Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 106


__ADS_3

Kedua balita dua tahun itu menatap saudarinya yang masih dipelukan sang bunda. Tangan kecil mereka masih membelai lembut surai balita yang masih terisak itu.


"Ada apa sayang, kenapa Qal menangis ?" tanya Neera lembut pada dua balita itu.


"Qal jatuh bunda" jawab Qai yang naik ke pangkuan Neera.


"Dimana jatuhnya sayang ?" tanya Neera lagi.


"Disana bunda" tunjuk Qai ke arah pembatas.


"Qal panjat-panjat bunda" adu Qee.


"Panjat-panjat ?" bingung Neera sembari melihat arah telunjuk baby Qee.


'Hmmm pantesan jatuh, memang anak perempuanku ini terlalu aktif' batin Neera.


"Bunda, Qal mau tempat bunda. Mau minum bunda" terang Qee pada Neera.


"Oh, jadi babynya bunda ini lagi haus yaaa.." gemas Neera pada balita gemoy itu.


Baby Qal hanya melihat bundanya sembari memainkan baju sang bunda.


Melihat saudarinya, Qal dan Qee ikutan menidurkan kepalanha di paha sang bunda dan mengelus sayang kaki saudarinya.


Selesai menyusu baby Qal ikutan duduk dan mengadu pada bundanya.


"Bunda..., kepala Qal syakit" tunjuknya sembari mengusap bagian yang terbentur.


"Oalah..., sini bunda obati yaa, mana lagi yang sakit sayang ?" tanya Neera sembari melihat benjolan dikepala baby Qal.


Sembari mereka bercerita mengenai kronologis jatuhnya Qal, Ayyub keluar dari kamar dan mendapati anak dan istrinya tengah berbincang dan menangkap wajah chubby yang masih basah oleh sisa air mata dipangkuan istrinya.


"Hai, kenapa sayang. Ada apa ini ?" tanya Ayyub yang langsung bergabung lesehan dikarpet.


"Ayah., Qal jatuh kepalanya kejedot. Ada bengkak besyall" jelas Qee antusias sekali.


"Kenapa bisa jatuh ?" tanya Ayyub dengan tatapan lembutnya sembari mengusap lembut kepala baby Qal dalam pangkuan Neera.

__ADS_1


"Qal haus Ayah, mau minum tapinya syusah ambil air kedapul" jelas balita gemoy itu.


"Loh, kenapa tidak panggil ayah atau bunda ?" tanya Ayyub yang dibalas cengiran baby Qal.


"Lain kali kalo baby Qal susah untuk melakukan sesuatu harus meminta tolong sama ayah dan bunda, oke sayang" nasehat Ayyub pada putri pembuat onarnya.


"Oke ayah but I'm not baby anymore ayah" kesal Qal yang tidak suka dipanggil baby.


"Hahaha oke, oke. Ayah lupa sayang" kilah Ayyub yang malah senang menjahili putrinya.


"Sudah, sekarang ayo kita pergi" lerai Neera dan mengingatkan rencana mereka dihari ini.


"Yeee, let's go bunda" teriak ketiga balita itu antusias tetapi dipatahkan oleh Neera.


"Sebelum itu bereskan dulu mainnya, letakkan kembali di ruang bermain dan susun yang rapi kalau belum selesai kita tidak jadi pergi" ingat Neera yang langsung dilakukan oleh triplets.


Sementara triplets membereskan mainannya Ayyub berbincang sejenak dengan istri yang sangat dicintainya itu.


"Sayang, kamu masih ASI ya ?" tanya Ayyub lembut sembari membantu merapikan baju istrinya.


"Kalau Neera menyusui terus ya bakal keluar terus ASI nya sayang, kalo berhentikan dia tidak teransang lagi untuk keluar. Udahan lah sayang, biar untuk Uda lagi kan triplets udah puas masa harus berbagi terus" keluh Ayyub dengan wajah tanpa dosanya.


"Ya ampun Uda, sama anak sendiri masih juga rebutan. Tanpa berhentipun Uda juga tetap bisa pakai kan" keluh Neera yang tidak percaya dengan pernyataan dari mulut suaminya.


"Iya, tapi kan gak puas sayang. Gak bisa dieksplor dibagian puncaknya kan takut nanti terminum sayang" jelas Ayyub dengan muka yang lebih memelas.


