Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 146


__ADS_3

Hening sejenak menyapa di ruangan itu, entah apa yang terjadi tiba-tiba ketegangan menyeruak diantara mereka.


Hanya sebentar saja, setelahnya kembali mencair saat tripelts sudah turun dari sofa dan berlari kearah Tuan Kaisar.


"Opaaa......" sorak ketiganya berlarian memeluk kaki yang kakek yang kemudian tersenyum sumringah.


"MasyaAllah cucu-cucu kesayangan Opa. Lagi pada ngapain sayang ?" tanya lembut Papa sembari berjongkok menyeimbangkan tinggi badan mereka.


"Lagi ngafal surah Opa, itu...." tunjuk Qai pada layar tv yang masil menyala namun diam.


"Sayang, sini kenalan dulu sama Oma. Triplets kan belum pernah ketemu Oma sayang" ujar Neera sembari menarik perhatian ketiganya.


Ragu-ragu mereka mendekat sembari melihat dalam pada sang bunda yang dibalas senyuman hangat dan anggukan membuat ketiganya semakin yakin.


"Sini sayang, boleh Oma peluk tidak ?" ujar Mama yang sudah berurai air mata melihat cucu yang sangat dirindukannya yang selama ini selalu diharap-harapkan.


Ketiganya masuk kedalam rengkuhan wanita paruh baya yang mendekap mereka sangat erat seakan takut mereka akan pergi lagi.


"Omaa....., Qai susah napas" polos Qai yang langsung mendapatkan kekehan oleh semua orang yang ada disana.


"Oh iya, maafkan Oma sayang, oma terlalu semangat bertemu dengan kalian nak" lembut Mama sembari mengelus sayang kepala mereka dan mengahadiahi ciuman.


"Salim dulu nak, kenalin namanya kan Oma masih bingung bedain triplets" ujar Ayyub berusaha mencairkan suasana.


"Ohiya ya, Oma kan belum tau ya. Cuma lihat di foto terus lihat kalian fashion show keren sekali cucu-cucu Oma ini" seru mama yang sudah mulai bisa menguasai emosinya.


"Oma ini Qai, Ini Qee terus yang paling cantil ini Qal" ujar Ayyub yang mewakilkan karena mereka bertiga masih terdiam meskipun sudah salim dengan Omanya.


"Ayo Pa, Ma kita makan dulu. Udah masuk jam makan malam" ajak Ayyub pada kedua orang tuanya.


"Iya baiklah, Papa juga sudah rindu masakan istri kamu" ujar Papa yang mendahului menuju meja makan.


Mereka sudah menduduki kursi masing-masing. Bagian ujung tetap ditempati sang kepala keluarga Tuan Kaisar, sisi kanan ditempati Mama dan Ayyub, sementara dikiri ada Neera yang berada ditengah triplets yang sudah siap dengan kursi makannya masing-masing.


Setelah mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya, Neera beralih pada piring triplets yang berbeda dengan piring orang dewasa. Piring khusus yang terbagi tempat nasi dan lauknya.


Setelah memastikan semua sudah siap do'a dipimpin oleh Ayyub dan semuanya diam menikmati masakan Neera.


Seketika kehangatan menyeruak keseluruh sisi hati mama saat suapan pertama ia makan. Rasanya masih sama bahkan sekarang lebih enak tetapi memiliki cita rasa yang khas tangan menantunya.


Menantu yang dulu ia perlakukan layaknya pembantu, anak baik yang ia rusak masa depannya dengan tidak memberikan kebebasan atas karirnya dulu.


Wanita yang sangat dicintai putranya yang dulu ia pandang sebelah mata dan selalu ia sia-siakan.


Beribu penyesalan menghantam ulu hati, terasa mencekat. Ingin segera ia menumpahkan melalui tangisnya tetapi segera ia tahan karena tidak ingin mengganggu acara makan yang begitu hangat ini.

__ADS_1


"Bagaimana Ma, apakah sesuai selara mama ?" tanya Neera yang mengetahui keadaan mertua perempuannya yang berusaha mengusap air matanya.


"Sangat enak sayang, mama sangat menyukainya. Maafkan mama ya nak, terima kasih sayang" ujar Mama yang sudah berkaca-kaca.


"Makanlah yang banyak Ma, nanti kalau mama ingin Neera akan buatkan lagi" ujar Neera yang meraih tangan mertuanya dimeja dan mengusapnya lembut.


Tuan Kaisar dan Ayyub seketika bertemu pandang dan tersenyum bahagia dengan mata yang berkaca-kaca. Begitu terharu melihat hubungan Mama dan Neera yang sudah sangat membaik.


