Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 172


__ADS_3

Kata umpatan terus mengalir dari bibir wanita yang baru saja mendapatkan talak tiga dari suaminya. Semua kebun binatang tak luput dari absennya malam itu.


Dengan cepat ia buka semua lemari dan tempat penyimpanan barang berharganya. Bahkan brangkas Hakim yang ada di kamar juga ikut ia buka.


"Loh.... kemana semua barang-barangku. Semua surat kuasa vila dan surat kendaraan. Diamond dan emas batangan mana ??" panik Shintia yang tidak lagi mendapatkan benda-benda berharga di kamar itu.


Hanya tersisa barang ia sendiri walaupun barang itu sudah sangat mewah, semua perhiasan yang dibelikan Hakim untuknya masih bersisa. Hanya surat untuk aset sudah diamankan dan tersisa hanya mobil yang memsang dibelikan untuk mantan istrinya itu.


Dengan penuh kekesalan, Shintia mengumpat sembari memasukkan barang-barangnya kedalam koper. Ia sangat marah saat Hakim sudah lebih dulu memindahkan surat-suratnya.


"Kenapa sih si bodoh itu jadi berubah drastis. Biasanya dia gak akan berani perlakuin gue begini. Si@l∆n siapa lagi yang bisa nanggung hidup gue, gue gak bisa susah, gue gak mau jadi gembel" frustasi Shintia sembari terus mengemasi barangnya.


Tidak hanya Shintia, pasutri Riezka dan Dio juga tengah mengumpati nasib buruk mereka. Namun rasa cinta Riezka yang begitu dalam pada suaminya membuat ia lebih memilih untuk pergi meninggalkan rumah orang tuanya bersama Dio.


Beruntung Tuan Kaisar pernah membelikannya apartemen sebagai hadiah pernikahan yang diminta oleh Riezka sendiri. Namun dengan keadaan Dio dan dirinya yang tidak bekerja apakah mereka mampu hidup sendiri.


Sementara itu di ruang kerja Tuan Kaisar hanya tinggal Papa, Mama, Ayyub, Hakim dan Nola.


"Jadi bagaimana rencana kamu selanjutnya ?" tanya Papa pada Nola yang masih tertunduk.


Lama mereka terdiam hingga akhirnya gadis itu membuka mulutnya.


"Aku mau berhenti kuliah Pa" tangisnya.


"Hah berhenti kuliah ? Seharusnya sudah sejak beberapa tahun lalu kamu berhenti. Kamu sungguh kelewatan kali ini Nola, Papa suruh fokus agar kuliahmu yang sangat telat itu selesai malah melakukan hal lain yang akhirnya membuat kamu begini" ujar Tuan Kaisar yang tidak mampu lagi memendam kekecewaannya.


"Iya tau mau bagaimana lagi Pa, aku malu. Saat aku bilang mau gugurin Bang Ayyub juga marah..." ujar Nola yang belum selesai tapi langsung mendapatkan tamparan dari mama.


"Mama !!" pekik Nola yang tidak terima di tampar oleh ibunya.


Memang Nola dan Riezka mereka cenderung lebih berani pada Nyonya Kaisar dan sering kali mereka adu mulut seperti bukan ibu dan anak. Tak jarang juga mereka mengabaikan perkataan ibunya itu.


"APA ?!" pekik Mama kembali.


"Apa yang kamu pikirkan Nola, kamu kira jika bayi itu bisa memilih dia akan memilih untuk hadir di rahim orang seperti kamu dengan cara yang salah ?" tanya Mama yang seakan kembali menampar Nola.


"Tidak Nola, dia tidak akan mau. Sekarang kamu sudah berbuat salah, berbuat dosa. Bukankah seharusnya kamu mempertanggung jawabkan perbuatanmu dan bertobat bukannya lari dari masalah dan malah berbuat dosa baru" sambung mama dengan muka yang sudah agak tenang.


"Benar kata mama Nola, kamu sholat dan minta ampun dan Papa tidak ingin kamu berhenti kuliah" titah Papa pada putrinya.

__ADS_1


"Aku gak mau Pa, nanti apa yang akan orang-orang pikirkan mengenai aku. Aku gak mau kena bully" tangis Nola.


