Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 151


__ADS_3

Seperti biasa triplets akan selalu nelor alias nempel molor. Hal itu dimanfaatkan Ayyub untuk bermanja dengan istrinya.


Tangan kekar itu kini tengah membelit erat tubuh mungil istrinya dan kepalanya bersandar di bahu Neera.


"Uda, sudah dong. Duduk yang baik kenapa sih" bisik Neera yang takut terdengar oleh mertuanya.


"Emang kenapa sih yang, Uda kan kangen" rengek Ayyud seenaknya.


"Ssst suara Uda itu loh, nanti mama sama papa dengar kan malu" bisik Neera.


"Gak kan sayang kan kita dibelakang, lagian kalo kedengaran kan gak papa juga, toh sudah suami istri" elak Ayyub yang masih nemplok juga.


"Suami istri juga ada malunya Uda" ucap Neera yang sudah tak habis pikir dengan suaminya.


Sedangkan Tuan dan Nyonya Kaisar ternyata sedari tadi diam-diam memperhatikan tingkah anak dan menantu mereka sambil tersenyum.


Hal yang belum pernah mereka lihat dari putranya karena sedari kecil Ayyub jarang sekali bersikap manja bahkan terkesan mandiri dan mengalah pada saudaranya yang lain.


Keduanya lantas menatap penuh arti dengan senyum bermakna yang hanya dimengerti oleh pasangan paruh baya tersebut.


Setelah memasuki gerbang utama Neera membangunkan ketiga buah hatinya karena setelah ini sepanjang jalan mereka akan disambut berbagai jenis satwa.


"Sayang, bangun nak. Katanya mau lihat binatang, kita sudah sampai loh" lembut Neera sembari mengusap lembut kepala ketiganya.


Seperti biasa, saat mendengar suara lembut bundanya mereka langsung bangun dan mengeliat.


"Kalian kenapa kalau sama bunda nurut terus kalau sama ayah kenapa berkali-kali dulu baru nurut ?" pertanyaan itu meluncur begitu saja saat Ayyub melihat begitu mudahnya buah hati mereka membuka mata saat mendengar suara lembut istrinya.


Bukannya jawaban Ayyub malah mendapatkan tatapan bingung anaknya yang masih bermuka bantal membuat seisi mobil menertawakannya.


"Sudah Ayah, anaknya baru bangun langsung ditanya. Mereka masih loading yah" lerai Neera pada suaminya.


"Bunda, kita kok masih di mobil katanya sudah sampai" tanya Qai yang mengabaikan pertanyaan ayahnya diawal.


"Iya sayang, lihat itu disampingnya Qai ada apa ?" tanya Neera yang kebetulan anaknya itu berada dekat jendela.


"Wah..., ada rusa bunda" seru Qai yang langsung menarik perhatian Qal dan Qee.


"Bunda, Qee juga mau lihat bunda" rengek Qee yang kesusahan.

__ADS_1


"Yasudah, Qee sama ayah saja ya" usul Neera yang langsung melepaskan Qee dari seatbeltnya dan memberikan pada Ayyub karena posisi suaminya berada di dekat jendela.


"Bunda, Qal juga mau lihat yang dekat bunda" si cantik juga ikut merengek yang membuat Neera jadi bingung dimana harus meletakkan Qal.


"Yasudah, Qal sama Oma saja ya. Disini juga lebih jelas lagi" usul mama yang membuat Qal begitu senang.


"Horeee.., Qal didepan, wah itu lihat Oma" teriak Qal kesenangan.


"Bunda Qai juga mau didepan bunda, boleh bunda ?" tanya Qal yang ingin juga melihat lebih jelas.


"Boleh, sini sama Opa" usul Papa tiba-tiba.


Akhirnya Neera kembali melepaskan seatbelt Qai dan memberikannya pada Papa untuk dipangku.


Jadilah ketiga balita itu sibuk mengagumi satwa yang dilihatnya dengan segudang pertanyaan mereka yang membuat para orang tua itu pusing tujuh keliling.


Baru dua jenis satwa yang mereka lewati tiba-tiba handphone Ayyub berbunyi menandakan ada panggilan masuk.


Neera yang mengerti akhirnya mengambil Qee dari pangkuan Ayyub dan membawanya kesisi jendela yang lain setelah melepas seat car Qaivan.


"Bunda, bunda itu tiger kan bunda" seru Qee pada bundanya.


"Bunda, tiger itu kan kalo disini bilangnya harimau" ujar Qee yang kembali mendapatkan kecupan sayang dari bundanya.


"Masya Allah, anak siapa ini pintar sekali" puji Neera lagi dengan gemas.


"Bunda harimau itu kan ada harimau benggala, harimau sumatera, harimau jawa terus apa lagi bunda ?" tanya Qee antusias.


