Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 159


__ADS_3

Mobil mewah keluaran terbaru itu kini berhenti di depan sebuah restoran bintang lima. Sebuah kawasan elit yang berdampingan dengan hotel berbintang juga.


Hari ini mereka akan menghabiskan waktu bersama. Bersamaan dengan keluarnya mereka dari mobil, Luthfi juga datang dengan motor sport nya terlihat begitu keren.


Setelah memberikan kunci mobil pada petugas Ayyub berjalan mengikuti Papa dan saudaranya yang sudah sampai di pintu masuk.


Sangat kentara sekali terasa saat masuk ke dalam bangunan megah dengan dominan klasik ini. Semua meja diatur dengan peralatan makan yang rapi.


Musik jazz juga sayup-sayup terdengar menemani makan siang manusia yang tengah memenuhi perutnya setelah setengah hari beraktifitas.


Beruntung mereka memesan ruangan privasi sehingga tidak harus bergabung dengan puluhan manusia yang tengah bersantap di ruangan itu.


Seorang waiters turut menghantarkan mereka ke ruangan yang sudah direservasi sebelumnya. Mereka begitu menarik perhatian orang-orang disana. Pembawaan yang penuh wibawa ditambah rupa yang menawan membuat setiap mata tak lepas dari kekaguman akan sosok satu keluarga itu.


"Wah... jarang-jarang ni kita melakukan boys time begini Pa, malahan kalau diingat-ingat ini yang pertama setelah Abang-abang menikah" celutuk Luthfi yang kini sudah duduk di kursinya.


"Iya, Papa sangat senang sekali bisa berkumpul bersama putra-putra kebanggaan Papa. Rasanya waktu ini sangat berharga dan Papa sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk melihat kalian sukses seperti sekatang" ujar Papa penuh haru.


"Papa jangan ngomong seperti itu. Kita akan selalu ada untuk Papa, jadi Papa harus selalu sehat agar kita bisa berkumpul lagi di lain waktu" balas Ayyub yang disetujui semuanya.


Sembari menunggu pesanan datang mereka berbicara banyak hal. Mulai dari pekerjaan, kehidupan hingga keadaan rumah semua tidak lepas dari pembicaraan hangat itu.


Siang itu mereka makan dengan nikmat terasa sangat berbeda dengan makanan lainnya karena mereka menyantapnya dengan orang tersayang.


Lebih nyaman rasanya untuk saling berbicara dan terbuka dengan sesama lelaki karena walau dalam satu rumahpun antara Tuan Kaisar dan anak-anaknya jarang berbicara dari hati ke hati.


Mereka hanya bertemu di meja makan saat sarapan dan makan malam itupun terkadnag tidak lengkap akibat kesibukan masing-masing. Keseringan mereka berbicara hanya membahas seputar pekerjaan.


Kali ini suasananya terasa berbeda. Ada perasaan hangat, nyaman dan penuh saat mereka bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini.


Setelah menyudahi makan siang panjang dan sholat bersama mereka bergerak keluar untuk kembali ke perusahaan karena walau bagaimanapun mereka harus tetap menjalankan kewajibannya meski sudah jauh terlambat dari jam istirahat makan siang. Siapa yang peduli dan tidak ada juga yang akan memarahi karena merekalah bos nya.


Luthfi berjalan di depan diikuti oleh Abangnya Hakim dan Fazreen baru dibelakang menyusul Ayyub dan Papa mereka, Tuan Kaisar.


Saat sudah sampai di pintu depan restoran mereka segera memasuki mobil yang sudah tersedia di lobby sementara Luthfi bergerak menuju motornya yang juga sudah diambilkan oleh petugas.


Ketika akan memasangkan helmnya gerakan tangan itu terhenti dan terdiam sejenak. Melihat tingkah adiknya yang aneh Ayyub juga ikut berhenti dan mendekatkan mobilnya ke motor Luthfi yang masih berada di pinggir.

__ADS_1


"Kenapa Dek ?" tanya Ayyub dari balik kemudi yang membuat semua orang keheranan akan tingkah Ayyub dan Luthfi karena tidak ada seorangpun yang tau apa yang sedang terjadi.


"Ah.. itu Bang, aku seperti melihat Mbak Shintia tapi..." ucap Luthfi yang ragu sembari mencuri pandang pada Abang tertuanya yang duduk disebelah Ayyub.


"Tapi apa, wajar sih dia ada disini kan restoran. Mungkin mbak mu itu sedang keluar bersama temannya" sahut Hakim tiba-tiba.


"Masalahnya bukan disini Bang, tapi disana" tunjuk Luthfi pada Hotel yang ada disamping bangunan mewah itu yang hanya dibatasi oleh tanaman hias.


"Ah.. gak mungkin. Kamu salah lihat kali ngapain juga dia kesana" elak Hakim yang masih berusaha percaya dengan dirinya.


"Iya mengkin juga, soalnya aku lihat dia bersama lelaki sambil berangkulan mesra" cuek Luthfi yang langsung memakai helm nya.


Sebenarnya ia sangat yakin sekali bahwa itu adalah istri kakak tertuanya. Karena ia hapal betul dengan pakaian yang tadi dikenakannya merupakan merk ternama hadiah darinya di ulang tahun kakak iparnya itu tetapi ia mencoba untuk tidak memaksakan pendapatnya pada Abang tertuanya takut nanti akan menjadi sebuah pertengkaran.


