Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 132


__ADS_3

Neera yang juga terkejut dengan situasi mencoba untuk menenangkan triplets yang sepertinya sangat tidak nyaman. Berbagai upaya Neera lakukan untuk membujuk mereka tetapi ketiganya tetap merengek dan minta digendong.


Akhirnya Neera memutuskan duduk di sofa ruang keluarga itu dan membawa triplets ke pangkuannya agar sedikit tenang.


Ketiganya langsung merangkul erat Neera dan membenamkan kepalanya ketubuh Neera. Menghirup aroma tubuh bundanya yang menenangkan.


Tidak berselang lama datanglah ipar Ayyub, suami dari kakaknya yang tersenyum sumringah kearahnya. Bukannya senang Neera malah ngeri melihat itu.


Bagaimana tidak, ia tersenyum seakan menyimpan sesuatu. Perlahan dia mendekat dan duduk di samping Neera.


Neera sedikit mengeser karena jarak yang terlalu dekat, lagi pula mereka bukan muhrim ditambah Neera sama sekali tidak dekat dengannya. Bahkan Neera hampir melupakan siapa lelaki itu.


"Hi Zee, aku panggilnya Zee saja ya. Soalnya namanya cantik seperti orangnya" ucap lelaki itu membuat Neera merinding.


"Iya kak, terima kasih" jawab Neera untuk sekedar basa basi.


"Hmm Zee kamu sudah lama tinggal di luar negri, dimananya, boleh ya aku kapan-kapan main kesana. Sekalian nanti aku lihatin kamu Ayyub kan jarang pulang ya" cerocos lelaki itu dengan senyumannya yang membuat Neera sedikit tidak nyaman.


Meskipun jengah tetapi Neera tetap membalas perkataan ipar Ayyub dengan angukan dan sedikit senyum tipis sekedar menghargai.


Menurut Neera percakapan yang dilontarkan suami kakak Ayyub itu sudah bukan lagi ranahnya dan apalagi terkesan sok tau dengan keadaan keluarga mereka, membuat Neera ingin cepat kabur dari sana.


"Ohiya Zee, anak kamu lucu banget. Boleh kenalan gak. Ayo sini main sama Uncle" tutur lelaki itu sekaligus menatap triplets dan berusaha meraih Qalundra yang langsung ditepis balita itu dan dihadiahi tangisan.


"Aduh., maaf ya kak. Mereka lagi tantrum sepertinya jetleg dan belum terlalu biasa disini" seru Neera saat melihat lelaki itu terbengong atas respon Qal.


Sejujurnya Neera senang dan berharap ipar Ayyub itu segera pergi akan tetapi keadaan berkata lain. Pria itu tetap disana dan mencoba membujuk Qai dan Qee yang akhirnya juga menagis.


Beruntung saat itu Ayyub lewat dan langsung dipanggil Neera.


"Sayang, tolongin anaknya yang" seru Neera sengaja menggunakan kata sayang didepan ipar Ayyub.

__ADS_1


"Ya ampun, mereka kenapa sayang ?" tanya Ayyub yang tadi sempat merasa aneh atas keberadaan iparnya didekat anak dan istrinya.


"Lagi tantrum yang, sepertinya masih jetlag. Gak biasanya rewel gini" jelas Neera yang masih berusaha menenangkan ketiganya.


Begitu juga dengan Ayyub yang langsung menggendong Qal dan Qee untuk menenangkannya.


"Yasudah sayang, kita harus ketemu papa dulu. Kami permisi dulu ya Bang" pamit Ayyub pada iparnya yang masih setia memperhatikan Neera.


"Ah iya, silakan. Aku juga mau ke kamar" kaget ipar Ayyub yang sedari tadi terbius akan kecantikan istri adik iparnya itu.


"Bang Dio sudah lama tadi yang disana" tanya Ayyub pada Neera.


"Iya lumayan, Neera tidak terlalu perhatian soalnya triplets dari tadi rewel" jawab Neera seadanya.


"Tumben banget dia, perasaan kan dia tim anti kamu juga" heran Ayyub.


"Ya mana aku tau" jawab Neera singkat.


Dan kini sampailah mereka dirungan kerja Tuan Kaisar yang terkesan classic dan didominasi warna coklat dari furniturnya.


Saat Fazreen dan Luthfi kedua saudara Ayyub mencoba membujuknya mereka tetap kekeuh menenggelamkan wajah di pundak orang tuanya.


Akhirnya saat ini mereka berkumpul di ruang kerja bersama Papa, Bang Hakim, Bang Fazreen serta adik lelaki Ayyub Luthfi.


Beruntung saat ini triplets sudah sedikit tenang setelah diberikan Neera minum yang selalu ia bawa kemanapun dan air mata mereka sudah mulai surut.


"Jadi ini adalah cucu Papa ?" tanya Papa Ayyub yang masih terbius pada cucu yang sangat diharapkannya.


"Iya Tuan. Maafkan Neera baru sempat membawanya kesini saat sudah sebesar itu Tuan" sopan Neera yang dipenuhi rasa bersalah.


