
Setelah memastikan Nola aman untuk ditinggalkan dan kamarpun sudah rapi Neera berjalan keluar membawa mangkuk bubur beserta benda tajam yang ada di kamar itu.
Segera ia menuju dapur dan kembali memasakkan bubur untuk Nola. Sembari menunggu bubur matang Neera juga menyempatkan melihat triplets yang saat ini tengah menghafal surah pendek ditemani Omanya.
Tidak membutuhkan waktu yang panjang, kini Neera sudah selesai dengan buburnya dan bersiap kembali ke kamar Nola. Segera perempuan berhijab itu membawa bubur beserta buah yang sebelumnya sudah ia potong.
Neera masuk ke kamar dan mendapati Nola tengah berbaring dengan mata yang masih terbuka.
"Hai sayang, buburnya sudah siap. Mari kakak bantu bangun. Kita makan dulu baru setelahnya istirahat" ujar Neera sembari membantu adik iparnya bangun.
Kini Neera menyuapkan bubur dengan telaten pada adik iparnya itu. Tidak seperti biasanya, kali ini makanan Nola habis tak bersisa termasuk dengan buah dan susu yang sudah disediakan oleh kakak iparnya.
"Apakah perasaanmu sudah lebih baik ?" tanya Neera memulai percakapan mereka.
"Sudah Kak, terima kasih karena selama ini sudah merawatku. Maafkan Nola kak, selama ini menyakiti hati kakak dan selalu melakukan hal buruk pada kakak. Maafkan Nola, sungguh Nola sangat malu dan menyesal. Maafkan juga tadi Nola memukuli kakak, pasti sakit sekali" ujar Nola yang kembali menitikkan air matanya.
"Sstttt sudah dek, yang berlalu biarkan lah berlalu. Kakak sudah dari lama memaafkanmu, yang terpenting saat ini kamu kembali sehat dan semangat lagi" ujar Neera lembut sembari mengelus punggung tangan Nola.
"Apakah aku bisa sehat kembali..." lirih Nola yang entah ditujukan pada siapa, terdengar begitu lirih.
"Tentu saja bisa" sambar Neera.
"Kamu harus yakin pada kuasa Tuhan dan berusaha melakukan yang terbaik" lanjut Neera memberikan semangat.
__ADS_1
"Benarkah kak ?" tanya Nola penuh keraguan.
"Untuk saat ini kamu harus memulihkan keadaanmu dahulu. Baru setelahnya kita melakukan rehabilitasi dan latihan untuk mengembalikan fungsi motorikmu" jelas Neera pada adik iparnya itu.
"Tapi apakah aku masih pantas ?" lirih Nola.
"Masih pantas ? Bagaimana maksudmu ?" bingung Neera.
"Masih pantaskah aku untuk sehat kak, kenapa aku tidak mati saja. Bagaimana jika nanti aku tidak akan sembuh selamanya, aku akan menjadi beban untuk Papa, Mama dan kalian semua" tangis Nola.
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu ?" tanya Neera kembali.
"Aku sadar sudah begitu banyak melakukan hal buruk. Aku tau bahwa apa yang aku lakukan adalah suatu kesalahan, tetapi kenapa aku masih diberi hidup, kenapa Tuhan tidak mencabut nyawaku saja ?" tangis Nola kembali.
"Nola, dengarkan kakak. Banyak orang yang meminta untuk hidup bahkan untuk sedetik saja. Bahkan jika kita bisa mendengar mayat yang ada di kubur selalu meminta untuk hidup walau hanya sebentar. Kenapa, karena kehidupan itu begitu berharga, hal yang paling luar biasa yang Allah berikan pada kita" ujar Neera menjeda kalimatnya.
"Apakah masih ada maaf untukku dan apakah masih ada kehidupan untukku kak ?" tanya Nola dengan wajah lemahnya.
"Allah Maha Pengampun, Allah Maha Pengasih. Dia akan selalu menerima hambaNya yang mau bertobat dan kembali padaNya. Adapun hidup, kamu masih memiliki masa depan yang panjang, jadikan ini titik balik dari hidupmu dan berjuanglah sekali lagi. Bangkit dari jatuhmu dan mulai berjalan lagi hingga nanti akhirnya kamu bisa berlari" nasehat Neera pada adik iparnya.
"Terima kasih kak, aku akan selalu mengingatnya dan aku akan berjuang kembali" ujar Nola sembari menampilkan senyumnya yang kini sudah mulai kembali di wajah eksotisnya.
