
Selesai makan mereka memutuskan untuk pulang ke apartemen Ayyub. Tubuh yang lelah seharian meminta untuk segera diistirahatkan.
Meskipun demikian hati kedua paruh baya itu menghangat setelah melewati hari ini seakan melupakan luka yang kemarin mereka rasakan.
Setelah mengantarkan kaluarga Tuannya dan membantu membawa barang mereka keatas. Kedua orang itu segera pulang membawa mobil mini bus itu sementara Papa dan Mama segera memasuki kamar begitupun dengan Ayyub dan keluarga kecilnya.
Neera tidak lagi memandikan triplets, hanya menggantikan pajama untuk mereka agar nyaman dalam tidurnya. Ayyub memilih langsung ngacir ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mengganti baju triplets dan mengelap badan mereka Neera pergi keruang ganti menyiapkan baju Ayyub sekaligus bajunya sendiri untuk nanti ia bawa masuk ke kamar mandi.
Hari ini Neera memutuskan memakai pajama dengan model tanktop dan celana pendek berwarna pink dengan motif daun. Terlihat seperti remaja memang saat ia mengenakan itu, didukung dengan tubuh mungilnya. Akan tetapi, yang membedakannya bagian depan dan belakang yang sangat menonjol yang jarang dimiliki oleh teenager.
Entah bakat dari siapa yang membuat Neera memiliki bagian depan dan bumper belakang yang besar apalagi semakin menjadi saat ia sehabis melahirkan.
Beruntung Neera tipikal yang menjaga badannya sehingga bagian tersebut terbentuk menjadi padat dan bulat bukan malah melar kemana-mana. Ditambah hobi dancing yang membuat badannya semakin berbentuk dan sintal.
Bisa dibayangkan tubuh mungil dan pendek tetapi memiliki aset yang luar biasa dengan kulit putih mulusnya saat memakai pajama jenis itu sudah pasti membuat lelaki tidak tahan. Itulah yang selalu membuat Ayyub blingsatan saat berada di dekat istrinya.
Tapi mau bagaimana lagi, pakaian seperti itulah yang nyaman saat digunakan untuk tidur, pernah sesekali Neera menggunakan jenis daster polos dengan potongan modren tetapi selalu saja ada tangan nakal yang membuat bagian bawah dasternya terangkat.
Untuk menghindari hal itu ia lebih memilih pajama dengan potongan celana dan atasan terlebih saat ini ia sedang dalam masa periode sangat tidak nyaman jika memakai bawahan terusan.
Selesai Ayyub keluar dari kamar mandi Neera langsung berjalan menuju pintu itu dengan tentengan lengkap di tangan bagian kanannya.
Lima belas menit waktu yang ia butuhkan untuk keluar sudah dengan baju ganti dan rambut yang digulung keatas menampakkan leher putih mulusnya.
Melihat Neera yang melintas di depannya membuat Ayyub seketika menelan ludah kasar sementara istrinya itu dengan santai menuju meja rias yang ia yakin akan melakukan serangkaian perawatan kulit wajah sebelum tidur.
Kenapa harus disaat ini ia mendapatkan cobaan ini, kenapa bukan dihari lain saja. Ia tahu saat ini istrinya sedang lampu merah malah "si jago" tidak bisa diajak kompromi.
Secara naluriah Ayyub seakan dituntun untuk mendekati istrinya dan memeluk tubuh mungil tapi montok itu dari belakang. Hidungnya ia tenggelamkan di rambut hitam legam yang begitu wangi itu.
Merasa tidak puas, Ayyub dengan mudahnya mengangkat tubuh Neera dan menggantikan dengan tubuhnya diatas kursi rias itu. Kemudian ia mendudukkan istrinya diatas pangkuannya sembari memeluk gemas istri yang selalu dirinduinya itu.
"Sayang, apa-apaan ini. Turunin ah, Neera kan lagi perawatan" kaget Neera dengan perlakuan suaminya.
"Udah sayang, Neera lanjutin aja. Uda kan cuma pingin duduk disini aja" gumam Ayyub yang sudah membenamkan wajahnya di lipatan leher dan bahu Neera.
