
Setelah kehebohan yang terjadi di restoran dan penjelasan singkat triplets akhirnya Neera tak jadi marah dan justru bersyukur akan pesatnya perkembangan emosi buah hatinya.
Begitu juga Ayyub yang kini merasa bahwa ia memiliki tiga penjaga yang siap menghabisinya bilamana ia gegabah dan sampai menyakiti bunda mereka.
Selesai makan mereka memilih pulang karena esok hari mereka akan kembali melakukan aktifitas seperti biasa apalagi saat ini sedang sibuk-sibuknya pasca liburan mereka.
Begitu sampai di rumah Ayyub membantu triplets, gosok gigi, membersihkan diri, dan mengganti dengan baju tidur mereka, tidak lupa juga Ayyub menidurkan mereka setelah ketiganya meminum susu buatan bundanya.
Karena lelah seharian sekolah, bermain dan jalan-jalan akhirnya mereka tertidur lelap tanpa harus banyak permintaan dan pertanyaan seperti hari biasanya.
Perlahan Ayyub dan Neera meninggalkan kamar baru mereka setelah memastikan penyangga aman dan menyelimuti mereka, keduanya bergantian mencium triplets dan mendo'akan kebaikan atas buah hati mereka.
Ketika sudah sampai di kamar Ayyub terlihat sedikit ragu, Neera dapat melihat dengan jelas meskipun suaminya sudah berusaha terlihat biasa.
"Uda, ada apa.., Apakah ada yang ingin Uda sampaikan ke Neera ?" tanya wanita cantik yang sudah mengenakan gaun tidur itu.
"Hmmm ti, tidak sayang, tidurlah pasti Neera sudah lelah bekerja seharian" ujar Ayyub.
"Tidak, Neera tidak begitu lelah. Bicaralah Uda, Neera tau ada yang mengganggu pikiean Uda" lembut Neera sembari meraih tangan kekar itu dan mengajaknya duduk.
"Huftt..... ternyata istri Uda ini memang sulit sekali dibohongi" hela Ayyub.
"Haha, bicaralah Uda. Neera akan mendengarkan apapun itu" ujar Neera kembali menatap mata suaminya dengan teduh.
"Sayang, maafkan Uda. Sebelumnya Uda sudah berjanji akan menjaga Neera dan anak-anak, mendampingi Neera menjalani kehamilan kedua ini, tapi ternyata perusahaan Uda yang ada di NY sedang membutuhkan Uda terlebih lagi ini sudah habis masa cuti Uda sebagai pilot maskapai. Apa menurut Neera Uda berhenti saja menjadi pilot ?" ungkap Ayyub dengan nada frustasinya.
"Kalau itu permasalahannya Uda berangkat saja ke NY, Neera tidak masalah disini bersama triplets dan lagi mengenai pekerjaan Uda sebagai pilot bukankah itu hal yang selama ini Uda inginkan dan prioritas Uda dalam bekerja ?" tanya Neera.
"Iya sayang, tetapi jika Uda masih terbang Uda akan lebih sering meninggalkan Neera dan anak-anak terlebih dalam keadaan Neera hamil begini" ungkap Ayyub dengan wajah rumitnya.
"Uda, ada Allah. Percayakan penjagaan kami pada Yang Maha Kuasa. Insya Allah Neera dan triplets akan baik-baik saja disini. Uda bekerjalah dengan tenang, jalani apapun yang Uda sukai selagi itu masih positif" ujar Neera memberikan semangat pada suaminya.
__ADS_1
"Tapi sayang, bagaimana mungkin Uda meninggalkan kalian disini. Jika kali ini Uda pergi kemungkinan akan kembali paling cepat dua minggu lagi" ungkap Ayyub.
"Tidak masalah Uda, Insya Allah Neera bisa menangani keadaan disini, terlebih saat ini triplets sudah lebih mandiri dan bisa diandalkan. Lagi pula Uda juga sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan" yakin Neera pada suaminya.
"Apakah Neera yakin tidak masalah dengan kepergian Uda ?" tanya Ayyub sekali lagi.
"Insya Allah Neera yakin, banyak disini yang akan membantu. Lagipula Uda juga sudah mempekerjaan tenaga kerja untuk mengurus rumah jadi Neera tidak akan kesulitan" jelas Neera.
"Baiklah jika demikian sayang, tapi Uda mohon jika bepergian sebaiknya Neera diantar sopir saja, Uda sengaja mencarikan sopir wanita tetapi ia sangat ahli dalam bela diri jadi Neera tidak usah khawatir" jelas Ayyub.
"Iya Uda, Neera akan mengikuti apapun yang sudah Uda aturkan untuk Neera dan anak-anak. Tapi sebelumnya Neera juga ingin meminta maaf karena saat ini Neera masih belum bisa menjadi istri yang sempurna, mendampingi Uda dimana pun Uda berada, padahal Uda sudah begitu lelah mencari nafkah untuk keluarga kecil kita" ungkap Neera dengan sendu entah kenapa semenjak hamil hatinya lebih sensitif dari biasanya.
"Sssttt sudahlah sayang, Neera tidak salah sayang, Uda mengerti kesulitan Neera, ada kewajiban dan tanggung jawab yang tidak biaa Neera tinggalkan disini. Uda juga sangat bersyukur mendapatkan istri yang begitu pengertian dan mendukung pekerjaan Uda sehingga kita bisa berkembang bersama. Jangan bersedih lagi sayang, semua harus kita jalani karena inilah resiko dari keputusan yang kita ambil" jelas Ayyub sembari membawa Neera dalam dekapannya.
