Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 164


__ADS_3

Kini mereka tengah mengotak atik kedua ponsel itu. Hakim memeriksa ponsel istrinya sementara Ayyub membuka ponsel Leon. Mereka berusaha mengsinkronkan setiap kejadian dan mendapatkan petunjuk sekecil apapun itu.


"Bang, lihat ini Bang" tunjuk Ayyub pada Hakim.


"Iya Abang juga lihat, sepertinya hubungan mereka sudah jauh tidak hanya sekedar saling memuaskan semata. Sepertinya Shintia telah melakukan banyak hal untuknya bahkan sudah membelikan apartemen dan kendaraan" ujar Hakim yang begitu terkejut dengan isi ponsel istrinya.


"Tapi sepertinya Leon ini memang menjajakan dirinya. Dilihat dari pesan yang ada dia memiliki banyak pelanggan tetapi memang terlihat sering itu bersama Shintia" jelas Ayyub.


"Ya mungkin saja Shintia yang paling menguntungkan bagi dia bagaimana tidak sudah seroyal ini wanita itu padanya, ternyata selama ini aku bekerja siang dan malam untuk memenuhi hidup mereka" lirih Hakim yang memegangi kepalanya.


"Sabar Bang, Insya Allah akan digantikan dengan yang lebih baik, niatkan sedekah saja Bang. Ikhlaskan saja Bang, beruntung Abang mengetahuinya lebih cepat artinya Allah masih sangat sayang pada Abang" ujar Neera yang merasa kasihan pada iparnya itu. Ia tentu sangat mengerti perasaan ini, karena dulu ia juga pernah mengalaminya.


"Iya Dek, Neera benar. Abang sepertinya sulit sekali untuk kembali percaya pada Shintia. Bahkan sudah ribuan kebohongan ia sampaikan pada Abang. Pantas saja sikapnya beberapa waktu belakangan sedikit berbeda. Ia sangat takut handphonenya dipegang, kartu kreditnya selalu limit bahkan itu sudah yang paling atas" curah Hakim mengeluarkan isi hatinya.


"Semua keputusan ada di tangan Abang, baik buruknya tentu Abang yang lebih tau. Bagaimana nanti kedepannya kita serahkan sama Allah, yang pasti Allah tak akan pernah menyia-nyiakan makhluknya. Mungkin Abang mendapatkan cobaan dari Allah melalui hubungan pernikahan ini, Allah ingin Abang lebih mendekat lagi padaNya. Semua yang ada di bumi tidak ada yang abadi Bang, coba uraikan benang yang kusut ini dulu Bang, jika memang keputusan yang terbaik harus berpisah maka selesaikan dengan baik-baik Bang" ujar Neera dengan lembut tanpa sedikitpun nada menggurui.


Hakim begitu meresapi perkataan adik iparnya itu. Beruntung saat drop kemarin ia dibawa Ayyub kesini sehingga ia mendapatkan pengaruh yang lebih baik mungkin jika waktu itu ia nekat ke hotel bukan tidak mungkin ia berakhir di bar saat ini.


"Iya Dek, Abang akan coba mencari sampai mana masalah ini mengakar sehingga nanti Abang bisa memutuskan langkah selanjutnya" ujar Hakim.


"Bang, coba Abang tarik beberapa fasilitas yang masih bisa diselamatkan. Bukannya apa-apa Bang, ini semua hasil jerih payah Abang dan lagi jika Abang biarkan begitu saja mereka malah tidak mendapatkan efek jera dari perbuatannya. Mereka terus menikmati harta yang tidak didapatkan dengan cara yang benar" ujar Ayyub yang mendapatkan laporan dari orang yang mengawasi Shintia bahwa ia saat ini sedang berada di villa.


"Ia baiklah, Abang akan hubungi pengacara dan asisten Abang dulu untuk mendata semua fasilitas dan property yang Abang punya dan yang masih bisa diselamatkan" ucap Hakim sembari menelpon beberapa orang bawahan dan pengacara keluarga mereka.


"Bang, coba lihat ini dan dengarkan lah" ujar Neera yang tadi coba mengotak atik ponsel Shintia.


Tanpa menunggu lama Hakim memutar voice note grup yang baru saja Neera pulihkan dari cloud.

__ADS_1


"Gila loe Shintia, ngapain loe beli sebanyak ini" tanya salah seorang temannya.


"Ya buat investasi gue lah, yakali gue nikah sama keluarga Kaisar gak gue manfaatin" balas Shintia.


"Ngapain sih loe gini amat, suami loe kan cinta banget sama loe apapun keinginan loe pasti diturutin, cukup jadi istri yang baik aja" teman Shintia.


"Halah, istri yang baik loe bilang. Loe gak tau aja istri nya Ayyub yang bego banget itu sengsara jadi istri yang baik di rumah itu. Bahkan cukup dengan gue patik sedikit mama dan saudaranya langsung menganiaya tu orang. Kelewat bego apa kelewat polos tu orang. Bisa-bisanya dia yang ngeluarin duit bukan malah menghasilkan duit di keluarga Kaisar" cerita Shintia dengan pongahnya.


"Terus gimana sekarang nasib tu orang ?" tanya temannya.


"Njiirrr gue ga tau gimana tu orang tololnya kebangetan. Sekarang dia udah sukses, loe tau gak merk Zane, dia yang punya apalagi sekarang dia juga jadi ilmuwan WHO, loe bayangin aja kariernya yang melejit bagitu masih mau-mauan balik lagi ke keluarga sial itu" kisah Shintia.


