
Ayyub Pov
Pagi ini aku memiliki penerbangan ke Jerman. Dengan barang yang tidak terlalu banyak aku hanya memerlukan beberapa menit saja untuk selesai packing.
Aku bisa sedikit bernapas lega karena Vina tidak bisa merubah penerbangannya lagi sesuka hatinya. Tentu saja karena diam\-diam aku membeli beberapa saham perusahaan penerbangan tempat kami bekerja.
Dulu aku tidak terlalu mempergunakan hak sebagai pemegang saham tapi setelah tingkah Vina yang menjadi\-jadi dan setelah mengetahui sisi dirinya yang lain aku memutuskan untuk menjaga jarak darinya.
Tentu saja tidak bisa langsung mengakhiri segalanya karena dia masih mendapatkan dukungan penuh mama dan keluargaku. Bahkan belakangan ini mereka terus memaksaku menikahi Vina.
Aku rasa ada yang tidak beres dengan semua ini. Sehingga aku memutuskan untuk keluar dari rumah besar dan memilih tinggal di condomiun yang sudah kubeli.
Semenjak kepulanganku dari Edinburg enam bulan lalu hatiku selalu resah dan ingin kembali kesana. Akan tetapi mengingat pekerjaanku membuat aku belum bisa kembali kesana.
Dengan langkah penuh percaya diri aku berjalan keluar hotel untuk memulai hari yang sangat melelahkan nanti.
Aku masih merindukannya, bahkan cintaku tak pernah berkurang untuknya. Hanya keadaan yang memaksaku untuk berperan ganda menjadi kekasih orang lain.
Sebenarnya aku pernah mencoba menghapus rasa cintaku padanya. Saat dulu dia pergi hanya meninggalkan sepucuk surat permintaan maaf dan meminta untuk di lepaskan.
Saat itu aku sangat kecewa dan menerima saja apa keputusan mama, jadilah aku menjadi kekasih Vina. Ku coba mencintai wanita itu tapi tak pernah bisa. Bahkan sampai sekarang aku tak pernah menciumnya.
Namun setelah ku pikir\-pikir lagi, Neera bukanlah tipikal perempuan yang mudah saja meninggalkan aku karena pria lain yang lebih perhatian atau karena dia membenci keluargaku.
Rasa nya tidak mungkin, dia bukan seorang yang mudah untuk membenci. Bahkan dia selalu mengalah dan memaafkan setiap perlakuan buruk orang padanya.
Tapi tidak mungkin juga keluargaku membohongiku. Bahkan mama adalah orang yang paliang ku percayai dan ku sayangi selain Neera.
Saat itu aku tidak bisa memulih diantara keduanya, sehingga aku membiarkan saja semua berjalan apa adanya. Aku dengan kekecewaan ku dan mama dengan segala perintahnya.
Semoga suatu saat aku bisa bertemu dengan Neera dan meminta penjelasan dari mulutnya. Aku sangat\-sangat merindukannya. Bahkan aku selalu mencari tau dimana dia berada, tetapi istriku itu terlalu pintar untuk bersembunyi.
Setelah sampai di bandara yang selalu ramai pengunjung itu aku berjalan menuju kantor untuk laporan dan menandatangani beberapa berkas.
Kemudian aku naik keatas untuk bersiap memasuki pesawat yang nanti akan ku terbangkan. Ya.. aku seorang pilot karena dulu pernah ada seseorang yang memintaku membawanya keliling dunia.
flasback on
__ADS_1
"Zanee, apakah keinginan terbesar dalam hidupmu ?" tanya remaja pria dengan seragam SMA itu.
"Aku ingin membanggakan orang tuaku" balas seorang gadis manis disamping sang pria dengan seragam yang sama.
"Itu aku sudah tau pasti, maksudku untuk keinginanmu sendiri" balas pria.
"Hmmm... aku ingin berkeliling dunia" balas sang gadis dengan senyum di wajahnya.
"Kenapa kamu ingin keliling dunia ?" tanya pria penasaran.
"Karena aku ingin menggenggam dunia untuk kubagikan dengan orang yang kucintai" balasnya tersenyum cerah.
"Ada-ada saja, kalau begitu pasti kamu sudah tua baru bisa melakukannya, Zanee kecil itu harus menabung dulu dalam celengan ayamnya" balas pria itu meledek.
"Kenapa bukan kamu saja yang membawaku, agar aku tidak terlalu tua ?" balas gadis sumringah.
