Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 189


__ADS_3

Malam itu mereka menikmati hidangan di meja makan dengan hati yang sedikit bahagia. Sore tadi Neera dan Mama sengaja turun langsung ke dapur sementara yang laki-laki sibuk bermain bersama triplets.


Semua makanan yang tersaji adalah kesukaan dari masing-masing orang. Terutama Fazreen, beberapa minggu mendekam di tahanan sudah pasti membuat makannya tidak teratur dan seperti yang terlihat sekatang, lelaki itu sangat lahap menyantap makanan yang ada di piringnya.


Berbagai menu hingga dissert merupakan kesukaan mereka sehingga tidak menunggu lama meja itu sudah bersih menyisakan piring-piring yang mulai di bereskan oleh pelayan.


Kini mereka tengah beranjak ke ruang keluarga. Fazreen yang sejatinya memang agak manja duduk di sebelah mamanya dan menyandarkan kepalanya di pundak wanita yang memang sedari kecil menopangnya.


"Ma, maafin abang ya kalau selama ini abang selalu menyakiti hati mama baik yang abang sengaja ataupun tidak" ujar Fazreen pada Nyonya Kaisar.


"Apapun Nak, selalu mama maafkan. Tidak ada kesalahan anak mama yang tidak bisa mama maafkan" balas mama sembari mengusap lembut kepala putranya.


"Begitu banyak hal yang Abang korbankan demi rumah tangga Abang dulu tapi kenyataannya karam juga Ma, Abang begitu bodoh selama ini menomor duakan keluarga apalagi Mama demi wanita seperti itu" sesal Fazreen yang didengar oleh semua orang.


"Sudahlah Nak, semua yang terjadi sudah atas kehendak Nya. Ambil pelajaran untuk kedepannya. Bersyukur Abang dikasih lihat sekarang kalau lebih lama lagi entah apa yang terjadi pada kita semua" nasehat bijak Mama pada putranya.


"Papa, Abang juga minta maaf Pa. Bukan maksud Abang bilang Papa tidak adil, rekaman yang diputar Kiki itu adalah rekaman lama saat Abang baru diangkat. Maafkan Abang juga yang lalai dalam menjalani tugas dari Papa" sesal Fazreen sekaligus menyampaikan klarifikasinya.


"Tidak apa-apa Nak, Papa mengerti perasaanmu saat itu tapi percayalah Papa punya alasan di balik semua itu. Papa selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anak Papa. Selanjutnya Abang harus lebih teliti lagi dan kenali betul orang yang bekerja dengan Abang" ujar Papa yang langsung dipeluk oleh Fazreen.


"Ohiya Yub, kamu sudah tau istri Abang selingkuh dengan Dio. Kenapa waktu itu kamu tidak bilang Abang langsung dan malah menutupinya ?" tanya Fazreen yang tiba-tiba teringat sesuatu.


"Emang Abang bakal percaya kalau Ayyub bilang saat itu, lagian juga pasti istri Abang itu bakal kabur dan kami tidak bisa mendapatkan bukti lagi dan memantau pergerakannya" santai Ayyub pada Abangnya.


"Jadi kalian sengaja memanfaatkan Abang waktu itu ?" ujar Fazreen.


"Iya, Abang kan bucin sebelas dua belas sama Bang Hakim" santai Ayyub hingga mendapatkan timpukan dari kedua saudaranya.


"Dasar, seperti kamu tidak saja" kesal Hakim yang belum puas memukul adiknya.


"Stoooop Uncle, jangan pukul Ayah. Kami pukul Uncle juga ya" sorak triplets yang tiba-tiba datang dari arah belakang bersama Neera.


"Haha kapokan kalian" ejek Ayyub dengan wajah tengilnya yang membuat kedua saudaranya semakin naik pitam.


"Lihat tuh Sayang, Ayah itu jahat dari tadi ledekkin Uncle terus" adu Hakim pada ketiga ponakannya yang sudah pasang badan di depan Ayah mereka.

