbak. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup selagi Nola juga tertidur" ujar Neera yang kembali meneruskan langkahnya ke tempat triplets bermain.
"Hai kesayangannya Bunda, lagi pada ngapain nih" tanya Neera yang membuat atensi mereka teralihkan dari puzzle yang tengah mereka susun.
"Bunda..." teriak mereka bertiga lalu menghambur memeluk Neera yang duduk agar sama tinggi dengan triplets.
"Bunda kangen banget loh sama triplets Bunda yang ganteng dan cantik ini" ujar Neera sembari menciumi mereka satu persatu.
"Kita juga kangen bunda, tapi bunda lamaaaa banget di kamar bibinya, kata Oma bunda obatin bibi yang lagi sakit jadi gak boleh diganggu" adu si cerewet Qee pada Neera.
"Iya sayang, maafin Bunda ya, kalian jadi lama deh nunggu Bunda. Tapi anak-anak Bunda yang pinter pada sholat kan tadi, terus makannya sama siapa ?" tanya Neera lagi.
"Kita sholat sama Oma Bunda terus makannya juga sama Oma" jawab Qai.
"MasyaAllah, pintarnya kesayangan Bunda" puji Neera sembari memberikan ciuman pada ketiganya.
"Iya dong Bunda, kita gituloh" bangga Qal yang memuji diri sendiri.
"Eh eh sayang, ngomongnya apa nak kalau dipuji. Alhamdu..." ujar Neera.
"Lillah.." disambung oleh triplets.
"Ish..aw" ringis Neera yang merasakan nyeri saat triplets terlalu erat memeluk tubuhnya.
__ADS_1
"Bunda, bunda kenapa. Bunda sakit ya Bunda ?" tanya Qai yang mulai berkaca-kaca saat melihat muka kesakitan Bundanya.
Neera yang menyadari itu segera menepis rasa nyerinya dan menampilkan senyum terbaiknya.
"Engga kok sayang, bunda gak sakit. Bunda lagi kebelet. Ayo kita ke kamar mandi yok, temani Bunda terus kita langsung mandi. Sekarang sudah sore sebentar lagi ayah akan pulang, masak anak-anaknya masih bau acem" hibur Neera yang mengalihkan kekhawatiran buah hatinya.
"Ayo, ayo Bunda" semangat ketiganya.
Merekapun tanda disuruh membereskan mainan dan mengembalikan ke tempat semula setelah itu menggandeng tangan Bundanya untuk naik ke kamar atas untuk segera mandi.
Neera memandikan ketiganya dan memakaikan baju tidur mereka setelah itu ia sendiri yang mandi dan sedikit berdandan untuk menyambut kepulangan suaminya. Bukankah berias diri di depan suami adalah ibadah.
Sore yang cerah ini Neera membawa triplets ke halaman depan yang terdapat bangku taman. Ia membawa sepiring besar makanan dan sebotol besar minuman. Hari ini ia mau menyuapi triplets sebagai ganti waktu mereka yang seharian ini tersita.
Ketiganya begitu riang bermain lari-larian dan kemudian menyetor mulut pada sang bunda saat sudah kosong kembali. Begitu seterusnya hingga terdengar suara klakson mobil yang menandakan kepulangan ayah mereka.
Ketiganya bersorak kegirangan, begitu juga Ayyub yang langsung kabur dari mobil dan menyusul anak dan istrinya yang sedang berada di taman.
Setelah melapas jas dan meletakkan tas kerjanya di kursi samping Neera Ayyub segera merengkuh ketiga buah hatinya dan membawa mereka dalam dekapannya dengan sekali hentakan.
Ketiganya memeluk erat ayahnya yang kini tengah menggendong mereka dan menciumi satu persatu pipi chubby itu.
Tuan Kaisar yang pulang bersamaan dengan Ayyub begitu bahagia melihat keluarga kecil putranya yang dipenuhi senyuman dan tawa itu. Inilah moment saat ia merasakan keberhasipan menjadi seorang ayah dan mengobati sedikit luka hatinya.
