
Mendengar penuturan Tuan Kaisar makin menciut saja nyali para wanita dan ipar yang ada dirumah itu. Habis sudah mereka nasib mereka kini.
Mereka harus menerima kenyataan tentang identitas Neera yang dulunya mereka hina anak kampung.
Siapa sangka kampung yang mereka hina adalah tempat berdirinya sebuah peternakan besar yang sejatinya menjadi supplayer produk sapi terbesar di negara mereka bahkan luar negri.
Mereka yang selama ini menutup diri dan tidak mau dipusing dengan asal usul Neera memilih menjadikan itu sebagai suatu bahan untuk menyakiti perempuan malang itu.
Entah bagaimana nasib mereka, kebohongan mereka terbongkar dan kini mendapatkan amarah besar dari kepala keluarga yang sangat mereka takuti.
Sudah dipastikan uang bulanan mereka dipotong dan tidak menutup kemungkinan kartu kredit mereka ditarik. Saat itu terjadi hanya Ayyub harapan tersebar mereka.
Tapi bagaimana jika Ayyub juga mengetahui semua yang mereka lakukan pada istrinya dulu. Apakah ia akan tetap menjadi anak yang manis dan penurut atau malah berbalik memusuhi mereka. Entahlah karena marahnya orang diam itu sesungguhnya lebih menakutkan.
Dengan kaki dan tangan yang gemetar, mama, saudara perempuan, istri abang-abang dan suami kakak Ayyub memohon maaf dan bersimpuh dibawah kaki tempat Tuan Kaisar duduk.
"Jadi selama Neera disini segala kebutuhan hidup kita ditanggung oleh keluarganya ?" bukannya mempedulian anak istrinya, Papa Ayyub malah mencemaskan hal lain.
"Sepertinya tidak Pa, karena setau Upi Kak Neera memiliki pekerjaannya sendiri dan tidak pernah meminta orang tuanya. Bahkan dia mengajarkan Upi juga selalu mandiri" jawab si bungsu mengobati rasa penasaran semua orang.
"Lalu darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu setiap bulannya. Apalagi uang dari Ayyub saja tidak dia sentuh" pertanyaan yang sama dipikiran semua orang lebih dulu diajukan oleh Hakim
"Neera kan kerja bang" jawab Fazreen santai.
"Kamu pikir sebagai praktisi bisa menghasilkan uang sebanyak itu setiap bulannya, ditambah lagi kebutuhannya. Apa kamu juga tidak menyimak bahwa dia juga sering memberikan Luthfi barang mahal" kesal Hakim pada adiknya itu.
"Kalau soal itu aku kurang tau juga, tapi beberapa kali aku sempat lihat Kak Neera memeriksa berkas perusahaan, pernah juga aku memergoki dia sedang rapat pemegang saham kalau tidak salah baca dan juga Kak Neera kan punya usaha sendiri, masa kalian tidak tau" papar Lutfi santai yang membuat semua orang tercengang.
"Sudah dipastikan kalau dia salah satu pemegang saham di perusahaan keluarganya papa juga yakin sekali pasti dia juga yang mengembangkan usaha peternakannya sampai sebesar ini, tetapi dia pemain belakang layar. Melihat kemampuan dan keilmuan yang dimilikinya bukan hal yang tidak mungkin" papar Papa Ayyub sembari menghela napas panjang dan melihat anggota keluarganya masih duduk bersimpuh dilantai karpet.
__ADS_1
"Apa sekang kalian sudah paham bagaimana fatalnya perlakuan buruk kalian jika saja keluarga mereka dendam pada kita. Terlebih anak yang begitu mereka banggakan yang kini telah menjadi tokoh dunia kalian perlakukan lebih buruk dari seorang babu" kesal Papa yang masih ditanggapi sikap bungkam mereka.
"Bukan papa yang harus kalian dapatkan maafnya tetapi orang yang dahulu sudah kalian hina dan kalian sakiti hati dan fisiknya" jelas Kepala Keluarga itu yang sudah menurunkan nada bicaranya.
"Tapi pa.." ucapan mama yang langsung dipotong oleh suaminya.
"Tapi apa lagi, bahkan jika kini kalian ingin menemuinya papa yakin kalian tidak akan bisa menjumpai orang sepenting dia" kesal papa Ayyub yang melihat istrinya kembali beralasan.
"Papa tau sendiri, bagaimana mungkin kami akan meminta maaf padanya" keluh mama yang merasa dirinya saat ini masih aman.
"Papa harap jika suatu saat kalian bertemu dengannya lagi kalian harus memohon maaf padanya dan perlakukan dia lebih baik lagi untuk menebus kesalahan yang sudah kalian lakukan" patuah Papa Ayyub yang diamini oleh semua orang.
"Apa kalian tidak pernah berpikir keegoisan kalian sudah menyakiti banyak orang bahkan kalian sudah memperalat Ayyub dan secara tidak langsung kalian juga sudah menyakitinya berkali-kali. Harusnya dia bisa bahagia dengan kehidupan rumah tangganya namun kalian hancurkan itu semua"
"Kalian mengusir Neera demi Vina yang ternyata bahkan tidak bisa dibandingkan oleh mantu papa itu. Kini kalian menjodohkannya dengan Hanna yang ternyata demi mencapai karirnya rela menjual tubuhnya sendiri dan tidur dengan banyak lelaki" ungkap Tuan Kaisar yang sudah mengetahui kebenarannya.
Satu persatu tabir kelam masa lalu terbuka ke permukaan memperjelas semua rahasia yang selama ini tertutup rapi.
"Jadi papa mohon pada kalian, berhentilah memperalat Ayyub. Apakah kalian tidak bisa membayangkan betapa sulit menjadi dirinya. Terutama mama, disaat bersamaan ia dipaksa memilih antara kebahagiaan dirinya dan mama. Sejauh ini ia masih mendahulukan mama, berbakti dan tidak sedikitpun ia durhaka atau bersikap buruk pada mama meskipun kadang permintaan mama diluar kemampuannya"
"Apa mama tidak sadar bahwa selama dia berumah tangga dulu dia selalu mendahulukan mama dan mengesampingkan istrinya, apa mama pernah melihat Neera protes pada mama, bahkan mereka selalu melakukan yang terbaik untuk mama""
"Memang benar anak lelaki harus mendahulukan ibunya, tapi ada batasannya ma. Jika papa yang berada di posisi Ayyub papa tidak akan sanggup atau bahkan mama sekalipun jika berada diposisi Neera apa mama bisa bersikap sebaik dirinya" tutur Tuan Kaisar yang membuat istrinya berpikir dan mulai menyelami perasaannya.
"Kalian juga, apa hak kalian memperlakukan Neera seperti itu. Apa kalian memiliki derajat yang lebih tinggi dari dirinya. Apa yang kalian banggakan sehingga memandang rendah dirinya"
"Lihatlah perempuan yang kalian pandang rendah itu telah membanggakan negara, sementara kalian masih disini tak seorangpun mengenali kalian. Lalu dengan alasan apa kalian begitu mudahnya memperlakukan dia dengan buruk"
"Kalian sudah besar, bijaklah dalam berpikir. Tidak ada yang bisa kita sombongkan di dunia ini bahkan esok atau sebentar lagi bukan tidak mungkin kemewahan kalian akan diambil, karena roda kehidupan akan terus berputar"
__ADS_1
"Salah papa selama ini tidak mendidik kalian dengan benar, salah papa yang membiarkan semua ini terjadi, Papa yang gagal dan tidak mampu menjadi kepala keluarga yang baik" lirih sang papa yang kini sudah semakin lemah dan diiringi air mata yang menetes perlahan dipipi disertai isakannya.
Melihat keadaan papa yang terlihat tidak baik maka secepat mungkin Hakim, Fazreen dan Luthfi memeluk lelaki kebanggaanya itu. Sementara yang lain hanya mampu menunduk menyesali perbuatan mereka dan menatap nanar kepala keluarga yang begitu mereka cintai menyalahkan dirinya.
"Sudah Pa, ini semua bukan kesalahan Papa. Papa selama ini sudah mendidik kita dengan baik dan papa sudah menjadi Papa terhebat bagi kami" ungkap Hakim yang tidak sanggup melihat lelaki yang biasa tegas itu terlihat lemah seperti ini.
"Ayo Pa, kita istirahat dulu dan tenangkan pikiran Papa. Kami akan berusaha mencari Neera dan meminta maaf padanya atas nama keluarga kita" sambung Fazreen yang kini tengah memapah papanya menuju ruang kerja.
Tuan Kaisar tidak mau dibawa menuju kamarnya, ia meminta itu diantar ke ruang kerjanya dan mengistirahatkan diri disana.
Saat ini ia terlalu kalut melihat wajah istri dan anak-anaknya membuat rasa bersalahnya kian mencokol pada putra kebanggaanya dan menantunya dahulu.
Setelah meminum teh yang dibuatkan oleh pembantu mereka papa beristirahat ditemani oleh adik bungsu mereka Luthfi takut jika nanti terjadi hal buruk.
Hakim dan Fazreenkembali keruang keluarga tempat anggota rumah yang lain masih berkumpul.
Sebagai abang tertua Hakim merasa harus membimbing adik-adiknya meskipun kesalah yang mereka buat sangat fatal.
"Apa kalian senang sekarang melihat papa menyalahkan dirinya akibat perbuatan kalian" tanya Hakim yang ditujukan pada adik-adiknya.
"Kamu Shintia, tidakkah kamu sedikitpun menghargai aku sebagai suamimu. Bukankah aku sudah melarangmu memperlakukan Neera dengan buruk, posisi kalian itu sama. Tapi apa, kamu malah diam-diam bekerja sama dengan yang lain dibelakangku. Aku sungguh kecewa padamu" tutur Hakim menasehati istrinya.
"Dan kamu Riezka, kamu sudah menikah seharusnya bisa berpikir lebih dewasa bukannya bersikap kekanak-kanakkan seperti ini, dan kamu sebagai suaminya seharusnya membimbing dia kearah yang baik dan menasehati saat ia berbuat salah, bukan malah ikut-ikutan berlumpur bersamanya" kali ini ditujukan pada pasangan pasutri Riezka dan Danny.
"Kamu juga, seharusnya kamu bisa bersikap sopan karena dia kakak iparmu tapi kamu malah bersikap kurang ajar, mau jadi apa kamu ?" seru Hakim yang ditujukan pada adik perempuannya.
"Kamu juga Fazreen, nasehati istrimu. Abang yakin dia juga termasuk salah satu komplotan yang menganiaya Neera" sembur Hakim pada adik lelakinya.
Semua mendapat amukan sekaligus petuah-petuah si sulung dirumah itu. Memang setelah papanya, si sulung Hakim juga ditakuti dirumah itu. Karena saat ini dia memegang jabatan tinggi diperusahaan mereka dan juga pembawaanya yang tegas.
__ADS_1