
Dua lelaki berbeda generasi itu masih setia duduk di sofa empuk ruangan teratas dari gedung perusahaan itu. Sembari menunggu jam istirahat keduanya berbincang mengenai kehidupan yang sangat jarang sekali terjadi.
"Nak, Papa boleh bertanya sesuatu tidak ?" ungkap Papa pada Ayyub.
"Anything Papa, kayak sama siapa saja papa bertanya begitu" ujar Ayyub.
"Bukan begitu Nak, Papa menyadari bahwa kamu sudah cukup dewasa untuk menjalani kehidupan rumah tangga dan seharusnya Papa tidak boleh bertanya terlalu dalam" jelas Papa.
"Memang kenapa Pa ?" tanya Ayyub bingung.
"Papa hanya ingin tau apakah kehidupan rumah tanggamu akan baik-baik saja sekarang dan kedepannya ?" tanya Papa.
"Kenapa Papa bertanya begitu ?" Ayyub makin bingung.
"Yah, Papa tau kita laki-laki pasti memiliki ego tersendiri dan tentunya ingin lebih dominan dari wanitanya. Ayyub tau sendiri Nak, bahwasannya kamu menikahi perempuan luar biasa. Perempuan yang bahkan dikenal hingga kancah dunia, ditambah lagi ternyata beliau adalah pengusaha fashion ternama dan bahkan ilmuwan. Maksud Papa apakah kamu akan baik-baik saja dengan itu, terlebih Papa tau bahwa kalian menyembunyikan pernikahan kalian bahkan kehidupan probadi kalian sendiri. Memang itu suatu hal yang bagus tapi dilain sisi itu akan menjadi pedang bermata dua"
"Saat orang di luaran sana mengetahui bahwa istrimu belum menikah dan masih lajang diusia yang memang sudah matang apa kamu kira tidak ada yang tertarik untuk menjadikannya istri dan menaruh harapan padanya. Belum juga kamu, orang-orang taunya bahwa kamu duda cerai dan masih lajang hingga kini. Hal yang sama juga berlaku untukmu Nak"
__ADS_1
"Hal ini dikemudian hari akan menjadi kesalahpahaman bahkan berkembang menjadi fitnah yang nantinya akan menjadi permasalahan untuk rumah tangga kalian sendiri. Menurut Papa alangkah baiknya kalian mengumumkan pernikahan kalian meskipun nantinya orang lain tidak akan tau siapa pasangan kalian pastinya misalnya bisa dengan menyamarkan wajah atau menggunakan masker, yang jelas semua orang harus tau bahwa kalian berdua sama-sama sudah menikah" nasehat Papa panjang lebar yang langsung direnungi Ayyub.
"Baiklah Pa, terima kasih atas nasehatnya. Jujur Ayyub tidak terpikirkan akan hal itu. Nanti akan Ayyub bicaran dengan Neera dirumah Pa. Mengenai siapa Neera, sebenarnya Ayyub sama sekali tidak masalah Pa. Neera begitu patuh, hormat dan sangat menghargai Ayyub sebagai suaminya. Sama sekali tidak ada tingkah atau perilakunya yang menyinggung atau merendahkan Ayyub. Neera juga yang selalu sabar menghadapi tingkah Ayyub, tidak pernah protes saat Ayyub tinggal kerja bahkan sama sekali tidak mengeluh karena ia harus melakukan banyak pekerjaan sendirian. Dia sosok perempuan terbaik, tersabar, dan paling pengertian yang pernah Ayyub temukan Pa. Dia adalah istri sholehanya Ayyub, bidadari Ayyub, belahan jiwa Ayyub dan separuh nafas Ayyub Pa. Ayyub tidak peduli apa kata orang diluar sungguh Ayyub tidak peduli itu selama Neera ada di rumah dia adalah istri Ayyub dan Bunda bagi anak-anak Ayyub Pa. Ayyub sangat mencintainya Pa" curah Ayyub dengan sepenuh hatinya bahkan matanya juga sudah ikut berkaca-kaca.
