
Malam hari semua sudah tersedia diatas meja makan. Hidangan istimewa yang dieprsiapkan Ama untuk sang menantu.
Uni Neera yang kebetulan tinggal di rumah sudah beberapa bulan ini karena mempunyai anak kecil menjadi kebingungan karena baru pulang.
Bersamaan dengan itu Ayyub juga keluar menuju meja makan. Membawa beberapa bingkisan di tangannya dan berjalan ke ruang keluarga yang terdapat Apa dan adek.
"Loh, ngapain kamu disini. Masih berani menginjakkan kaki disini kamu" sindir pedas Uni yang membuat semua orang melihat padanya.
"Assalamu'alaikum Uni, apa kabar ?" tanya Ayyub tanpa bersalaman.
"Gak baik sejak melihat kamu disini"
"Sudah Uni, bisa berbicara dengan baik tidak" tegur Apa.
"Tidak jika dengan lelaki brengsek seperti dia" sinis Neera.
"Sudah Uni, hentikan. Ayyub itu suami Neera bisa tidak kamu hargai sedikit suami adikmu" seru Ama.
"Sejak kapan dia menjadi suami Neera, lebih baik Neera menjanda saja daripada memiliki suami tukang selingkuh" angkuh Uni.
"Ayo bang kita pergi dari sini, sakit mataku melihat dia" kata Uni lagi pada suaminya yang juga terlihat bengis membawa ketiga anaknya.
Suasana terasa sedikit canggung di ruangan itu membuat Apa membuka suara dan mengembalikan mood semua orang.
"Sudah jangan dipikirkan biarkan saja mungkin dia butuh waktu" jelas Apa.
"Maafkan Ayyub Pa, kedatangan Ayyub membuat kekacauan di rumah Apa dan Ama"
"Tidak ada yang perlundimaafkan nak, ini juga rumah Ayyub. Jangan merasa seperti orang lain" lerai Apa.
"Eh bang, itu apa bang ?" tanya adek untuk mengalihkan suasana.
"Ah iya, ini ada titipan surat dari triplets dan beberapa baju dari Neera terus juga Ayyub beli beberapa hadiah di Korea"
"Wah..., mana suratnya ?" semangat Apa dan Ama berbinar.
Lantas Ayyub memberikan sesuai alamat si penerima surat. Sementara pakaian yang Neera berikan sudah tertulis nama.
"Wah.. jadi rindu dengan cucu kita ya pa" ungkap Ama.
__ADS_1
"Iya, kapan kita bisa berjumpa mereka lagi" terawang Apa dengan wajah sedikit sendu.
"Do'akan saja Pa, semoga dalam waktu dekat kami bisa pulang" hibur Ayyub.
"Iya semoga saja, sudah tiga tahun anak perempuan Apa itu tidak pernah pulang" ucap Apa.
"Ohiya pa, ini ada ginseng merah untuk kesehatan, ini juga tonik dan teh untuk Ama dan diminum bersama. Asinan buah kesemek dan peach ini juga enak ma. Kalau untuk adek ginseng hitam saja dengan jam tangan ini ya" terang Ayyub.
"Aduh nak, kenapa jadi repot sekali. Membawa semua ini. Cukup badan saja kami sudah sangat bersyukur"
"Ah tidak apa-apa ma, sekalian kembali" ucap Ayyub.
"Wow... kalau jam tangan ini adek rasa bukan dari korea ni kak" ungkap kagum adek melihat jam merek terkenal dengan harga selangit itu.
"Ah itu, abang beli di Paris. Kebetulan sepertinya cocok dengan adek" terang Ayyub.
"Aduh Yub, lain kali jangan dimanjakan adek kamu itu nanti dia malah keterusan" omel Ama.
"Tidak apa Ma, cuma sesekali. Lagian sepertinya itu cocok dan dibutuhkan adek. Semoga bermanfaat ya dek" ungkap Ayyub.
"So pasti dong abang. Abang inj memang yang terbaik. Makasi bang, mudah-madahkan makin ganteng makin banyak rezekinya" balas Ayyub.
"Sudah, ayo kita makan malam dulu. Apa sudah keburu lapar ni. Masakan ama sudah memanggil sedari tadi" ajak Apa.
"Ah iya jadi lupa, ayo semua nanti keburu dingin" sekali lagi Ama mengajak.
Semuanya menuju ruang makan dan menduduki kursi yang sudah tersedia disana. Menikmati makan malam dengan khusyuk.
Sementara didalam kamar Uni tengah berdebat dengan suaminya.
