Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 125


__ADS_3

Setelah mendapatkan siraman rohani dari papa dan kakak tertuanya semua orang kini kembali ke kamar masing-masing kecuali Hakim yang kini memilih ke ruangan kerjanya.


Lelaki tampan itu menekan beberapa kali layar handphone dan memanggil seseorang dengan perasaan cemas.


Dering kelima panggilan itu baru diangkat oleh orang diseberang telpon dan melegakan lelaki yang kini beranjak menuju jendela besar yang mengarah pada kolam renang yang terlihat tenang malam itu.


"Halo, Assalamu'alaikum yub" sapanya pada si penerima telpon.


"Wa'alaikumsalaam Bang, tumben menelpon jam segini bukannya disana sudah malam. Apa ada masalah ?" tanya Ayyub.


"Ada sedikit yang mau abang tanyakan, apa tidak mengganggu kesibukanmu ?" tanya Hakim memastikan.


"Tidak sama sekali Bang, memangnya ada apa ?" tanya Ayyub.


"Begini Yub, abang tau kamu sekarang sudah memiliki kehidupan sendiri tapi apakah memang tidak bisa kamu membawa kami menemui Neera ?" tanya Hakim hati-hati karena saat ini yang ia ketahui adiknya itu tengah memiliki seorang kekasih.


"Maksud Abang gimana ?" tanya Ayyub yang tidak mengerti duduk permasalahannya.


"Tolong antarkan kami menemui Neera, ada hal yang harus Abang bicarakan dengannya ?" ungkap Hakim langsung.


"Ada apa sebenarnya, kenapa tiba-tiba Abang ingin bertemu dengannya ?" bingung Ayyub.


Lantas Hakim menceritakan semua yang terjadi di rumah sedari awal mereka melihat Neera diberita hingga kesalahan masa lalu yang terungkap yang menjadi penderitaan Neera selama ini.


"Astaghfirullahaladzim, aku tidak tau selama ini dia mengalami semua itu. Aku merasa gagal menjadi suaminya" sesal Ayyub yang mendengar penjelasan Abangnya.


"Sudahlah Yub, semua sudah berlalu. Bukan kesalahan kamu saja. Bahkan Papa dan Abang juga baru mengetahui" papar Hakim membesarkan hatinya.


"Baiklah Bang, nanti Ayyub akan berusaha mencarinya" ucap Ayyub lesu.


"Abang rasa agak sedikit sulit Yub, tadi abang lihat tadi diberita sepertinya saat ini dia berada di Inggris" jelas Hakim pada adiknya.


"Baik bang" jawab Ayyub.


Tuntu saja ia tahu keberadaan istrinya, tapi kini bukan saat yang tepat untuk mengungkapkannya. Ia masih menyimpan ini untuk membuat keluarganya lebih menghargai Neera kelak karena mereka tau betapa susahnya menemui Neera.

__ADS_1


"Yasudah, kabari Abang nanti kalau sudah ada berita dan kalau bisa pulanglah. Papa dalam keadaan kurang baik sekarang" ujar Hakim.


"Iya Bang, Ayyub usahakan pulang dalam waktu dekat" jawab Ayyub.


"Baiklah, Abang tutup dulu telponnya. Assalamu'alaikum" akhir Hakim.


"Wa'alaikumsalaam" jawab Ayyub yang mengakhiri panggilan singkat itu.


Luruh sudah hati Ayyub mendapati kenyataan bahwa selama ini istrinya telah menderita di rumahnya sendiri.


Istri yang dulu selalu menyambutnya dengan senyuman, melayaninya dengan sangat baik dan selalu bertutur kata sopan itu ternyata menyimpan beban yang begitu berat.


Membayangkannya saja Ayyub tidak sanggup betapa gadis polos yang dipersuntingnya dulu telah ia bawa menuju neraka kehidupan yang bertopeng kemewahan.


Siapa sangka dibalik tubuh kecilnya Neera harus bertahan sendirian menerpa gelombang yang kian mengombang ambing hidupnya.


Rasanya Ayyub tidak memiliki muka lagi untuk menghadap istrinya, seketika ia meragu apakah ia sanggup menjaga Neera setelah apa yang dialami perempuan yang dicintainya itu.


Apakah Neera bisa bahagia bersamanya bahkan selama ini kesengsaraan yang telah ia terima. Jika diurut dari awal hingga akhir maka dapat dipastikan Neera yang selalu berjuang sendirian tanpa ada dirinya.


Masihkah layak ia menjadi pendamping hidup Neera. Bisakah Neera menerimanya sekali lagi setelah apa yang terkahir kali terjadi, kesalahan yang ia perbuat terus menyakiti istrinya.


Mampukah ia menjamin bahwa keluarganya tidak akan menyakiti Neera lagi. Bisakah ia menjadi perisai yang melindungi anak dan istrinya dan yang paling terpenting maukah Neera kembali kepelukannya saat ia yakin banyak sekali pria yang jauh lebih baik diluar sana yang mengimpikan Neera dan memperlakukan wanita itu layaknya putri.