Sementara Hakim yang baru saja mendengar penuturan dari adiknya terdiam membisu. Ingin ia percaya kalau itu bukan istrinya tetapi disisi lain ia juga ingin memastikan sendiri mengingat banyak hal aneh yang mencurigakan selama beberapa bulan belakangan.


Saat Luthfi sudah melaju dengan motor sportnya Ayyub malah menepikan mobil sehingga tidak akan mengganggu pengendara lain.


Ia tau bahwa Abangnya tengah dilema saat ini, berusaha memberikan waktu tapi tentu saja bukan saat yang tepat untuk menghabiskan waktu sekarang.


"Gimana Bang, apa mau kita cek saja dulu. Toh kalau tidak pun kita tidak akan mengalami kerugian apapun. Hanya untuk memastikan dan membuat hatimu tenang" saran Ayyub yang akhirnya diangguki oleh Hakim.


Tidak mungkin mereka akan melibatkan Papa dalam masalah ini. Biar Papa diantarkan pulang dan kemudian Fazreen akan kembali lagi untuk menjemput saudaranya.


"Gimana Bang, apa mau di cek atau sudahi pulang ?" tanya Ayyub.memberi pilihan karena mereka sudah tidak menemukan Shintia lagi di lobby.


"Bagaimana kita akan menceknya tentu tidak akan mungkin kita tanyakan pada resepsionis" ujar Hakim.


"Tenang Bang, santai dulu" ujar Ayyub sembari mengeluarkan ponselnya.


Memang ini merupakan salah satu hotel dibawah perusahaan Ayyub dengan merk perusahaan luar negri. Tentu saja tidak ada yang tau dikeluarganya karena hanya Neera seorang yang diberi tau.


Mungkin hal ini juga yang mendasari Shintia berani datang kesini karena ia tau bahwa tidak mungkin keluarga Kaisar akan mampu melacak dirinya karena privasi di hotel ini sangat dijaga.


Ayyub bergerak sedikit menjauh dari posisi Hakim dan menghubungi manager yang bertugas di hotel ini.


Tentu saja dering pertama belum habis langsung diangkat kerena sang manager tau bahwa yang menelpon adalah bos besar mereka. Bahkan hal ini merupakan anugerah besar bagi dirinya karena tidak semua orang di posisi dirinya akan mendapatkan kesempatan ini.

__ADS_1


Setelah beberapa saat berbicara dan meminta tolong beberapa hal pada managernya Ayyub kembali ke tempat Hakim yang sudah berdiri di depan meja resepsionis.


Tidak lama berselang seorang pria dengan setelan jas rapi menghampiri mereka dan membuat semua karyawan menunduk hormat.


"Hai.., ada kabar Bro" sapa Ayyub hangat pada manager itu yang sedikit kikuk.


Ya, tadi Ayyub meminta tolong seakan-akan mereka adalah teman dan bertingkah seperti seorang teman pada umumnya.


"Hai, kabar Baik. Elo gimana Bro. Ada apa tumben jauh-jauh kesini" jawab manager itu yang sudah mulai bisa mengontrol diri.


"Sebelumnya sorry udah ganggu waktu kerja loe. Eh kenalin dulu, ini Abang gue Hakim namanya"


"Hakim" jawab abang Ayyub sembari menjawab uluran tangan menager itu.


"Refli" jawab sang manager.


"Nah jadi gini bro, kita mau cari seseorang. Gue tau itu privasi, tapi tenang saja yang kami cari adalah istri abang gue" jelas Ayyub pada manager yang mendengarkan dengan serius.


"Oh ya boleh, Nia tolong kamu bantu teman saya untuk mengecek pesanan kamar" titah manager itu pada wanita yang bertugas di meja resepsionis itu.


"Bolehkan tolong cek pesanan atas nama Ibu Shintia" ucap Hakim.


Beberapa saat mencari resepsionis itu kembali berdiri.


"Mohon maaf sebelumnya Tuan, pemesanan atas nama Ibu Shintia tidak ada" ujar wanita itu dengan sopan.


"Hmm, kalau begitu boleh saya tau pesanan tiga orang terakhir sebelum saya datang" ujar Hakim yang masih mau memastikan.


Sejenak resepsionis itu melihat kearah manager ya takut akan membocorkan data pelanggannya tetapi sang manager malah menganggukkan kepala mantap bahkan seakan berkata untuk cepat lakukan sekarang juga tanpa bertanya.


Resepsionis itu langsung tergagap dan mencari dengan cepat data yang diminta oleh tamunya itu.


"Mohon maaf Tuan, tiga pemesana terakhir atas nama Ibu Maya, Bapak Yoseph dan yang terkahir Bapak Leon" jawab resepsionis itu.


Seketika Hakim mengerutkan keningnya mendengar nama terakhir yang diucapkan oleh resepsionis itu. Yah, seperti pernah dengar tapi tidak juga akrab. Sekilas terlintas nama Leona di kepalanya yang membuat ia semakin bingung.


Memahami keadaan Abangnya Ayyub berinisiatif untuk membantu. Ia tahu sepertinya ada yang salah dengan semua ini.

__ADS_1


"Sorry Bro, boleh gak kita ke ruang cctv sebentar ada yang mau kita pastikan" ujar Ayyub yang langsung disetujui oleh manager itu.


__ADS_2