
"Kamu selalu begini ?" tanya Ayyub sekali lagi.
"Iya, jadi ibu mesti multitasking dan gercep. Apalagi anaknya tiga" jawab Neera sembari tersenyum.
"Maafkan aku sayang" ucap Ayyub dengan wajah sendu.
"Kenapa kamu minta maaf, aku sudah terbiasa dan lagi pula aku menikmati semuanya, karena merekalah cahaya hidup aku" tutur Neera sembari menatap penuh arti ketiga buah hatinya.
"Sayang, mulai sekarang aku akan belajar untuk mengurus keperluan mereka" jawab Ayyub sembari mengelus pipi mereka.
"Pelan-pelan saja, aku tidak apa. Tidak ada yang tak bisa aku lakukan setelah kehadiran mereka" tutur Neera menenangkan suaminya.
"Tidak sayang, aku ingin kamu bisa bersandar padaku. Aku ingin kamu hanya merasakan bahagia. Karena aku tak akan pernah bisa menggantikan kesakitan dan kesulitan yang kamu lalui sendiri tanpa siapapun disampingmu" tutur lelaki yang masih mengelus lembut pipi istrinya yang mulai meneteteskan air mata.
Perlahan Neera memegang tangan suaminya, tidak biasanya dia menangis apalagi di depan orang namun entah kenapa, bersama lelaki itu hatinya terasa rapuh.
Meski selama ini ia terlihat kuat dan tahan banding tetapi lelaki di depannya itu mampu meruntuhkan keluatan yang telah di bangunnya.
Neera menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ayyub, tidak sanggup rasanya dia menahan sesak di dadanya, ditambah dia tidak ingin terlihat oleh orang lain apalagi ketiga buah hatinya.
Selama ini dia harus bertahan sendiri tidak ada seorangpun yang dapat menjadi sandaran, tidak ada tempat untuk merebahkan lelahnya jiwa.
Kini lelaki itu ada di depannya, seseorang itu membiarkan pundaknya menopang Neera walau sejenak, hal yang telah lama tak pernah dirasakannya.
Pecah sudah tangis ibu muda itu, semua beban yang ada di hatinya seakan meledak seperti bom mengeluarkan isak yang tertahan, sangat menyayat hati bagi orang yang mendengarnya terutama Ayyub.
Tetesan bening mulai berjatuhan dari ujung mata suami yang tengah mengelus belakang kepala istri dalam pelukannya. Segera ia tepis agar tidak terlihat anak-anaknya.
__ADS_1
Seseorang lelaki kekar dan tinggi menangis, untunglah lounge itu sepi dan semua orang sibuk dengan urusan mereka sehingga tidak mengundang banyak perhatian.
Meski lelaki itu juga mengalami kesulitan pasca ditinggalkan istrinya tetapi rasanya tidak sebanding dengan kesakitan dan kesulitan yang di hadapi Neera, ia sangat amat menyadari itu.
Tidak pernah terbayangkan olehnya bagaimaan perempuan itu menjalani hidup mereka selama ini.
Seorang diri di negri orang, memulai segalanya dari awal ditambah harus memenuhi nafkah keluarga kecilnya.
Bagaimana wanitanya menjalani kehamilannya, apakah sakit seperti kata orang, apakah juga melelahkan membawa tiga bayi sekaligus apalagi sembari bekerja.
Entah bagaimana kelahiran anak mereka ke dunia ini, tentu saja itu semua tidak sebanding dengan kacaunya perasaan yang dilaluinya dulu.
Seketika timbul penyesalan di dalam dirinya, bagaimana mungkin ia berkencan dengan wanita lain meski statusnya terpaksa sementara istrinya bertaruh nyawa seorang diri.
Terlebih alasan di balik kepergian istrinya adalah wanita itu mesti tak dipungkiri juga keluarganya ikut campur dalam hal ini, Ayyub yakin Neera pasti diperlakukan dengan sangat buruk meskipun wanita itu tak mengatakannya.
