Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 31


__ADS_3

Neera tengah diam sembari mengemudi sementara Ayyub sibuk dengan pikirannya sendiri, hanya kesuanyian yang menemani triplets tidur di kursi belakang.


Sesekali Ayyub mencuri pandang pada Neera yang tengah fokus di belakang kemudi. Hatinya terus bertanya sedari awal mereka bertemu.


Rasa rindu juga rasa cinta yang kini kian bertumbuh ingin segera di salurkan tetapi ia memilih enggan mengejak Neera sekedar bercakap membahas masalah mereka karena ia tahu pasti wanitanya itu sangat lelah.


Namun rasa kagum tak pernah hilang dari wajah tampannya. Sedari awal ia melihat pujaan hatinya itu dia begitu terpesona bahkan hingga saat ini jantungnya masih berdetak kencang tatkala memandang wajah manis disampingnya.


Bagaimana wanitanya itu semakin cantik, wajahnya semakin menggambarkan ke ayuan yang terkesan teduh dan menyejukkan. Tubuhnya yang kian indah di baluti dengan busana yang sopan tetapi menggambarkan keeleganan sangat cocok dengan dirinya


Kepribadian tangguh dan semakin sabar membuat Ayyub tidak habis pikir bagaimana kehidupan membentuk istrinya menjadi wanita super selama tiga tahun ini.


Bahkan Ayyub penasaran sekaligus takut jika ada lelaki lain yang mendekati Neera selama mereka berpisah, apakah pernah seseorang pria lain singgah di hati istrinya itu.


Melihat penampilan Neera dahulu saja sangat banyak orang yang mencoba menggambil hatinya bagaimana dengan sekarang. Segala ketakutan itu mulai berkecamuk di hatinya.


Demi apapun ia akan menjaga istrinya itu, jikapun ada seseorang yang mendekatinya dia akan menyingkarkan mereka. Sungguh ia ingin Neera hanya untuknya. Biar saja orang menganggap ia lelaki yang egois.


Mulai esok hari ia akan mengetatkan penjagaan pada istrinya, sungguh ia mempercayai Neera tetapi tidak dengan lelaki di luar sana.


Usia yang belum terlalu lanjut ditambah muka Neera yang baby face membuat siapapun berusaha menarik perhatiannya, bahkan jika abg khilaf mungkin Neera juga akan jadi sasaran mereka.


Sesekali Ayyub menggeleng kepala menanggapi kecemasan dan keposesifannya kini, lantas dia melepas kekehan kecil yang tidak sengaja terdengar oleh Neera.


"Kenapa sayang, ada yang lucu ya ?" tanya Neera melihat sekilas Ayyub


"Iya sayang, lucu aja" jawab Ayyub sembari menatap Neera.


"Apa sayang yang lucu, Apa pemain atraksi di jalan ?" seru Neera kembali masih fokus menyetir.


"Enggak sayang, aku yang lucu" tutur Ayyub.


"Loh, lucu gimana orang kamu diam saja dari tadi" aneh Neera menatap Ayyub sekilas.


"Bukan akunya sayang tapi pikiran aku hehe" kekeh Ayyub pelan.


"Lucu gimana, sayang apa kamu baik-baik saja ?" tanya Neera mulai khawatir.


"Hm Hm Hm, jangan mikir yang aneh-aneh aku masih sehat yang" sambung Ayyub menginterupsi Neera.


"Yah.., kali saya yang aku kira kamu mulai gila sampai di Edinbrug" Neera cengengesan.


"Iya sayang aku memang mulai gila kayanya, gimana ini ?" balas Ayyub dengan wajah serius.


Ckkiiiiiiiit........


Tiba-tiba mobil yang di kemudian Neera langsung menepi dan mengerem mendadak, setelahnya perempuan itu segera memutar arah mereka.


Beruntung saat itu tidak banyak kendaraan di jalanan, sehingga Neera lebih leluasa melakukan atraksinya itu.


Ayyub hanya terbengong menyaksikan kejadian dalam sepersekian menit itu, bahkan kini keterkejutannya belum habis, hingga terdengar suara klakson yang membawa kesadarannya.


