
Seperti janji Ayyub dan Neera pada ketiga buah hatinya, hari ini mereka jalan-jalan mengelilingi kota Mekkah yang menjadi pusat kiblat umat muslim sedunia. MEmanjakan ketiganya dengan hal yang ingin mereka lakukan. dari main, makan hingga kali ini Ayyub membebaskan mereka untuk memiliki apapupun yang mereka mau agar mereka merasa memiliki adik adalah kebahagiaan bagi keluarga kecil itu.
Meskipun demikian Ayyub selalu bertindak proektif pada Neera, sebentar-sebentar menyuruh Neera istirahat, bertanya ini itu bahkan sampai menawari banyak makanan. Alhasil Neera capek sendiri dengan tingkah konyol suaminya. Neera begitu mengerti bahwa suaminya sangan excited berperan sebagai ayah siaga berhubung ini adalah pengalaman pertama baginya. Hal itu juga membuat Ayyub merasa bersalah pada triplets karena sama sekali tidak ada pada saat mereka hadir di dunia ini.
Dalam hati Ayyub selalu merasa bersalah dan berjanji akan memberikan semua yang terbaik bagi buah hatinya. Apapun akan ia upayakan agar mereka tumbuh kembang dengan baik, mendukung semua impian mereka dan selalu ada disamping mereka hingga maut yang akhirnya memisahkan kelak.
Memiliki Neera sebagai istri dan anak-anak Sholeh, cerdas dan santun merupakan sebuah kesempurnaan bagi Ayyub. Namun, sayang rasanya jika bibit unggul yang dihasilkan oleh Neera hanya sedikit terlebih cara mendidik Neera bisa menjanjikan banyak penerus bangsa yang berkualitas kedepannya, sungguh sayang jika dilewatkan. Dasar Ayyub saja yang ingin memiliki banyak anak terlebih ia sangat suka dengan proses membuatnya bersama Neera.
Lelah seharian bermain dan belanja membuat mata ketiga balita itu mengantuk di kursi makan mereka. Neera yang menyadari itu segera mengambil tisu basah dan mengelap tangan, wajah hingga kaki mereka yang terkena sisa pasta. Tanpa sadar Neera mengangkat Qee yang sudah mulai merosot dari sandaran kursinya. Hal itu membuat Ayyub hampir jantungan melihat betapa gesit wanita yang tengah hamil muda itu bergerak.
"Sayang...., hati-hati yang, kenapa gak minta ayah saja. Bunda lupa kalo lagi hamil, mana Qee sudah gembul begitu, berat sayang" omel Ayyub yang lagi-lagi membuat Neera merasa bersalah.
"Maaf ayah habisnya sudah kebiasaan, bunda kan reflek daripada nanti Qee terjatuh kan kasihan" bela Neera.
"Yasudah, mulai sekarang Bunda harus lebih membiasakan diri dengan bergantung penuh pada Ayah. Ayah hanya tidak ingin Bunda dan anak kita yang diperut kenapa-kenapa sayang" akhirnya Ayyub mengalah.
__ADS_1
"Baiklah, berarti ayah ya yang angkat mereka semua ke mobil" goda Neera yang mendapat cubitan gemas di hidung cantiknya.
"Tentu saja Ayah, memangnya mau siapa lagi" jawab Ayyub yang langsung menggendong Qee dan Qai sementara Qal ditidurkan di stroller baby. Neera berjalan mendorong stroller duduk sembari membawa tas mereka. Sebenarnya Neera lebih ingin menggendong anaknya karena jelas tidak akan nyaman tidur dengan posisi duduk begitu tetapi ia juga sadar bahwa kandungan Neera masih terhitung rentan.
Pulangnya Ayyub sengaja membawa Neera ke rumah sakit ibu dan anak terbaik di kota itu. Setelah meminta seorang perawat anak menjaga triplets di mobil yang sudah dibuat senyaman mungkin untuk ketiganya tidur. Neera juga berpesan agar segera mengantarkan triplets pada mereka jika nanti menangis karena Neera tau mereka sangat sensitif.