"Iya, tapi susah sayang. Yasudah Uda duduk disini, biar Neera ambil kursi lain" ujar Neera yang berusaha turun.
"Gak mau" rengek Ayyub yang makin mempererat pelukannya.
"Hmmm yasudah, tapi Neera lama nih sayang. Neera gak tanggung jawab ya kalau Uda nanti pegel karena pangku Neera"
__ADS_1
"Hmm iyaa gapapa, gak akan pegal kok. Orang kamu gak ada berasa" ujar Ayyub.
"Gak ada rasa gimana, emang Neera permen apa" canda Neera.
"Maksudnya gak berat sayang, kanapa cih kamu kecil begini, kenapa cih imut banget, kenapa cih padat begini, gemess bangeet Uda tuh sayang" ujar Ayyub yang menciumi seluruh bagian leher, tengkuk hingga punggung Neera sembari menggoyangkan tubuh itu kekiri dan kanan.
Neera hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya sambil tangannya tetap mengaplikasikan berbagai produk kecantikan itu.
"Sayang, banyak banget sih. Neera pakai apa aja itu" tanya Ayyub yang masih menciumi pundak Neera.
"Banyak Uda, ini ada serum, terus cream malam juga" jawab Neera.
"Kenapa sih sayang, istri Uda ini pakai itu kan udah cantik banget" gemas Ayyub yang masih setia memeluk istrinya sembari memperhatikan apa yang dilakukan istrinya dicermin.
"Yeee kan makin cantik biar suami Neera gak berpaling mencari yang lebih muda dan bening" canda Neera yang menghadiahkan satu kecupan untuk suaminya.
"Siapa juga yang mau berpaling, punya istri cantiknya Masya Allah begini, buat apa cari yang lain" ujar Ayyub yang menggigit gemas leher Neera.
"Aw, Uda ih sakit tau" kesal Neera yang langsung melayangkan protes.
"Habisnya Neera ngomongnya aneh-aneh, yang ada malah Uda yang khawatir Neera bakal dibawa kabur orang, jangan-jangan nanti orang malah mikir kalo kamu anak sulung Uda" gerutu Ayyub.
"Uda tuh makanya, sini biar Neera kasih perawatan mukanya. Biar selalu fresh dan bersih" ujar Neera yang malah mengusulkan perawatan pada suaminya.
"Gak mau sayang, ribet itu. Uda lihat Neera aja udah pusing" tolak Ayyub.
Akhirnya Ayyub pasrah membiarkan Neera melakukan hal yang diinginkannya pada wajah maskulinnya.
Ayyub membalikkan tubuh Neera dan membuat istrinya itu duduk menghadap dirinya dengan masih dipangkuannya.
"Loh, Uda gak mau lihat cermin ?" ujar Neera.
"Engga sayang, cukup Neera aja yang lihatin muka Uda. I'm totally trust you" ujar Ayyub yang mencuri satu kecupan di bibir istrinya.
Neera segera mengulurkan tangannya mengambil penjepit agar rambut bagian depan suaminya bisa dikondisikan sehingga tidak menutupi dahinya. Maklum jika biasanya rambut itu ditata tapi pada saat malam hari dan setelah keramas rambutnya dibiarkan begitu saja.
Saat Neera mengangkat tangannya didepan wajah Ayyub lelaki itu mencium aroma lembut dari istrinya. Segera ia endus-endus tubuh yang tengah bertengger didepannya hingga ia menemukan sumber itu.
"Yang, ketek kamu wangi banget sih, kok bisa enak gitu wanginya" seru Ayyub yang langsung mengangkat tangan Neera dan melekatkan hidungnya dibagian lipatan lengan yang bersih dan mulus itu.
"Aduh, apaan sih Uda. Mana ada ketek baunya enak yang ada malah kecut atau engga asem" ujar Neera yang terkejut dan berusaha menarik lengannya.
"Tunggu sayang, beneran deh enak ini wanginya" seru Ayyub yang masih menahan satu lengan Neera dan menghirup aroma yang digilainya itu dengan menempelkan hidungnya diarea itu.
__ADS_1
"Ih Uda aneh-aneh aja deh, terus gimana ini Neera lanjutinnya yang ?" ujar Neera dengan gelengan kepala.
