Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 147


__ADS_3

Malam semakin larut tetapi ruang keluarga sebuah apartemen mewah itu masih dipenuhi oleh obrolan hangat yang sesekali diselingi oleh tawa.


Terlihat tiga balita kecil yang sudah mulai gelendotan pada kedua orang tuanya dengan mata yang mulai sayu.


Menyadari hal itu Neera segera mengusap-ngusap lembut perut hingga dada mereka satu-satu. Begitupula dengan Ayyub yang juga membantu mengusap kedua anaknya.


Obloran yang tidak kunjung berakhir dan terus mengalir seakan tiada habis membuat Neera segan membawa triplets ke kamar akhirnya mereka tiduran di karpet bulu tebal tempat mereka duduk bercengkerama.


Melihat cucunya yang sudah mulai mengantuk Papa sadar sendiri. Mungkin anak dan menantunya enggan menyudahi perbincangan karena segan dan takut menyinggung orang tua tetapi ia juga mengerti bahwa mungkin anak dan menantunya juga lelah ingin istirahat.


"Yasudah, kita sambung lagi besok ngobrolnya. Triplets juga sudah lelah dan lagi Neera pasti sudah capek sedari tadi banyak kerjaan" akhir Tuan Kaisar yang walaupun hatinya enggan untuk menyudahi dan malas untuk kembali pulang ke rumah mereka.


"Ohiya, kasihan mereka jika harus tidur disini. Bawalah mereka tidur ke kamar biar mama dan papa juga pulang" sambung mama yang memahami maksud suaminya meskipun ia sama enggannya untuk pulang.


"Pa, Ma, maaf sebelumnya ini sudah terlalu malam. Kalau Papa dan Mama tidak keberatan kenapa tidak menginap saja disini Pa, Ma. Neera sudah siapkan kamar Papa dan Mama ?" tanya Neera segan takut mertuanya tak nyaman dengan tempat yang relatif kecil daripada rumah besar mereka.


Semua orang terdiam seketika mendengar penuturan Neera sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Namun, hal itu membuat Neera menjadi salah tingkah dan serba salah.


"Eh... aduh maaf Papa Mama, bukannya maksud Neera lancang meminta Papa dan Mama nginap disini. Memang tempatnya agak kecil dan mungkin Papa dan Mama jadi tidka nyaman tetapi ini sudah terlalu malam dan Papa Mama butuh istirahat, cukup jauh perjalanan dari sini ke rumah apalagi besok pagi sekali kita juga akan berangkat ke kebun binatang agar tidak panas disana" sesal Neera yang terlihat sangat segan.


"Eh, eh jangan salah paham sayang. Mama bukannya gak mau nginap disini. Mama cuma gak percaya saja kamu nawarin Papa dan Mama nginap disini" balas Mama langsung takut menantunya salah tangkap.


"Iya, Papa malah senang diajak nginap disini bisa langsung tidur apalagi besok pagi bisa langsung main sama cucu" santai Papa yang malah menjadi pemecah suasana tegang yang masih tersisa.


"Alhamdulillah kalau begitu, maafkan Neera ya Pa, Ma kalau papa dan mama yang jadi nginap disini harusnya kami semua yang ke rumah utama" sesal Neera.


"Tidak apa sayang, sama saja yang penting kita bisa bersama mama sangat bersyukur sekali" lembut Mama.


"Ayo Pa Ma, Ayyub antar ke kamar. Papa dan Mama harus istirahat ini sudah terlalu larut tidak baik untuk kesehatan Papa dan Mama" ujar Ayyub.


Sampai di depan kamar kedua orang tuanya Ayyub di tarik masuk oleh Papa.

__ADS_1


"Nak, istrimu wanita yang sangat baik. Papa harap kamu dapat menjaga hatinya dan jangan sekali-kali menyakitinya karena perempuan seperti Neera lebih dari pantas untuk diperjuangkan. Papa juga berharap kehidupan rumah tangga kalian akan diberkahi dan berjalan dengan baik" ujar Papa sembari menepuk pundak Ayyub.


"Maafin Mama juga ya nak, karena keegoisan mama, kamu harus berpisah dari anak dan istrimu jadi terpisah. Mama akan selalu mendo'akan kebahagiaan kalian" ucap Mama ikut menimpali sembari mengusap lembut pipi putra kebanggaannya.


"Makasih Papa dan Mama atas do'a dan restunya sesungguhnya itu yang sanggat Ayyub dan Neera butuhkan dan harapkan dari Papa dan Mama, terima kasih sudah mengerti Ayyub Pa, Ma. Ayyub sungguh sangat menyayangi Papa dan Mama" ujar Ayyub.


