
Neera begitu terkesima melihat kampung halamannya. Selama hampir lima tahun, banyak sekali yang berubah. Namun yang selalu ada yaitu rasa cintanya pada tempat ini.
Memasuki gerbang rumahnya Neera begitu bahagian saat melihat bangunan besar model spanyol yang berdiri megah diantara sawah dibingkai oleh gunung.
Banyak sekali yang berubah, bangunan di depannya yang menjadi salah satu tempat usaha Ama sudah bertingkat tiga. Rumah juga sudah semakin bertingkat dan luas.
Bukannya tidak tau, Ama sering kali bercerita padanya bahkan memperlihatkannya memalui panggilan video. Akantetapi melihatnya secara langsung tetap membuat Neera terpana.
"Masya Allah..., rumahnya Bunda bagus ya Bunda. Banyak taman dan kebunnya" ujar Qee yang begitu terpana begitu juga dengan dua saudaranya.
"Iya, lihat disana banyak sekali pohon buah. Kemarin pas ayah datang belum seramai itu" ujar Ayyub yang menarik perhatian Neera.
"Hah ? Kapan ayah datang kesini ?" tanya Neera bingung.
"Sudah setahun yang lalu sayang, Ayah datang waktu sekalian kerja" ujar Ayyub yang membuat Neera manggut-manggut.
"Yasudah, ayo kita turun bertemu Atuk dan Nana" ajak Neera yang diangguki semuanya.
Mereka berjalan menuju pintu utama begitu juga dengan Papa, Mama dan Luthfi yang baru saja turun. Tidak lupa Neera juga mengajak tiga sopir dan satu orang yang membantu di mobil barang.
Neera yang tau pintu depan selalu terbuka siang hari menerobos masuk dan mengajak semuanya.
Sunyi tak ada orang, tetapi Neera yakin di jam ini Ama biasanya ada di dapur karena sebentar lagi jam makan siang dan Apa serta Uni akan pulang.
"Assalamu'alaikum Nana...." teriak triplets yang membuat perempuan paruh baya itu terkejut dari aktifitas memasaknya.
"Wa'alaikumsalaam, Masya Allah.... Ya Allah, Ya Tuhan..., cucuku.., Kakak....." histeris Ama yang berasa tidak percaya akan kedatangan anak dan cucu yang begitu dirindukannya.
"Ama, apa kabar Ma ?" sapa Neera yang langsung memeluk Ama yang dibalas dekapan erat dan elusan di kepalanya.
Mereka berdua menangis menumpahkan kerinduan yang selama ini hanya bisa melalui sambungan telepon.
__ADS_1
Tidak lupa Neera merosot, bersimpuh di kaki perempuan hebat yang sudah melahirkannya itu. Menumpahkan segala perasaan bersalahnya yang meninggalkan kedua orang tuanya begitu lama.
"Maafkan Neera Ma, Neera meninggalkan Ama dan Apa. Maafkan Neera yang sudah melukai hati Apa dan Ama dan membuat Apa dan Ama bersedih memikirkan Neera" tangis Neera yang langsung direngkuh oleh Ama.
"Tidak Nak, kakak tidak bersalah dan yang paling penting kakak sudah bertemu jalan pulang. Apapun yang terjadi kedepannya Nak, ingatlah ini adalah tempat kakak untuk pulang. Ini rumah kakak, ada Apa dan Ama yang akan selalu menunggu kakak sampai kapanpun" lembut Ama sembari mengusap lembut kepala dan punggung putrinya.
Neera benar-benar terlihat seperti anak kecil yang begitu merindukan sentuhan ibunya. Semua yang ada disana ikut terharu menyaksikan drama pertemuan ibu dan anak itu. Bahkan triplets jadi diam karena tercengang melihat bunda yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya hingga perlahan pecahlah tangisan mereka.
Mereka sedih melihat Bundanya menangis dan dengan kaki kecilnya mereka berlarian pada Bunda dan Nana yang tengah berpelukan. Ikut menangis dan memeluk kaki bundanya.
Menyadari keberadaan triplets kedua orang dewasa itu berjongkok lantas memeluk mereka semua sembari menenangkan tangis ketiganya.
"Masya Allah, cucu Nana sudah pada besar sekali ya. Makin ganteng dan cantik, tapi makin pintar tidak ya..." Alih Ama pada triplets yang membuat tangis mereka surut dan perlahan menganggukkan kepalanya.
"Yasudah kalau begitu sudah dulu menangisnya ya. Nana punya kue dan ice cream nih, ayo sini kita makan kue dulu" ajak Ama yang kembali diangguki ketiganya.
