Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 21


__ADS_3

 


Sore ini Neera keluar dari kampus dengan tergesa\-gesa. Dia sudah terlalu lama meninggalkan triplets. Segera dia menelpon taxi untuk mengantarkannya ke rumah Jennie.


Sampai disana Neera langsung masuk dan menekan bel rumah yang ternyata sudah di tunggu oleh ketiga buah hatinya. Neera meminta maaf pada ketiganya karena terlalu lama pergi.


 


"Jen, maafkan aku terlalu lama membiarkan mu menjaga triplets" ucap Neera pada Jannie


"Tidak masalah dear, kenapa kamu begitu lama?"


"Aku harus menggantikan jam pelajaran bedah karena Mrs. Clara harus pergi"


"Haha, sialnya dirimu. Kau selalu jadi tumbal pasti karena mereka tidak ada persiapan untuk memberi materi pelajaran"


"Aku juga tidak mengerti, aku hanya membantunya saja, tidak ada salahnya aku hanya merasa bersalah pada kamu dan triplets"


"Hei..., mereka bahagia disini. Lihatlah mereka bermain bersama dan bersenang-senang. Kau terlalu banyak berpikir"


"Baiklah Jen, aku sungguh berhutang banyak padamu hari ini, apa yang kau inginkan ?"


"Cukup kau traktir kami di Triplets bakery saat di Edinburg"


"Kalau itu tenang saja, kau boleh makan disana sampai muntah"


"Baiklah nona" mereka tertawa bersama.


"Jen aku akan langsung membawa mereka, okay ?"


"Kalian tidak tinggal untuk makan malam ?" tanya Jannie


"Tidak Jen, sudah terlalu sore nanti kami makan disana saja"


"Baiklah Zee, kalian harus main lagi kesini, oke ?"


"Baiklah, kalau begitu kami pamit ya, terima kasih banyak untuk hari ini"


 


Neera keluar dari rumah itu dan di ikuti oleh triplets setelah berpelukan dan mengucapkan salam pada kedua anak Jennie. Mereka menaiki taxi yang sudah di pesan Neera dan segera berangkat menuju hotel.


Sebenarnya dari awal datang Neera sudah melihat perubahan pada Qalundra, gadis kecil itu terlihat sedikit pucat dan lebih banyak diam. Tapi Neera tidak mau mengungkitnya disana takut menyinggung perasaan Jannie.


 


"Baby, are you okay ?" tanya Neera sembari mengusap wajah Qalundra yang ada di sampingnya.


"I'm okay bunda, i just wanna sleep bunda" balasnya lemah.


"Oke, kita akan segera sampai" ucap Neera sembari membawa Qalundra dalam pelukannya.


 


Saat sampai di hotel Neera memutuskan untuk menggendong Qalundra yang sudah mulai tertidur sementara dua saudaranya berjalan di depan Neera.


Mereka langsung check in dan diantar oleh bell boy yang ada di sana ke kamar yang sudah di booking.


Segera setelahnya Neera membersihkan ketiga buah hatinya. Mengganti baju mereka dan menidurkan Qalundra. Kemudian dia memesan makan malam untuk mereka melalui room service.


Selesai membersihkan diri dan makan malam bersama, mereka naik ke atas tempat tidur king size yang ada di kamar itu. Qaivan dan Qeenan masih ingin menonton acara kartun kesayangan mereka. Karena Neera tidak memasang televisi di rumah jadi dia membiarkan mereka sekali ini saja.


 


"Bunda, bunda.." terdengar suara lirih Qalundra.


Neera langsung berpaling kearah putri kecilnya.


"Ya sayang, ada apa ?" tanya Neera sembari mengelus wajahnya.


 

__ADS_1


Saat Neera menyentuh dahi putrinya dia langsung kaget. Terasa panas dan tidak berselang lama Qalundra langsung muntah dan badannya mengeluarkan keringat dingin.