"Huh sekarang baru kamu pikirkan pemikiran orang, kemarin saat melakukan perbuatan tercela itu kemana isi kepalamu" tanya Hakim sinis karena sudah mulai muak dengan adiknya yang seperti tidak ada perasaan bersalahnya.


"Kenapa memangnya, kami saling menyukai dan saling mencintai. Apa itu salah ??" ujar Nola membela diri.


"Cinta kau bilang ?? Itu bukan cinta tapi nafsu" balas Hakim.


"Abang tidak tau, Bang Dio sendiri yang bilang padaku bahwa dia lebih menyukai aku dari pada kakak dan dia bilang untuk menunggunya bercerai dari kakak dan akan menikahimu" teriak Nola.


"Jangan menjadi bodoh Nola, dia mengatakan hal itu supaya bisa mendapatkan tubuhmu. Kamu lihat sendiri, bukan hanya kamu yang mendapatkan "cinta"nya itu" ujar Ayyub.


Merasa tidak terima dan kesal, Nola melangkah keluar ruangan itu dan melangkah menuju ke kamarnya di lantai dua. Dalam hati ia yakini bahwa Dio sangat mencintainya, berkali-kali lelaki tampan itu meyakinkannya bahkan ia mau melakukan hal itu karena Dio sudah berjanji padanya akan menikahinya kelak.


Karena terlalu tergesa-gesa Nola tidak memperhatikan langkahnya ditambah lagi kondisi tubuhnya yang masih lemah membuat wanita itu hilang keseimbangan di tangga kedua paling atas.


Bruukkk..., seketika tubuhnya hilang keseimbangan dan berguling-guling di tangga hingga lantai dasar. Darah segar mengalir disela pahanya dan kini sudah mengotori lantai rumah mewah itu.


"NOLAAAAA !!!" histeris Nyonya Kaisar yang melihat anaknya tergeletak tak berdaya di lantai dingin.


Ya, tadi saat tengah berbincang tiba-tiba mereka mendengar teriakan dari ruang tengah dan berlari keluar namun tidak disangka mereka malah mendapati Nola yang sudah bermandikan darah.


"Haha mampus, makanya jangan jadi pelakor kena karma kan lo, mati dah loe sono" ujar Riezka yang malah menuangkan sumpah saat melihat kondisi adiknya.


"Riezka, diam kamu. Bukannya bantuin malah menyumpahi. Dia adikmu, saudara kandungmu" marah Tuan Kaisar.


"Aku tidak sudi punya adik pelakor sepertinya. Sudahlah lebih baik aku pergi dari rumah ini" sinis Riezka yang malah berlalu. Sementara Dio, lelaki itu menyembunyikan senyum sinisnya ia bahagia karena tidak lagi dihantui oleh orang yang meminta pertanggung jawaban.


Malam yang gelap itu telah menjadi saksi betapa banyak petaka yang terjadi di salah satu keluarga terpandang itu.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ayyub yang menemani Nola di ambulans karena kondisi Mama yang drop dan Papa juga tiba-tiba pusing karena tensinya naik.


Hakim menyusul bersama kedua orang tuanya karena mereka lebih memilih beristirahat di rumah sakit dari pada tertanya-tanya akan kondisi anak perempuan mereka.


Ada yang penasaran tentang keberadaan Luthfi ? Pemuda itu tengah melakukan tugas pengabdian dari kampusnya selama beberapa hari. Oleh sebab itu ia tidak berada di rumah.


Kini Ayyub dan Hakim sedang duduk di depan ruang operasi sementara kedua orang mereka tengah di rawat di satu kamar VIP. Memang Hakim saat datang langsung mengantarkan mereka ke UGD dan meminta untuk langsung dirawat saja di ruangan.


Cukup lama mereka menunggu hingga pintu ruangan itu terbuka dan menampakkan tiga orang dokter beserta beberapa orang perawat.

__ADS_1


Melihat itu Ayyub dan Hakim langsung berdiri dan menyambut rombongan itu dengan pertanyaan.


"Dokter, bagaimana kondisi adik saya Dokter ?" tanya Ayyub yang lebih dulu bertanya.


"Maaf Tuan, apakah saya bisa berbicara dengan suami pasien" tanya Dokter yang seakan membahas hal privasi.


