
Tidak terasa matahari pagi telah bersinar. Shata dan Tara sedang sibuk berkemas untuk pergi ke perlombaan. Setelah selesai berkemas dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal, merekapun berniat untuk pergi menuju kuil terlebih dahulu kemudian menuju tempat perlombaan dengan berjalan kaki.
"Kira-kira kali ini apa ayah mau menemuiku ya?" Ucap Shata memulai obrolan di perjalanan.
"Jika melihat matahari secerah ini, sepertinya beliau akan menemuimu. Aku juga sudah berdoa kepada Sang Dewa agar ayahmu mau menemuimu" Jawab Tara.
"Terima kasih" Jawab Shata dengan tersenyum.
"Eh kamu kemarin lihat gak?" Sahut Tara dengan spontan.
"Lihat apaan?"Jawab Shata.
"Kemarin ketika melewati rumah Alysa, aku melihat ada 2 orang berpakaian serba hitam, bahkan mata merekapun tak terlihat" Jawab Tara.
"Apa iya? Aku hanya melihat rumah itu ramai saat kita berangkat dan menjadi sangat sunyi saat kita pulang. Mungkin kamu yang salah lihat atau tertutupi suatu beda hingga nampak seperti itu" Jawab Shata.
"Bisa jadi sih, aku juga mengintip dari jendela yang samar-samar tapi aku juga khawatir" Jawab Tara.
"Memangnya kamu masih menyukai Alysa?" Tanya Shata.
"Ya iyalah, sampai kapanpun hanya Alysa yang ada di hatiku. Akan ku buktikan padamu, suatu saat nanti dia akan menjadi istriku. Dia benar-benar wanita idamanku" Jawab Tara dengan nada yang tegas.
"Dia memang idamanmu tapi apa kamu idamannya? Hahahahah..." Ejek Shata.
"Woi! Jangan gitu dong!! Kamu itu harus memberikan support kepada sahabatmu yang paling manis, tampan, dan baik hati ini" Sahut Tara.
"Memberikan dukungan dengan tulus seperti selalu memuji ketampanan, kecerdasan dan kekuatan instingku" Sambung Tara.
"Hahahah.. Terserah kehaluan kamu saja" Jawab Tara dengan tertawa terbahak-bahak.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam. Mereka sampai di area perlombaan. Area itu sangatlah ramai, banyak orang berjualan dari berbagai macam makanan hingga aksesoris. Saat hendak melihat-lihat camilan, tiba-tiba....
*Goooooonnnggg...!!!" suara gong terdengar sangat kencang.
"Ha, suara apa itu? Ada apa?" Ucap Tara sembari memakan kentang goreng yang baru saja dia beli.
"Itu tanda perlombaan akan segera dimulai, dengar-dengar ada pemanah misterius yang ikut. Katanya sih dia sangat hebat tapi tidak ada satupun orang yang mengetahui identitas aslinya" Jawab penjual kentang goreng.
"Sang Mata Panah maksdmu? Ini dia ada disini" Sahut Tara.
"Bukan, ada seseorang lagi. Kalau Sang Mata Panah aku sudah tau kalau itu dia" Jawab penjual kentang goreng.
"Katanya sih kemampuannya melebihi sang mata panah, aku tidak yakin sang mata panah akan memenangkan perlombaan kali ini" Bisik penjual kentang goreng.
"Apa iya? Sehebat apa dia? Akan ku buktikan bahwa aku akan memenangkan perlombaan ini. Lihat saja!" Jawab Shata dengan sedikit menggunakan nada tinggi.
Shata tidak terima dengan perkataan penjual kentang goreng itu. Kini dalam hatinya, dia bertekad untuk memenangkan perlombaan ini. Dia lupa bahwa siapa saja yang memenangkan perlombaan akan menjadi bagian dari pasukan khusus keamanan kerajaan. Dia tidak peduli dengan hal itu lagi karena baginya harga diri di atas segalanya.
Akhirnya merekapun bergegas masuk ke dalam arena perlombaan. Mereka memutuskan untuk mengikuti perlombaan terlebih dahulu, setelah itu akan pergi ke kuil untuk menemui ayah Shata.
__ADS_1
Ada puluhan orang yang mengikuti perlombaan itu. Ada satu orang yang menarik perhatian Shata. Seseorang menggunakan baju merah tertutup dan memakai topeng. Dia tampak memiliki badan yang mungil, tidak begitu kekar, dan terlihat sangat gesit.