"Baiklah, akan ku pikirkan caranya" balas pria itu.
flasback off
Memikirkannya semakin membuatku rindu. Semoga saja Tuhan segera mempertemukan kita. Apapun keadaannya aku akan selalu mencintai Zaneeku.
Deg...
Dari arah kejauhan aku melihat seorang wanita berjalan kearahku dengan pakaian formal dan hijabnya. Sepertinya aku pernah melihat perempuan ini. Aku terpaku begitu saja di tempat, perempuan itu berjalan sambil menunduk memasukkan satu tangan pada tas dan tangan lain sebagai tempat menggantung tas.
Aku terus berdiri di tempat, kaki ku terasa berat untuk dilangkahkan. Tiba\-tiba wanita itu menabrakku lumayan keras, isi tasnya berhamburan dan dia terpental jatuh.
Saat itu aku seperti orang bodoh yang hanya bisa melongo, jantungku berpacu kencang seakan ingin keluar dari rongga dada. Bukannya membantu aku hanya membeku.
Perlahan wanita itu mengangkat wajahnya, detak jantungku kian menggila saat menatap wajah putih dengan bulu mata lentik dan mata bulat yang tak mampu di sembunyikan oleh kaca mata birunya.
"Sayang, kamu kah itu ?" aku bertanya padanya.
__ADS_1
Dia kembali menunduk dan mengumpulkan barangnya. Tidak mungkin aku salah orang. Meskipun ada kaca mata bertengger di pangkal hidungnya, walaupun badannya kian sexy dan kulitnya kian putih aku yakin itu dia.
Orang yang selama ini kucari, dia yang selama ini kurindukan ada di depan mataku. Segera ku cekal tangannya untuk sekedar memastikan.
Mengapa dia seolah tidak mengenaliku. Tapi aku yakin itu dia, bahkan aroma tubuhnya masih segar di indra penciumanku. Dia langsung menarik tangannya dan meminta maaf dengan masih tertunduk.
Ingin sekali kukejar wanita itu, akan tetapi aku harus segera mengantarkan ratusan orang, tidak mungkin ku abaikan tugasku. Untung saja dia meninggalkan kartu nama yang tercecer di lantai.
Aku tersenyum panuh makna, disana tertulis Dr. drh. Zaneera Khalisha, M.Sc dengan nomor telponnya.
Luar biasa sekali wanitaku, bahkan kini namanya sudah semakin panjang. Aku sanggat bangga padanya. Ku kantongi kartu namanya agar nanti tidak hilang.
"Neera, sejauh apapun kamu berlari Tuhan selalu punya cara untuk membuatku menemukanmu. Tunggu aku sebentar sayang , aku pasti akan menemukanmu" ucapku lirih.
"Aku rasa kita memang ditakdirkan untuk bersama, sejauh apapun kamu berlari selalu berakhir dengan kita. Ah sungguh istriku yang menggemaskan. Bahkan sekarang dia pura-pura tidak mengenali suaminya" batinku
Aku meneruskan langkahku dengan hati penuh bunga, akhirnya aku hidup kembali. Setelah sekian lama aku setengah hidup akhirnya aku menemukan belahan jiwaku.
Semua kru kabin terheran\-heran melihatku. Entahlah biarkan saja, aku tidak perlu mengurusi mereka. Sekarang aku harus segera menyelesaikan tugasku dan kembali lagi.
Sepertinya aku harus memanfaatkan liburan minggu ini dengan semaksimal mungkin. Jika perlu aku akan mengajukan cuti nantinya.
"Sorry Kapten, are you okay ?" seorang yang berseragam sama denganku memukul pundakku.
"Ah, ok i'm okay" balas ku sedikit terkejut.
"Kapten terlihat berbeda hati ini, apakah matahari terbit dari kanan ?" tanya co-pilot ku.
Aku mengerti maksudnya, selama ini aku jarang tersenyum bahkan terlihat sangat dingin dan sedikit menakutkan. Setidaknya itulah yang kudengar rumor tentangku di perusahaan.
Tapi siapa peduli, aku hanya akan tersenyum untuk orang yang kucintai, lagi pula selama ini hatiku galau bagaimana pula aku akan tersenyum.
__ADS_1
Baiklah ini sudah cukup, aku harus fokus dengan pekerjaanku. Bagaimanapun banyak nyawa yang ada di pesawat ini, aku tidak bisa mengabaikan itu. Ku kesampingkan sebentar euforia kebahagiaanku dan berusaha profesional dengan tugasku.