__ADS_1


"Oooh, Ayah kata Bunda gak boleh ledekkin orang apalagi saudara. Ayah mau dimarahin Bunda terus di suruh duduk menerungkan diri. Ayah nakal Bunda" omel Qee pada Ayahnya yang terbengong sendiri.


"Rasain tuh, dimarahin anak sendiri makanya jangan tengil jadi orang" ledek Fazreen pada adiknya.


"Keren triplets, itu baru ponakannya Uncle. Sini sayang, besok Uncle belikan bola yang banyak lagi ya untuk di taman bermain kalian" ujar Hakim yang langsung disambut antusias ketiganya.


"Oh gitu ya triplets, kalau begitu kalian malam ini gak boleh tidur sama Ayah dan Bunda ya, tidur sana sama Uncle kalian" protes Ayyub pada buah hatinya yang sudah nangkring di pangkuan Hakim.


"Yasudah Ayah, kita bolehkan tidur sama Uncle ?" tanya Qal pada Hakim dengan wajah imutnya.


"Tentu saja dong Sayang, kamar Uncle lebih luas dari kamar Ayah kalian. Kita bisa tidur di kasur yang besar Nak" setuju Hakim yang malah senang mendapatkan teman tidur yang begitu menggemaskan.


"Neera.., kok anak kita jadi begitu ya" heran Ayyub yang mengadu pada istrinya.


"Ya salah Uda sendiri, anaknya kok dilawan ya gitulah" cuek Neera yang langsung disambut tawa semua orang yang ada disana.


"Oke, jadi malam ini kalian tidur sama Uncle ya. Janji loh, gak boleh nangis terus minta pindah ke kamar Ayah Bunda" ujar Hakim yang diangguki ketiganya.


"Abang yakin Bang, apa tidak merepotkan nanti. Mereka tidurnya kayak gangsing Bang, masih harus minum susu juga sebelum tidur" segan Neera yang takut merepotkan Hakim.


"Tenang saja Neera, Abang sudah terbiasa dengan mereka. Neera lupa ya, kan Abang lumayan lama tinggal di rumah kalian dulu. Lagian Abang senang mereka mau tidur dengan Abang, artinya mereka sudah merasa dekat dengan Abang. Jangan khawatir, sama sekali tidak merepotkan kok Dek" balas Hakim yang membuat Neera sedikit lega.


"Yasudah, ayok kita tidur triplets. Sudah terlalu malam untuk jam tidur kalian" ajak Hakim yang langsung diangguki triplets.


Ketiganya begitu senang saat Unclenya itu menggendong mereka sekaligus menuju kamar. Mereka memeluk erat pundak lelaki itu yang seketika menghangatkan hati Hakim dan sejujurnya sangat membantu mengobati lukanya. Seakan ia tidak sendirian dan selalu dilimpahi kasih sayang semua orang.


Kepergian Hakim diiringi oleh senyuman penuh makna dari semua orang disana. Mereka semua tau bahwa lelaki itu masih bersedih tapi ia selalu berusaha terlihat tegar dan menyimpan bebannya sendiri. Semoga kehadiran triplets bisa sedikit menghibur kesendiriannya.


"Lalu bagaimana sekarang rencana Abang selanjutnya ?" tanya Papa yang seketika mengalihkan perhatian mereka.


"Abang ingin menyelesaikan gugatan yang sudah di masukkan Ayyub kemarin. Abang sudah tidak mau lagi ada hubungan dengan perempuan itu dan keluarganya" jawab Fazreen seketika.


"Memang Abang tidak sedih, tidak perlu menenangkan diri dulu?" tanya Mama yang khawatir pada putranya itu.


"Buat apa Abang sedih Ma, saat dia melakukan hal keji itu di depan mata Abang saat itu juga rasa cinta Abang sudah terkikis untuknya, hanya ada penyeselan" ujar Fazreen seakan tanpa beban.

__ADS_1


Disinilah perbedaan Fazreen dan Hakim, lelaki ini cenderung rasional saat ia sudah mendapati dengan mata kepalanya sendiri. Ibaratnya mudah jatuh cinta dan mudah juga perasaannya berubah sementara Hakim kebalikan dari Fazreen.