"Sudah, sudah. Ayo kita habiskan semuanya. Sayang sekali makanan enak begini dianggurin" canda Papa yang disambut tawa semua orang termasuk triplets yang entah mengerti apa yang mereka tertawakan.


Selesai makan Papa, Ayyub dan triplets beranjak keruang tengah yang kini sudah rapi kembali usai tadi Ayyub dan triplets bermain disana.


Sementara mama memutuskan untuk membantu Neera membereskan dapur dan menyiapkan dessert sedangkan menantunya itu bersikeras mencuci piring sendiri.


Setelah beres dengan urusan dapur mereka bergabung keruang tengah dengan membawa nampan yang berisikan dessert beserta beberapa piring kecil, tentu saja disambut girang semuanya.


Dalam sekejap puding coklat buah itu hilang begitu saja menyisakan piring wadah-wadah kotor dan comengan diwajah tripelts. Yah mereka bertiga yang paling semangat dan lahap meskipun tidak kalah dari ayah dan opa omanya.


Tidak lama berselang sudah kembali azan Isya berkumandang menandakan waktu sholat yang sudah masuk. Kali ini Papa, Ayyub beserta Qai dan Qee sholat menuju mesjid karena sejatinya laki-laki lebih dianjurkan untuk sholat dimesjid sementara Mama, Neera dan Qal sholat jamaah dirumah yang diimami oleh Neera.


Selesai sholat dan berdo'a Mama masih bertahan disajadahnya menatap Neera dalam. Seakan mengerti Neera mengambil ipad dan menyetel Nusa dengan menggunakan headphone dan menyuruh putrinya duduk di sofa ruang tengah. Kalau sudah begini maka si cantik itu akan fokus dengan dunianya sendiri dan tidak peduli lagi dengan sekitar.


"Neera..., maafkan mama nak...." seketika Mama sudah menjatuhkan tubuhnya saat Neera kembali duduk setelah memastikan Qal aman.


"Ma.... bangun ma, jangan begini ma" kaget Neera yang segera membantu mama untuk bangun.


"Ma..., tenang dulu ma istighfar..." ucap Neera yang sudah membawa mama dalam pelukannya dan memberikan sapuan lembut dipunggung yang masih bergetar itu.


"Neera mama minta maaf nak, mama begitu malu menatap wajahmu dan mama tidak tau lagi bagaimana cara meminta maaf padamu sayang" lirih Mama yang sudah mulai tenang.


"Sudahlah Ma.., mama tidak perlu malu sesungguhnya Neera sudah memaafkan semuanya sejak lama. Bahkan Neera juga ingin meminta maaf jika saat itu Neera kasar pada mama" hibur Neera yang kini sudah menggenggam tangan mama dipangkuannya.


"Tidak sayang, tidak nak, Neera tidak salah. Mama yang salah pada Neera nak.... Maafkan mama ya... kamu mau kan memaafkan kesalahan mama ?" lirih mama yang masih berurai air mata dan menyentuh pipi Neera lembut.


"Iyaa ma.., Neera sudah maafkan. Neera mengerti mama hanya terlalu menyayangi putra kebanggaan mama dan takut kehadiran Neera akan merebut dia dari mama., tapi ketahuilah Ma..., Mama akan selalu menjadi wanita pertama dalam hidupnya. Mama akan menjadi yang utama dalam tanggung jawabnya Ma. Mama tidak usah khawatir lagi, Ayyub mengerti itu, tidak akan pernah kasih sayangnya pada mama akan terbagi dan mari sama-sama kita cintai pria kebanggaan kita itu ma.." lembut Neera sembari menatap hangat mata mama.


Inilah yang sedari dulu ingin didengar mama dan diyakininya, bahwa putranya tidak akan pergi darinya dan meninggalkannya dibelakang. Inilah yang menjadi sumber bencananya yang kini tengah diuraika oleh menantunya sendiri. Perempuan yang selama ini dianggap saingan cinta anaknya ternyata malah datang dan meyakinkan hatinya seyakin-yakinnya.


"Maafkan mama Nak.., maafkan khilaf mama dahulu. Neera adalah menantu terbaik yang pernah mama punya dan mama menyesal tidak seharusnya dulu mama memperlakukan Neera dengan buruk" lirih Mama yang kini sudah mencium kening menantunya.


"Sudahlah ma.., semua sudah berlalu. Mari kita ikhlaskan masa lalu dan kita tata lagi kehidupan kedepannya dengan lebih baik. Semua yang terjadi ada hikmahnya ma, jika dulu Neera tidak pergi tentu sekarang belum tentu kita akan baikan seperti ini" lembut Neera kembali.


