
Malam itu Ayyub menceritakan semua permasalahan yang tengah dihadapinya pada Neera. Memang inilah yang sering dilakukannya.
Neera adalah tempat teraman serta ternyaman untuknya bercerita. Neera adalah rumah tempat ia kembali setelah menjalani harinya yang panjang.
"Jadi begitulah yang terjadi Yang" tutup Ayyub menyudahi ceritanya.
"Qadarullah, banyak sekali permasalahan yang terjadi dalam waktu bersamaan" ujar Neera sembari masih mengusap lembut kepala suaminya dan sesekali mempermainkan rambutnya yang lebat.
"Iya sayang, kasihan sekali Bang Hakim. Kalau Uda berada diposisinya rasanya Uda tidak sanggup. Dia sangat mencintai istrinya" ujar Ayyub.
"Iya sayang, beruntung Uda langsung membawa Abang Hakim kesini. Kasihan juga kalau dia ditinggal di hotel sendirian. Walaupun begitu kita tidak bisa berbuat banyak karena ini masalah rumah tangga mereka. Kita tidak ada hak untuk ikut campur, kita cukup berada disamping Abang dan memberikan dukungan untuknya. Lagi pula pilihan yang tepat saat Uda menyewa orang untuk mengikuti Mbak Shintia, disamping dia aman sampai di rumah kita juga bisa tau apa yang kemudian dilakukannya setelah peristiwa tadi" balas Neera.
"Iya sayang, kita harus bantu Abang semampu kita. Sekarang pikiran dan emosinya sedang tidak stabil. Jadi kita yang harus memastikan keadaan sekitarnya" ujar Ayyub.
"Ya, suamiku memang yang terbaik" balas Neera menunjukkan dua jempol dan menaikkan alisnya.
"Sayang, kok Neera lucu sekali sih. Bikin gemes tau gak" ujar Ayyub sembari meraih muka istrinya dengan kedua tangan, mencium seluruh wajahnya dan diakhiri dengan gigitan di pipi mulus itu.
"Aw aw ah.. sakit Uda, hmm Uda jahat banget sih. Masa digigit pipi istrinya, dikira bakpao apa kayak orang kelaparan aja" sungut Neera sembari mengusap-usap kecil pipinya.
"Ihh..... gemes deh. Emang lagi lapar, pingin makan" ucap Ayyub sembari mencuri satu kecupan lagi.
"Kan baru makan malam, yasudah Neera ambil kue mau gak Uda ?" tanya Neera.
"Gak mau, maunya makan Neera, tapi Neera nya belum bisa disantap" celoteh Ayyub menaik turunkan alisnya.
"Ish ish ish mulutnya itu loh, malu Uda. Ngomongnya kok nakal gitu sih Uda" ucap Neera yang mulai memerah pipinya.
"Gapapa sayang, ngomongnya juga sama istri sendiri yang salah itu kalau ngomongnya sama istri orang" kelakar Ayyub yang mendapat sentilan halus di bibirnya.
"Mulut Uda nakal banget sih, bagus ngomong sana sama istri orang biar Neera pensiun aja jadi istrinya Uda" kesal Neera.
"Cieeee yang cemburu, jangan pensiun dong sayang. Kalau Neera pensiun siapa yang memenuhi kebutuhan si junior" gombal Ayyub yang sangat nyeleneh.
__ADS_1
"Udah gak ngomongnya Uda, Neera malas ah" ujar Neera yang mulai ngambek mode on. Lagian Ayyub istri lagi datang bulan pakai digangguin ya gitulah.
"Enggak, enggak sayang. Maafin Uda, gak lagi kok. Janji deh, udah dong istriku yang cantik jangan ngambek lagi ya.." bujuk Ayyub yang memeluk erat istrinya sembari menggoyangkan tubuh ke kanan dan kiri.
"Iya, tapi ngomongnya jangan gitu lagi. Perkataan itu adalah do'a, nanti malah di Aminin sama malaikat baru deh nyesal" ujar Neera.
"Iyaa... enggak lagi kok sayang. Maaf ya" bujuk Ayyub lagi.
"Hu um" gumam Neera.
"Kok hu um aja sih, senyumnya mana coba. Muka cantiknya mana ?" bujuk Ayyub lagi yang langsung mendapat muka kesal istrinya lagi.
"Gak Yang, gak jadi, gini aja udah cantik banget. Beeeh cantiknya istriku ini" ujar Ayyub gelagapan. Bisa bahaya kalau disuruh tidur di kamar sebelah.
Neera yang sebenarnya mengerjai Ayyub menjatuhkan dirinya ke dada bidang suaminya itu sembari menyembunyikan senyumnya karena sudah tidak tahan lagi melihat muka tegang bercampur khawatir dari Ayyub.