"Wah... gile loe, bisa dimanfaatin tu. Gue mau dong nebeng ketemuan sama dia, pen gue palakin tu fashion terbarunya, dengar-dengar spektakuler banget yang musim ini" ujar temannya.


"Iya ntar deh gue kenalin. Tapi ya untung aja tu orang gak tau kalo gue salah satu dalang dibalik penganiayaan dan pengusirannya dulu kalo enggak bisa mampus gue" tawa Shintia yang membuat Ayyub mengepalkan tanggannya.


"Sabar sayang.., istighfar" bisik Neera sembari mengusap lembut lengan Ayyub.


"Tapi gila sih ipar loe yang satu itu. Cool abis, gue aja naksir ama dia pengen jadi bini keduanya atau selingkuhannya juga gapapa deh" ujar teman Shintia.


"Iya sih gue juga suka dia tapi tu orang cuek bangen dingin kek kulkas, mana tu cowok nurut banget sama nyokapnya. Mau aja disetir ama nyokapnya dan ngebiarin bininya pergi" ujar Shintia.


"Tapi gue heran deh, kenapa loe gak punya anak aja sih sama laki loe. Kan bisa buat jaminan" ujar teman Shintia.


"Yaelah ogah banget gue. Nanti yang ada gue melar kemana-mana apalagi kalo udah ada anak nanti gue malah makin terikat sama dia gak bisa main keluar lagi" ujar Shintia.


"Halah bilang aja loe gak bisa indehoy sama pacar berondong loe lagi" kelakar temannya.

__ADS_1


"Ya tu loe tau" balas Shintia yang disambut tawa.


"Terus kenapa sih loe bertahan aja di rumah itu kan loe bisa ajak suami loe tinggal di luar biar lebih bebas" tanya salah seorang temannya.


"Yang pertama biar bisa mencuci pikiran mertua sama adik-adik ipar gue yang bodoh itu, terus ada kesenangan lain yang gak bisa gue ungkapin di rumah itu. Beeh luar biasa deh pokoknya, nikmat banget" balas Shintia.


"Bagi-bagi dong, loe main rahasia-rahasian sendiri" protes temannya yang lain.


"Ntar deh gue ceritain, laki tersayang plus terbucin gue udah mau pulang, bye gengs" tutup Shintia dan berakhirlah percakapan itu.


Pias, itulah kata yang menggambarkan wajah Hakim setelah mendengar pembicaraan itu sementara Ayyub sudah panas mendengar istrinya dihina abis-abisan dan keluarganya juga direndahkan.


"Ayyub dan terutama Neera, Abang minta maaf atas semua yang terjadi pada kalian terutama pada kamu dek, ternyata abang ikut andil dalam kesulitan yang kamu alami. Maafkan juga Shintia, abang tidak tau bagaimana harus berucap semua salah abang, karena Abang.. Abang.." ucap Hakim yang langsung dijawab Neera.


"Tidak Bang, Abang tidak perlu minta maaf. Ini semua bukan salah Abang, Abang sama sekali tidak tau sama dengan Ayyub. Ini semua garis takdir yang harus kita lewati, Neera sudah mengikhlaskan semuanya. Sekarang yang terpenting Abang harus bisa kuat dan bersabar menghadapi semua ini, Neera tau ini bukan hal yang mudah untuk Abang. Jangan pikirkan Neera, tidak masalah Bang, cukup Abang selesaikan saja dengan baik permasalahan Abang dengan Mbak Shintia" ujar Neera yang berusaha menenangkan Abang ipar dan suaminya.


"Terima kasih Dek, walaupun begitu Abang tetap harus meminta maaf atas perbuatan Shintia, Abang akan mencoba mengganti dan menggembalikan apa saja yang sudah dia ambil dari kamu dahulu. Sungguh Abang malu padamu Dek" lirih Hakim.


"Sudah Bang, semua yang sudah berlalu biarkan saja berlalu. Mungkin itu bukan rezki Neera Bang, Neera sudah lama mengikhlaskannya. Abang tidak perlu memikirkan hal itu lagi yang penting sekarang Abang fokus menyelesaikan permasalahan rumah tangga Abang" ujar Neera penuh pengertian.


"Terima kasih Dek, terima kasih sudah memahami Abang dan terima kasih juga sudah mau membantu Abang dalam keadaan sulit begini" ucap Hakim.


"Sudah seharusnya Bang, kita harus saling bantu apalagi sama keluarga" ujar Neera.


"Tapi apa ya yang dimaksud Mbak Shintia kesennagan di rumah utama. Apa ada sesuatu hal yang tidak kita tau" bingung Neera yang berusaha mengalihkan perhatian Hakim dan Ayyub.


"Iya juga ya, Abang malah tidak perhatian sama perkataannya karena sudah terfokus pada kejahatan yang sudah ia lakukan" ucap Hakim.

__ADS_1


"Sebaiknya kita cari tau lagi, untuk malam ini lebih baik kita istirahat dulu. Besok kita lanjutkan lagi. Abang juga istirahat ya, jangan terlalu banyak berpikir" usul Neera yang diangguki kedua lelaki dewasa itu.


Neera tau saat ini suasana sudah tidak kondusif lagi, suaminya sudah sedari tadi berubah air mukanya. Ia takut masalah ini akan semakin runyam karena Ayyub benar-benar sudah mode diam dan jutek. Mata dan telinganya sudah memerah sementara rahangnya sudah bergemerutuk menahan luapan emosinua yang tertahan.


__ADS_2