Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 168


__ADS_3

Di sore hari yang lumayan terik itu terlihat dua pria yang memasuki kediaman mewah. Wajah keduanya terlihat datar, entah apa yang ada di pikiran mereka.


"Sayang... kamu sudah pulang. Kemana saja kamu selama ini. Apa kamu sudah memaafkan aku sayang ?" runtun Shintia yang melihat kedatangan Hakim.


"Diam, kau tunggu saja surat cinta dariku" smirk Hakim dengan tatapan remehnya.


Sungguh ia muak melihat muka Shintia, rasa cinta yang begitu besar kini malah seketika menjadi benci akibat kekecewaan yang terlalu dalam ia rasakan.


Berbeda dengan Hakim, Shintia malah merasa diatas angin karena mendengar surat cinta dari suaminya. Ia masih begitu yakin bahwa Hakim teramat sangat mencintainya dan akan memaafkannya seperti sebelumnya.


Jelas saja, perempuan itu tidak tau bahwa suaminya telah mengetahui kebusukannya, ia hanya berpikiran suaminya hanya marah sebentar dan tidak akan bisa jauh darinya. Pasti nanti digoda sedikit sudah baik lagi. Begitulah isi pemikiran Shintia.


Tanpa mempedulikan perempuan yang tengah tersenyum palsu itu Hakim terus berjalan mengikuti Ayyub menuju kamar adik perempuan mereka, Nola.


"Bagaimana keadaanya Bang ?" tanya Ayyub pada Fazreen.


"Dia baik-baik saja, kita hanya perlu menunggu dia siuman" jawab Fazreen lesu.


Ayyub sejenak melihat seorang gadis yang sedang tertidur diatas kasur itu. Ada perasaan marah juga kecewa dengan adiknya itu. Ia tidak menyangka adik perempuannya akan bersikap demikian, ia merasa gagal menjadi kakak.


Padahal Nola ini selalu menurut padanya. Selalu terlihat baik dan manis padanya, atau semua itu hanya palsu saja. Ayyub taunya adik perempuannya itu hanya tidak menyukai istrinya, hanya itu saja. Tetapi melihat bagaimana perilaku menjijikkannya bersama abang iparnya Dio membuat Ayyub hilang rasa percaya padanya.


"Bisa kita bicara di ruang kerja Abang sebentar ?" tanya Ayyub pada Fazreen.


"Ya, baiklah" jawab lesu Fazreen.


"Bagaimana ini bisa kejadian Bang ?" tanya Ayyub.


"Tidak tau, tadi Kiki dan Nola entah kenapa terlibat perkelahian dan Kiki tidak sengaja mendorong Nola hingga Nola terhempas dan mengeluh perutnya sakit lalu pingsan" jelas Fazreen.


"Lalu dimana istrimu itu ?" tanya Hakim dengan nada jengah seakan enggan menyebut nama wanita itu.


"Dia aku minta istirahat dan menenangkan diri di kamar" jelas Fazreen bingung dengan sikap Abang tertuanya.


"Sudahlah Bang, kita bawa santai dulu. Dia juga tidak tau" ujar Ayyub berusaha mengontrol emosi Hakim.


Sesungguhnya ia juga ingin membuka kebusukan istri Fazreen namun belum saatnya karena ada kasus lain yang harus ia selesaikan.


Ia sangat tahu karakter Fazreen yang akan memberitau apapun pada istrinya dan membiarkan perempuan itu menyesaikan masalahnya. Ia sangat mudah sekali mempercayakan semua hal pada istrinya, takutnya nanti sebelum saatnya tiba wanita licik itu sudah tau dan mencoba menghindar sehingga akan mengacaukan rencana Ayyub dan Papanya.


"Kalian kenapa sih ? ada apa dengan kalian, kalian berdua terlihat tidak menyukai istriku" ujar Fazreen dengan nada tidak suka.


"Siapa yang bilang, kami tidak mengatakan apapun, jangan menyimpulkan sendiri yang nantinya membuat masalah baru diantara kita Bang" tutur Ayyub yang tidak ingin suasana semakin buyar.

__ADS_1


"Yub..." kesal Hakim yang tidak setuju dengan perkataan Ayyub. Sesungguhnya ia ingin Fazreen sadar akan kebodohannya sebelum kekecewaan juga akan menelan dirinya seperti apa yang dia rasakan kini.


"Tenang Bang, saat ini kita tidak boleh bercerai berai, kita harus saling menopang dalam menyelesaikan masalah ini" jelas Ayyub sembari menekan sedikit keras pundak Hakim seakan memberi kode.


