Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 220


__ADS_3

Hari begitu larut saat mereka sampai di kediaman Kaisar. Berhubung acara live tadi berlangsung agak lama kemudian undangan oleh CEO dari perusahaan swasta yang menaungi televisi tersebut sehingga mereka terlambat pulang.


Rencana kepulangan mereka hari ini juga ditunda esok sehabis subuh berhubung saat ini mereka juga sudah lelah. Terlebih Neera, wanita itu sedari tadi sudah kelihatan layu tetapi ia tetap memaksakan dirinya untuk tersenyum dan melakukan semua rutinitas.


Begitu sampai di mobil ia langsung tertidur di pelukan suaminya. Bahkan kini saat sudah sampai pun ia masih tetap terlelap dalam mimpi indahnya.


Ayyub yang selalu tidak tega pada istrinya memilih untuk menggendong wanita itu sementara tas mereka dibawakan oleh asisten dan pelayan.


Beruntung tadi mereka sudah melaksanakan sholat isya dan makan malam bersama beberapa pebisnis yang mengundang keduanya.


Kembali lagi berbagai tawaran kerjasama datang dari pengusaha tersebut baik pada perusahaan keluarga Kaisar maupun perusahaan Neera. Beruntung mereka tidak tau siapa sebenarnya Ayyub jika sampai ke telinga mereka mengenai siapa pria tampan itu sudah dipastikan mereka akan mengerubungi suami Neera itu seperti lalat.


Perlahan Ayyub membaringan istrinya di kasur empuk mereka. Membiarkan para pelayan dan asisten memasukkan barang-barang mereka. Baru setelahnya menutup dan mengunci pintu.


Kemudian lelaki itu masuk ke kamar mandi dan keluar membawa satu baskom air hangat dan handuk. Begitu juga saat ia pergi ke wardrobe untuk menyiapkan baju ganti istrunya.


Setelah melepas jas dan dasi kemudian melipat lengan kemejanya hingga siku perlahan tangan telaten Ayyub membuka hijab hingga baju istrinya.


Ia takut Neera merasa tidak nyaman. Oleh sebab itu ia membersihkan wajah istrinya, mengelap badan dan mengganti baju Neera dengan bahan yang lebih nyaman.


Sepertinya wanita itu memang kelelahan bahkan ia sama sekali tidak terusik saat Ayyub mengganti bajunya. Biasanya istrinya itu paling sensitif terhadap apapun dan akan langsung terbangun. Namun kini ia seakan damai dalam tidurnya tanpa terpengaruh oleh apapun.


Setelah memastikan Neera nyaman dan menarik selimut untuk istrinya, Ayyub bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Lima belas menit pria itu sudah keluar dengan tampilan yang begitu menggoda iman.


Lantas ia berganti baju dan naik ke atas kasur mereka. Namun, saat melihat nakas Ayyub kembali turun saat ia mendapati teko diatas nakas sudah kosong.


Ia khawatir saat Neera bangun istrinya kehausan karena selalunya setiap bangun Neera akan meminum air putih.


Maka ia mengambil wadah tersebut dan membawanya ke bawah. Tepat di ujung tangga Ayyub dikagetkan oleh Papa dan Mama yang berjalan dari kamar mereka.


"Sudah pulang Yub ?" tanya Mama.


"Sudah Ma" Ayyub.


"Loh, Neera mana ?" tanya Mama lagi.

__ADS_1


"Sudah tidur Ma, kasihan dia kecapekan sekali" jelas Ayyub.


Mereka berjalan kearah meja makan, ternyata pasangan paruh baya itu ingin membuat susu untuk penguat tulang.


Akhirnya mereka memilih dibuatkan oleh pelayan sembari bercengkerama dengan anak kesayangan mereka.


"Gimana tadi acaranya Yub ?" tanya Papa.


"Ya gitulah Pa, banyak tawaran juga tentunya" balas Ayyub.


"Terus gimana, apa kalian terima ?" tanya Papa.


"Engga sih Pa, soalnya Neera juga sudah memiliki kesibukan sendiri, Ayyub juga. Nanti saat kami sudah kembali akan susah juga mengondisikannya. Apalagi ini masalah tanggung jawab" ujar Ayyub.


"Ya bagus juga, terkadang saat kita masuk kesana kita akan sulit untuk bergerak sendiri dan akhirnya akan nyemplung juga mengikuti sistem yang ada" pendapat Papa.