Banyak moment yang telah dilewatinya, banyak masa yang berlalu melewatinya. Meski kini mereka berkumpul tapi masa itu tak pernah akan terulang lagi.
Mengapa ia begitu mudahnya percaya dan menuruti semua perkataan keluarganya dan menepis hati kecilnya. Betapa bodoh dirinya yang membiarkan istrinya pergi bersama buah cinta mereka.
Tidak terhitung kesalahan yang telah dibuatnya, selama mereka bersama cenderung ia mengesampingkan Neera dan terus mengutamakan keluarganya.
Tidak terhingga sakit yang dialami Neera karena keluarga dan Vina, hanya saja ia selama ini menepis segala perlakuan mereka meskipun ia melihat bukti jelasnya.
Selama ini ia terlalu pengecut sebagai suami, ia tidak ingin terjepit antara keluarga dan istri sehingga membutakan penglihatan dan hatinya, tanpa ia sadari Neera yang paling tersakiti dan hanya bisa diam.
Ia ingin menjadi anak berbakti tetapi gagal menjadi suami, anak perempuan yang ia minta kepada ayahnya dengan penuh perjuangan ia sia-siakan begitu saja.
__ADS_1
Sungguh saat ini ia merasa tak berguna sebagai lelaki apalagi dengan gelar suami. Selama menikah bisa dikatakan ia tidak memberikan uang saku kepada istrinya karena Neera mengembalikan semua kepada keluarganya.
Bagaimana bisa ia mengatakan bahwa ia mencintai perempuan ini sementara ia tidak mampu melindungi wanitanya, tidak bisa membuatnya bahagia selama pernikahan mereka bahkan hanya derita dan air mata.
Beruntung wanita itu Neera, perempuan dengan hati malaikat yang selalu tersenyum menybutnya pulang tidak peduli apa yang di alaminya di rumah.
Istri yang selalu menyediakan segala keperluan suaminya dan melayani dengan tulus tanpa keluh kesah.
Wanita yang terlihat kuat dan menahan semua sendiri, tidak pernah perkataan buruk keluar dari mulutnya.
Sosok hebat dan pintar yang menghormati suaminya meski ia dianugerahi kelebihan dan kemampuan, perempuan yang mampu menekan ego dan mematuhi perkataannya.
Seorang malaikat yang memiliki hati putih, bahkan dengan kesalahannya kini dia mamou membuka pintu maaf untuk suaminya ini.
Tuhan begitu baik padanya memberikan malaikat tanpa sayap kehidupnya, seorang wanita hebat, sabar, penyayang dan pemaaf bahkan kini juga telah menjelma menjadi super mom yang tangguh.
Mungkin dimasa lalu ia telah meyelamatka n bumi sehingga mendapatkan wanita yang sempurna di matanya dan masih memberikan ia kesempatan kedua.
Dalam hatinya berjanji apapun yang terjadi kedepannya ia tidak akan melepaskan genggaman Neera, akan membahagiakannya mendukung segala kegiatanya, bahkan ia akan membiarkan istrinya itu untuk beristirahat saja di rumah bersama ketiga buah hati mereka.
Meski tak akan pernah terganti tapi ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk melakukan yang terbaik selama ia bisa.
~To all passenger british air.........~
Pengumuman penerbangan mereka mengakhiri adegan sedih di sore itu, setelah melepaskan pelukan dan mengecup singkat bibir keduanya bergegas membawa ketiga buah hatinya masuk ke pesawat yang akan membawa mereka pulang.
Meski kedepannya tidak pasti akan tetapi mereka hanya ingin menikmati momen bahagia saat ini, entah apalagi yang menunggu di depan mereka akan berjalan di atas awan ataupun di duri.
__ADS_1
"Semoga ini menjadi awal yang baik untuk keluarga kita sayang, i love you so much" Ayyub menatap dalam istrinya sementara Qaivan dan Qeenan dalam gendongannya.
Mereka memasuki pesawat dengan harapan baru dan berbekal cinta yang lebih dalam dari sebelumnya. Berharap apapun yang terjadi mereka mampu menjalaninya dengan berpegangan erat satu sama lain.