"Aduh dek kenapa sih kita mesti kesini. Aku lapar tau"
"Issss kamu perut aja yang dipikirkan, aku lagi kesal ni"
"Iya lagian kenapa juga kamu yang minggat dari meja makan. Harusnya kan dia yang pergi, orang kamu kok anak Apa dan Ama. Dia mah siapa ?"
"Iya, tapi aku kan kesal. Kenapa dia balik lagi, udah bagus Neera sendiri bisnisnya juga maju dianya sukses. Buat apa coba dia balik lagi. Aku kan kasihan sama Neera"
"Iya juga ya, tapi dia kaya kan gak bikin Neera berhenti kirimin kita duit atau beliin kita barang-barang bagus kan ?"
__ADS_1
"Kamu bang, duit aja yang kamu pentingin. Ini adik aku lo, kamu cuma manfaatin dia ya ?" sinis Uni.
Memang dalam suatu keluarga tidak akan mungkin semuanya baik. Tuhan Maha Adil dalam setiap kejadian dan Penciptaan.
Suami Uni memang bukan menantu yang diinginkan orang tua Neera. Sempat dulu mereka tidak merestui menantunya itu tetapi Uni malah tidak menggubris dan berkata tidak peduli. Bukan seperti Uni biasanya.
Memang Uni sangat keras kepala tetapi dia adalah anak yang baik, tidak akan melawan perkataan orang tua tetapi entah kenapa pada saat itu ia seperti disihir selalu berkeras hati.
Akhirnya orang tua mereka merestui pernikahan mereka tetapi tetap dengan beberapa syarat.
Namun setelah pernikahan itu terjadi, mereka malah awalnya bergantung pada orang tua Neera. Memang Uni sudah bekerja tetapi suaminya berkata ia menjalankan bisnis orang tuanya karena memang dia dari keluarga berada.
Walaupun begitu uang terasa tidak pernah cukup bagi mereka, sehingga mereka selalu kekurangan dan jika itu terjadi maka orang tua Neera yang menjadi sasarannya.
Bahkan orang tua Neera juga sudah membelikan mereka rumah yang mewah di pusat ibukota provinsi tetapi mereka selalu merasa tidak cukup.
Orang tua Neera telah berkali-kali berpesan dan menasehati keduanya bahkan pernah sekali Apa menopak memberi uang agar mereka bertanggung jawab atas hidupnya dan keluarga kecilnya. Tetapi Uni malah balik marah dan mengatakan orang tuanya tidak adil terhadap dirinya dan Neera.
Padahal tidak sedikitpun orang tuanya memberikan uang kepada Neera malah Neera yang selalu rutin mengirimkan uang pada keluarganya dirumah meskipun sudah dilarang.
Tidak hanya itu mereka kerap kali menitikan anak mereka di rumah orang tua Neera dengan alasan tidak bisa membayar baby sitter alhasil jadilah orang tua Neera yang mengasuh cucunya.
Meskipun Ama dan Apa sangat senang dengan kehadiran cucu-cucu mereka tetap saja mereka harusnya istirahat di waktu senjanya bukan malah kesana kemari mengasuh anak yang tengah diusia lincahnya.
Uni seperti telah dibutakan mata dan ditulikan telinganya, bukan seperti Uni Neera yang dulunya pekerja keras dan tidak ingin memberatkan orang tua.
Usut punya usut ternyata suaminya yang mempengaruhi Uni untuk melakukan semua itu, seperti terkena sihir. Uni yang biasanya teguh dengan prinsipnya kini ibarat air, mengikuti bentuk wadahnya.
Neera yang mengetahui itu dari adek merasa marah, memang Neera juga adalah orang yang paling keras menolak kakak iparnya itu terlebih Neera sudah tau sepak terjangnya.
Selama mereka masih berpacaran saja, Uni yang mencuci pakaian kotornya. Uang gaji Uni bahkan sampai diambil habis olehnya meski sudah bekerja siang dan malam.
Uni yang sedang kesulitan uang selalu meminjam pada Neera meskipun dulu juga sering dia lakukan tapi tidak sebanyak kali ini.
Neera yang saat itu tengah kuliah jauh di kota lain menjadi aneh. Uni selalu meminjam dengan berbagai alasan yang kadang tidak masuk akal.
Hingga suatu kali teman Uni menelpon dan memberitahukan semua kelakuan calon kakak iparnya yang menguras habis harta Uni hingga perhiasan pemberian orang tua pun habis tak bersisa.
Awalnya Neera tidak begitu saja percaya karena bagaimanapun ia akan tetap mempercayai keluarganya. Tetapi kemudian menyusul bukti foto dikirim oleh teman Uni yang merasa kasihan dan ingin agar Uni terbebas dari semua ini.
__ADS_1