
Tidak hanya triplets dan Neera yang terjun ke sawah. Bahkan Ayyub juga ikut serta menikmati sensasi baru dalam hidupnya. Lelaki itu selain belajar menanam benih terlihat sekali begitu menjaga anak dan istrinya.
Bahkan beberapa kali Ayyub memegangi tangan Neera yang hampir terjatuh dan berkali-kali juga menagkap tubuh istrinya yang terpeleset.
Pemandangan indah itu tidak terlewatkan oleh beberapa orang yang ada disekitar sana sehingga hal itu menjadi buah bibir yang akhirnya menepis isu Neera yang dibuang suaminya.
Jelas sekali bahwa lelaki yang gagah dan berperawakan tinggi itu begitu mencintai Neera. Malah terkadang mengusap keringat di wajah istrinya dengan lengan tangannya yang bersih.
Tak jarang juga beberapa gadis desa yang lewat dijalan gigit jari saat melihat kemesraan yang terjadi di tengah sawah yang masih basah itu.
Lama kelamaan berita itu menjadi tranding dari bibir ke bibir hingga sampai ke telinga Ama yang notaben nya memang menunggu anak dan cucunya sedari tadi.
Ama begitu kecarian karena lontong sayur sudah sampai tetapi yang membelinya belum juga menampakkan batang hidungnya. Sementara pasutri itu tidak satupun membawa ponsel mereka.
"Den, Deden kalian bicara apa tadi. Aku kok seperti dengar nama Neera" tanya Ama yang sontak membuat dua pemudi itu terkejut.
"Eh Ibu, iya Bu. Itu..., Neera sama ada cowok tinggi besar di sawah Bu. Lagi mesra-mesraan" kompor mereka pada Ama.
"Mesra-mesraan gimana maksud kalian ?" bingung Ama.
"Ngadu Bu, mereka pelukan terus pegangan tangan juga" lapor yang satunya.
"Kalian lihat anak kecil juga ga disana" tanya Ama lagi.
"Ah.. hmm kurang pasti Bu. Sepertinya iya ada juga bersama yang biasa nanam Bu" jawab mereka lagi.
Ama sudah yakin betul lelaki yang mereka bicaran adalah Ayyub menantunya. Oleh sebab itu Ama sama sekali tidak terpancing dan membuat duo gosip itu heran.
"Yasudah, terima kasih infonya ya. Silakan dilanjut lagi perjalanannya" ujar Ama yang diangguki keduanya masih dengan wajah heran dan dongkol.
Ama lalu bergegas kembali ke rumah. Menyiapkan minuman untuk orang yang bekerja di sawah beserta snack, buah dan bubur.
Hal ini memang biasa dilakukan di kampung. Mereka akan membawa makanan untuk pekerja yang ada di sawah dan memakannya bersama di pondok yang dibangun di tengah lahan itu.
Ama bergegas turun ke sawah sambil membawa tas yang berisikan makanan dan salah satu tangan yang lain membawa termos yang berisi air panas.
__ADS_1
Melihat Ama mulai memasuki pematang Neera segera keluar dari sawah dan menyusul ibunya itu. Lantas Neera mengambil keranjang yang terlihat berat dan membantu membawanya ke pondok yang berdiri kokoh di tengah hamparan sawah itu.
"Kakak kenapa gak bilang dulu kalo mau ke sawah. Ama udah nungguin kakak di rumah" omel Ama yang sudah selesai menata makanan.
"Tadinya gak ada rencana Ma. Itu cucu mama minta main di sungai, ya kakak kasih eh gak taunya datang etek yang mau nanam ya Neera mau ikut nyoba, anak-anak malah mau ikutan" jelas Neera.
"Yasudah, kakak bersihin dulu tripletsnya biar kita minum dan makan sama-sama" titah Ama yang diangguki Neera.
Tak setelah setelah itu terdengar sorakan Ama pada beberapa pekerja yang mengajak untuk minum dan makan bersama. Begitu juga dengan Neera dan Ayyub yang langsung menuju sungai untuk membersihkan lumpur di tubuh mereka.
Setelahnya mereka berlarian ke tempat Nana meskipun sudah diingatkan oleh Ayah dan Bundanya. Mereka terlalu betsemangat.
"Hati-hati sayang, du duh lihatlah cucu-cucu Nana yang ganteng dan cantik ini. Senang ya main di sungai dan di sawah ?" seru Ama pada triplets.
"Seru Nana, ada ikannya terus tanam padinya mundur-mundur hehe" jawab Qal.
"Yasudah, ayo kesini kita minum terus maam bubur dulu" ajak Nana yang disambut bahagia ketiganya.
Mereka bersama-sama makan dengan para pekerja lain. Segala tingkah polah dan kesopanan mereka tidak lepas dari penglihatan para pekerja itu yang membuat mereka terkagum atas perkembangan triplets.
