
Tidak terasa waktu perlombaan akan segera tiba. Setiap hari Shata tidak pernah lupa untuk berlatih memanah. Dia berlatih dengan sangat gigih, mencoba beberapa gaya memanah ekstrim seperti memanah dengan mata tertutup, memanah dengan posisi terbalik dan bergelantungan pada batang pohon, serta memanah menggunakan tiga anak panah sekaligus.
Meskipun dia selalu gagal dalam mencoba ketiga gaya tersebut. Hal itu tidak pernah mematahkan semangatnya dalam berlatih memanah. Disela-sela latihan memanah seperti biasa, dia tetap mencoba ketiga gaya ekstrim tersebut.
Pada suatu ketika, dia sedang beristirahat di bawah pohon mangga yang rindang. Tiba-tiba dia melihat seseorang berpakaian serba hitam berlari dengan sangat kencang di balik pepohonan. Awalnya dia berniat untuk mengejar orang tersebut tetapi..
*Splashh... Splasshh.. Splasshhh...* tiga anak panah berterbangan tepat mengenai sasaran latihan Shata. Melihat hal itu, Shata sangat terkejut karena dia tidak tahu dari arah mana datangnya ketiga anak panah itu. Diapun mendekati sasaran miliknya dan menemukan secarik kertas bertuliskan "Kamu tidak perlu berakting karena aku yang akan memenangkan perlombaan besok".
"Hah!! Ada yang menantangku ternyata, tapi... Baguslah.. karena aku tidak perlu menyembunyikan kehebatanku dan akupun juga tidak berniat untuk memenangkannya.. Dasar Sampah" Ucap Tara sambil melemparkan kertas tersebut.
Kemudian dia kembali ke dalam rumah untuk membersihkan dirinya. Setelah membersihkan dirinya, dia berniat mengajak Tara berkeliling desa untuk mencari beberapa peralatan memanah yang baru. Akan tetapi, dia tidak melihat sahabatnya itu di dalam rumah.
"Tara pergi kemana ya? Sepertinya dia tadi masih rebahan disini" Kata Shata.
*Dari arah belakang rumah, Tara muncul membawa secarik kertas yang dia temukan*
"Kamu tahu kertas ini?" Tanya Tara.
"Darimana kamu? Kertas apa?" Sahut Shata sambil mengambil kertas yang ada di tangan Tara.
__ADS_1
"Oh, ini.. Iya aku tahu. Biarlah tidak usah di gubris, malah baguskan aku tidak perlu berakting". Sambung Shata.
"Bukan masalah itu, tapi perhatikan baik-baik. Di setiap sisinya ada bunga mawar hitam tetapi samar" Jawab Tara sambil menunjukkan gambar bunga mawar yang ada pada kertas.
"Eh.. Iyaa!! Ini gambarnya sama persis di surat bunuh diri yang pernah aku lihat. Jangan-jangan kejadian kematian dengan surat bunuh diri beberapa bulan dan waktu yang lalu itu benar-benar kasus pembunuhan? Dan orang yang berlari memakai pakaian hitam tadi adalah pembunuhnya?" Jawab Shata dengan sedikit terkejut.
"Ha? Orang berpakaian hitam katamu? Sepertinya itu adalah pasukan khusus keamanan kerajaan karena setahuku mereka selalu menggunakan pakaian hitam. Tapi, untuk apa mereka melakukan itu? Dan tulisan di kertas ini juga tidak ada kata-kata yang mengancam" Tanya Tara dengan sedikit bingung.
"Berarti besok aku harus memenangkan pertandingan itu agar aku bisa menyelidikinya. Ketika aku sudah bergabung dengan pasukan khusus keamanan kerajaan, akan ku ungkap ada apa sebenarnya" Jawab Shata.
"Tapi jika dipikir ulang, apa mungkin pasukan khusus keamanan kerajaan akan mengikuti perlombaan itu? Disini tertulis bahwa dia yang akan jadi pemenangnya. Arggghhh... Menyebalkan sekali" Sahut Tara.
"Kalau begitu aku juga mau dibelikan beberapa camilan untuk menunggumu besok" Sahut Tara.
"Iya, kamu nanti kubelikan batu kerikil saja biar awet. Hahahaha...." Jawab Shata dengan tertawa terbahak-bahak.
Merekapun pergi menuju desa sebelah untuk membeli barang yang mereka mau. Pada saat melewati rumah Alysa, Shatapun secara tidak sengaja menoleh, dia mendapati rumah Alysa sedang memiliki banyak tamu. Dia berpikir bahwa itu adalah saudara-saudara Alysa yang sedang berkunjung ke rumahnya atau mungkin teman-teman dari orang tua Alysa.
Setelah mendapatkan barang-barang yang diinginkan, merekapun bergegas pulang karena cuaca yang tiba-tiba saja berubah menjadi mendung.
__ADS_1
"Ayo, cepat pulang!! Sepertinya akan turun hujan" Ucap Shata.
"Iya cepat, aku juga menjemur pakaian di belakang rumah, tidak lucu kalau aku harus mencucinya ulang karena terguyur hujan" Jawab Tara.
Akhirnya mereka berduapun bergegas secepat mungkin untuk sampai di rumah. Pada saat melewati rumah Alysa, Shata melihat rumah itu kini sepi seperti tidak ada satupun orang di dalamnya. Suasana yang berbeda 180 derajat dari yang dia lihat pada saat akan pergi menuju desa sebelah.
Sesampainya di rumah, Tara menemukan sebungkus makanan tergantung pada daun pintu rumah mereka. Diapun mengambil bungkusan itu dan langsung masuk rumah serta mengambil cuciannya di halaman belakang. Sesaat setelah Tara kembali masuk ke dalam rumah. Hujan badai secara langsung turun menghujani rumah mereka.
"Syukurlah.. Tidak terlambat" Ucap Tara
"Kapan kamu membeli kue ini? Sepertinya tadi kamu tidak membeli kue ini?" Tanya Shata sambil mengangkat bungkusan makanan.
"Oh.. Itu tadi ada di gantungan daun pintu, jadi ku bawa masuk bungkusannya. Memangnya itu kue apa? Enak?" Tanya Tara sembari mendekat.
"Bolu, enak banget rasanya. Siapa yang ngasih ya?" Ucap Shata.
"Wahh... Iya enak sekali.. Entahlah... Siapapun yang ngasih tapi ini benar-benar enak" Jawab Tara sembari memakan bolu itu.
Mereka berduapun menghabiskan kue bolu itu dan memakan nasi yang telah mereka beli di desa sebelah. Setelah menghabiskan makanannya, mereka berduapun mengobrol santai di ruang tamu dengan menikmati secangkir kopi yang mampu menghangatkan tubuh mereka di tengah dinginnya hujan malam. Hingga tak terasa sudah larut malam, hujanpun tak kunjung berhenti. Mereka memutuskan untuk langsung pergi tidur tanpa berkeliling desa seperti biasanya. Sebelum pergi tidur Shata menyempatkan untuk berdoa kepada Dewa agar besok sang ayah mau menemuinya. Dia sudah berencana untuk langsung memeluk dan mencium kaki ayahnya pada saat mereka bertemu.
__ADS_1