Neera curiga anaknya keracunan makanan, Qalundra harus cepat mendapatkan penanganan medis. Segera dia membersihkan muntahan Qal dan memasangkan jaket pada ketiga anaknya.


Ketika telah sampai di dapan pintu Neera berpikir sejenak lalu melihat kebelakang, dua anaknya masih berdiri disana dengan wajah bingung sementara yang satunya masih berada di gendongannya dengan tubuh yang sudah lemah.


Saat ini dia benar\-benar kesulitan, tidak mengkin meninggalkan kedua putranya disini sendirian, dan terlalu riskan untuk membawa mereka seorang diri ke rumah sakit. Mereka pasti akan kesulitan mengikuti Neera lagi pula rumah sakit tidak bagus untuk mereka.


Disatu sisi putrinya membutuhkan penanganan cepat sementara di sisi lainnya dia tidak mungkin meninggalkan dua putranya.


Dia belum pernah mengalami situasi ini. Jika di Edinburg, dia bisa langsung memanggil nanny yang jarak rumahnya tidak begitu jauh. Sementara disini, tidak mungkin dia harus memanggil Jennie yang notaben nya istri dengan anak dua.


Neera tidak bisa memilih pilihan yang tepat, dia begitu kalut dan merasa sangat rapuh, tapi dia harus tetap kuat demi anaknya.


Kemudian diraihnya tangan Qeenan dan menyuruh Qaivan memegang tangan saudaranya. Neera akan membawa mereka apapun yang terjadi nanti. Qalundra tidak bisa menunggu lagi.


Neera segara menarik gagang pintu dan saat daun pintu itu terbuka dia melihat seseorang tengah berdiri dan ingin masuk ke kamar di depannya.


Mendengar pintu dibuka pria itu langsung berbalik dan melihat seorang ibu dengan wajah penuh kekhawatiran dengan satu anak dalam gendongannya dan dua lainnya memegang tangannya.


 


Deg....


 


Detik itu juga hatinya mencelos melihat wanita dengan tiga anak yang berdiri tepat di depannya. Wanita itu terlihat begitu lemah tapi dia berusaha kuat. Air mukanya menampakkan kecemasan dan ketakutan.


Segera pria tampan itu membawa wanita yang sedang menggendong seorang anak itu dalam pelukannya. Tubuh wanita itu bergetar menahan pedih di hatinya. Ayyub tau dia begitu rapuh saat ini.


 


"Sayang, ada apa ini ?" tanya Ayyub setelah melepas pelukannya.


 


Neera tidak bisa berpikir saat ini, dia takut anaknya ditemukan, tapi dia juga khawatir dengan kondisi Qalundra. Semua rasa bercampur menjadi satu dan tidak tidak bisa di definisikan dengan apapun.


 


 


Segera Ayyub menggendong dua putra yang ada di samping Neera setelah memasukkan tasnya sembarangan ke dalam kamar.


Setelahnya mereka berlari menuju lift untuk segera membawa Qalundra ke rumah sakit menggunakan mobil yang di kendarai oleh Ayyub.


Entah Neera harus menyebutnya keberuntungan atau kesialan. Mereka tertangkap di saat mereka sangat membutuhkannya.


Mungkin ini memang cara Tuhan untuk membuat mereka bertemu. Neera pasrah dengan apapun yang terjadi nanti.


Mereka sampai di depan gedung putih itu dan menurunkan Neera dan baby Qal di depan rumah sakit. Segera Neera melarikan Qalundra ke UGD sementara Qaivan dan Qeenan tetap bersama Ayyub di mobil.


 


"Hi, bolehkah aku tau namamu ?" tanya Ayyub pada keduanya.


"Hi uncle, aku Qaivan dan ini saudalaku Qeenan" ucap Qaivan.


"Bolehkah uncle bertanya siapa wanita tadi ?" tanya Ayyub yang masih ingin memastikan bahwa mereka anak Neera.


