
Saat ini Ayyub tengah bingung menanggapi permintaan putranya. Bukan masalah apa-apa permintaan balita tiga tahun itu begitu mempuat Ayyub pusing.
Apalagi saat ini istri yang biasanya berperan dalam membantu kini malah diam seribu bahasa padahal ia sangat membutuhkan kata mutiara dari bibir cantik itu.
Pembahasan tentang harimau itu ternyata belum berakhir. Sempat terjeda saat tadi baby Qee teralihkan dengan satwa lain dan berbagai permainan menarik lainnya.
Kini mereka tengah piknik dibawah pohon rindang dan diatas karpet yang sudah disiapkan Neera pertanyaan itu kembali muncul.
"Ayah, jadi bagaimana ayah. Bolehkan Qee bawa harimaunya pulang, yang kecil juga tidak apa-apa ayah ?" pertanyaan itu kembali bergulir membuat Ayyub menelan ludahnya kasar.
"Sayang, rumah kita di UK kan kecil nak, nanti kalau Qee rawatnya disana kita letak dimana harimaunya kalau nanti dia sudah besar ?" tanya Ayyub yang membuat Qee kembali berpikir.
"Aha, Ayah beli saja rumahnya dekat dengan rumah kita kan masih banyak pohonnya yang diujung" bangga Qee yang seolah mendapatkan ide cemerlang.
"Tapi uangnya dari mana sayang ?" sela Ayyub.
"Uang Ayah dong, kan Ayah pernah bilang kalau uang ayah banyak jadi bisa beliin kami mainan, tapi Qee nanti saja mainannya. Qee mau harimau aja ayah, nanti kalau uang ayah kurang kita tambahain pakai uang bunda kalau kurang juga Qee punya tabungan ayah nanti Qee kasih ayah" jelas balita itu dengan lancarnya.
"Qal juga punya tabungan ayah kalau uang ayah tidak ada"
"Qai juga punya ayah, nanti Qai kasih ayah"
Sementara Neera sudah sedari tadi menahan tawa melihat wajah pias suaminya. Mau bagai mana lagi, ia juga menginginkan hal itu tetapi malu untuk menyampaikannya pada Ayyub biar diwakilkan oleh anaknya saja.
"Apa segitu tidak punya uangnya kamu Yub, biar nanti Papa transfer agar kamu bisa penuhi permintaan anak kamu" seloroh Papa dengan tawanya yang membuat Ayyub terdiam tanpa kata-kata.
__ADS_1
'Mereka tidak tau saja berapa kekayaan yang aku miliki, kenapa disini aku terlihat begitu miskin padahal saldo di rekening dan pemasukanku setiap menitnya pasti sudah membengkak, dasar' batin Ayyub yang mulai kesal.
"Bukan begitu sayang, Alhamdulillah Ayah punya duit kok tapi kan Qee tau kalau harimau itu satwa langka, tidak boleh dibawa pulang sembarangan, coba saja tanya sama bunda" ujar Ayyub sengaja melibatkan Neera agar mendapatkan penjelasan yang cerdas untuk menolak.
"Emang benar bunda kita sama sekali tidak bisa bawa harimaunya pulang, kan kasiha bunda" rengek Qee pada Neera.
"Bisa sayang, kalau kita mengurus surat-suratnya dengan baik" ujar Neera yang tanpa disangka langsung mematahkan pembicaraan Ayyub.
"Sayang..." lirih Ayyub pada Neera berharap istrinya itu menangkap kode darinya. Namun, wanita berhijab itu malah menyibukkan diri dengan putrinya yang cemong sehabis makan.
"Tuh kan Ayah, kata bunda boleh kok, nanti Qee temani ayah urus surat-suratnya ya.." ujar Qee yang terpaksa diangguki oleh Ayyub.
"Horee......!!!! Qee boleh bawa pulang harimau. Yeee, Ayah baik, Love you ayah" sorak Qee yang saat ini sudah menghambur kepelukan ayahnya yang terasa aman dan nyaman.
Sementara Tuan dan Nyonya Kaisar tersenyum melihat tingkah polah cucunya yang begitu cerdas dan pandai dalam berbicara.
Akhirnya hari itu mereka lanjutkan lagi dengan mengunjungi Aquarium besar karena hari sudah mulai panas di luar. Melihat aneka satwa laut dan berbagai jenis ikat dan yang lainnya.