"Tenangkan diri Abang dulu, walau bagaimana pun dia adalah orang yang sudah mendampingi Abang selama lima tahun ini" ucap Nyonya Kaisar lagi.


"Iya Ma, lima tahun yang paling Abang sesali. Abang benar-benar tidak habis pikir, apa yang ada di kepala mereka saat berselingkuh dengan orang yang sama di rumah ini. Bahkan Nola pun juga ikut-ikutan. Pantas saja saat itu mereka bertengkar di dapur, ternyata sedang memperebutkan laki-laki baj|ng@n itu" kesal Fazreen yang mengeluarkan uneg-uneg nya.


"Yah, mau gimana lagi Bang. Semua sudah terjadi. Bahkan Nola pun sudah menerima akibat dari perbuatannya. Sekarang tinggal Riezka yang entah sampai kapan akan dibodohi oleh suaminya" ujar Ayyub.


"Iya, Abang juga kasihan padanya. Namun, kita juga tidak bisa berbuat banyak. Dia begitu tergila-gila pada Dio hingga sama sekali tidak mendengarkan kita" jawab Fazreen.


"Tenang saja, Insya Allah dia akan aman. Papa sudah menyuruh orang untuk diam-diam mengikutinya dan memantau pergerakannya. Kita tidak bisa ikut campur terlalu jauh dalam rumah tangganya, biarlah ia belajar sendiri dan membuat keputusan juga untuk dirinya" ujar Papa yang diangguki semua orang.


"Syukurlah kalau begitu, Mama jadi lebih tenang. Makasih yah Pa" ungkap Mama yang lalu memeluk suaminya.


"Sudah seharusnya Ma, walau bagaimanapun dia tetap putri kita" bijak Tuan Kaisar.


"Ohiya adik ipar, sebelumnya Abang belum berterima kasih dengan benar. Sekali lagi terima kasih banyak ya atas bantuan Neera. Abang dengar Neera banyak sekali membantu dalam kasus ini" ungkap Fazreen penuh haru pada Neera.


"Sama-sama Bang, sudah seharusnya. Kita adalah satu keluarga masalah Abang masalah kita semua. Jadi kita harus berjuang bersama dan bekerja sama dalam mencari jalan keluarnya Bang. Papa juga sangat membantu, Ayyub dan Bang Hakim juga terus-terusan lembur untuk mencari bukti lain" jelas Neera.


"Iya, tetap saja Abang ingin mengucapkan terima kasih pada Neera" ujar Fazreen yang diangguki Neera dengan senyuman tulusnya.


"Kalau begitu Abang harusnya juga makasi sama triplets. Abang tau tidak, merekalah yang menemukan bukti di kamar Abang itu. Wah.., mereka memang kebanggaan Ayyub" bangga Ayyub sembari menepuk dadanya.


"Hah.. Serius ? Benaran itu ?" ungkap Fazreen tak percaya.


"Iya itu benar, kamu pikir kenapa tiba-tiba ada taman bermain di taman samping dan istal kuda di belakang rumah kita, yah itu hadiah mereka" ungkap Papa membenarkan perkataan Ayyub.


"Wah... memang luar biasa sekali ponakan Abang itu. Sepertinya Abang juga harus berpartisipasi untuk membelikan hadiah untuk mereka" bangga Fazreen.


"Kalau untuk Bundanya Bang" celutuk Neera.


"Bundanya minta saja sama Ayahnya" jawab Fazreen yang membuat Neera terkekeh.


"Dasar Abang tidak adil" sungut Neera.

__ADS_1


"Maaf adik ipar, ini khusus balita. Apa mau Abang belikan pesawat-pesawatan juga atau boneka mampang" canda Fazreen yang membuat semua orang tertawa.


"Haha dasar kalian ini, yasudah semua istirahat lah. Hari ini begitu panjang maka rehatkan tubuh kita sejenak" titah Tuan Kaisar yang diikuti oleh semua orang yang beranjak menuju kamar masing-masing.


__ADS_2