"Iya maafkan Abang" ucap Hakim yang menangkap maksud dari Ayyub.


"Yasudah, sekarang siapa saja yang tau perihal ini. Aku harap ini belum sampai di telinga Papa dan Mama" tanya Ayyub.


"Saat ini hanya Abang yang mengetahuinya, karena Kiki saat itu sudah pergi" jawab Fazeen.


"Tolong kita keep ini dulu sebelum kita tau jelas duduk permasalahannya dan siapa ayah dari anak yang dikandungnya" pinta Ayyub pada kedua abangnya.


"Baiklah jika itu yang terbaik" jawab Fazreen yang masih bingung dengan sikap Abang pertamanya yang sedikit berubah.


"Kalau begitu baliklah ke kamar Abang, biar kami yang mengurus Nola" ujar Ayyub pada Abang keduanya.


"Yasudah kalau begitu, aku akan pergi dulu" jawab Fazreen yang langsung keluar.


Sementara Ayyub ditarik Hakim ke ruangan kerjanya yang ada di rumah itu.


"Apa maksud kamu menutupi masalah ini dari Fazreen. Bagaimana pun kita harus memberi taunya. Jangan sampai dia akan menelan pahitnya cinta seperti yang Abang rasakan" ujar Hakim dengan penuh emosi.


"Abang, kamu tau sendiri bagaimana karakter Fazreen. Bahkan ia lebih parah darimu dalam mendamba istrinya, ia bergantung penuh pada Mbak Kiki. Coba Abang bayangkan jika kita memberitaunya langsung Abang kira dia akan percaya pada kita. Abang kira dia akan berterima kasih pada kita. Tidak Bang !! Dia akan balik memusuhi kita dan lebih memeprcayai istrinya dan hal ini akan semakin rumit untuk diselesaikan" perkataan Ayyub yang seakan menampar Hakim.


Memang benar, jika ia diposisi Hakim pun ia akan melakukan hal yang sama atas dasar cinta. Kasusnya kemarin berbeda karena ia memergoki langsung dan sebelumnya juga sudah memiliki kecurigaan sendiri bukan mengetahui dari orang lain.


"Ya, maafkan sikap Abang dan emosi Abang yang tidak terkontrol. Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama. Seharusnya Abanglah yang mengayomi kalian sebagai anak tertua tetapi ya.." ucapan Hakim yang langsung di potong Ayyub.


"Sudahlah Bang, jangan menyalahkan diri sendiri lagi. Ini semua musibah, saat ini mungkin Abang yang sedang diuji dan saatnya Ayyub yang membantu nanti akan ada masanya semua berganti. Kita adalah keluarga sudah seharusnya saling membantu dan saling menopang" ujar Ayyub.


"Iya, terima kasih banyak sekali lagi Yub. Untung ada kamu dan Neera di keluarga kita" ucap Hakim.


"Sudah Bang, jangan sungkan. Ayo kita ke tempat Nola untuk melihat keadaannya" ajak Ayyub yang diangguki Hakim.


Saat ini kedua pria dewasa itu tengah berada di kamar adik perempuan mereka menunggu sang empu bangun dari istirahatnya.


Tidak berselang lama terdengar ringisan dari orang yang tengah terbaring di kasur empuknya sembari memegangi kepalanya.


"Kamu sudah bangun, bagaimana perasaanmu ?" tanya Hakim dingin pada adiknya itu.


Kekecewaan juga ia rasakan pada adik perempuan yang selalu ia jaga ini. Segala kebutuhannya ia penuhi bahkan apapun akan ia belikan tetapi ternyata ini yang ia dapatkan sebagai balasan.


"Ah.. Abang, kenapa ada disini. Bang Ayyub juga disini ?" sumringah Nola yang mendapati kedua Abang yang paling disayangnya ada di kamarnya. Sangat jarang sekali hal ini terjadi.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sudah sadar sepenuhnya" jawab Ayyub datar.


"Sekarang jelaskan, kenapa ini bisa terjadi" tanya Hakim tanpa intro.


"Hah ? Apa maksud Abang, Nola tidak mengerti" jawab polos perempuan itu.


"Apa kamu tidak mengerti dengan tubuh kamu sendiri, kamu tengah hamil enam minggu dan jelaskan kenapa ini bisa terjadi" jawab Ayyub yang langsung ke inti permasalahan.


"Tidak..., pasti abang salah. Bagaimana mungkin ini terjadi.." elak Nola dengan gelagapan seakan ingin menolak perkataan abangnya.