"Qee mau tau semuanya atau sedikit saja ?" tanya Neera menanyakan kesiapan putranya karena takut nanti dia bosan jika harus disebutkan semua.


"Semua dong bunda, kan Qee biar pintar" semangat Qee.


"Baiklah, sebenarnya harimau itu ada 9 spesies atau jenis orang biasa sebutnya. Tapi yang masih ada sekarang hanya 6 spesies itupun sudah hampir punah, sisanya yang 3 lagi sudah punah sayang" lembut Neera pada putranya.


"Punah itu apa bunda ?" bingung Qee.


"Punah itu artinya sudah habis di bumi ini, sudah mati semua dan tidak ada lagi yang tersisa" jelas Neera.


"Kasihan ya bunda, terus apa saja yang masih ada bunda ?" tanya Qee lagi.

__ADS_1


"Ada harimau siberia atau orang sebut harimau amur, harimau indocina, harimau malaya, harimau cina selatan terus yang Qee bilang tadi ada apa lagi ?" tanya Neera memancing putranya.


"Harimau sumatera sama Harimau benggala bunda, eh terus ada harimau jawa" ujar Qee.


"Eits..., tunggu dulu. Harimau jawa itu termasuk yang sudah punah bersama harimau bali dan harimau kaspia" jelas Neera.


"Wah.., kasihan ya bunda. Kenapa harimaunya bisa punah sih bunda ?" tanya Qee lagi.


"Karena orang yang tidak bertanggung jawab suka memburu mereka terus dibunuh ada juga yang memang mati dihutan karena tempat tinggal mereka sudah diambil, ada yang sakit" jelas Neera kembali.


"Kenapa mereka dibunuh bunda, kan mereka gak salah bunda ?" tanya Qee lagi.


"Manusia mau ambil kulit dan bulunya buat di jadiin karpet dan mantel terus ada juga yang dijadiin obat, ada yang dimbil taringnya juga sayang" jelas Neera dengan sabar.


"Terus kenapa tempat tinggalnya juga diambil bunda ?" tanya Qee lagi.


"Karena orang-orang mau menjadikan itu perkebunan atau tempat tinggal baru, jadi hutan tempat mereka ada yang ditebang terus ada yang dibakar juga" ujar Neera.


"Kasihan ya mereka bunda, boleh gak kita bawa kerumah saja biar ada rumahnya ?" tanya Qee yang membuat Neera terkejut sekaligus bahagia, sejujurnya ia juga ingin memelihara kucing besar itu tetapi dengan izin.


"Hmm kalau masalah itu coba Qee tanya sama Ayah" bisik Neera.


"Ayah, Qee boleh gak bawa pulang harimau ?" tanya lantang Qee yang membuat semua orang terkejut.


"Hah ? Apa sayang, Qee mau bawa pulang harimau, harimau itu ?" tanya Ayyub sembari menunjuk salah satu harimau yang sedang mereka lewati.


"Iya Ayah, Qee mau bawa mereka pulang ke rumah" yakin Qee.


"Loh, tapi kenapa sayang ?" tanya Ayyub bingung begitupun dengan Tuan dan Nyonya Kaisar yang tidak habis pikir dengan permintaan cucu mereka.


"Karena mereka kasihan ayah, kalau di hutan mereka diburu terus rumahnya diambil ayah jadi mereka gak punya rumah lagi. Kita bawa saja pulang ayah biar mereka bisa punya rumah lagi" jelas Qee yang semakin membuat Ayyub bingung mau menjawab apa.


"Tapi kan sayang, mereka rumahnya di hutan yang banyak pohon-pohonnya. Bagaimana kalau mereka gak nyaman nanti di rumah kita ?" bujuk Ayyub.


"Kan di rumah kita banyak pohon Ayah, kalau kurang nanti kita tanam lagi lebih banyak biar harimaunya senang" yakin Qee yang membuag Ayyub semakin kalut.


Sejenak Ayyub melihat pada istrinya berharap mendapat dukungan tetapi apa daya saat itu istrinya memilih mengalihkan pandangan ke arah luar jendela karena sesungguhnya dalam hati terdalamnya juga menginginkan satwa itu.


Sementara Tuan Kaisar berusaha menahan tawanya melihat putranya yang tersudut akan permintaan anaknya. Sebenarnya bisa saja ia mewujudkan mimpi cucunya itu tetapi ia ingin melihat tanggapan putranya dulu.

__ADS_1


Sedangkan Nyonya Kaisar yang sebenarnya sedari tadi mendengarkan percakapan antara cucu dan menantunya itu dibuat kagum, betapa sabar dan luesnya Neera dalam mendidik triplets sehingga mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas dan kritis.


__ADS_2