Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 122


__ADS_3

"Assalamu'alaikum kakk..." sapa seluruh keluarganya saat panggilan video itu tersambung.


"Wa'alaikumsalaam, Alhamdulillah kakak baik. Bagaimana kabar Apa, Ama, Adek, Uni dan semuanya" sapa kembali Neera.


"Alhamdulillah kami semua baik kak" jawab mereka yang terlihat sedang berkumpul diruang tengah keluarga membuat Neera semakin rindu pulang.


"Kakak, selamat yaa. Apa kaget waktu baca berita bahwa kakak yang menjadi ketua tim penelitian itu. Lalu kami tonton beritanya ternyata beneran kakak. Apa sangat bangga nak" ujar Apa yang mulai berkaca-kaca.


"Alhamdulillah Pa, semua tidak terlepas dari do'a dan dukungan Apa dan Ama juga Ade dan Uni. Terima kasih karena selalu ada untuk Neera dan menjadi kekuatan Neera" balas Neera dengan senyuman harunya.


"Iya nak sayang, Alhamdulillah. Ama juga sangat bangga pada Kakak. Sekarang sudah jadi Profesor muda ya" canda Ama yang membuat suasana menjadi kembali ceria.


"Ahahaha iya ma Alhamdulillah, gelarnya diberi langsung oleh kepala lembaga riset dunia. Sekali lagi terima kasih Ama dan Apa sudah menjadi orang tua terbaik untuk Neera" senyum Neera sumringah.


"Ohiya kak, selamat juga untuk kesuksesan acara fashionnya. Adek dengar-dengar ada yang untung besar nih karena koleksinya sold out semua" ungkap Adek Neera yang membuat orang tua mereka kaget.


"Hah ? beneran kak ?" tanya Ama yang memang tidak terlalu mengikuti dunia fashion karena bajunya selalu disponsori si anak yaitu Neera.


"Iya Alhamdulillah ma" sekali lagi Neera mengucap syukurnya.


"Ama sama Apa harus lihat biar tau seberapa terkenalnya Zeneera kita ini" semangat Adek mengotak atik ponselnya.


Sembari Ama dan Apa menonton pertunjukkan fashion Neera mereka kembali dikejutkan oleh tampilan triplets bahkan lebih mengejutkan lagi bahwa ternyata perusahaan fashion Neera sudah kelas dunia.


"Wah, wah lucu sekali sikembar. Mana cucu Atuk itu" komentar Apa saat menyaksikan triplets berjalan di catwalk.


"Pintar sekali mereka, sama sekali tidak takut" puji Ama lagi.


"Ada Pa, mereka sedang tidur sebentar lagi juga bangun" jawab Neera.


"Pantesan ya kak, Ama kalau ngumpul sama ibuk-ibuk atau ada acara sama Apa selalu ditanyain gimana cara dapat baju ini. Ama juga bingung ternyata baju Ama branded semua haha" cerita Ama pada putrinya.


"Iya ma, Alhamdulillah ya. Rezeki kita ma" ujar Neera.


"Alhamdulillah, kakak harus banyak bersyukur, jangan lupa zakat dan sedekah ya" nasehat Apa yang diiyakan oleh Neera.


"Iya Pa, Inshaa Allah akan selalu kakak ingat. Ohiya Pa Ma, kakak berniat naik haji tahun ini. Kakak juga ingin kita semua pergi bersama, karena Apa dan Ama sudah haji apa Ama dan Ama mau pergi umrah duluan saja atau barengan saja ?" tanya Neera meminta kesediaan keluarganya.


"Kalau memang begitu kita bersama saja sekalian agak lama disana, tapi apa kakak bisa izin ?" tanya Apa mengingat bahwa itu dua bulan lagi.


"Baiklah, gimana baiknya saja. Tapi kakak sudah bilang Ayyub kan, sudah dapat izin ?" tanya Apa yang terasa menyentil Neera. Ia sejenak lupa bahwa ia memiliki permasalahan yang belum ada kejelasannya.


"Iya Pa, nanti kakak kasih tau. Sekarang beliau lagi tidak dirumah, lagi kerja Pa. Kakak lupa belum kasih tau, soalnya kakak ingatnya mendadak" alasan Neera pada Apa.


"Ingat sayang, utamakan suami. Apapun itu minta izin pada suami karena setinggi apapun pangkat kita kalau di rumah tetap suami yang jadi pemimpinnya ya sayang" nasehat Ama dengan lembut.

__ADS_1


"Iya Ma, Inshaa Allah kakak ingat, terima kasih Ama sudah ingatkan kakak" senyum Neera menanggapi Ama.


"Ohiya kak, Adek juga diajak kan kak ?" tanya si bungsu yang membuat Neera gemas.


"Tentu saja diajak, kan kakak sudah bilang sekeluarga apa adek bukan keluarga kita ya ma" jawab Neera meminta persetujuan nyonya besar.


"Iya kak, orang dia salah nemu di rumah sakit" terdengar suara cempreng yang ia tau suara si sulung yang biasa dipanggil Uni.


"Kakak sudah pulang kerja ya, dimana Reyna dan Rafa ?" tanya Neera pada kakaknya yang ikut nimbrung.


"Mereka lagi ngaji, iya nih kakak baru pulang. Wah makin glowing aja kang baju, kak kue, kak bunga, kang apa lagi ya ?" canda Uni pada Neera yang berada di sebrang benua.


"Wah, Uni gak beres nih. Gak tau aja sekarang kakak udah jadi Profesor, kalau dituntut aku gak ikut-ikutan yaa" canda Adek dengan muka pongahnya.