"Loh sayang, kita mau kemana ?" tanya Ayyub penuh dengan kebingungan.


"Mau ke prakter dokter, sebentar ya sayang" jawab Neera singkat.


"Kenapa yang, kamu sakit ?" seru Ayyub sembari menatap Neera dari atas ke bawah mencari bagian yang sakit.


"Enggak sayang, kamu yang sakit tapi kamu tenang saja dokter ini sangat terkenal semoga kita bisa mendapat jadwal nanti.


"Aku, aku sakit apa sayang ?" Ayyub semakin binggung.


"Kita harus ke spesialis kejiwaan sayang, kamu harus cepat ditanggani sebelum nanti tambah parah" jawab Neera dengan wajah penuh kesungguhan.


"Sayang, aku memangnya gangguan jiwa" tanya Ayyub sembari mengerinyitkan wajah tampanya.


"Iya, tadi kamu tertawa sendiri terus aku tanya kamu bilang mulai gila" jawab Neera sedikit bingung.

__ADS_1


"Hahahahahahahaha" seketika tawa pecah dari lelaki yang tengah memegangi perutnya itu.


"Kamu kenapa sih yang, kamikirin apalagi sampai kayak gini, gak bisa kita harus segera pergi kesana kamu harus segera ditangani" ucap Neera mulai khawatir.


"Sayang., hei sayang dengar aku dulu" ucap Ayyub sembari menyentuh lembut lengan Neera.


Segera saja Neera menepikan mobil untuk mendengarkan perkataan suaminya lebih fokus dan melihat keadaan Ayyub.


"Sayang, aku engga gila aku masih baik-baik saja" lanju Ayyub setelah mobil mereka menepi dan memegang kedua sisi lengan Neera.


"Kamu yakin, tadi kamu bilang mulai gila" bingung Neera yang melihat tidak ada kejanggalan dari suaminya.


"Iya aku mulai gila, tapi aku gila pada kamu sayang, istriku" tutur Ayyub sembari menatap dalam manik mata coklat pekat khas gadis nusantara itu.


Blussss.....


Seketika itu juga semburat merah mulai menjalari pipi putih Neera, seketika wajahnya terasa memanas dan jantungnya mulai berpacu.


Neera hanya membeku mendapat perlakuan lembut dan mesra dari suaminya itu, sudah lama sekali dia tidak seintim dengan Ayyub, bahkan rasanya kini seakan kembali pada awal mereka bersama.


Perlahan Ayyub mendelatkan tubuh Neera padanya, jarak mereka yang semakin menipis membuat Neera gugup dan menundukkan pandangannya.


Mereka sama-sama tau apa yang akan terjadi selanjutnya, perlahan bibir mereka akan bertemu, melepaskan segala kerinduan yang selama ini terpendam dan menyalurkan segala rasa yang ada.


Jantung keduanya ikut berpacu seirama, perlahan tapi pasti. Ayyub sudah memeringkan kepalanya. Neera samakin gugup dan mulai keringat dingin.


Tik, tik, tik,.. detik kian berganti mengantarkan mereka pada sebuah penyatuan rasa, sedikit lagi segalanya akan tersampaikan hingga...


"Bunda" suara gadis kecil membuyarkan segalanya.


"eh ah iya, ada apa baby apakah kamu sudah bangun ?" tanya Neera sedikit salah tingkah sementara Ayyub menghela napas panjang malenatap nanar putri mereka yang bangun disaat yang tidak tepat.


"Of course, Qal sudah bangun bunda makanya Qal panggil bunda" jelas Qalundra pada bundanya.


"Oh iya sayang, bunda melihatnya. Jadi ada apa kesayangannya bunda ?" tanya kembali Neera setelah menstabilakan keterkejutannya.


"Qal hanya ingin bunda setelah bangun, mau mimik bunda" jelas Qal lirih.


" Please bunda" kali ini nada memohon baby Qal sembari menunduk dalam menggoyahkan Neera.


"But sayang, bunda sedang mengemudi" jawab Neera meminta pengertian putrinya.


