
Hari yang ditunggu telah tiba, sidang akhir putusan kasus korupsi dan penyelewengan dana akan dilaksanakan pukul 10 nanti.
Semua anggota keluarga saat ini tengah berkumpul di ruang keluarga setelah tadi sarapan. Mereka mendiskusikan beberapa hal dengan dua orang pengacara keluarga Kaisar dan satu pengacara yang ditarik Ayyub dari perusahaannya di luar negri.
Diskusi ini berjalan cukup alot karena mereka berusaha untuk mencari jalan agar Fazreen terbebas dari tuduhan dan hukuman yang berat akan diterima Kiki dan keluarganya.
Sejauh ini bukti yang mereka punya sudah lumayan kuat tetapi tidak bisa untuk memasukkan tuntutan lebih pada Kiki dan juga tidak sepenuhnya membebaskan Fazreen.
Mereka semua sudah berpasrah dengan situasi, setidaknya mereka sudah berusaha semaksimal mungkin. Apalagi beberapa bulan ini Ayyub dan Hakim bahkan harus turun tangan sendiri mencari celah perbuatan Kiki di perusahaan dan mencari antek-antek yang mendukung aksinya.
Muka pasrah mereka sudah terlihat hingga derap langkah mengalihkan perhatian mereka pada perempuan cantik berhijab yang kini berdiri di sebelah sofa Ayyub.
"Permisi semuanya, maaf Neera telat karena menunggu kedatangan ini. Semoga berkas ini bisa membantu menyelesaikan kasus dan memenangkan persidangan" Neera memberikan lembaran yang tebal itu ke tangan suaminya.
"Iya, tidak apa-apa Nak, ayo duduklah" sapa Tuan Kaisar.
"Terima kasih Pa" sopan Neera.
Ayyub yang pertama melihat berkas itu tercengang dan membalik-balikkan data yang sangat sulit ia percayai.
Matanya lalu menatap Neera seakan tidak percaya. Namun, senyum cerah langsung terukir di wajah yang beberapa waktu belakangan terlihat sayu dan sedikit muram.
"Ada apa Yub ?" tanya Tuan Kaisar yang mewakili kebingungan semua orang disana.
"Ini Pa, kita sudah siap sepenuhnya berperang" ujar Ayyub sembari menyerahkan bundelan kertas itu ketangan Papanya.
"Alhamdulillah, Ya Allah akhirnya kebenaran akan selalu menemukan jalan keluarnya" ucap syukur Tuan Kaisar yang lalu menyerahkan bukti itu ke pengacara.
"Maaf sebelumnya Nona, aku ingin bertanya mengenai berkas ini" ragu pengacara Ayyub yang berapa di luar negri.
"Ya, silahkan" jawab Neera.
"Maaf sebelumnya, tetapi ini harus saya jelaskan. Apakah bukti ini anda dapatkan dengan jalan hack atau ilegal karena setau saya privasi disana sangat dijaga dan lagi jika dengan cara tersebut kita bisa dituntut balik" jelas pengacara yang sudah Neera duga sebelumnya.
"Tenang saja Sir, aku mendapatkannya melalui World Bank. Anda bisa lihat stempel dan tanda tangan yang tertera disana asli, bisa dibuktikan dan lagi kop pengeluarannya berasal dari lembaga tersebut" jawab santai Neera.
__ADS_1
"Tapi, bagaimana mungkin anda bisa mendapatkannya Nona, bukankah ini.." ujar pengacara itu dengan rasa tidak percayanya.
"Sudahlah, yang terpenting sekarang berkas itu resmi dan bisa dibuktikan selanjutnya kita cari cara penyelesaian terbaik dari kasus ini" putus Neera yang dimaklumi oleh semua orang yang ada disana.
"Saya sangat yakin, pasti Nona ini bukan orang biasa. Presiden saja belum tentu bisa mengambil berkas seenaknya dari world bank tetapi ia dengan santainya berkata, dia terlihat masih muda dan rendah hati" batin pengacara yang tadi menanyai Neera.
Ayyub dan keluarganya yang penasaran bagaimana cara Neera mendapatkan bukti itu terpaksa bungkam. Mereka tau bahwa Neera tidak ingin mengekspos diri terlalu jauh sehingga ia menghentikan kekepoan pengacara tadi.
Akhirnya setelah diskusi ulang mereka berangkat menuju pengadilan untuk proses sidang yang akan di gelar satu jam lagi.
Hari ini Neera ikut ke pengadilan sementara mama memilih di rumah bersama triplets karena dia juga tidak tega meninggalkan Nola sendirian juga karena kondisi mama yang tidak memungkinkan.
Saat ini Neera menggunakan setelah semi resmi sama dengan Ayyub akan tetapi ia menggunakan masker dan kaca mata hitam. Semua itu atas saran Ayyub yang tidak ingin media mengendus keberadaan Neera.
Sidang kali ini berjalan tegang, banyak statment yang menyudutkan Fazreen dari pihak Kiki yang membuat ia terasa di atas angin sementara Fazreen sudah terduduk pasrah.
"Sekarang dari pihak tersangka apakah ada yang ingin disampaikan" tanya Hakim.
"Terima kasih yang mulia, disini kami keberatan dengan tuduhan saudari Kiki atas kasus korupsi ini karena kenyataan bukan saudara Fazreen yang melakukan hal ini dan klien saya sama sekali tidak tau, malah dijadikan kambing hitam" ujar ketua pengacara keluarga Kaisar setelah mengangguk sejenak pada Tuan Kaisar dan keluarganya.