"Suaminya tidak Dok, kami berdua adalah kakaknya, saudara kandung pasien. Dokter bisa berbicara dengan kami" jawab Hakim.


"Baiklah, silakah ke ruangan saya" jawab dokter yang lain.


Keduanya mengikuti ketiga Dokter itu sementara para perawat malah menuju ruangan lain sehingga kini hanya menyisakan dua bersaudara dan tiga dokter di ruangan yang tidak begitu jauh dari tempat operasi.


"Silahkan duduk Tuan, perkenalkan saya Dayat Dokter ahli bedah syaraf, ini rekan saya Husna Dokter spesialis kandungan dan ini Huda Dokter spesialis orthopedi" buka salah seorang Dokter yang hanya diangguki keduanya.


Sesungguhnya mereka tidak perlu memperkenalkan diri karena sesungguhnya keduanya sudah sangat familiar di telinga khalayak ramai. Sepak terjang keduanya dalam bisnis juga keluarga Kaisar sudah menjadi perbincangan publik bahkan berita tentang mereka menjadi konsumsi masyarat. Namun demikian untuk menunjukkan rasa hormatnya Hakim tetap memperkenalkan dirinya dan adiknya.


"Jadi, bagaimana keadaan adik kami ?" tanya Ayyub langsung yang tidak ingin lagi berbasa-basi.


"Keadaan adik Tuan saat ini sudah melewati masa kritis namun hanya sementara. Kami hanya menghentikan pendarahan sementara dan setelah ini beliau harus menjalani operasi lagi. Bagian kepala belakang pasien mengalami benturan yang hebat sehingga terjadi pendarahan di bagian selaput pembungkus otak. Oleh sebab itu kami harus mengeluarkan darah itu sehingga tidak akan menyebabkan gangguan pada saraf karena kondisinya sangat riskan" jelas Dokter pertama sebagai ahli orthopedi.


"Selain itu kami juga harus melakukan beberapa tindakan operasi mikro pada saraf kranial di bagian kepala belakang tersebut" ujar Dokter ahli syaraf.


"Dan sebelumnya kami juga minta maaf Tuan, kami sudah berusaha namun ternyata janin yang ada di dalam rahim pasien tidak bisa diselamatkan. Disamping itu ada hal yang harus saya sampaikan dan meminta persetujuan dari wali lebih baik lagi jika suaminya sendiri" ujar Dokter kandungan.


"Innalillahi wainnna ilaihi rajiun" ucap Ayyub sembari memegangi kepala bagian balakangnya. Ia cukup berduka, walaupun dengan cara yang salah tetapi bayi itu adalah calon keponakannya yang harus pergi sebelum melihat indahnya dunia.


Sementara Hakim terduduk lesu, badannya gerasa lemas tak bertulang. Ternyata kondisi adik mereka begitu parah dan harus melakukan beberapa operasi. Meskipun marah, kesal dan kecewa sekalipun tetapi rasa sayang mereka sebagai abang tetap melebihi rasa yang lain.


"Maaf dokter, sampaikan saja kepada kami. Kami yang akan bertanggung jawab penuh sebagai walinya" jawab Ayyub yang tersadar akan perkataan terakhir dokter.


"Jadi begini Tuan, pasien mengalami pendarahan yang hebat di rahimnya akibat kontraksi dan tekanan yang begitu kuat oleh sebab itu untuk menyelamatkan nyawanya kita harus mengangkat rahim pasien karena kondisinya sudah pecah dan rusak parah tidak bisa lagi dipertahankan" jelas Dokter itu dengan wajah sedihnya.


"Apa Dokter ?" kaget Hakim.


"Apakah separah itu, artinya Nola tidak akan bisa lagi mengandung dan memiliki anak" lirih Ayyub lebih ke dirinya sendiri.


"Kami mohon maaf Tuan, tapi sebagai dokter inilah solusi yang bisa saya lakukan dan kita harus melakukannya secepat mungkin sebelum pendarahan semakin parah dan merusak kerja organ lain" ucap Dokter itu.


"Huhf..., baiklah Dokter. Lakukan yang terbaik untuk menyalamatkan adik saya" ujar Hakim pada akhirnya. Abang tertua mereka itu juga menandatangani beberapa berkas sebelum adiknya itu kembali melalukan tindakan media di ruang operasi.

__ADS_1


__ADS_2