Benar saja, belum ada lima menit Neera dan Ayyub berada di ruangan periksa pintu itu diketuk oleh seseorang diiringi suara Isak anak kecil. Ayyub segera membuka pintu meninggalkan Neera yang masih diperiksa menggunakan USG. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan tips yang besar untuk perawat itu Ayyub segera masuk kembali membawa ketiganya dalam gedongan. Mereka berjalan sendiri karena memang ketiganya cenderung tidak mau digendong orang asing selain keluarga.
Mata yang begitu sayu tiba-tiba terbuka lebar saat berada di ruang periksa. Mereka ingin menangis lagi saat bundanya tidur di ranjang periksa dan perutnya ditempeli alat yang mereka tidak tau apa namanya. Beruntung Neera segera mengalihkan perhatian ketiganya dengan gambar yang ada di layar lcd besar di depan mereka.
"Sayang-sayangnya Bunda, coba lihat di atas itu ada apa ya di perut Bunda. Bu Dokternya sedang periksa Bunda ya nak, baik ya Ibu Dokternya" Neera mengajak triplets berbicara dalam bahasa Arab standar agar semua orang disana mengerti. Satu bulan sudah cukup bagi triplets untuk mempelajari bahasa negara itu ditambah Neera selalu mengajak mereka berbicara dengan orang sana.
Mereka meminta turun karena ingin memeluk bundanya, awalnya Neera takut akan mengganggu pemeriksaan tetapi karena mereka sudah berjanji akan diam maka Neera membiarkan mereka duduk. Meskipun begitu Ayyub tetap berdiri di samping mereka khawatir akan terjatuh.
"Masya Allah anaknya pintar-pintar ya Bu, sopan sekali, mengerti kalau dikasih tau. Insya Allah adik-adiknya nanti akan mencontoh kakaknya" ujar Dokter yang tanpa sengaja mengatakan hasil pemeriksaannya karena terpesona dengan triplets.
__ADS_1
"Amiin.., eh apa tadi Dok ?! Anak-anak ?" kaget Ayyub yang baru menangkap perkataan Dokter.
"Ah iya.., saya sampai lupa menyampaikan karena sudah teralihkan oleh triplets. Selamat Bapak, Ibu kali ini mendapatkan anak kembar lagi tetapi yang ini twin" ujar sang Dokter yang membuat Ayyub terdiam sebelum akhirnya sujud syukur untuk yang kesekian kalinya.
Begitu juga dengan Neera yang membaca do'a sujud syukur dan berkali-kali melafazkan hamdalah sembari memuji kuasa Allah. Nikmat mana lagi yang akan ia dustakan, setelah semua nikmat yang ia rasakan maka ia rasa syukur tidak akan cukup untuk anugerah indah ini. Sebenarnya sejak melihat gambaran hasil USG Neera sudah mengerti bahwa dia hamil anak kembar tetapi ia hanya ingin memastikan lagi dari dokter kandungan.
"Abang dan kakak coba lihat itu ada adeknya dua, kembar juga seperti Abang dan kakak" ujar Neera melibatkan ketiga buah hati mereka.
"Dimana Bunda ?" bingung ketiganya sembari memperhatikan layar LCD tersebut.
"Itu Nak, coba minta tunjukkan sama Ibu Dokternya" jawab Neera sementara tangannya terus digenggam Ayyub yang tiada henti mengucap terima kasih pada Neera.
"Ibu Dokter, adeknya kita dimana Bu Dok. Boleh kami lihat Ibu Dokter ?" tanya Qai yang disetujui kedua saudaranya.
"Tentu saja boleh anak pintar. Coba Abang dan kakak lihat ini ada bulat yang berwarna kecil dua, nah itu adalah calon adeknya tapi masih sangat kecil di perut Bunda. Abang dan kakak bantu jaga adek dan bundanya ya..." jelas Dokter kandungan pada ketiganya.
__ADS_1
"Okey Bu Dokter, kita akan jaga bunda dan adek bayi. Terima kasih Ibu Dokter" ujar ketiganya dengan santun.
Sementara itu Dokter memfoto hasil USG dan mencetaknya. Sembari menjelaskan bahwasannya usia kandungan Neera ternyata sudah memasuki usia 12 Minggu yang artinya mereka tidak menyadari kehadiran bayi kembar itu di rahim Neera.