"Anda bisa lihat sendiri siapa yang menandatangani setiap laporan dan anda juga kita bisa tanyakan pada staff lain" ujar Kiki dengan percaya diri.
"Maaf yang mulia, saya izin untuk memanggil saksi yang termasuk" ujar pengacara.
Setelah saksi itu duduk di kursi sang pengacara beralih pada lcd besar dan memutar cctv yang menampilkan percakapan Kiki dengan staff yang menjadi saksi.
"Kau pankas dana pemasukan ini, disini dan dibagian ini. Lakukan serapi mungkin, jangan sampai ada yang terlihat aneh. Seperti biasa bagianmu nanti akan di transfer" begitulah beberapa percakapan yang terekam.
Tiga staff yang terekam termasuk satu orang saksi itu kini terlihat pucat dan pias seketika. Dengan terlihat gelisah di tempat duduknya.
"Sebelum saya juga mohon izin memanggil semua yang terkait di video untuk duduk di kursi saksi" ujar sang pengacara.
Tanpa bisa menolak, tiga orang itu duduk berjejer di satu kursi dan saling mencuri pandang seakan memberikan kode.
"Jadi apa tanggapan kalian mengenai video tersebut, apakah benar kalian yang ada di sana dan apakah benar bapak Fazreen yang memerintahkan kalian" tanya pengacara langsung.
__ADS_1
"Be.. be.. benar kami yang ada disana. Ta..ta..ta..pi yang memerintahkan adalah Ibu Kiki" ujar salah seorang dari mereka takut-takut sembari mencuri pandang pada Kiki yang melotot.
"Sekarang saya mau tanya pada saudari Kiki, menurut mereka andalah orang yang memerintahkan" balik pengacara pada Kiki.
"Memang benar, tetapi saya juga diperintahkan oleh Fazreen" ujar Kiki tanpa sedikitpun menatap suaminya itu.
"Bagaimana dengan uang yang dikirim pada rekening ketiga orang ini setiap pengambilan dana perusahaan" tanya pengacara itu lagi.
"Semua itu dikirim oleh Fazreen" ujar Kiki.
"Atas dasar apa anda menyatakan hal itu" tanya pengacara lagi.
"Cek saja rekening mereka, dia mengirimnya dari bank luar negri" ujar Kiki yang merasa terpojok.
"Maksud anda ini ?" tanya pengacara sembari layar menampilkan bukti transaksi bank ketiga saksi tersebut.
"Ya, itu adalah rekening yang dibuat Fazreen untuk menyimpan uang mereka" ucap Kiki masih dengan percaya diri yang tinggi.
"Apakah anda bisa menjelaskan tata cara tersangka utama bisa melakukan hal ini sehingga tidak tercium selama ini ?" pancing pengacara lagi.
"Ya, dia mengambil setiap bagian keuntungan perusahaan untuk dirinya dan menyimpannya dalam akun bank luar negri setelah itu menggunakan itu dalam setiap tansaksi" papar Kiki dengan semangat.
"Begitu ya, anda sepertinya paham sekali dengan skenario ini ya ?" ujar pengacara yang membuat Kiki terdiam dan tersadar telah membuka dirinya sendiri.
"Baiklah, saudara Fazreen apakah anda mengakui tuduhan yang disampaikan oleh saudari Kiki" tanya pengacara yang hanya dijawab Fazreen dengan gelengan pasrah karena ia tidak mempunyai bukti apapun saat ini dan juga dalam keadaan tidak berdaya.
"Kalau begitu, yang mulia izinkan saya kembali menyerahkan bukti yang baru kami dapatkan oleh sebab itu belum diserahkan ke pengadilan" izin pengacara yang disetujui oleh hakim ketua.
"Baiklah yang mulia dan semua hadirin, ini adalah beberapa laporan transaksi dari bank swiss dan beberapa ponsel yang berisi pesan singkat perintah pengiriman dana dan kesepatan pencairan uang, rencana korupsi dan juga beberapa perintah lainnya dengan metode pesan singkat. Kemudian juga ada flashdisk yang berisi rincian administrasi perusahaan Kaisar grup yang beberapa bagian dicaplok juga ada data perusahaan keluarga saudari Kiki yang tersusun rapi, silakan dicek yang mulia" papar pengacara lalu menyerahkan bukti pada hakim.
Setelah dicek lalu diserahkan pada jaksa, hakim meminta untuk meneruskan penjelasan dari pengacara.
"Baiklah yang mulia, semua itu kami dapatkan di kediaman Kaisar lebih tepatnya di kamar saudara Fazreen dan saudari Kiki yang selama ini tidak diketahui oleh saudara Fazreen sendiri, sudah tentu yang melakukannya saudari Kiki" ujar sang pengacara.
"Bagaimama kau bisa menfitnahku seperti itu, mana mungkin maling mau ngaku, bisa saja Fazreen yang melakukannya" emosi Kiki yang mulai teriak sementara keluarga dan pengacara mulai pucat.
__ADS_1
"Ya, benar sekali yang anda katakan, mana ada maling yang mau ngaku jadi kami sudah menyiapkan bukti agar dia harus mengakui perbuatannya" tenang pengacara keluarga kaisar.