Selesai menanam benih di sawah Neera memandikan triplets di sungai supaya lumpur dan tanah yang melekat di badan dan bajunya terngkat. Begitu juga dengan dirinya dan Ayyub.
Setelah itu mereka pulang ke rumah membawa serta bekas piring kotor dari bekal yang tadi di bawa Ama.
Terlihat jelas kebahagiaan terpancar dari wajah kelimanya. Meskipun mereka pulang dalam keadaan basah tetapi tawa selalu menghiasi perjalanan mereka. Sesekali pembahasan tentang binatang sawah ataupun sesuatu yang mereka lihat tadi masih terus terdengar.
Sesampainya di rumah triplets langsung mandi bersama ayahnya sementara Neera berlalu ke dapur untuk mencuci piring kotor yang dibawanya dan membuatkan susu untuk triplets.
Begitu selesai Neera langsung menyusul anak dan suaminya ke kamar mereka. Benar saja, triplets sudah selesai mandi dan tinggal berpakaian. Langsung saja Neera mengambil baju dan minyak mereka lalu memasangkan baju ketiganya.
Sementara ayah mereka masih di kamar mandi Neera membuka baju kotornya dan mengganti dengan bathrobe karena akan menidurkan triplets.
Ceklek...
Begitu pintu kamar mandi terbuka terlihatlah senyum manis terukir di wajah seorang pria tampan berperawakan tinggi.
__ADS_1
Melihat pemandangan yang ada di depan mata membuat hatinya terasa nyaman dan bahagia. Bagaimana tidak, anak dan istrinya tertidur di kasur king size dengan napas teraturnya.
Lihatlah wajah polos tanpa dosa itu, sangat menggemaskan dan tidak pernah bosan untuk dipandang. Mulut mereka yang masih bergerak menyedot susu yang kenyataannya sudah habis.
Hanya sepersekian detik sebelum pandangan Ayyub jatuh pada paha mulus istrinya dan oh tidak, lihatlah tangan nakal si kecil Qal yang menarik bathrobe bagian atas bundanya sehingga gunung putih itu terlihat menyembul sebagian.
Susah payah Ayyub menelan salivanya, bukankah ia sudah sering melihatnya tetapi tetap saja ia begitu terpesona dan malah semakin bertambah setiap harinya. Apalagi kini pikirannya sudah traveling ke bagian rasa yang diciptakan oleh bagian tubuh itu.
Ah.. begini saja sudah berdiri. Dasar burung perkutut nakal. Perlahan Ayyub berjalan menuju kasur. Melepaskan botol susu yang sudah habis dari mulut triplets dan menyelimuti mereka.
Setelah itu Ayyub mendekati istrinya dan mengecup seluruh wajah dan juga ceruk lehernya.
"Sayang... bangun yang. Gak mau mandi dulu sayang" bisik Ayyub di telinga Neera yang membuat ibu tiga anak itu melenguh karena tidurnya terganggu.
Bukannya marah Ayyub malah salah mengartikan suara tepisan istrinya. Dipendengarannya itu seperti sebuah undangan terbuka.
Tanpa menunggu langsung saja ia mencumbui wanita yang tengah tertidur itu dan membalikkannya ke arah yang berlawanan dengan triplets.
Tangan nakalnya juga sudah merayap kemana-mana. Satunya meremas squisy dan yang satunya masuk ke goa lembab yang akhirnya menyadarkan perempuan yang sedang terlelap itu.
"Astaghfirullah Uda..." kaget Neera yang terbangun dengan situasi yang memalukan.
"Kenapa sayang, hmmm. Bukannya tadi Neera yang setuju. Di bangunin buat mandi gak mau, giliran diajak enak-enak malah kenikmatan ya Uda lanjut saja" jelas Ayyub dengan muka tanpa dosa.
Sontak Neera begitu kesal ditambah malu dengan perkataan suaminya. Akhirnya wanita itu menyentak badan besar yang mengungkungnya dan berjalan cepat ke kamar mandi lantas mengunci pintunya.
Ayyub yang baru sadar dalam keterkejutannya menjadi pusing sendiri dan bergegas menuju pintu kamar mandi yang ternyata dikunci dari dalam.
"Sayang.... sayang... ayolah yang, Uda pusing nih"
"Sayang, buka pintunya yang, Uda minta maaf deh. Sayang ..."
"Sayang.., maafin Uda yang. Tapi beneran Uda pusing banget nih yang. Mana masih tegang banget sayang"
Berbagai rengekan ia sampaikan di depan pintu kamar mandi semabari gelendotan. Berharap pintu itu segera terbuka dan penghuninya akan keluar.
__ADS_1