"Bagus sekali, inilah Nola yang kakak kenal. Kamu tidak akan sendiri, kami semua akan berjuang bersamamu" ucap Neera sembari mengelus lengan yang kini sudah lebih bertenaga itu.
__ADS_1
"Hhmmm kak,..." ragu Nola yang tetlihat dari sorot matanya.
"Ada apa Dek, tidak apa-apa katakan saja" yakin Neera sembari tetap memberikan senyum hangatnya.
"Hmmm apakah salah jika aku mencintai seorang pria ?" tanya Nola terdengar begitu lirih.
"Tidak salah, tetapi kita harus cerdas meskipun sedang jatuh cinta. Kita juga harus membedakan antara cinta dan napsu, karena mereka hanya berbeda tipis" ujar Neera.
"Bagaimana maksudnya Kak, kakak tau aku mencintai Dio, karena saat bersamanya ku merasa bahagia. Dia begitu pandai mengisi ruang dihatiku, dia juga yang mengatakan bahwa dia tidak mencintai kak Riezka dan akan menceraikannya karena dia begitu mencintaiku, oleh sebab itu aku mau bersamanya karena aku juga tidak ingin jauh darinya" cerita Nola pada Neera.
Neera membiarkan Nola mencurahkan isi hatinya dan hanya tersenyum mendengarkan perempuan itu bercerita tentang keresahannya.
"Bagaimana kamu bisa yakin bahwa dia mencintaimu sementara dia membuatmu menyerahkan kehormatanmu bukan malah menjaganya hingga kalian halal, bagaimana bisa lelaki yang katanya mencintaimu tetapi malah membuatmu bertengkar dengan saudaramu. Apakah kata cinta lelaki yang menggauli saudara iparnya bahkan pelayan disini bisa dipercaya ?" tanya Neera yang membuat Nola terdiam dan merenungi kata demi kata.
Perlahan Nola meresapi kata-kata kakak iparnya. Otaknya seolah menerima semua apa yang masuk ke telinganya barusahan tetapj hatinya masih berusaha untuk menyangkal.
"Sekarang, coba kita balik. Bagaimana seandainya jika kamu berada di posisi kak Riezka. Bisakah kamu bayangkan betapa hancurnya hatimu saat suamimu berselingkuh dengan adikmu sendiri, bermain belakang dengan iparmu. Apakah kamu akan sanggup menerima semua pengkhianatan orang-orang yang selama ini kamu percaya dan kamu paling sayangi. Bagaimana jika itu adalah dirimu" tanya Neera pada adik iparnya itu.
Perlahan Nola meneteskan air matanya. Benar yang dikatakan kakak iparnya, selama ini ia begitu egois memikirkan perasaanya sendiri. Menganggap bahwa Dio adalah miliknya tetapi pada kenyataannya lelaki itu adalah suami kakaknya. Dialah yang menjadi perebut kebahagiaan kakaknya, dialah yang melukai kakaknya begitu dalam. Bagaimana bisa ia selama ini terperangkap dalam cinta yang membodohinya. Apakah benar ini cinta.
Neera mengusap lembut lengan Nola sembari membiarkan gadis itu menangis.
"Tahukah kamu Dek, kalian adik kakak hidup jauh lebih lama daripada kalian mengenal lelaki itu. Sedari kamu ada di dunia ini, kalian sudah bersama dibandingkan pendatang yang singgah dan mengacaukan hubungan kalian hanya dalam jangka waktu beberapa tahun. Maafkanlah dirimu sendiri dan maafkan juga kak Riezka. Mulai semuanya dari awal dengan hati yang bersih dan pikiran yang tenang" ujar Neera pada wanita yang kini sudah terlihat lebih hidup itu.
__ADS_1
"Jangan sia-siakan hidupmu sementara banyak orang yang berjuang dibelakangmu. Jangan patahkan hati mereka yang begitu menyayangimu. Ada mama dan papa yang diam-diam menangis dan berdo'a demi kesembuhanmu. Ada abang dan kakakmu yang berjuang dan mengupayakan kesembuhanmu. Ada kakak yang sangat ingin kamu tersenyum kembali, ada ponakan yang begitu ingin mengajakmu bermain bersama mereka. Jadi kakak mohon, bangkitlah sayang. Demi dirimu sendiri dan orang-orang yang ada di belakangmu" putus Neera yang diangguki oleh Nola.
Ia merasa begitu tertampar dengan penjelasan kakak iparnya itu. Memang benar adanya, ia lah yang menghancurkan rumah tangga kakaknya bahkan sampai bermain gila selama ini. Ia harus mendapatkan maaf dari kakak perempuan satu-satunya itu.