"Iya sayang, mama sangat bangga pada Neera. Mama rasa mama harus menemui keluargamu terutama kedua orang tuamu karena tidak bertanggung jawab pada anak mereka yang dulu sudah kami ambil dengan baik-baik tapi malah diperlakukan dengan buruk" ujar Mama sembari mengusap tangan Neera lembut.


"InsyaAllah mereka sudah memaafkan semuanya ma, tapi kalau mama mau datang bersilaturrahmi mereka akan sangat senang sekali" ucap Neera.

__ADS_1


"Betapa baiknya Nak orang tua mu membesarkan dan mendidikmu sehingga menjadi wanita sholeha dan berhati mulia" lembut Mama yang masih setia menatap Neera dengan tangan yang masih mengusap lembut lengan menantunya.


"Amiin Ma, do'a kan Neera selalu, Neera masih jauh dari kata sempurna Ma" ucap Neera.


Akhirnya perbincangan itu terus berlanjut hingga bagaimana Neera bisa sampai di Edinbrugh dan kelahiran triplets. Namun, kini sudah diikuti Qal yang ipadnya sudah disimpan bunda.


Perlahan anak kecil itu sudah mau duduk bersama Omanya dan sekarang sudah mau berbalas kata bahkan bercanda.


Begitulah hati anak kecil, begitu murni dan tulus. Mereka akan merasai sendiri meskipun tak ada seorang pun yang menggiring mereka.


Akhirnya malam itu semakin hangat dengan kepulangan para lelaki yang sudah menenteng kantong cemilan di kedua tangannya.


Pembicaraan kian kemari begitu seru hingga tanpa mereka sadari triplets sudah dlsangat nyaman bersama Opa dan Omanya terlebuh Tuan dan Nyonya Kaisar memberikan kasih sayang yang begitu besar pada ketiga cucu mereka yang sangat pintar itu.


Mereka berjanji akan membawa triplets jalan-jalan ke kebun binatang esok hari dan ke seaworld besoknya lagi. Mereka sudah menyusun rencana dengan matang bersama Opa dan Oma bahkan melupakan kedua orang tuanya.


"Triplets mau pergi ke kebun binatang ya, memang sudah izin sama ayah dan bunda kalau ayah gak bolehin gimana ?" usil Ayyub pada anaknya.


"Bunda...." rengek ketiganya menatap sendu ayahnya yang sudah memasang wajah sok galak.


"Sudah, sudah ayah cuma becanda. Masa gak boleh anaknya pergi ke kebun binatang kan biar bisa tahu banyak anaknya bunda" menyudahi akting suaminya yang disambut decakan sebal.


"Bunda gak asik ah" rengek Ayyub kesal karena gagal menjahili anaknya.


"Ayah itu yang gak asik" celutuk Qee.


"Iya ayah nakal" Qal.


"Ayah gak boleh ikut" Qee ikutan.


"Enak saja, orang ayah kok yang bawa mobil. Mau pergi pakai apa ?" tantang Ayyub lagi pada anaknya.


"Tenang saja sayang, Opa punya sopir kok yang bisa membawa kita jalan-jalan seharian" ucap Papa yang membuat tawa seketika pecah disambut wajah kesal Ayyub.


"Yeeee jalan-jalan" sorak ketiganya yang menghiraukan ayah mereka yang tengah berwajah kusut.


"Ah gak asik lagi, kalian sudah banyak pendukungnya" kesal Ayyub sendiri.


"Lagian kamu Yub, sudah jadi bapak masih juga kekanak-kanakan, cucu mama saja jauh lebih dewasa daripada kamu tingkahnya" perkataan mama yang tepat menusuk ulu hatinya yang berakhir dengan rengekan pada istrinya.


"Yang...." rengek Ayyub yang mengelendoti Neera tak tau malu.


Bukannya berhasil mendapatkan simpati Neera malah mendapatkan tarikan dan dorongan plus jambakan dari ketiga anaknya yang masih kesal dan tidak mau berbagi bunda mereka.


"Maa...." rengek Ayyub kembali yang berusaha menarik simpati mama tapi malah mendapatkan tepisan karena sang mama memilih memeluk menantu dan cucu-cucunya.

__ADS_1


"Pa...." rengek Ayyub lagi yang langsung terhenti saat melihat wajah sangat dan tegas Papanya. Seketika menyurutkan niatnya untuk bermanja dan balik ke posisi semula sok cool.


Mereka yang menyadari hal itu segera tertawa dnegan kencang demi melihat muka Ayyub yang sudah masam dan pias.


__ADS_2