"Apaan sih Uda, ngalah dikitlah sama anaknya, kasihan juga triplets mereka kan juga lagi mulai-mulai mengurangi masa mau langsung berhenti" jelas Neera memperkuat alasannya.


"Yaudah deh sayang, tapi janji ya kurangi jangan terus dikasih nanti mereka malah susah disapihnya" tuntut Ayyub yang hanya dibalas senyum manis istrinya.


Bahkan Neera tidak berjanji untuk itu, jadi bukan salahnya jika dikemudian hari ia malanggarnya hehe.


Bersamaan dengan berakhirnya pembicaraan mereka triplets datang untuk melaporkan hasil kerja mereka dan mengajak pergi kedua orang tuanya.


"Triplets mau jalan atau pakai stroller ?" tanya Neera pada ketiganya memang sedari kecil Neera sudah mengajari mereka untuk memutuskan sesuatu untuk diri mereka sendiri.


"Jalan bunda" semangat ketiganya.

__ADS_1


Walaupun begitu tetap saja Neera siap sedia gendongan untuk mereka apalagi jika nanti mereka tantrum, tertidur atau malah kecapaian maka sedialah payung sebelum hujan iyakan.


Sembari mengecek semua jendela dan pintu terkunci Ayyub membantu triplets memakai sepatu mereka. Meskipun mereka melakukannya sendiri tetap saja ada bagian yang harus dirapikan dan dibantu.


Setelah selesai semua mereka keluar setelahnya Ayyub memgunci pintu pagar dan berjalan merangkul bahu istrinya dibelakang sembari mengawasi triplets yang berjalan didepan mereka.


Jarak dari rumah ke triplets bakery memang tidak terlalu jauh jadi mereka bisa sekalian refresing dan olahraga singkat karena selama ini kemana-kemana kuda besilah yang membawa mereka maka saatnya kini membiarkan otot kaki untuk bergerak lebih.


"Sayang hati-hati kalau menyebrang pegang ayah bunda dulu ya" peringat Ayyub.


"Oke ayah" serempak ketiganya.


Baru saja dibilang hati-hati princess mereka sudah membuat ulah lagi. Siapa lagi kalau bukan si aktif baby Qal. Dengan santainya ia menginjak bagian sisi yang agak tinggi di bahu jalan itu beruntung Ayyub segera menggapai tubuh kecilnya kalau tidak sudah dipastikan ia akan mendapatkan baret lagi ditubuh mungil seputih susu itu.


Karena khawatir dengan buah hatinya Neera memutuskan untuk menggendong mereka saja lagian jalanan juga sudah agak ramai dan panas mulai terasa.


"Ayah, tripletsnya digendong aja ya ?" pinta Neera menatap Ayyub.


"Iya sayang, kamu ada bawa gendongannya kan ?" tanya Ayyub memastikan.


"Ada nih yah" jawab Neera sembari mengeluarkan gendongan dari jinjingannya.


"Sini sayang, pakein ke ayah aja" pinta Ayyub pada istrinya.


Dengan telaten Neera memakaikan gendongan punggung dan gendongan depan pada tubuh kekar suaminya.


"Sayang, siapa yang mau gendong ayah dan siapa yang mau gendong bunda ?" tanya Neera pada triplets agar nanti tidak ada kecemburuan diantara mereka.


"Gendong ayah..!!!!" sorak ketiganya yang dibalas tatapan penuh arti Neera pada suaminya.


"Yah..., sama bunda gak ada yang mau dong" ujar Neera dengan memelaskan wajah.


Pasalnya Neera sedikit khawatir pada suaminya. Meskipun Ayyub memiliki badan yang tinggi besar dan kekar tetap saja bocah dua tahunan itu memiliki tubuh montok yang jika dikalkulasikan beratnya sangat lumayan.


"Tidak apa-apa bunda, bahkan kalau bunda iku digendongpun ayah masih sanggup kok" terang Ayyub dibarengi senyuman lembut dan usapan dikepala istrinya yang tertutupi hijab.


Jadilah saat ini Ayyub terlihat bagai hot daddy yang berjalan tanpa beban penuh daya tarik dan kharisma tinggi. Memang pria tampan itu terlihat biasa saja bahkan terlihat bangga namun bagi wanita yang melihatnya tetap saja serasa lutut lemas tanpa tenaga sementara Neera hanya bisa geleng kepala melihat anak dan suaminya yang bercengkerama tanpa tau mereka saat ini menjadi perhatian publik.

__ADS_1


__ADS_2