"Baiklah Nak, Papa selalu mendo'a kan kebahagiaan kalian, semoga selalu dalam keadaan baik apapun nanti badai yang akan menerjang. Dalam rumah tangga hal itu akan selalu ada tapi ingat untuk jangan berlaku kasar, ringan tangan pada istri, menghardiknya dan jangan sekali-kali memutuskan hal dalam keadaan emosi. Jika memang sudah tidak bisa ditahan lebih baik menghindar sebentar hingga tenang dari pada terucap hal yang tidak seharusnya keluar dari mulut kita para lelaki" nasehat Papa lagi.
"Iya Pa, Ayyub akan selalu ingat nasehat Papa. Terima kasih karena selalu mendo'akan kami dan mengingatkan Ayyub Pa. Ayyub sangay menyayangi Papa. Semoga Papa dan Mama selau dalam keadaan sehat dan bahagia" do'a tulus Ayyub.
"Amiin, sama-sama Nak, itulah gunanya Papa sebagai orang tua. Memberi pandangan dan semua akan kembali lagi padamu Nak. Jadilah kepala rumah tangga yang bijak, suami yang mengerti dan ayah yang terbaik untuk putra dan putrimu. Sungguh Papa bangga padamu" ujar Papa sembari menepuk pundak anaknya dengan rasa haru.
"Terima kasih Papa, sudah menjadi Papa yang hebat untuk Ayyub dan semuanya. Papa yang terbaik" balas Ayyub yang langsung memeluk Tuan Kaisar dengan penuh kehangatan.
"Ada apa ini, kenapa menjadi adegan penuh haru dan romansa begini Papa dan Ayyub" heran Fazreen dengan slengekan.
"Papa sehabis memberikan nasehat hidup untukku Bang, dan semua hal yang disampaikan Papa begitu mengena dihati. Lagian apa salahnya memeluk Papa sendiri, beliau adalah Papa terhebatku, pahlawanku dan selamanya jadi idolaku" ujar Ayyub dengan bangganya.
"Jiiaaah, anak kesayangannya Papa, sudah jadi bapak-bapak masih juga manja" cibir Fazreen yang disambut kekehan semua orang.
__ADS_1
"Mana ada Nak, semua sama Papa sayang, kalian saja yang jarang mau bercerita dengan Papa sehingga Papa menganggap kalian sudah mumpuni dalam setiap persoalan yang kalian hadapi dan tidak butuh nasehat Papa lagi" ujar Tuan Kaisar.
"Tidak kok Pa, banyak persoalan juga yang ingin Hakim butuhkan nasehat Papa, hanya saja waktunya belum pas Pa, tapi nanti orang pertama yang Hakim cari adalah Papa" ujar putra tertua Tuan Kaisar.
"Yasudah, kita akhiri saja acara 'Curhat Pa' nya, lebih baik sekarang kita pergi makan sebelum nanti tempat makan penuh atau jam istirahat habis" ujar Fazreen memecah suasana.
"Kamu kira siapa yang mengajak makan, sudah pasti tempatnya sudah di booking, lagian ada Boss besar bersama kita, tidak akan kena sanksi jika bolos setengah hari" canda Hakim yang membuat semua tergelak.
"Baiklah ayo kita pergi, cacing-cacing sudah meronta minta diisi" kembali Fazreen menyelutuk.
"Halah seperti orang kelaparan saja padahal kerja dengan istri" cobir Ayyub yang dibalas cengiran malu-malu kambingnya.
"Apa sebaiknya kita ajak Luthfi sekalian Pa, kasihan si bungsu itu tinggal sendiri" ujar Ayyub.
"Iya baiklah, itu lebih baik. Telpon adik kamu Yub, biar kita bisa kumpul bersama. Jarang-jarang Papa hangout dengan para jagoan Papa" bahagia Tuan Kaisar yang berjalan diantara putra-putra kebanggaannya.
"Pa, apa tidak ajak sekalian menantu lelaki Papa satu-satunya Pa, biar makin heboh" celutuk Hakim yang lebih ke nada sinis penuh sindiran saat melihat iparnya itu tengah berdiskusi dengan karyawan wanita lebih terlihat seperti ngedate tanpa jarak yang membuat orang yang melihat akan salah paham.
__ADS_1
"Ahhh..... sudahlah Nak, biarkan saja. Papa tidak tau lagi harus berbuat Papa" lirih Papa dengan hembusan napas kasarnya.