"Begitulah Pa, lagian Ayyub dan Neera sudah cukup bahagia dengan kehidupan kami saat ini. Apalagi juga papa tau sendiri Neera tidak begitu suka jika kehidupan privasinya menjadi hilang akibat ketenaran" ujar Ayyub.


"Papa juga setuju itu, toh kalian suda lebih dari sukses dengan cara kalian sendiri. Jangan lagi masuk ke dunia selebritas nanti ruang gerak kalian akan terbatas" nasehat Papa.


"Alhamdulillah sudah jauh melampaui batas. Papa sempat takut dengan adanya kasus kemarin tetapi dengan konferensi yang kalian lakukan kemarin saat ini banyak perusahan nasioanal maupun internasional yang mengajukan kerja sama" senyum bahagia Papa terlihat jelas.


"Alhamdulillah.., Syukurlah kalau begitu Pa. Ayyub juga ikut senang. Semoga kedepannya akan lebih sukses lagi" do'a Ayyub.


"Amiin.., bagaimana pun juga itu adalah bagian dari kamu. Termasuk saham pribadi kamu juga tertanam disana. Saat dulu menyelamatkan perusahaan kita. Jangan lupa jalan pulang nak" ujar Papa yang masih berharap anak kebanggaannya terjun langsung ke perusahaan mereka.


"Jangan khawatir Pa, rumpun Ayyub tetap disini. Biarkan Abang-abang yang mengelolanya, Ayyub yakin mereka juga sangat kompeten. Nanti saat terjadi kendala Ayyub pasti akan selalu ada sampai kapanpun" senyum Ayyub yang menghangatkan hati orang tuanya.


"Yasudah urusan bisnisnya. Sekarang mama mau tanya, kapan kalian akan kembali ke rumah Neera ?" potong Mama.


"Insya Allah besom sehabis subuh Ma" jawab Ayyub yang langsung disambut deringan telepon genggamnya.


Segera Ayyub mengangkat video call itu setelah meminta izin orang tuanya.


"Ayah....." itulah rengekan pertama yang ia dengar dibalik ponsel canggih itu.

__ADS_1


"Iya Nak.., kenapa sayang ?" jawab Ayyub dengan senyuman hangatnya.


"Ayah dan bunda kapan pulang ? Qal tidak bisa tidur" adu gadis kecil itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Insya Allah besok ayah dan bunda pulang ya Nak, jangan nangis baby, malu tuh dilihatin Opa dan Oma" hibur Ayyub sembari mengarahkan kamera kedepan orang tuanya.


"Opaa.... Omaa...." sorak ketiganya begitu heboh.


"Hy kesayangannya Opa dan Oma, salamnya yang bagus dong" jawab Papa.


"Assalamu'alaikum Opa dan Oma" ulang ketiganya yang sudah kembali ceria.


"Wa'alaikumsalaam cucu-cucuku tersayang" jawab Papa dan Mama serentak.


"Nah begitu kan ganteng dan cantik" puji Mama yang disambut senyum ketiganya.


"Terus kenapa itu mukanya merah dan matanya sembab ?" tanya Mama mulai khawatir.


"Habis nangis Ma, kangen Ayah sama Bundanya" jawab Upi dari arah belakang.


"Terus kenapa jam segini belum tidur Nak, sudah larut" tanya Mama kembali.


"Pengin ketemu Ayah sama Bunda Oma" adu Qai yang mulai berkaca-kaca lagi.


"Kangen Ayah dan Bunda Oma" sambung Qee yang kini sudah mencebik.


"Ulu uluh.. kasihan sekali cucu Oma, yasudah sayang tidur gih, besok kan ayah dan bundanya juga sudah pulang. Kalian berdo'a ya semoga besok penerbangannya lancar" hibur Oma.


"Iya Oma.." jawab ketiganya serentak.


"Yasudah ini Oma kasih lagi sama Ayah, biar hilang kangennya" ujar Mama.


"Makasih Oma, Good night Opa, Good night Oma, we love you" kompak ketiganya dan dibalas serupa oleh kedu?a paruh baya tersebut.


"Yasudah Ma, kalau gitu Ayyub keatas dulu, sepertinya mereka juga ingin melihat bundanya. Malam Pa, Malam Ma. Love You" pamit Ayyub sembari mencium pipi mama dan memeluk papanya dari belakang.

__ADS_1


Segera Ayyub berlalu dengan handphone dan teko berisi air ditangannya. Kali ini ia memilih menaiki lift saja.


__ADS_2