"Iya nak..., sudah-sudah, sejak kapan kamu jadi romantis begini. Biasanya juga cuek kayak bebek. Sana bantu Neera pindahin triplets, kasihan dia sendiri" ujar Papa pada putranya.


"Iya Pa, Ayyub ke kamar dulu. Papa dan Mama selamat beristirahan dan selamat malam juga" salam Ayyub yang segera berlalu.


Saat sampai ke ruang keluarga terlihat Neera yang sedikit meringis tetapi coba ia tahan. Neera berusaha mengangkat putranya untuk dipindahkan ke kamar.


"Sudah sayang, biar Uda saja yang angkat mereka. Neera disini saja nungguin Qal" perintah Ayyub yang melihat ketiga anaknya sudah tidur.


Setelah menidurkan kedua putranya Ayyub kembali lagi ke ruang tengah dan mendapati Neera yang sedang memegangi perutnya seperti menahan sakit. Wajahnya terlihat pucat dan keringat mulai menitik di dahinya yang tertutup hijab.


Saat melihat Ayyub segera Neera melepas pegangan pada perutnya untuk bersiap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi.


Ternyata Neera mengikuti Ayyub ke kamar. Namun, istrinya itu malah terus ngacir ke kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam. Ayyub yang tidak ingin triplets terganggu dan akhirnya terbangun memilih duduk disisi tempat tidur menunggu istrinya selesai.


Lama Neera berada di kamar mandi tapi tidak ada tanda-tanda akan keluar, bahkan bunyi gemericik air juga sudah tidak terdengar lagi.


Khawatir yang bercampur takut membuat Ayyub akhirnya mengetok pintu sembari memanggil istrinya.


"Sayang .. Neera... kamu masih didalam, Neera kenapa yang ?" tanya Ayyub khawatir.


Tidak terdengar jawaban hanya ringisan-ringisan kecil sayup-sayup sampai seperti berusaha untuk ditahan.


"Sayang, Neera kenapa. Buka pintunya dulu. Uda hitung sampai lima ya, kalau Neera tetap gak buka Uda dobrak pintunya" seru Ayyub yang sudah mulai panik.


"Satu.." masih diam.

__ADS_1


"Dua..." tetap diam.


"Tiga...." lagi-lagi hanya angin lalu.


"Empat..." Ayyub mulai siap-siap.


"Lim..."


"Kenapa sih Uda berisik banget" ujar perempuan yang kini sudah menyembulkan kepalanya tanpa hijab lagi.


"Sayang, sayang kenapa yang. Ayo keluar dulu atau biar Uda yang masuk" panik Ayyub.


"Aduh... gak bisa Uda" tolak Neera yang berusaha menahan pintu.


"Gak bisa gimana, lihat ini muka udah pucat gtu, buka sayang Uda mau masuk" seru Ayyub yang berusaha masuk tapi lagi-lagi ditahan Neera.


"Aduh Uda gak usah, Neera baik-baik aja kok. Tapi Neera mau minta tolong dulu boleh ?" tanya Neera lirih.


"Minta tolong apa sayang, apapun itu" seru Ayyub yang mulai tak sabar.


"Mmmmmm boleh gak tolong cariin itu Neera di lemari ?" lirih Neera yang sedikit malu.


"Apa sayang, Uda gak tau apa yang Neera bilang" ucap Ayyub yang gregetan dengan istrinya.


"Itu... pembalut Neera, tolong dicariin" seru Neera cepat dan langsung menurup pintu kamar mandi.


Sesungguhnya Neera sangat malu saat mengatakannya. Meskipun mereka suami istri tapi selama ini ia tidak pernah terjebak dalam situasi ini. Adapun pada saat melahirkan triplets Ayyub juga tidak ada disampingnya jadi sejujurnya ia agak malu untuk membahas benda yang satu itu.


Sementara Ayyub di luar akhirnya connect setelah istrinya menutup pintu sedikit keras. Ngakak, itulah yang ia lakukan sekarang. Sungguh lucu wajah istrinya yang terlihat menahan malu itu, ah ingin sekali ia melihat wajah merah itu lebih lama lagi.


"Uda, tolong dong buruan carinya" protes Neera yang saat ini malah kesal mendengar tawa lepas suaminya di depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Iya, sayangku sebentar ya yang, Uda cari dulu roti tawarnya..." kekeh Ayyub yang semakin membuat Neera malu.


__ADS_2