"Sepertinya dia orang misterius itu. Orang-orang mengatakan kamu sangat hebat. Lihat saja, akan aku buktikan bahwa aku lebih hebat dari kamu" Batin Shata.
Shatapun berbaris menyamping sesuai dengan arahan panitia perlombaan. Setelah semua sudah terlihat rapi dan para peserta lomba telah berdiri di garis mereka masing-masing, perlombaanpun di mulai.
"Semangattt Sang Mata Panah..!!!!" Teriak beberapa orang termasuk Tara sambil terus mengunyah kentang goreng miliknya. Hal ini mampu membuat gairah semangat Shata
Semakin menggebu-nggebu.
"Aku harus mempertahankan reputasiku sebagai Sang Mata Panah" Batin Shata sambil tersenyum.
"Perlombaan akan di bagi menjadi 3 ronde. Disetiap ronde akan ada peserta yang di eleminasi dan hanya akan menyisakan 4 peserta di ronde ketiga. Setelah gong berbunyi tiga kali, perlombaan di mulai. Panitia akan memberikan isyarat untuk memanah dengan menyebutkan nomor peserta kalian. Faham?" Teriak panitia.
"Ya!!!" Jawab para peserta dengan serentak.
*Gonggg...!! Gooonnggg...!! Goonnggg...!!* Suara pukulan gong yang menandakan perlombaan di mulai.
"Satu..!!" Teriak panitia.
*Spllasshhh.... Tembakan anak panah peserta nomor satu melesat di sasaran*
"Dua..!!" Teriak panitia.
*Spllasshhh.... Tembakan anak panah peserta nomor dua melesat di sasaran*
Begitu pula seterusnya.. Hingga..
*Spllasshhhh... Tembakan anak panah Shata mengenai pusat sasaran hingga tertusuk dalam dan menyobek sasaran panah*
Semua orangpun histeris melihat kejadian tersebut dan semakin giat meneriaki "Sang Mata Panah".
"Lihatlah tembakan panahku" Ucap Shata dengan sombong kepada peserta misterius yang berada tepat di sampingnya.
Peserta misterius itupun hanya diam dan memalingkan wajah dari Shata.
"Dua puluh..!!" Teriak panitia.
*Spllasshhhh... Tembakan anak panah peserta misterius itupun mengenai pusat sasaran hingga tertusuk dalam dan menyobek sasaran panah*
Hal ini membuat Shata dan para penonton tercengang. Untuk pertama kalinya, mereka melihat ada peserta lomba yang memiliki kemampuan setara dengan Sang Mata Panah. Para penontonpun semakin kian histeris melihat perlombaan tersebut.
Disisi lain, Tara melihat bahwa dari pihak kerajaan yang menghadiri perlombaan tersebut adalah Sang Ratu. Dia juga melihat Sang Ratu berbisik kepada salah satu pengawal kerajaan. Hal itu bukanlah hal yang biasa terjadi. Selain raja yang biasanya selalu mendampingi, sang ratu juga tidak pernah terlihat berbicara dengan pengawalnya di depan umum. Apabila ratu membutuhkan sesuatu, dia hanya akan berkomunikasi dengan dayang-dayang yang berada tepat di belakangnya. Tara menjadi penasaran. Dalam benaknya dia bertanya kenapa hanya ratu yang datang dan apa yang sedang dibicarakan oleh ratu kepada pengawalnya?
Tidak terasa pertandingan akan memasuki ronde terakhir. Shata, peserta misterius dan 6 peserta lainnya telah melewati ronde kedua. Untuk saat ini, panitia sedang memilih 4 peserta dan mereka akan menunjukkan kemampuan mereka di ronde terakhir.
Sebelum ronde terakhir dimulai, para peserta di persilahkan untuk istirahat terlebih dahulu. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Shata untuk berkenalan dengan para peserta lain tanpa terkecuali peserta misterius itu.
"Hai namaku Shata" Sapa Shata kepada peserta misterius.
__ADS_1
"Aku sudah tahu namamu" Jawab peserta misterius itu dengan ketus.
"Kamu perempuan? Suaramu seperti seorang perempuan. Siapa namamu?" Sahut Shata yang sedikit terkejut mendengar suara peserta misterius tersebut.
