
Seminggu sudah tanpa kehadiran Ayyub. Semua berjalan dengan semestinya. Tidak ada yang berubah hanya saja terasa kurang lengkap karena selalu ada sosok pelindung diantara mereka.
Tidak tau apa yang terjadi, sudah tiga hari ini Ayyub sangat sulit dihubungi sementara Neera harus berangkat ke New York untuk mengisi sebuah seminar dan workshop.
Libur musim panas sudah hampir datang, banyak kegiatan yang dipadatkan menjelang nanti liburan. Triplets juga sudah mulai liburan akhir minggu ini.
Berkali-kali Neera mencoba mengirimkan pesan pada Ayyub untuk meminta izin kepergiannya bersama triplets. Tentu saja triplets selalu menyertai kepergian Neera. Mana pernah ia pergi tanpa triplets disisinya.
Setelah mengurus beberapa surat tugas kepergian dan hal lainnya Neera segera bergegas menjemput triplets karena hari ini mereka akan berkemas untuk lusa selama seminggu.
Tidak hanya satu tempat, disana Neera mengisi tiga tempat seminar dan workshop serta menghadiri persatuan dokter hewan dunia. Membahas laporan akhir periode dan membuat beberapa aturan baru.
Selain itu Neera juga menjadwalkan kunjungan ke klinik mereka yang ada disana. Mengontrol sekaligus melihat kinerja pegawai disana.
Neera akan pergi bersama satu orang asisten dari kampus dan satu dokter dari kliniknya. Dikarenakan esok Neera harus ke kampus untuk mengurus beberapa hal maka hari ini ia akan berkemas untuk lusa.
Lima menit lagi menjelang bel keluar sekolah triplets Neera sudah memarkirkan mobil dan berdiri di depan gerbang. Sejenak ia sibuk dengan ponsel berharap bisa menghubungi suaminya akan tetapi selalu gagal alhasil ia hanya memutuskan untuk mengirim pesan berharap nanti akan dibaca Ayyub.
Bel berbunyi dengan nyaring beberapa anak berlarian keluar disusul masing-masing wali kelas mereka memastikan bahwa murid aman hingga ke tangan orang tua mereka. Begitulah amannya pendidikan dinegara ini, salah satu hal yang membuat Neera puas dan mengurangi kekhawatirannya selama bekerja.
Perlahan namun pasti Neera mendengar teriakan triplets yang selalu berbeda dengan panggilan anak-anak lainnya. Ya, hanya triplets yang meneriakkan bunda diantara panggilan mom atau mommy.
Sangat mudah ditemukan, wajah putih dengan rambut dan mata berwarna coklat, sungguh menggaskan. Terkadang Neera binggung kenapa triplets semakin terlihat seperti bule padahal ayah dan bundanya asli Indonesia.
Apakah makanan dan lingkungan mereka mempengaruhi, setau dan sedalam yang ia pelajari tentu tidak. Memang wajah ayah mereka Indo. Bisa jadi memang keturunan Neera ataupun Ayyub dahulu terpapar gen lain sehingga muncul pada saat pembentukan triplets, entahlah.
Kini tiga bocah lucu itu tengah memeluk kaki Neera dan terlihat lucu dengan mata mereka yang menggemaskan berharap mendapatkan ciuman dan pelukan hangat.
Wajah polos tanpa dosa membuat Neera selalu tersentuh dan luluh. Perlahan ia merosot mensejajarkan tinggi mereka lalu memeluk triplet dan memberikan kecupan satu persatu.
"Bagaimana dengan hari ini babies ?" tanya Neera.
__ADS_1
"Good Bunda, we enjoy it" balas triplets.
Kemudian celotehan tiada henti menemani mereka hingga naik ke atas mobil dan pulang ke rumah.
Sore itu semua berlalu dengan indah, sesekali terdengar pertengkaran kecil karena berebut mainan. Neera yang sibuk kesana kesini mengambil barang hanya melihat sembari tersenyum.
Hal inilah yang selalu Neera rindukan, keributan kecil, suara tawa, tangis, teriakan hingga langkah kaki mereka saat berlari selalu terekam dalam ingatannya. Menjadi sebuah momentum indah untuk dikenang nanti karena waktu tak akan pernah terulang kembali.