Mendengar itu baby Qal semakin menundukkan kepalanya, isak kecil mulai lepas sesekali terlihat gadis kecil itu tengah menahan tangisnya.


Sungguh Neera maupun Ayyub tidak tega melihatnya ditambah dengan kondisi baby Qal yang tengah lemah setelah insiden keracunan makanan kemarin hingga tak satupun makan yang lolos ke perutnya.


Melihat itu Ayyub segera berinisiatif mengganti posisi, membiarkan Neera memberikan ASI pada putri mereka. Segera ia keluar dan memutar hingga kursi kemudi sementara Neera hanya berpindah di dalam mobil.


Setelah memasukkan tujuan ke GPS yang ada di mobil segera Neera mengambil baby Qal dari seat carnya dan membawa putrinya itu dalam pangkuan.


Satu persatu Neera mulai membuka kancing kemeja santainya dan menutupi dengan untaian hijabnya. Setelahnya membiarkan baby Qal menyesap ASI untuk mengisi perut kecilnya.


Isak tangis mulai mereda dan perlahan di ganti dengan suara sesapan yang sesekali terdengar dari mulut Qalundra.


Melihat itu Neera segela membelai kepala putrinya dan memandangi wajah cantik yang tengah menyesap dengan rakus.


"Pelan-pelan sayang, apa Qal sangat lapar" ucap bunda yang terus membelai rambut putrinya itu.


Tidak terdengar jawaban hanya tangan kecil yang mendarat di bibir sang bunda dan setelahnya mempermainkan hijab sang bunda hingga membuat kulit Neera terekspos, hal inilah yang membuat jakun Ayyub turun naik sembari mencuri pandang sedari tadi.


Berulang kali Neera membetulkan hijabnya setial itu pula gadis kecil itu mempermainkan ujung kain yang terjuntai itu.


"Kenapa sayang, buka saja" ucap Ayyub asal sembari menatap kilas Neera.


"Humm, malu sayang. Udah begini saja" ucap Neera yang sedikit tidak nyaman karena kain penutupnya tertinggal di belakang.


"Malu kenapa yang kan kaca mobilnya gelap dari luar" jawab Ayyub yang tidak mengerti.

__ADS_1


"Malu sama kamu" lirih Neera memalingkan pandangannya ke arah jendela.


"Loh kenapa harus malu, jangankan melihat memegang saja aku boleh" jawab Ayyub sembari menyunggingkan senyum dengan kekehannya.


"Astaga sayang, mulut kamu" Neera bergidik membayangkan betapa mesumnya suaminya itu sekarang.


"Kamu kenapa sih, ngomongnya begitu banget kayak gak pernah di kasih aja" lanjut Neera sembari melihat suaminya.


"Iya memang gak pernah dapat jatah lagi gimana dong" jawab Ayyub mengerlingkan mata nakal.


"Banyak gaya kamu yang, selama tiga tahun kamu kemana-mana dengan kekasihmu masak tidak di kasih" balas asal Neera yang sedikit takut juga jika benar-benar mereka sudah berhubungan.


"Demi Tuhan sayang, aku enggak pernah sekalipun menyentuh perempuan lain selain kamu, selama ini aku berusaha menahan dan bertahan sendiri. Meskipun pernah berkali-kali wanita itu menjebakku dengan obat kuat atau apalah itu" ucap Ayyub berapi-api.


"Hah ??! Apa ??! dia pernah menjebakmu, kenapa bisa ?" seru Neera tidak percaya.


Memang Vina terlihat sangat tergila-gila pada Ayyub tapi ia tidak pernah membayangkan Vina bisa melalukan hingga sejauh itu mengingat latar belakang keluarga mereka.


"Iya sayang, mau bagaimana lagi dia beberapa kali dia memberikan minuman atau ketika makan di hotel setelah penerbangan" ucap Ayyub menjelaskan.


"Terus bagaimana ?!" tanya Neera syok.


"Mau bagaimana lagi, beruntung aku segera menyadari dan pergi dari sana segera berendam atau menuntaskannya di kamar mandi, bahkan pernah sekali aku menampar kuat pipiku agar tetap sadar" terang Ayyub masih dengan menatap jalan di depan mereka.