"Terima kasih atas kebesaran hati Uda menerima keadaan Neera saat ini" ungkap wanita yang kini matanya sudah berkaca-kaca.
"Jangan menangis Cinta, terima kasih juga sudah menjadi support system terbaik, menjadi tempat pulang ternyaman dan sudah bersedia menjadi ibu bagi anak-anak kita" ungkap Ayyub sembari mengecup mesra bibir cherry yang begitu lembut.
Berulang kali Ayyub menciumi puncak kepala istrinya menyalurkan cinta dan kasih, mengungkapkan segala rasa, menabung asa untuk nanti perpisahan yang akan menimbun rindu.
Cukup lam mereka saling menghangatkan hingga Ayyub perlahan mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkan Neera diatas pahanya yang sudah selonjoran diatas kasur.
"Sayang, apa benar tidak masalah Neera dan anak-anak Uda tinggal ?" tanya Ayyub kembali sembari menatap wanita yang cantiknya tak pernah memudar di matanya.
"Insya Allah, semua akan baik-baik saja. Uda harus yakin dan percaya pada Neera. Tumbuhkan selalu prasangka baik terhadap Allah. Memang kapan Uda berangkatnya ?" jelas Neera sembari bertanya pada lelaki yang kini tengah mengelus lembut wajahnya sembari bersandar pada headboard ranjang mereka.
"Kalau menurut jadwal Uda berangkat besok sore sekalian, langsung membawa pesawat dari sini ke Paris, lalu ke California dan berakhir di NY" jelas Ayyub sembari memperlihatkan jadwal terbang yang sudah ia terima melalui ponselnya.
"Hmmm lumayan padat juga ya, jadi di NY Uda akan langsung masuk kantor juga ?" tanya Neera kembali.
"Iya sayang, Uda sudah terlalu lama tidak mengontrol langsung keadaan kantor meakipun laporannya selalu masuk tetapi ada beberapa hal yang harus Uda cek dan juga ada rapat yang harus Uda hadiri langsung" ujar Ayyub.
__ADS_1
"Ya sudah, tidak mengapa. Tetapi Uda harus berjanji untuk selalu menjaga kesehatan, jangan lupa makan dan istirahat yang cukup. Jangan terlalu memaksakan diri dan larut dalam pekerjaan" nasehat Neera yang diangguki suaminya sembari tersenyum melihat istrinya yang hobi mengomel jika sudah menyangkut kesehatan.
"Baiklah cintaku, Neera terlihat cantik sekali saat mengomel seperti ini" puji Ayyub tanpa sadar yang membuat Neera mengerutkan alis.
"Aneh, orang lain pusing diomelin Uda malah senyam-senyum gak jelas" gerutu Neera menanggapi gombala suaminya yang kini justru malah menggigit manja pipinya yang semakin chubby.
"Uda....! jorok ah, masak pipi Neera digigit. tengok nih Neera udah cuci muka lo Uda, ah habis sudah skin care Neera gara-gara Uda" kesal Neera sembari menjauhkan muka suaminya yang kini justru malah menggigit bahunya.
"Gemes banget istriku ini, jadi pengen gigit semua. Boleh cium gak ?" tanya Ayyub sembari mendekap erat istrinya.
"Gamau, cium aja guling sana" kesal Neera yang sudah gerah karena ulah suaminya.
Tanpa mendengarkan penolakan istrinya Ayyub justru menahan wajah Neera dan menghujaninya dengan banyak ciuman sehingga wajah itu kembali memerah dan basah bekas ciuman Ayyub sehingga membuat Neera semakin menggerutu.
"Sudah Uda, ampun... Ah... Neera panas, Uda...!" teriak Neera yang sudah gerah dengan ulah suami usilnya.
"Hahaha lucunya" gemas Ayyub yang justru mengecup bibir istrinya yang tengah manyun karena tak terima diusili.
"Ahahaha, jangan cemberut sayang, apa masih mau dicium lagi ?" tanya Ayyub yang mengacak lembut rambut istrinya yang halus dan wangi.
Melihat keadaan istrinya yang sedikit berantakan karena ulahnya membuat Ayyub justru terpancing untuk melakukan hal lebih. Sudah cukup lama ia menahan diri semenjak mengetahui kehamilan istrinya sama sekali mereka belum pernah melakukannya lagi.
Tanpa komando Ayyub kembali mendekatkan diri pada istrinya yang masih sibuk memperbaiki tatanan rambutnya.
Perlahan Ayyub mengelus lembut lengan istrinya hingga punggung. Tidak seperti tadi yang bar-bar gerakan kali ini justru lembut dan penuh cinta.
Neera yang merasakan perbedaan itu langsung terdiam dan menatap mata suaminya yang ternyata sudah dipenuhi oleh kabut gairah.
Ibu hamil itu sadar betul bahwa ia harus melayani kebutuhan biologis suaminya, terlebih esok suaminya akan pergi bekerja dan berpisah selama dua minggu membuat Neera akhirnya memilih menyambut Ayyub dan melayaninya dengan performa terbaik.
Selain sebagai kewajiban, Neera hanya ingin menjaga keutuhan rumah tangganya, membuat suaminya terpuaskan sehingga menjadikan dirinya sebagai tempat pulang bukan justru mencari kepuasaan diluar karena di rumah ia tidak mendapatkannya.
__ADS_1