Ayyub lalu mendekap istrinya sembari mengusap lembut punggung Neera serta satu tangan lagi membelai kepala belakang istrinya sembari membetulkan rambut hitam yang menguarkan wangi lembut itu.
"Hmmm" gumam Neera masih betah diposisinya.
"Hmm gimana sayang, jawabnya yang benar dong yang" ujar Ayyub sembari menunduk melihat wajah istrinya.
"Sebenarnya waktu itu tidak bisa juga dikategorikan mengganggu. Neera hanya kurang nyaman dengan caranya mendekati Neera dan ucapannya menurut Neera sudah tidak wajar lagi kepada Neera selaku istri adik iparnya" ungkap Neera yang tidak bisa mengelak lagi.
"Maafkan Uda ya sayang. Waktu itu Uda sedang kalang kabut mengurus mama jadi Uda tidak bisa menjagamu dengan baik" ungkap Ayyub sembari memberikan satu ciuman lama di kening istrinya.
"Tidak masalah Uda, Neera bisa menjaga diri sendiri lagipula Uda juga tidak tau sebelumnya" ungkap Neera sembari menelusupkan lagi wajahnya ke dada bidang yang menjadi tempat ternyamannya.
"No no no, Uda sudah pernah bilang apa sayang, Neera lupa ya ?" tanya Ayyub menunggu jawaban istrinya.
"Jangan terlalu bergantung dengan diri sendiri, andalkan suami yang ganteng dan keren" sambung Neera membuat senyuman merekah dibibir Ayyub.
"Pintar sekali istriku" ucap Ayyub sembari memberikan kecupan dipuncak kepala Neera.
__ADS_1
"Ohiya Uda, di rumah Papa ada cctv nya gak ?" tanya Neera seakan teringat sesuatu.
"Hmmm seharusnya ada. Tapi kalau Uda tidak salah hanya Papa yang mengetahuinya tapi dulu sempat dikasih tau ke Uda" ujar Ayyub.
"Tapi seperti tidak terlihat ya, Neera saja tidak tau kalau di rumah ada cctv" ungkap Neera.
"Memang sayang, jangankan Neera Mama, saja juga tidak tau kalau di rumah ada cctv" kekeh Ayyub.
"Kenapa begitu Uda ?" tanya Neera lagi.
"Karena itu hanya di peruntukkan dalam keadaan darurat, kita semua tau bahwa pebisnis pasti ada saja saingan yang tidak suka jadi jika suatu saat nanti terjadi hal yang tidak diinginkan kita sudah punya rekaman atas kejadian apapun" jelas Ayyub.
"Mmmmm sayang, katanya Uda mau cari tau mengenai arus uang perusahaan yang menyimpang. Mana tau jika memperhatikan apa yang terjadi di rumah kita jadi bisa mendapat petunjuk" saran Neera.
Sebenarnya bukan hanya itu sasaran Neera, saat dulu ke rumah utama ia melihat sesuatu yang aneh namun tidak mungkin ia mengungkapkan langsung pada suaminya tanpa ada bukti. Lebih baik Ayyub tau sendiri dan semoga hal ini juga membantu permasalahan yang terjadi pada Abang Hakim.
"Benar juga sayang, yasudah nanti Uda akan kasih tau Papa mengenai hal ini biar nanti bisa dilihat bersama Papa" ujar Ayyub.
"Uda, apa sebaiknya tidak Uda saja yang memastikan dahulu" cegah Neera.
"Neera kenapa sih sayang, kok jadi aneh gini. Kan tidak apa-apa Papa melihat toh cuma kegiatan sehari-hari di rumah" ujar Ayyub santai.
"Uda, coba Uda pikir kesehatan Papa. Bagaimana jika nanti hal yang tidak diinginkan terjadi dan Papa ikut menyaksikan itu. Apa Uda tidak khawatir dengan kondisi Papa. Lebih baik memastikannya sendiri dahulu atau bersama Bang Hakim baru nanti beritahu ke Papa" jelas Neera.
"Iya juga ya Yang. Istri Uda memang pintar sekali. Makasih ya sayang malam ini sudah menjadi pendengar dan teman diskusi yang baik. Terima kasih karena tidak pernah bosan mendengarkan keluh kesah Uda sayang" ungkap Ayyub sembari masih setiap mengusap lembut belakang kepala Neera.
"Sudah seharusnya Uda. Ayo kita bobok, sudah malam ini" ajak Neera.
"Hayuukk...., baby nya ayah udah ngantuk ya sayang" canda Ayyub sembari berdiri yang otomatis menggendong istrinya gaya koala.
"Awwws.. sakit yang" ringis Ayyub yang mendapatkan hadiah gigitan di dadanya akibat candaan yang di lontarkannya.
Akhirnya malam itu mereka tutup sembari memberikan kehangatan menyongsong hari esok yang akan datang. Mempersiapkan energi untuk nanti berperang lagi dengan problematika hidup yang tiada habisnya.
__ADS_1