"Hah ?!" hanya itu yang keluar dari mulut Neera yang masih syok mendengar cerita suaminya.


"Coba saja saat itu kamu ada sayang kan aku tinggal melakukannya saja enak lagi, tidak perlu aku melakukan hal itu sendiri" ucap Ayyub sembari menaik turunkan sebelah alisnya.


"Ya ampun sedang serius sempat-sempatnya kamu memikirkan itu, bagaimana bisa kamu semakin mesum begini" gidik Neera setelahnya menggelengkan kecil kepalanya.


"Tidak masalah mesum dengan istri sendiri, bagus untuk membakar semangat jadi sayang kapan kamu selesainya ?" tanya Ayyub menatap sejenak Neera.


"Astaga, otak kamu bisakah jangan berpikir hal itu terus, sepertinya aku harus mencuci kepalamu itu sesampai di rumah" ucap Neera tidak percaya.


"Jangankan kepalaku, seluruh tubuhku saja aku serahkan untuk kamu bersihkan sayang" sumringah Ayyub yang membuat Neera kehabisan kata-kata.


Neera melepaskan napas panjang tak mampu menjawab perkataan suaminya itu, di pikir-pikir memang wajar lelaki yang sudah pernah merasakan nikmat dunia itu akan selalu ingin melakukannya lagi, berbeda dengan perempuan yang tidak akan terlalu menikirkan hal itu.


Sudah luar bisa Ayyub bertahan selama itu, di satu sisi Neera bersyukur bahwa Ayyub mampu menjaga kesetiaannya tetapi ada juga rasa bersalah yang membiarkan suaminya menderita selama ini karena tidak mendapatkan haknya.


"Iya sayang, nanti aku kasih tau mungkin besok atau lusa" jawab Neera pelan.


"Hah ?! Benarkah" Ayyub mulai sumringah.


"Ehm, mm tapi kamu simpan dulu melon kamu sayang, nanti aku tidak tahan" ucap Ayyub setelah memalingkan wajah pada Neera dan kembali melihat kedepan.


"Hah ? melon ? melon dari mana, aku tidak ada sekarang" ucap Neera bingung.


"Itu melon kembar kamu sayang, cepatlah jangan sampai nanti aku mencicilnya dari sekarang" ucap Ayyub menunjuk dengan bibirnya dan menelan ludah setelah melihat pemandangan indah itu.


Segera Neera melihat arah yang dimaksud Ayyub, saat itu juga ia terkejut ternyata baby Qal yang sudah tertidur dan melepaskan mulutnya meninggalkan gundukan yang menggantung indah disana.


Lantas Neera langsung memasukkan kembali ke tempatnya dan mengancingkan bajunya sembari membetulakan posisi baby Qal menghilangkan malu yang dirasakannya.


"Bisa besar dan kencang begitu ya yang, padahal kamu sedang menyusui apakah banyak ASInya ?" tanya polos Ayyub yang mendapat cubitan di pahanya.


"Ayyub, astaga mulut kamu itu bisa diam tidak" ucap Neera yang mulai kesal karena terlalu malu setelah Ayyub menyinggung itu padahal dia berusaha menghilangkan rasa malunya sedari tadi.


"Loh kenapa sayang, aku bilang kenyataan kok, jadi tidak sabar. Apa boleh aku pegang sedikit yang ?" ucap Ayyub tanpa merasa bersalah mengulurkan satu tangannya kearah dada Neera.


"Pegang ndasmu, seminggu lagi baru kamu bisa merasakannya" ucap Neera sembari menepis tangan Ayyub dan memelototinya.


Poor Ayyub...


~Sekilas dari Penulis~


Pembaca tersayang terima kasih sudah mampir dan membaca cerita mas Ayyub dan mbak Neera semoga kamu semua suka dengan ceritanya.

__ADS_1


Please jempolnya yaa, jangan lupa like dan comment juga biar kedepannya lebih bagus lagi. Sekali lagi terima kasih semua.


Happy Reading Bebs 💕


__ADS_2