
Sementara di restoran berbintang Tuan Kaisar mengajak anak, menantu dan cucunya menyantap makan malam mewah. Beliau sengaja menyewa ruang privat agar cucunya lebih leluasa makan dan bermain.
Berbagai obrolan mengalir antara mertua, menantu, ipar maupun saudara itu. Meskipun sesekali papa dan saudara Ayyub terus saja memperhatikan cara triplets makan dengan table manners yang benar.
"Dek, berapa sih usia triplets sebenarnya ?" tanya Hakim yang masih terfokus pada ponakannya itu.
"Sebentar lagi ya tiga tahun Bang" jelas Ayyub.
"Tapi kenapa mereka bisa teratur gitu makannya, ngalah-ngalahin orang dewasa lagi" kagum Fazreen yang diangguki saudaranya.
"Tanya saja pada Bundanya" jelas Ayyub masih dengan wajah tengilnya.
"Kalau Bundanya sih Abang percaya saja kalau kamu yang memang agak diragukan" celutuk Fazreen yang mendapat getokan di kepalanya.
Mendengar perdebatan orang dewasa itu triplets sama sekali tidak terganggu. Mereka tetap makan dengan anteng dan menyelesaikan hidangan didepannya.
Neera memang sudah mengajarkan aturan meja makan pada ketiganya beserta adab dan sopan santun saat makan bersama orang lain sangat berbeda dengan makan di rumah yang cenderung santai.
Apalagi saat itu mereka makan di restoran bintang mischelin yang pastinya menyediakan menyediakan meja dengan serentetan alat makannya.
Selesai dengan dessert triplets menyeka mulut mereka dengan sarbet dan melepaskannya dari leher. Lalu mereka meminta izin pada bundanya untuk turun dari kursi dan melihat indahnya pemandangan dari kaca gedung itu.
Sebenarnya semenjak tadi mereka tertarik. Namun, karena mereka diajarkan oleh bundanya untuk sopan saat makan mereka menahannya hingga selesai makan.
Setelah mendapatkan izin ketiganya merapat pada dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan ibu kota dan terlihat indah di malam hari.
Pembicaraan antara orang dewasa kembali berlanjut mengenai bagaimana bisa Neera sampai di UK, beasiswa, kelahiran triplets dan pertemuan kembali dengan Ayyub.
Neera sungguh tidak menyangka akan berbicara begitu banyak dengan papa dan abang Ayyub karena dulu mereka hanya sebatas tegur sapa.
Neera selalu mensyukuri hal baik yang terjadi pada dirinya. Apapun keadaannya dulu Neera sudah mengikhlaskannya dan meninggalkannya dibelakang.
Sungguh jika bukan karena hal itu maka kebahagiaan hari ini tidak akan begitu terasa nikmatnya.
"Jadi berapa lama kalian berencana tinggal di tanah air" tanya papa.
"InsyaAllah 3 bulan pa, satu bulan lagi kami berencana akan ikut haji dan umrah sekaligus wisata perkembangan islam disana pa" jelas Neera.
"Kalian sudah daftar haji ?" tanya papa lagi.
"Belum sih pa kalau negara. Tapi rencananya kami haji mandiri saja, toh kita hanya ingin ibadahnya bukan gelarnya" jelas Ayyub.
__ADS_1
"Bukan hanya itu, tetapi keamanan kalian saat berada disana. Terlebih pada saat musim haji itu semua orang berbondong pergi ke Masjidil Haram dari berbagai belahan dunia" Papa.
"Jadi bagusnya gimana ya Pa" tanya Ayyub spontan.
"Begini saja, kalian nanti Papa daftarkan haji plus tapi perjalanannya kalian atur sendiri dengan travel agen mana setidaknya nama kalian sudah terdata di pemerintah" usul Papa.
"Tapi rencananya tidak hanya kami Pa, keluarga Neera semuanya akan ikut serta" tanya Ayyub lagi.
"Gampanglah itu, nanti kumpulkan saja data orang yang akan pergi beserta jumlahnya lalu kirimkan ke Papa biar nanti Papa yang urus melalui kuota khusus" putus Papa Ayyub.
"Alhamdulillah, terima kasih Pa. Jadi ngerepotin papa deh" sungkan Neera dengan senyumnya.
"Sama sekali tidak nak, kamu juga anak Papa dan keluargamu juga besan papa. Itung-itung sebagai DP permintaan maaf" canda papa Ayyub yang disambut tawa semua orang.
"Tapi seru juga ya haji sama-sama, jadi pingin ikutan" celutuk Lufhfi.
"Kalau mau ikutan saja Dek, mana tau sudah panggilannya" usul Neera.
"Hah ?! beneran boleh kak ?" tanya Luthfi semangat.
"Tentu saja boleh, kenapa tidak kan mau ibadah" balas Neera.
"Dibayarin gak Kak ?" tanya Luthfi antusias.
"Wahhh.... boleh juga tu. Pa, Upi boleh pergi juga ya ?" tanya adik Ayyub penuh harap.