Nola sudah pucat pasi, selain memang keadaanya berbadan dua dia juga sangat takut. Satu abang yang sangat ia takuti yaitu Hakim yang satu lagi abang yang paling ia hargai Ayyub. Lebih baik ia ketahuan dengan Fazreen karena ia tidak akan setakut ini


"Hal ini mungikin saja terjadi karena kamu telah melakukan hal tidak senonoh dengan laki-laki brengsek yang tidak seharusnya kamu lakukan sebelum menikah" jelas Hakim tegas tanpa ampun.


Saat itu Nola tersentak, sungguh ia takut saat ini tapi ia juga tidak tau harus berbuat apa. Ia juga tidak menyangka bahwa perbuatan ini akan menghasilkan janin di rahimnya. Sudah terbayang betapa malunya dirinya apalagi ia sangat tau siapa ayah dari janin yang kini bersarang di perutnya.


"Katakan siapa ayahnya ?" tanya Ayyub dingin.


"Tidak Bang, jangan marahi Nola Bang. Sungguh Nola tidak tau, waktu itu aku diperkosa dan mereka meninggalkan aku begitu saja di gudang dekat kampus" rintih gadis itu seakan begitu tersakiti akan hal yang telah berlaku padanya.


Tidak mungkin ia akan mengatakan siapa ayah dari janin yang dikandungnya nanti saja ia akan menggugurkannya. Ia juga tidak ingin bayi ini, ia merasa sangat malu jika ketauan hamil sebelum menikah. Mau taruh dimana mukanya nanti.


"Jangan pernah berpikir kamu akan melenyapkan bayi yang tidak berdosa itu. Semua ini bukan salahnya, ini salah kalian sebagai kedua orang tuanya" ujar Ayyub yang seakan membaca isi pikiran adiknya itu.


"Kamu pikir kita percaya dengan alasanmu itu. Kamu terlalu meremehkan Abangmu. Kamu melakukan dosa besar dan kamu tidak mau mengakuinya malah melempar kesalanmu pada orang lain" emosi Hakim yang mulai tersulut.


"Katakan sebelum kami menyeret laki-laki itu kesini. Jangan kamu pikir kami tidak tau apa yang kamu kerjakan selama ini Nola, jawab ?!" tegas Ayyub pada adiknya itu.


"Tidak Bang, maafkan Nola sungguh aku tidak tau. Maafkan aku sekali ini saja Bang" tangis Nola yang menghiba pada kedua Abangnya sembari mengatupkan kedua tangan memohon.


"Sampai kapan kamu akan terus berbohong, jujurlah atau aku sendiri yang akan mengungkapkannya" ujar Hakim yang sudah kehilangan kesabaran seiring dengan lenyapnya panggilan sayang.


"Tidak Bang... tidak... Nola sungguh tidak tau" jawab gadis itu yang langsung dipotong Ayyub.


"Dio atau laki-laki yang bersama.." tanya Ayyub yang belum tuntas langsung dijawab reflek oleh gadis itu.


"Tidak Bang, teman kencanku selalu memakai pengaman jika melakukan itu" beber Nola yang langsung menutup mulutnya saat sadar dengan apa yang sudah ia ucapkan.


"Oh berarti benar, anak ini adalah anak Dio. Hebat sekali dia, bukannya menghamili istrinya malah membuatnya dengan adik iparnya" ejek Hakim yang semakin kecewa setelah mendengar penuturan adik perempuannya yang ternyata selama ini berkencan dengan banyak lelaki.


"Sekali lagi Abang tanya, benar ini anaknya Dio ?" tanya Ayyub yang menatap marah pada adiknya.


Tanpa bisa mengelak lagi, gadis itu menganggukan kepalanya. Perasaan takut membuncah didadanya. Entah kenapa kini dia begitu menyesali perbuatannya.

__ADS_1


Ayyub dan Hakim menghembuskan napas berat. Seakan melepas beban ribuan ton yang menyekat rongga udaranya. Ternyata rencana Neera berhasil membuat Nola mengakui bahwa ini anaknya Dio. Sekaligus membuat gadis itu mengakui kesalahan yang sudah ia lakukan dengan mempermainkan kata yang membuat ia harus memilih.


Sekarang tugas terberat mereka adalah mengatakan semua ini pada kedua orang tuanya. Karena bagaimanapun mereka harus tau karena ini menyangkut masalah keluarga, terutama anak mereka sendiri.


__ADS_2