Ketiganya begitu semangat terperangah melihat jenis binatang laut itu berada tepat diatas kepalanya. Bahkan ada yang dibawah kaki mereka hingga Qal malah tengkurap dilantai yang terbuat dari kaca itu.
Beruntung Neera cepat membuatnya berdiri hingga tidak akan terinjak oleh pengunjung lain. Triplets begitu antusias menanyakan ini dan itu yang mayoritas dijawab oleh Neera karena pertanyaan itu selalu diawalai oleh "Bunda.., kenapa ini begitu, begitu.." dan serangkaian pertanyaan lainnya.
Sementara tiga orang dewasa lain merasa beruntung saat ketiga bocah itu lebih memilih bertanya pada bundanya karena mereka juga tidak yakin bagaimana cara menjawabnya. Memang ketiganya minim pengetahuan masalah satwa tetapi masalah bisnis Tuan Kaisar dan Ayyub lah rajanya.
Hari beranjak sore tapi ketiganya seperti tidak ada kata lelah menjelajah kesana kemari padahal orang dewasa yang mengikutinya sudah kewalahan.
__ADS_1
Saat ini Tuan dan Nyonya Kaisar memilih menunggu di Cafe yang ada di dalam wahana itu karena tubuh tua mereka sudah tidak sanggup lagi.
Sementara Neera dan Ayyub masih setia mendampingi buah hati mereka menjelajahi setiap sudut wahana tersebut untuk mengeksplor dan menambah wawasan triplets.
Hingga akhirnya saat mentari sudah mulai bersembunyi Ayyub memutuskan membawa mereka pulang meskipun mendapatkan penolakan dari triplets. Beruntung mereka membari pengertian dengan baik sehingga ketiganya menurut saja saat digendong ayah dan bundanya.
"Bagaiman, sudah puas mainnya ?" tanya Mama saat melihat keluarga kecil itu mendekat.
"Belum Oma, tapi kasihan ikannya juga mau bobok nanti berisik kalau kita masih di dalam" lesu Qal mengadu pada Omanya.
"Iya sayang, kasihan juga ikannya mau makan, sama kayak cucu-cucu Oma yang pada belum makan" ujar mama sembari mengusap pucuk kepala Qal.
"Yasudah ayo kita kemobil nanti langsung makan malam saja, kasihan triplets kalau harus nunggu pulang mereka nanti kelaparan" saran Tuan Kaisar yang disetujui semuanya.
Beruntung Neera membawa baju salinan untuk anak dan suaminya begitupun dengan mama yang berjaga membawa baju Papa agar nanti pas sholat tetap ada baju bersih karena sebisa mungkin kita harus sebersih dan sesuci mungkin saat menghadap Sang Pencipta.
Sampai di mobil segera Neera membersihkan anaknya satu persatu dengan tisu basah dan memberikan bedak, minyak telon dan coligne agar mereka tetap hangat dan wangi setelahnya Neera mengganti baju mereka dengan yang bersih.
Benar saja, ditengah jalan mereka mendengar adzan magrib beruntung mereka melewati mesjid yang lumayan besar dan megah. Akhirnya mereka memutuskan berhenti untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim.
Ayyub turun setelah mengganti bajunya, beruntung mobil itu sangat luas dan nyaman jadi mereka leluasa untuk melakukan apapun di mobil mini bus itu.
Qai dan Qee juga ikut dengan Ayah dan Opanya sementara Qal ikut dengan Omanya. Menunggu mereka selesai Neera yang saat ini tidak sholat memutuskan ke toilet untuk membersihkan diri, mengganti pembalut dan bersalin baju bersih.
Bagi dirinya hal itu sudah biasa karena dulu saat ia masih aktif di konservasi satwa liar dan mengadakan perjalanan jauh dengan dana seadanya mereka selalu membersihkan diri dengan cara ini.
__ADS_1
Toh tidak ada salahnya, badan juga sama-sama bersih dan segar. Ditambah saat nanti pergi ke restoran saat makan malam ia tidak akan malu-maluin karena salah costum. Sudah dipastikan jika makan dengan mertuanya tidak mungkin akan di rumah makan padang atau cafe biasa jadi ia harus menyesuaikan diri.