"She's oul bunda" jawab Qeenan.


"Kalau begitu dimana ayah kalian ?" tanya Ayyub kembali.


"He's alound the world" jawab Qeenan dengan cadelnya.


"Ayah tidak belcama kami, but bunda say ayah cayang kami" tambah Qaivan sambil menatap Ayyub.


 


Pria itu terdiam dan kembali memandangi kedua bocah kecil di depannya. Segera dia pindah ke kursi belakang dan duduk diantara keduanya.

__ADS_1


 


"Bolehkah uncle memeluk kalian ?" tanyanya.


"Tentu saja boleh" jawab mereka bersamaan.


 


Saat itu hatinya terasa nyaman, ada rasa yang tidak bisa dia jelaskan saat memeluk kedua anak kecil ini. Ada perasaan hangat yang menelusup ke dalam hatinya.


Dia memeluk erat dan menciumi kepala keduanya. Entah kenapa dia berharap bahwa mereka adalah anaknya. Dia harus mencari tau itu, semoga saja dugaannya benar.


Ayyub melepaskan pelukan dan membiarkan mereka duduk di pangkuannya. Kini dia dapat melihat lekat wajah balita itu.


 


"Bolehkan uncle tau berapa umur kalian anak manis ?" tanyanya lagi.


"2 yo, we ale tliplets" jawab Qeenan.


"Oh begitu, pasti menyenangkan" balas Ayyub.


"Velly happy, caat bunda kelja kami bica bermain belcama" jawab Qeenan.


"Memangnya kalian hanya tinggal bersama bunda ?" tanya Ayyub lagi.


"Iya, kalau bunda pelgi kita nanti ada nanny yang menjaga kita" jawab Qaivan lagi.


"Baiklah, apakah kalian mengantuk ?" tanya Ayyub pada keduanya.


 


Mereka menangguk bersamaan dan segera Ayyub membawa mereka menyender pada dadanya.


 


"Tidurlah, sudah malam" ucap pria itu sembari mengelus punggung keduanya hingga terdengar suara napas teratur dari hidung kecil mereka.


Ayyub terus memandangi wajah keduanya, sembari menerka-nerka dengan pikirannya sendiri.


"Kalau dipikir-pikir tidakkah wajah mereka begitu familiar, hanya bulu mata mereka saja yang mewarisi Neera. Tapi aku juga melihat diriku pada mereka, atau hanya perasaanku saja. Bukankah mereka mirip denganku ?" tanya Ayyub pada dirinya.


"Jika memang mereka anakku, berarti ketika Neera pergi dia sedang mengandung mereka" jawabnya sendiri.


 


Sementara di dalam rumah sakit, Qalundra sudah selesai di tangani. Benar saja dia keracunan makanan dan syukurlah dapat ditangani dengan cepat.


 


"Sayang, bisakah kamu ceritakan pada bunda apa yang kamu makan hari ini ?" tanya Neera lembut pada putrinya.


"Qal hanya makan bebelapa jelly yang dibelikan kakak Jollie pada Qal" jawabnya takut.


"Bukankah bunda sudah bilang padamu untuk tidak makan sembarangan ?" tanya sang bunda kembali.


"Maafkan Qal bunda" jawabnya masih menunduk.


"It's okay baby, lain kali jangan ulangi lagi, promise ?" ucap Neera sembari memberikan satu kelingkingnya.


"Plomise" jawab putri kecil itu sembri menautkan kelingkingnya pada jari sang bunda.


"Sekarang tidurlah, kita akan pulang setelah cairan infusmu habis" jawab Neera sembari membelai kepala putrinya lembut.


 


Kini tinggallah Neera dengan segala kegelisahan hatinya. Apa yang nanti harus di jelaskannya kepada pria itu.


 


"Bagaimana keadaan mereka sekarang" batin Neera memikirkan dua putranya dan Ayyub yang notaben nya adalah ayah mereka.

__ADS_1


__ADS_2