Mereka berjalan mengikuti Nana yang sibuk membuka kulkas mengambilkan kue yang baru dibuat pagi tadi. Mengambil piring kecil dan sendok lantas memberikannya pada triplets.
"Hah ? mertua kakak, orang tua Ayyub maksudnya ?" kaget Ama.
"Iya Ma, memang siapa lagi suami kakak" kekeh Neera.
"Kakak ini, kenapa gak bilang dari tadi sih. Kan jadi nunggu lama mertuamu" kesal Ama yang mengomeli anaknya.
"Loh kok kakak yang salah, orang Ama yang asik sendiri sama cucu" bela Neera sembari tertawa.
"Ya tetap kakak lah yang salah, namanya juga kangen cucu" kekeuh Ama yang tidak mau disalahkan.
Akhirnya Ama mencuci tangannya dan segera menyusul ke ruang tamu, tempat kedua orang tua Ayyub dan adiknya menungu. Beruntung Neera juga sudah datang dengan membawa cangkir berisi minuman dan kue yang ia ambil sendiri di tempat penyimpanan.
"Aduh, maaf sekali Mas dan Mbak saya tidak tau akan kedatangannya kesini. Malah diajak ngobrol sama ini anak di dapur" seloroh Ama yang merasa tidak enak.
__ADS_1
"Haha tidak apa Erna, memang kami juga datang tanpa pemberitahuan" balas Tuan Kaisar yang ikut berdiri menyalami Ama.
"Apa kabarnya Mas dan Mbak ?" tanya Ama yang agak ragu untuk menyalami Mama Ayyub berhubung sifatnya dimasa lalu yang Ama tau begitu tidak menerima Neera.
"Alhamdulillah kami baik Na, Gimana kabar kamu ?" balas Mama Ayyub yang justru malah merangkul Ama dengan hangat seperti teman lama yang tidak bertemu.
Bertepatan dengan itu terdengar deru mobil yang sangat Neera kenali. Lantas perempuan berhijab itu bergegas keluar dan berlari kearah lelaki paruh baya yang baru saja keluar dari pintu kemudi.
Apa yang begitu terkejut langsung menangkap pelukan anaknya dan mendekap erat tubuh putri yang begitu dirindukannya itu.
Semua orang ikut melihat kearah pintu saat tadi Neera tergesa-gesa keluar yang juga menarik perhatian mata yang ada disana.
"Hmmm drama lagi itu anak. Maaf ya Mas dan Mbak, kalau sudah dengan Apa nya memang Neera selalu manja begitu" kekeh Ama yang seakan memberi penjelasan tentang tingkah anaknya yang selama ini tidak diketahui oleh orang lain termasuk suaminya sendiri yang sedari tadi hanya bisa diam dan terkejut.
"Haha kangen sekali menantuku itu dengan orang tuanya. Ternyata Neera lumayan manja ya Na, Mbak kira dia anak yang dingin karena sehari-harinya terlihat tegas dan mandiri" kekeh Mama yang masih melihat drama ayah dan anak perempuan itu.
"Iya Mbak, kalau sudah di rumah ya begitu. Apalagi kalau sudah sama Apa nya, terkadang mereka bisa berbicara berjam-jam, pergi memancing kadang juga hiking" jelas Ama pada besannya.
"Sudah, Apa, Kakak masuk dulu sini. Ngapain disana panas-panasan" tegur Am yang seketika mengalihkan perhatian ayah dan anak itu.
Keduanya lantas berjalan sambil berangkulan menuju pintu utama yang sudah dipenuhi banyak orang.
Satu persatu Apa menyalami tamunya dan berbincang sejenak melepas penat sehabis bekerja seharian ini.
Ama dan Neera juga pamit kebelakang karena akan meneruskan masakan yang ternyata sudah hampir matang itu.
"Ama kok Ama masaknya banyak sekali hari ini, mau ada tamu ya Ma ?" tanya Neera yang cukup terkejut dengan olahan makanan itu.
"Jadi tadi itu Ama kayak kepengen masak apa aja gitu kak. Ama teringat semua makanan kesukaan kakak, jadinya Ama masak semua. Mungkin feeling kali ya, eh gak taunya kakak malahan datang. Alhamdulillah ya Nak" ujar Mama yang menjelaskan kronologi masakannya.
Tidak sampai setengah jam semua masakan sudah terhidang rapi di meja makan. Bersama peralatan makan dan minuman.
__ADS_1
Lantas mereka makan siang bersama karena juga sudah saatnya mengisi perut yang setengah hari sudah lelah bekerja. Semua diam menikmati masakan yang terasa menggoyang lidah penikmatnya.