"Kan ada tangan satu lagi sayang, ketek kamu wanginya sama kayak triplets tapi ada wangi lainnya jadi enak banget dicium" gumam Ayyub yang masih setia diketekin Neera.
Neera hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah absurb suaminya. Saking bucinnya ketek aja dibilang wangi oleh suaminya itu.
Padahal Neera tidak pernah menggunakan deodorant untuk bagian itu, ia hanya menggunakan sedikit minyak telon karena menurutnya hangat dan nyaman apalagi untuk dirinya yang entah kenapa mudah masuk angin.
Mungkin wangi lain yang dimaksud Ayyub adalah perpaduan antara aroma sabun dengan lotion plus minyak telon yang ia gunakan. Karena Neera cenderung lebih suka memakai sesuatu yang beraroma lembut.
"Udah dong sayang, susah ini Neera pakein di wajah Uda. Jangan diciumin terus keteknya nanti wanginya hilang" canda Neera pada suaminya.
"Habisnya enak sih, coba deh ketek Uda wangi gak sayang ?" ujar Ayyub yang semakin absurb malah menyuruh Neera mencium keteknya.
"Gak mau ah, mana ada ketek wangi" tolak Neera pada suaminya.
"Coba aja dulu sayang, gak bau kok" seru Ayyub yang sudah mengangkat tinggi tangannya dan mengendusnya sendiri.
"Ayo sayang, coba deh. Wangi tau" paksa Ayyub pada Neera.
Mau tak mau dengan setengah hati Neera mendekat pada ketek dengan bulu-bulu yang ikut terlihat itu.
Memang benar saat mendekat Neera mencium wangi maskulin dan mint yang begitu kentara. Sama sekali tidak ada bau kecut seperti yang dipikirkannya.
Wanginya begitu kental seperti sudah menyatu dengan aroma tubuh suaminya. Perlahan Neera lebih mendekat lagi dan menempelkan hidungnya.
"Iya sayang, gak bau" ujar Neera berbinar.
"Benar kan Uda bilang, mana ada Uda bau. Wangi apa sayang ?" tanya Ayyub kemudian.
"Hmm wanginya mantap, wangi Uda" jawab Neera mengangkat satu jempolnya.
Gemas melihat istrinya Ayyub kembali mencuri kecupan di bibir manis yang menjadi candunya itu. Berkali-kali ia melancarkan serangan itu hingga Neera kewalahan sendiri dan memegang wajah suaminya agar menjauh.
"Sudah Uda, tunggu dulu biar Neera selesaikan dulu perawatan di wajah Uda. Udah mulai lecek ini, besok biar Neera belikan produk perawatan buat cowok biar Neera yang pakaikan setiap hari agar suami Neera ini terawat dan ganteng maksimal terus" ujar Neera yang meraih wajah suaminya untuk diaplikasikan lagi serum.
"Oke sayang, terserah Neera aja. Uda mah ngikut" ucap Ayyub yang lebih memilih mengalah dan mempasrahkan muka ditangan istrinya.
Memiliki waktu berdua, melakukan hal kecil dengan bercanda dan bermanja dengan pasangan. Hal inilah yang menjadi penguat cinta dan penghangat hubungan mereka setiap harinya.
Meskipun sudah punya anak tetapi mereka tetap memutuskan pacaran, mencurahkan rasa sayang dan menunjukkan cinta dengan memiliki quality time berdua. Terlebih saat triplets tertidur jadi mereka bisa mencuri-curi waktu untuk bebas bermesraan.
Nafsu Ayyub pun dapat ia redam dengan menunjukkan kasih yang lembut dan berbeda untuk istrinya. Karena cinta itu tidak melulu tentang urusan ranjang meskipun tidak dipungkiri itu merupakan hal yang utama.
__ADS_1
Akhirnya malam itu mereka tutup dengan pelukan hangat sembari merebahkan tubuh yang lelah diatas kasur empuk, mencoba memejamkan mata.
Tangan Ayyub yang masih setia mengusap lembut surai indah istrinya dan kecupan hangat di pucuk kepala mengantarkan Neera menuju mimpi yang indah disusul suaminya.