"Tidak nak, Papa mengerti kesulitan mu saat itu dan Papa mohon jangan memanggil Tuan, Papa sudah cukup malu dan merasa sangat bersalah padamu Nak, panggilah Papa. Bukankah Neera masih menantu Papa yang berarti anak Papa juga" sendu Papa Ayyub dan terlihat matanya berkaca-kaca memancarkan rasa bersalah itu.

__ADS_1


Seketika air mata Neera langsung luruh, ia tidak menyangka akan diterima kembali oleh papa mertua yang dulunya selalu terkesan dingin dan lebih cuek.


Tidak pernah terbayangkan oleh Neera Tuan Kaisar akan memperlakukannya sedemikian baik dan bahkan menangis untuknya.


"Terima kasih Pa, maafkan atas kesalahan Neera dulu yang pergi begitu saja tanpa pamit" sesal Neera yang juga merasa bersalah.


"Tidak Nak, Papa yang seharusnya meminta maaf. Tidak seharusnya Papa membiarkan kamu mengalami hal buruk itu dirumah sendiri, tidak seharusnya kamu diperlakukan hina oleh keluarga sendiri. Papa yang salah, Papa tidak tau penderitaan yang kamu alami saat itu bahkan dirumah Papa sendiri. Papa orang tua yang buruk Nak, maafkan Papa. Sungguh Papa tidak ada muka untuk menghadap kamu dan orang tuamu Nak" sesal Tuan Kaisar yang sudah menunduk hendak duduk dilantai, dihadapan Neera.


"Tidak Pa, jangan begini. Papa tidak salah, semua ini terjadi bukan karena Papa. Maafkan Neera Pa. Papa adalah orang tua yang hebat. Ini semua bukan salah Papa, semua itu adalah takdir yang sudah digariskan untuk Neera" balas Neera yang langsung menghampiri Tuan Kaisar yang akan bersimpuh didepannya.


Mana mungkin Neera membiarkan orang tua suaminya yang berarti orang tuanya juga bersimpuh dikakinya. Bahkan meminta ampun bukan atas kesalahannya langsung.


Setelah melepas Qai sebentar Neera segera membawa Tuan Kaisar duduk ditengah antara ia dan suaminya. Kembali memangku Qai, Neera mengambil alih tangan Papa Ayyub dan menyalimnya di kening.


"Maafkan Neera Pa, semua sudah berlalu. Semua yang terjadi dahulu sudah Neera ikhlaskan dan Neera ambil hikmahnya. Jika dulu tidak terjadi hal tersebut mungkin Neera tidak akan menjadi Neera yang sekarang. Sudahlah Papa, semua bukan salah Papa. Jangan terus menyiksa diri Papa begini, Papa harus kembali semangat dan kuat. Lihatlah saat ini Papa bahkan sudah memiliki cucu" hibur Neera sembari menggenggam tangan mertuanya.


"Baiklah nak, kamu memang anak yang baik. Beruntung sekali Papa mendapatkan menantu hebat seperti Neera. Tapi apapun itu Papa tetap ingin meminta maaf atas perlakuan mama dan saudara iparmu. Mungkin Papa yang tidak bisa mendidik mereka dan Papa juga ingin menemui besan untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung nak" tutur Papa Ayyub.


"Baiklah Pa, InsyaAllah sudah Neera maafkan. Nanti akan Neera sampaikan ke Apa dan Ama, berkunjunglah ke kampung kami Pa, pasti Apa dan Ama sangat senang" balas Neera dengan senyuman hangatnya.


"Baiklah nak, nanti Papa akan berangkat kesana" putus Papa Ayyub.


"Adik Ipar, maafkan juga kesalahan Abang dan istri yang ternyata juga ikut menindasmu waktu itu. Abang sungguh sangat menyesal tidak mengetahui semua saat itu dan abang tidak mengajarinya dengan baik" timpal Hakim abang tertua Ayyub.


"Begitupun juga dengan Abang Neera, maafkan perlakuan istri abang dan kesalahan abang yang lalai dalam mendidiknya" sesal Fazreen abang kedua Ayyub.


"Sama-sama Bang, Neera juga minta maaf jika dulu selama disini Neera berbuat kesalahan yang disengaja ataupun tidak dan juga saat itu Neera pergi tanpa pamit" balas Neera masih dengan senyum yang meneduhkan.


"Upi juga minta maaf kak, Upi tidak mampu melindungi kakak saat itu. Upi sangat sayang kakak tapi Upi tidak tau gimana harus membantu kakak. Upi rindu kakak" tutur Luthfi yang sudah berurai air mata dan berdiri didepan Neera.


"Uluh sayang, kakak juga kangen kamu. Terima kasih saat itu selalu ada untuk kakak dan menemani kakak disini" balas Neera yang merangkul adik ipar nya.

__ADS_1


Memang saat itu Luthfi satu-satunya orang yang paling dekat dengannya di rumah ini. Luthfi yang selalu menghiburnya dan tau apa yang terjadi padanya saat itu.


Karena keadaan anak lelaki itu tidak berdaya dan tidak tau harus berbuat apa disamping takut dengan mama dan kakak-kakaknya. Luthfi memang sepantaran adek Neera hanya lebih tua setahun oleh sebab itu Neera juga menganggap sebagai adiknya sendiri.


__ADS_2