Satu persatu barang telah ditumpuk disudut ruangan, bersaama satu travel bag besar. Melihat hal itu triplets segera menghampiri Neera dengan tatapan bingungnya.
"Bunda, bunda mau kemana ?" tanya Qal.
"Bunda mau ke New York sayang" balas Neera dengan senyuman lembut.
"Hah ?! kapan bunda perginya ?" lagi Qal bertanya.
"Lusa sayang" balas Neera kembali.
"Iya sayang, triplets bunda kan sekolah" balas Neera berusaha menahan senyum.
"Bunda, besok syudah libul bunda" protes Qee.
"Oh sudah libur ya, kalau gitu gimana ya. Triplets main dirumah saja ya sama Nanny" putus Neera masih menahan senyum.
Seketika air mata mulai menggenang dipelupuk mata ketiganya. Dalam beberapa detik isakan mulai terdengar dan berlanjut menjadi tangisan tanpa komando.
Siang itu seketika menjadi harmoni tangisan triplets yang diselingi isakan dan tarikan ingus ketiganya.
Neera ingin tertawa tetapi juga merasa kasihan melihat triplets. Keusilannya berujung malapeka banjir yang menganak sungai di mata triplets.
"Yasudah kalau gitu kalian masuk koper saja ya, bunda kan cuma beli tiket satu" ucap Neera yang masih meneruskan keusilannya.
__ADS_1
Tanpa komando ketiganya berebut masuk ke koper berdesak-desakan yang berakhir dengan adegan tarik dan dorong.
Tangisan kian menggema karena salah satunya tidak bisa lagi masuk karena Qai dan Qal sudah tiduran disana. Alhasil Qee hanya terduduk di sisi lain koper.
Neera yang melihat itu tertawa lepas, menjadi hiburan tersendiri baginya melihat triplets berebutan masuk koper sambil menangis. Sudah cukup keusilannya takut triets akan menangis kejer dan berakhir sakit kepala dan tenggorokan.
"Oke, oke sini sayang. Dengarkan bunda" usai Neera yang mengambil Qee ke pangkuannya sembari menyusut air mata yang membasahi pipinya.
"Bunda mana mungkin meninggalkan kalian, bunda sangat sayang sekali dengan triplets. Kemanapun bunda pergi tentu saja akan bersama dengan triplets kesayangan bunda. Jadi jangan nangis lagi ya" bujuk Neera.
Qai dan Qal lantas keluar dari koper dan ikut duduk di pangkuan Neera. Segera Neera menyambut mereka dan menyusut ingus serta air mata keduanya.
"Benar Bunda ?" tanya Qai.
"Tentu saja sayang, bunda akan selalu bawa triplets kemanapun bunda pergi. Jadi lusa kita akan pergi bersama. Apakah kalian senang ?" tanya Neera.
"Yes Bunda, Terima kasih bunda" jawab serempak ketiganya.
"Kalau senang kiss bunda dulu" pinta Neera yang langsung dituruti ketiganya.
Berebutan mereka mencium Neera dengan air liur dan ingus bercampur air mata kemana-mana.
Meskipun begitu Neera tetap menikmatinya karena tak ada yang membuat seorang ibu ilfeel pada anak-anaknya bahkan bekas mereka pun akan selalu Neera yang menghabiskannya.
"Oke, sekarang kita bersiap. Triplets ayo bereskan barang yang butuh untuk dibawa, oke sayang ?" komando Neera.
Mereka bertiga berlarian ke arah kamar mengambil tas dan memasukkan beberapa barang yang mereka anggap penting sementara baju, sepatu dan kebutuhan lainnya sudah Neera siapkan dalam koper besarnya.
Segala kebutuhan dan obat-obatan triplets sudah Neera bawa, sebisa mungkin Neera memadatkan pada satu koper karena mereka hanya akan pergi bertiga ditambah dua asisten Neera sehingga takut nanti barang-barang akan tercecer.
Sementara triplets mereka sudah tau jika hanya diperbolehkan membawa satu benda kesukaannya yang diletakkan pada tas ransel kecil masing-masing.
__ADS_1
Setelah itu mereka membersihkan rumah bersama-sama agar esok tidak kelelahan untuk berangkat lusa