Kenapa ia harus mengetahui kebenaran ini sekarang. Ya, meskipun ia tau wanita hebat yang menjadi istrinya itu tidak akan mau sekalipun menjelekkan orang tuanya.


Tetapi kenapa saat itu dia tidak mengatakan semuanya, Neera hanya bilang bahwa ia pergi karena dituduh melakukan perselingkuhan di hotel dan diancam oleh Vina dan keluarganya.


Bahkan tidak sekalipun ia membicarakan perihal penyiksaan yang dialaminya dirumah besar keluarga Kaisar itu.


Namun demikian, bolehkah jika ia egois kali ini saja, ia yang tidak sanggup bila tanpa Neera. Ia yang akan kehilangan arah jika Neera direnggut dan dibawa pergi.


Bagaimana ia akan bertahan sementara jiwanya sudah dicabut paksa, Neera dan triplets adalah kehidupannya. Ia tidak bisa membayangkan bila mereka harus berpisah dan selamanya ia tidak bisa menemui anak dan istrinya lagi.


Biarkanlah kali ini saja, Ayyub akan menebalkan mukanya dan ia akan bersimpuh bahkan jika perlu bersujud memohon maaf dan meminta Neera untuk tetap disisinya.

__ADS_1


Kali ini ia berjanji akan lebih mengutamakan istrinya. Lebih memperhatikan Neera dan menjaga hatinya sebaik mungkin. Ia akan membalut luka Neera dengan dirinya sendiri.


Semakin besar rasa bersalahnya semakin tinggi keinginannya untuk segera pulang dan memeluk kekasih hatinya itu.


'Tuhan bantu aku kali ini saja, beri aku dan istriku kekuatan. Satukan kami dalam simpul indah pernikahan ini. Beri kami jalan terang dalam menghadapi segala prahara rumah tangga ini. Bimbing hamba untuk menjadi suami terbaik untuk Neera dan mampukan kami menghadapi cobaan ini dengan petunjukmu. Hanya kepada Engkau kami meminta dan hanya kepada Engkau kami memohon. Tuhan seluruh Alam. Amiin' do'a Ayyub.


Sementara itu dibelahan negara lain, seorang wanita tengah terduduk merenungi permasalahan yang kini tengah menghimpit hatinya.


Tidak mungkin membiarkan masalah berlarut-larut seperti ini, bukankah selalu ini yang ia lakukan jika berhadapan dengan Ayyub.


Selalu menghindar dan lari dari permasalahan. Bertolak belakang dengan cara kerjanya menghadapi problem dikerjaan. Saat itu juga ia akan langsung menyelesaikan permasalahannya.


Mungkin rasa cinta dan takut kehilangan yang begitu besar membuatnya menjadi seorang pengecut. Sejujurnya Neera tidak sanggup jika mereka harus berpisah tapi ia juga harus menyiapkan kemungkinan terburuk.


Neera memikirkan hal ini dengan matang, menimbang baik buruknya. Jika mereka kembali bersama apakah ia sendiri bisa melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu.


Neera juga tidak bisa menjamin bahwa Ayyub tidak akan melakukan kesalahan yang sama dikemudian hari. Ia takut suatu saat hatinya sudah tidak sanggup memaafkan lagi.


Apakah keluarga Ayyub akan menerima dirinya dan triplets atau bahkan mereka mengusir kembali. Neera harus siap untuk kemungkinan itu.


Namun, jika ia memilih menyerah apakah hatinya siap untuk melepaskan. Ia harus mampu berdiri sendiri karena tidak ada lagi yang akan menopang dan melindungi mereka.


Neera juga harus memikirkan buah cintanya yang akan tumbuh tanpa sosok ayah disisi mereka. Berpisah sebulan saja sudah membuat mereka jatuh sakit akibat merindukan ayahnya. Apa jadinya jika mereka berpisah untuk selamanya.


Mungkin ia harus menghadap Sang Pemberi Petunjuk untuk mencari penyelesaikan dalam permasalahan yang dihadapinya. Memohon petunjuk keputusan mana yang harus ia ambil.


Hanya antara dirinya dan Tuhan. Rabb yang mengetahui isi hatinya. Tiada yang lain, Neera hanya menyimpannya untuk dirinya sendiri karena ia tidak ingin membebani siapapun termasuk kedua orang tuanya.


Maka malam itu ia bermesraan dan bermanja dengan Tuhannya. Diatas sajadah dalam kesunyian malam ia menengadahkan tangan menyampaikan isi hatinya. Menilik kembali dalam gumpalan perasaannya dan memohon untuk diberi kekuatan dan kesabaran.


Setelah mencurahkan segalanya kini dadanya terasa sedikit lapang, pikirannya juga lebih tenang.


Selesai mengaji Neera membereskan peralatan sholat dan menyimpan Al Qur'an kemudian melakukan serangkain perawatan kulitnya dan berbaring bersama triplets di kasur.


Hari yang melelahkan.Saatnya memejamkan mata sejenak, mengistirahatkan tubuh dan pikiran yang telah bekerja keras hari ini. Semoga hari esok lebih baik dari hari ini.

__ADS_1


__ADS_2