"Memangnya kenapa kalau aku perempuan? Ada masalah?" Jawab peserta misterius.
"Tidak ada masalah sih, hanya sedikit terkejut aja. Selama aku mengikuti perlombaan, aku tidak pernah melihat ada peserta perempuan dan kemampuanmu sungguh luar biasa" Jawab Shata.
"Kemampuanku memang luar biasa, makanya kamu tidak akan memenangkan perlombaan ini" Jawab peserta misterius sembari pergi meninggalkan
"Heii...!! Siapa namamu?" Teriak Shata.
"Baccara" Jawab peserta misterius. Ya, peserta misterius itu bernama baccara dan dia adalah seorang perempuan.
"Baccara ya... Nama yang bagus" Ucap Shata sambil tersenyum.
"Woi..!!" Teriak Tara sembari menepuk pundak sahabatnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Nih minum" Sambung Tara sambil menyodorkan air minum kepada Shata.
"Terima kasih" Jawab Shata sembari meminum minuman yang diberikan sahabatnya.
"Kenapa sih senyum-senyum sendiri? Ada yang lucu? Eh, peserta nomor 20 jago banget memanahnya. Sepertinya dia yang akan memenangkan perlombaan ini" Ucap Tara.
"Dia cewek, namanya Baccara" Jawab Shata.
"Ha? Cewek? Gila..!! Cewek katamu? Wow..!! Baru tahu ada cewek sejago itu memanah" Jawab Tara dengan terkejut.
"Sama aku juga, aku ingin kenal lebih dekat dengan dia" Jawab Shata.
"Woi..!! Fokus..!! Dia saat ini musuhmu, jangan sampai kalah atau reputasimu akan turun" Jawab Tara.
*Goonggg........* Suara gong berbunyi menandakan perlombaan akan segera dimulai. Para peserta yang lolos pada ronde ke duapun segera berkumpul. Begitupula dengan Shata yang langsung beranjak pergi meninggalkan sahabatnya dengan tersenyum dan panitiapun akan mengumumkan peserta yang lolos ke ronde terakhir.
"Di tangan saya ada sebuah kertas yang berisikan 4 nomor peserta yang lolos ke ronde terakhir. Keputusan juri ini tidak dapat di ganggu gugat. Siapa saja yang lolos dapat segera maju memasuki arena perlombaan. Untuk itu, tolong dengarkan baik-baik" Ucap panitia.
"Yang pertama... Peserta nomor sembilan belas..!" Teriak panitia.
"Yang kedua... Peserta nomor dua puluh..!" Teriak panitia.
"Yang ketiga.. Peserta nomor enam..!" Teriak panitia
"Yang terakhir.. Peserta nomor delapan..!" Teriak panitia.
Para peserta itupun memasuki arena perlombaan. Shata peserta nomor 19, Baccara peserta nomor 20, Reyza peserta nomor 6, dan Khatayya peserta nomor 8. Mereka berbaris sesuai dengan instruksi dari panitia. Urutan memanah kali ini berdasarkan nomor peserta terbesar ke terkecil. Sehingga, pemanah pertama adalah Baccara, kedua adalah Shata, ketiga adalah Khatayya, dan terakhir Reyza.
Panitiapun menjelaskan sasaran pada para peserta.
"Kali ini, sasaran panah di letakkan lebih jauh dan lebih banyak dari dua pertandingan sebelumnya. Ada 3 target sasaran panah yang telah di atur posisinya sedemikian rupa. 1 sasaran panah berada sejauh 20 meter, 1 sasaran panah berada di antara sela-sela papan kayu yang berdiri, dan 1 sasaran panah berada tepat di atas pohon setinggi 5 meter. Kalian harus mampu menancapkan anak panah tepat di tengah sasaran panah. Bagi siapa yang tercepat dan tertepat, dialah yang menjadi pemenangnya" Jelas Panitia sembari menunjukkan papan sasaran.
__ADS_1
Shata dan ketiga peserta lainnyapun memperhatikan papan sasaran dengan seksama. Mereka tidak ingin menyianyiakan 100 juta yang sudah ada di depan mata. Begitupula dengan Shata yang tengah menggebu-gebu untuk memenangkan perlombaan ini, dia telah lupa bahwa siapa saja yang akan memenangkan perlombaan ini, akan direkrut menjadi bagian dari pasukan khusus keamanan kerajaan.