"Wahhhh gile-gile, kakak genjot terus ya disana. Nikmatin hidup dong jangan mikir kerja terus, gaul dong kak, cari bule keren kek disana" canda Uni yang langsung dipukul Ama.


"Kamu ya, bukannya ngajarin yang benar malah menyesatkan" kesal Ama pada anak ajaibnya yang satu itu.


"Ama sakit ih, beneran tau Uni bilang. Biar si kakak tu hidupnya variasi dikit. Gak ada rame-ramenya" omel Uni.


"Hello, hidup kakak kurang rame apanya. Gak lihat Uni sekarang kakak udah kayak pelangi" canda Neera menimpali Uni yang membuat tertawa semua orang.


"Dek, kirimin Uni tas lagi dong sama sepatu sekalian gak kasian apa tas Uni udh buluk gini. Dengar-dengar eksistensi Zane lagi naik-naiknya sekarang" pinta Uni sembari menaik turunkan alisnya lucu.


"Halah, gayanya. Giliran minta kirimin aja bawa tas yang paling jelek. Jangan percaya kak, kakak gak lihat aja koleksi tasnya udah meluber kemana-mana" sambar si bungsu yang mendapat pukulan si sulung.


"Makasih adek ku sayang yang terbaik lope, lope. Kemana lagi Uni cari adek sebaik ini therl best pokoknya. Love you muah muah" sambar Uni yang terlihat lebay dan menggelikan namun sangat menghibur.


"Bunda..." ditengah canda tawa mereka tiba-tiba saja suara lirih memanggil Neera dari arah kamar.


"Tunggu sebentar Pa, Ma, semuanya, sepertinya triplets bangun" pamit Neera.


"Iya lihatlah dulu, kasian mereka" saran Ama Neera.


Tidak berapa lama Neera kembali dengan seorang bocah kecil tampan dengan muka bantalnya.


"Hi sayanaang" sapa Uni yang duluan melihat Neera menggendong seorang balita lucu.


"Ayo sayang yang pintar, sapa dulu tu ada atuk, nana, mami dan uncu" perintah Neera pada anaknya yang masih mengumpulkan nyawa itu.


Neera memberi minum anaknya dan mengusap mukanya, sembari merapikan rambut lebatnya yang terlihat berantakan sehabis tidur.


Perlahan bocah lucu itu mulai tertarik pada layar ipad didepannya dan mulai mendekat.


"Assalam alaikum Atuk, Nana, Uncu, Mami" sapa balita kecil itu tersenyum menampakkan lesung pipinya.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam sayang" jawab semuanya ceria.


"Sudah mulai pintar ya sekarang baca salamnya cucu Atuk" puji Apa yang dibalas senyuman.


"Pintar sekali cucu Nana" Ama


"Ih gemas deh pingin gigit" Adek


"Aduh gantengnya anak Mami,kak ini yang mana ya. Qaivan atau Qeenan sih, bingung ih pada mirip semua anak kamu kak" cerocos Uni yang diamini semua anggota keluarganya.


"Aku Qee Mami" jawab Qee dengan senyum menawannya.


"Aduh, aduh... mami pinsang deh. Senyummu itu loh nak bikin lemes" gemas Uni pada si tampan Qeenan.


"Yaiya lah Ni, orang anak kakak kembaran ya miriplah" jawab Neera diantara candaan mereka dengan Qeenan.


Neera membiarkan Qeenan bercengkerama bersama keluarganya dengan sesekali menimpali. Jelas saja pesona jauh telak dibandingkan anaknya. Terbukti semenjak baby Qee habis mereka lebih tertarik mengobrol bersama anaknya itu.


Tidak berapa lama terdengar lagi panggilan lirih dari kamar mereka. Neera membiarkan Qee yang tengah asik mengobrol disana dan menyusul dua saudaranya ke kamar.


Kali ini Neera keluar lagi dengan menggendong dua balita lagi yang sialnya begitu mirip dengan baju yang sama pula.


"Nih Uni, kakak jejerin mereka semua lihat dan perhatikan baik-baik ya" canda Neera yang membuat anaknya duduk dalam satu barisan dan sedikit menjauhkan ipad agar mereka bertiga terlihat.


"Udah bangun cucu Atuk"


"Wah sudah besar semua cucu Nana"


"Aw aw tripletsnya Uncu"


"Anak mami, huaaaa gemes banget"


Semua heboh melihat triplets dengan wajah bantalnya. Bahakan mata mereka masih setengah terbuka dan rambut yang masih berantakan. Hanya Qee yang sudah agak mendingan.


Perlahan keduanya mulai membuka lebar mata mereka dan melihat ada Atuk dan Nana mereka disana membuat keduanya langsung segar.


"Assalam alaikum Atuk, Nana, Uncu, Mami" sapa keduanya masih sama dengan lesung pipinya.


Kembali semua heboh memuji dan menggoda triplets. Suasana semakin hangat saat kedua anak Uni Reyna dan Rafa ikut bergabung.


"Kak, kalau begini mah namanya copy paste, susah ngebedainnya. Kamu pulang dong sini bawa mereka biar Uni uyel-uyel tu pipi mereka satu persatu" pinta Uni yang diamini oleh seluruh keluarganya.


"Iya dong kak, kangen nih. Udah lama banget kita gak ketemu" dukung si adek yang kembali dibenarkan keluarganya.


"Iya nanti Inshaa Allah, do'akan saja ya" jawab Neera seperti biasa dengan senyuman menyejukkan.

__ADS_1


Akhirnya pagi itu mereka tutup dengan salam rindu dan kebahagiaan.


__ADS_2