"Wah wah wah, Opa gak dapat pelukan juga nih ?" sapa Tuan Kaisar yang memutuskan bergabung bersama keluarga kecil itu.
Perhatian mereka teralihkan sebelum akhirnya triplets meminta turun dan menyerbu Opanya juga. Memang kehadiran lelaki paruh baya itu menempati tempat tertentu di hati triplets. Mereka begitu menyayangi Opa dan Oma yang selalu memanjakan dan memberikan mereka kasih sayang itu.
"Opa...." riang ketiganya sembari memeluk Papa yang masih berjongkok mensejajaran tingginya dengan triplets.
Sementara triplets asik dengan Opanya, Ayyub menghampiri Neera yang langsung disambut uluran tangan perempuan berhijab itu dan menyalami tangannya sembari mencium punggung tangan Ayyub takzdim. Begitu juga dengan Ayyub yang mendaratkan satu kecupan di dahi istri yang sangat ia cintai itu.
__ADS_1
Namun, begitu Ayyub memeluk erat istri mungilnya seperti biasanya terdengar ringisan tertahan dan seketika membuat Ayyub kaget dan merengangkan pelukan itu.
"Ada apa sayang ?" bisik Ayyub pada istrinya yang dibalas gelengan dan senyuman.
"Ah mungkin Uda salah dengar" putus Ayyub yang melihat wajah istrinya terlihat biasa saja.
Mereka masuk ke rumah bersama karena hari juga sudah hampir magrib. Neera meminta Ayyub membawa tas dan jasnya sendiri karena ia harus membawa piring dan botol bekas triplets makan. Satu lagi agar suaminya itu tidak kembali mendekap tubuhnya karena jujur saja masih terasa nyeri.
Triplets bersama ayahnya naik ke lantai atas sementara Neera ke dapur untuk membersihka bekas makan anaknya dan memastikan kembali menu makan malam.
Setelah itu ia menyusul ke atas untuk menyiapkan pakaian suami dan anak-anaknya yang akan sholat magrib berjamaah di mesjid.
Dengan telaten Neera menyiapkan segaka keperluan suami dan anak-anaknya. Seperti hari biasanya. Neera memakaikan Qai dan Qee gamis pria beserta celana diatas mata kaki dan peci. Sementara Qal sudah siap dengan mukena yang juga diikuti Neera.
Mereka duduk di kasur sembari membawa iqra' yang diajarkan oleh bundanya. Begitu Ayyub selesai mandi dan keluar ia tersenyum menyaksikan anak dan istrinya begitu serius dalam mengajar dan belajar mengaji. Betapa beruntungnya ia memiliki istri yang begitu pintar tidak hanya mengajarkan ilmu dunia tetapi juga mengutamakan ilmu agama pada buah hati mereka.
Ayyub yang sudah memakai bajunya ikut bergabung bersama mereka dan memberikan masing-masing kecupan dari puncak kepalanya.
"Sudah selesai yang ?" bisik Ayyub pada Neera karena melihat istrinya itu memakai mukena.
"Belum sayang, ini lagi ngajarin anak-anak makanya" jawab Neera sembari menunjukkan mukenanya.
"Yah... masih lama dong yang" bisik Ayyub kembali yang membuat Neera tersenyum.
"Sabar sayang" balas Neera sembari mengelus punggung suaminya.
"Ayok sayang, Qai dan Qee kita berangkat sekarang agar tidak telat dan bisa sholat sunat dulu" ajak Ayyub pada kedua jagoannya.
"Bunda dan princessnya ayah, kita berangkat dulu ya. Baik-baik di rumah dan sholat yang semangat ya kesayangannya ayah" pamit Ayah semabari kembali mencium keduanya dan pergi menggandeng dua jagoannya.
Sementara Neera dan Qal meneruskan bacaannya sambil menunggu adzan magrib berkumandang.
__ADS_1