"Ya, kalau kamu yakin boleh saja. Ingat ibadah yang benar dan jaga perilaku kamu" izin Papa.
"Yes, Alhamdulillah" seru Luthfi semangat.
"Jadi pingin ikutan juga, sayang lima bulan ini urusan kantor belum bisa ditinggal dan lagi sibuk-sibuknya" keluh Fazreen yang sudah lesu.
"Sabar Bang, InsyaAllah tahun depan diberi kesempatan" hibur Neera.
Akhirnya dengan bantuan Papa Ayyub masalah haji terselesaikan dan kini mereka hanya tinggal mengatur kepergian mereka dan berkoordinasi dengan perusahaan travel Ayyub yang ada diluar negri untuk mengatur perjalanan mereka.
"Kapan kalian datang ke tanah air ?" tanya Hakim tiba-tiba karena semenjak mereka bertemu semua itu terlupa.
"Dini hari kemarin Bg" jawab Ayyub.
"Terus dimana kalian tinggal sekarang, jalan bilang kalian ke hotel ?" selidik Hakim lagi.
__ADS_1
"Tidak Bg, kami tinggal di apartement Ayyub" jelas Ayyub.
"Apa cukup dengan apartemen seluas itu, apalagi kalian bersama ketiga cucu papa" tanya Papa.
"InsyaAllah cukup Pa, mereka kelihatan menikmati tinggal disana" jelas Ayyub.
"Kalau tidak Papa akan ambilkan satu rumah lagi untuk kalian disini mengingat tidak mungkin rasanya kalian tinggal di rumah besar" sendu Papa Ayyub yang sebenarnya menginginkan mereka pulang ke rumah besar dan bermain bersama cucunya.
"Jangan sedih Pa, InsyaAllah besok kami akan kembali lagi dan sebelum kami pulang ke kampung Neera kami usahakan akan sering mengajak mereka mengunjungi Papa" hibur Ayyub yang mengerti perasaan Papanya.
"Baiklah jika itu keputusan kalian, Papa tidak bisa memaksa semoga kalian menikmati waktu liburan disini dan semoga semua akan baik-baik saja" do'a dan harapan Tuan Kaisar yang diamini semua orang.
"Dek gimana sih caranya kamu bikinnya sampai bisa semenggemaskan itu bahkan tiga sekaligus" celutuk Fazreen yang mulai rada-rada.
"Huh, rahasia perusahaan itu bukan konsumsi publik" canda Ayyub yang mendapatkan tendangan cinta dikakinya.
"Jangan aneh-aneh Uda" bisik Neera yang dibalas cengiran Ayyub.
"Anak Bg Ayyub besarnya di UK tapi ngomongnya gak ada bule-bulenya ya" sambung Upi yang kali ini ikut memperhatikan ketiganya.
"Kamu coba saja bicara dengan mereka pakai bahasa Inggris" tantang Ayyub pada adik bungsunya.
"Hai guys, what are you doing ?" tanya Upi pada triplets yang sedari tadi susah didekati itu.
" Kita sedang menikmati pemandangan malam hari. Itu Om, lihatlah lampu-lampu disana sangat indah, gedung tingginya juga banyak, sangat berbeda dengan di UK. Kami disana memiliki bangunan klasik seperti castle tetapi disini semua didominasi oleh kaca dan sungguh indah jika dilihat dimalam hari" jelas Qee dalam bahasa inggris yang fasih dengan aksen british yang bagus.
"Nah kan pusing lo" celutuk Fazreen yang melihat adiknya terbengong mencoba mencerna perkataan ponakan kecilnya dengan aksen yang tidak familiar ditelinga nya.
"Iya deh Bg, Upi menyerah. Rasanya mau nangis" ujar Luthfi yang membuat semua orang tertawa.
"Mau coba lagi ga ?" tantang Ayyub yang ingin menunjukkan keterampilan anaknya.
"Memang apalagi Yub" tanya Hakim yang juga mulai penasaran.
"Triplets, apa yang kalian makan hari ini. Apakah enak ?" tanya Ayyub dalam bahasa jepang.
"Hari ini menu pembukanya steak medium rare ayah, Qal sangat menyukainya. Dessertnya ada puding dengan es krim stroberi Qal sangat menyukainya Ayah. Terima kasih atas makanannya ayah" riang Qal dalam bahasa jepang yang fasih membuat keempat lelaki dewasa disana ternganga.
"Ha..., yang ini pasti tidak bisa" yakin Upi dengan semangat menanyakan pada triplets.
"Triplets, anak sia awak ko santiang bana lai ha" ucap Upi dengan bahasa minang yang kaku sekali.
__ADS_1
"Kami anak bunda Neera jo Ayah Ayyub Om, kok lawak gitu om ngecek bahaso minangnyo" balas Qai yang membuat Upi ternganga akibat kekalahannya.
"Hahahaha, makanya jangan sok-sok an pakai bahasa minang. Urang awak tu" seru Ayyub ditengah tawanya sementara Neera hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala.