
Ayyub Pov
Saat akan berangkat menuju restoran tiba\-tiba telponku berbunyi menandakan ada pesan baru. Ternyata dari pujaan hatiku yang mengatakan bahwa dia akan terlambat setengah jam.
Padahal aku sudah tidak sabar tapi dia malah mengundur waktu. Mungkin memang benar dia sangat sibuk. Jadi aku maklumi saja. Menunggu tiga tahun saja aku bisa apalah arti setengah jam.
Mungkin aku akan menyiapkan sedikit kejutan untuknya. Langsung aku menelpon restoran itu untuk memesan meja dan meminta untuk di set seromantis mungkin dengan tempat yang bagus.
Aku akan melakukan apapun untuk memenangkan hatinya lagi. Aku takut dia telah berpaling terlebih dengan keadaan dia sekarang pasti banyak yang berusaha mendekatinya seperti kata Sadiq tempo dulu.
Vina akan aku bereskan nanti yang terpenting aku jalani dulu apa yang ada di depan mata, itu pikirku.
Setelah pegawai restoran itu selesai melakukan tugasnya segera aku kebawah menuju tempat yang sudah di persiapkan.
Lebih baik aku memberikan kesan yang baik dengan menunggunya, tidak mungkin juga aku membiarkannya menungguku.
Beberapa menit kemudian aku sampai di restoran dan duduk di meja yang telah ku pesan tadi melalui telepon. Memang tidak mengecewakan mereka melakukan pekerjaannya dengan baik.
Tidak lupa aku membeli bunga yang telah dirangkai menjadi bucket yang indah perpaduan antara mawar merah, tulip dan baby breath yang mewakilkan rasa cinta ku padanya.
Aku begitu gugup, rasanya seperti pertama kencan padahal secara resmi dia masih istriku hanya saja sekarang aku tidak mengerti lagi bagaimana kejelasannya.
Mataku terus melihat ke arah pintu dengan harap harap cemas, aku takut dia kabur lagi tapi aku juga berharap setiap pintu yang terbuka akan membawanya.
Sudah enam orang yang masuk masih belum juga terlihat batang hidungnya, aku mulai resah takut jika dia benar\-benar tidak datang.
Mataku masih setia melihat kearah pintu masuk itu, tiba\-tiba aku melihat seorang wanita berhijab turun dari sebuah taxi dan berjalan lambat menuju pintu restoran.
Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas karena masih terhalang pintu dan jarak yang terlalu jauh. Aku terus berdo'a semoga itu adalah dia, orang yang sangat ku rindukan.
Sejenak aku menahan napasku, jangtungku berdetak tidak karuan. Ah sial bahkan keringat dingin telah membasi dahi dan punggungku. Ku sapu keringat dengan sapu tangan dan ku pastikan penampilanku sekali lagi.
Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik ..
Detik kelima aku menghela napas lega melihat siapa yang kulihat. Namun itu tidak bertahan lama. Aku mendadak kembali lupa cara bernapas melihat wanita yang sedang berbicara dengan waiters itu.
"Sepertinya kita memang pasangan yang sudah di takdirkan dari surga" batinku sembari memotret wanita yang tengah tersenyum itu tanpa di sadarinya.
Pujaan hatiku itu menggunakan setelan abu\-abu dengan blazzer yang dibuat sedikit mengembang dan jatuh bergelombang menutupi panggulnya yang tampak sesuai dengannya.
Dibagian bawah dia menggunakan celana kain dengan warna senada dengan atasannya sementara bagian dalam sepertinya dia menggunakan baju kaos butih.
Hijab dengan model pashmina itu menambah kesan lembut pada wajahnya. Sangat cantik, aku sanggat bangga padanya.
Bahkan di negara barat sekalipun dia mampu mempertahankan prinsipnya dan bahkan dia bisa berkarir tanpa melepaskan hijabnya, sebuah nilai plus untuknya.
Hari ini dia menggunakan sepatu dan tas tangan dengan warna pink soft yang membuat penampilannya makin muda dan fresh. Jangan lupakan lipstik pink di bibir indahnya membuatku ingin mencicipinya.
Ketika di tengah jalan dia membuka sun glasses dengan warna pink bening yang bertengger di pangkal hidungnya makin jelaslah terlihat wajah cantiknya.
Mereka semakin mendekat ke arah mejaku, sungguh aku begitu gugup sekarang. Segera aku berdiri berjalan mengitari setengah meja untuk menarik kursi yang ada di seberangku.
Kini dia sudah ada di depanku dan pelayan yang mengantarnya tadi telah pergi. Aku masih setia berdiri di belakang kursi. Ingin segera ku peluk wanita yang sangat ku rindukan ini, tapi aku takut dia marah dan kabur lagi.
"Assalamu'alaikum" salamnya mengembalikan diriku ke alam nyata.
"Wa'alaikumsalaam" jawabku gugup sambil tersenyum kikuk.
__ADS_1
Aku harap dia akan mencium punggung tanganku seperti dulu tapi tidak ada tanda\-tanda hal itu akan terjadi, maka ku persilakan saja dia duduk dan mendorong kursi yang di dudukinya ke arah dalam.
Kemudian aku kembali ke kursiku dan memberikan bunga yang sudah ku persiapkan tadi padanya.
Dengan wajah bingung dia menerima bunga itu dan setelahnya dia berterima kasih padaku dengan senyum di wajahnya. Ah.. senyum yang kurindukan itu, lesung pipi yang sama bahkan sekarang senyumannya terlihat berkali\-kali lebih indah.
Sungguh hatiku sejuk melihat senyumnya, seakan meleleh sudah benteng di hatiku, aku merasakan kehangatan setiap melihat wajah yang tersenyum itu dengan mata indah yang menatap pada mataku.
"Bagaimana kabarmu sayang ?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Alhamdulillah baik, kamu bagaimana ?" tanya balik dia padaku.
Bahkan mendengar suaranya saja aku luluh, buyar semua kekecewaan dan kemarahanku dulu padanya.
"Alhamdulillah, tapi tidak sebaik kamu" jawabku.
"Maksudnya ?" tanyanya.
"Kita pesan makan dulu, setelahnya kita bicara" alihku.
Permasalahan ini tidak bisa dibicarakan sekarang, kami harus makan dulu agar nanti tidak merusak suasana dan menghilangkan nafsu makan.
"Baiklah" jawab Neera singkat padaku.
"Kamu sudah menentukan pilihanmu ?" tanyaku lagi.
"Salad saja" balasnya.
Dia hanya tersenyum ke arahku.
Setelahnya aku pesankan stik untuknya dan diriku serta salad yang dipilihnya. Aku tau dia hanya mempersingkat waktu pertemuan kami, tapi aku tidak akan membiarkannya. Aku akan mencari cara untuk menahannya bersamaku.
Sambil menunggu pesanan ku perhatikan dia dengan lekat. Pandangannya selalu melihat kebawah atau dia memalingkan wajahnya ke arah jendela di samping. Sepertinya dia menghindari pandanganku.
Aku juga melihat kekhawatiran dan ketakutan dalam bola matanya, kerutan di dahinya terlihat jelas pertanda dia berpikir keras.
Entahlah aku selalu tau apa yang dia rasa hanya dengan melihat matanya, walaupun dia berusaha untuk menutupinya dan bersikap setenang mungkin.
"Sayang, kamu baik-baik saja ?" tanyaku menyelidik.
"hmm, baik kok" jawabnya singkat di tambah senyumnya.
"Kenapa kamu terlihat khawatir, apakah ada sesuatu yang salah ?" tanyaku lagi.
"Ah.. tidak ada" jawabnya lagi.
"Lalu?" kataku menuntut.
"Ah itu, aku hanya takut terlambat untuk janjiku nanti" jawabnya ragu.
Benar saja, dia berusaha menghindariku.
"Baiklah sayang, kita mainkan" batinku sambil tersenyum penuh makna.
"Memang jam berapa janjimu ?" tanyaku lagi.
"Satu jam lagi" balasnya pelan.
__ADS_1
"Apa ?? Apakah kamu bercanda ?" seruku dengan nada tidak percaya.
"Maafkan aku" jawbanya lirih sembari menundukkan kepalanya.
"Hufft......" ku lepaskan napas kasar dan itu membuatnya semakin menundukkan kepalanya dalam.
"Baiklah, makanlah dulu setelah itu akan ku antar" jawabku pasrah.
"Ah tidak perlu, aku bisa pergi sendiri" tolaknya.
"Jangan menolakku" putusku tegas.
Dia semakin menundukkan wajahnya tidak berani menatapku. Aku begitu kasihan melihatnya tapi aku juga sangat kesal. Bisa\-bisanya dia membuat janji temu dengan jeda waktu yang sesingkat ini.
Aku tau dia berusaha menghindar dan lari dariku, tapi aku tidak mengerti kenapa dia lakukan itu. Aku ingin tau alasan dan pejelasan dari mulutnya sendiri.
Makanan sudah tersaji di meja makan dengan perlahan aku memotong stik dan memasukkannya ke mulut begitupun dengan dirinya. Tapi dia terlihat gelisah dan kesulitan menelan makanannya bahkan berkali kali kulihat dia meneguk air putih yang ada di gelas.
"Apakah makanannya tidak enak ?" tanyaku dan membuatnya langsung menghentikan gerakan tangannya.
"Tidak, ini sangat enak" jawabnya masih melihat makanannya.
Aku semakin bingung dengan sikapnya, ada apa sebenarnya dengan dirinya. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan sungguh aku semakin penasaran di buatnya.
Sayangnya aku tidak bisa mengetahui apa titik permasalahannya, sehingga aku hanya menerka\-nerka yang membuatku semakin kesal di buatnya.
"Lalu, apakah kamu tidak nyaman denganku ?" tanyaku lagi.
Uhuk..
Tiba\-tiba saja dia tersedak makanannya segera aku memberikan minuman yang lansung di teguknya.
Kini mukanya sudah merah padam akibat tersedak dan sudut matanya sedikit mengeluarkan air mata.
Spontan aku julurkan tangan untuk menghapus air matanya dengan ibu jari sedangkan telapak tanganku otomatis membelai kulit wajahnya yang terasa lembut dan halus dan saat itu juga tubuhnya membeku dan tatapannya perlahan mengarah padaku.
Baru kali ini dia berani menatapku secara langsung semenjak pertemuan tadi. Lama kami terdiam sambil memandang dalam bola mata masing\-masing dengan tanganku yang masih setia bertengger di pipinya.
Tatapannya nanar penuh luka, ketakutan, kekhawatiran dan permohon, membuatku terpaku cukup lama mengartikan apa artinya semua yang kulihat itu, bahkan aku dapat merasakannya, membuat hatiku seakan tercubit hanya dengan melihatnya.
"Terima kasih" ucapnya sembari menurunkan tanganku dan menundukkan wajahnya.
"Ah iya, apakah sudah tidak apa-apa ?" tanyaku khawatir.
"Hmmm" dia bergumam sambil menganggukan kepalanya.
"Yasudah, biarkan saja jangan di makan lagi" ucapku masih menatap lekat kearahnya.
"Nanti mubazir" jawabnya lirih masih terdengar olehku.
"Ya sudah kita minta untuk di bungkus saja" saranku.
Karena memang makanan kami masih tersisa banyak bahkan salad itu belum tersentuh sama sekali. Salah satu yang ku kagumi dari wanita di depanku ini dia selalu tidak mau membuan\-buang makanan, begitu banyak kelebihannya di mataku bagaimana mungkin aku tidak mencintainya.
Setelah meminta pegawai membungkus makanan kami dan membayar bill aku mengantarkannya dengan mobil yang kubawa sendiri sementara dia duduk di sampingku dalam diam.
__ADS_1