
Puas bermain seharian akhirnya mereka memutuskan untuk pulang meskipun penuh dengan drama. Bagaimana tidak, triplets yang sangat menyukai air sangat sulit untuk dihentikan walaupun bibir mereka sudah membiru dan kulit tangannya mulai keriput.
Terbayang betapa susahnya mengeluarkan mereka dari air. Saat menangkap yang satu yang lain malah kabur dan berlarian ke tengah-tengah anak lain bahkan nekat naik perosotan sendiri.
Akhirnya Ayyub terpaksa menggendong Qai dan Qee di masing-masing tangan dan Neera menggendong Qal meskipun penuh derai air mata ketiganya.
Tangis mereka begitu kencang karena tidak mau berhenti bermain. Meski bagaimanapun mereka tetap anak balita yang masih asik dengan dunianya.
Dengan perlahan Neera dan Ayyub membujuk ketiganya sembari memandikan mereka, mengeringkan badan hingga akhirnya memasangkan baju yang baru.
Ketiganya terlelap setelah diberi susu oleh Ayah dan Bundanya. Beruntung mereka membawa gendongan sehingga bisa menggendong triplets sekaligus membawa barang bawaan mereka.
Lelah sudah pasti tetapi lebih besar lagi rasa bahagia yang tengah mereka rasakan melihat tawa dari wajah triplets. Setiap orang tua pasti akan merindukan saat ini, nanti ketika anak-anaknya beranjak dewasa. Oleh sebab itu, Ayyub dan Neera tidak akan melewatkan momen tumbuh kembang ketiga buah hatinya.
Setelah memastikan triplets aman di seat carnya. Ayyub membukakan pintu untuk istrinya dan setelah itu barulah ia berjalan memutar menuju belakang kemudi.
Cukup jauh perjalanan yang mereka tempuh dari rumah. Bahkan mereka harus melewati beberapa tol untuk sampai di wahana tadi.
Namun, saat di tengah jalan tiba-tiba Neera merasa tidak asing saat melihat seorang ibu yang tengah menggendong putranya yang terlihat seperti setahun lebih tua dari triplets.
Setelah agak dekat dan memastikan Neera meminta pada Ayyub untuk berhenti. Ayyub yang masih bingung dengan maksud istrinya menuruti saja karena disini merupakan daerah yang memang sepi penduduk.
"Sayang, Uda lihat ibu-ibu itu deh kasihan sekali. Neera ingat tadi sempat mengobrol dengan ibu itu saat di waterboom" ujar Neera pada suaminya.
"Iya, terus maunya istriku tercinta ini bagaimana ?" tanya Ayyub.
"Boleh ya sayang, kita kasih tumpangan untuk ibu itu. Kasihan anaknya kepanasan, mana tidak ada taksi lagi" ujar Neera dengan wajah melasnya.
"Ada bayarannya dong" usil Ayyub sembari menaikan satu alisnya.
__ADS_1
"Muuach..." Neera mencuri satu kecupan di bibir sensual Ayyub setelah memastikan triplets benar-benar tidur.
"Huft... sayang sekali ya bunda masih lampu merah" lesu Ayyub sembari mendekatkan mobilnya pada ibu-ibu yang masih menggendong anaknya di pinggir jalan.
Saat sudah berhenti di depan ibu itu Neera membuka kaca jendelanya dan menyapa ibu itu.
"Ibu, sedang apa disini. Mau kemana Bu ?" tanya Neera lembut.
"Eh mbak yang tadi ya. Ini mbak saya lagi nunggu taksi, mau pulang ke arah kota" jelas Ibu itu.
"Wah kebetulan kita juga kearah kota. Bagaimana jika ibu bareng kita saja, sekalian ibu kasihan si abang kepanasan" tunjuk Neera pada bocah lelaki yang sedang tertidur di gendongan ibunya.
"Aduh mbak saya jadi segan, apa tidak merepotkan mbak ?" ujar ibu itu.
"Sama sekali tidak Bu, mari Bu silahkan" ujar Neera membuka pintu belakang dan mengambil Qal untuk dipangku.
Neera membiarkan car seat Qal terpasang dan mengosongkan setengah dari kursi tengah yang kebetulan sangat luas itu.
Ibu itu segera meletakkan anaknya di car seat Qal dan dia sendiri duduk disamping anaknya sementara tasnya diletakkan dikursi belakang.
Setelah memastikan Ibu dan anaknya aman, Ayyub kembali melajukan mobil ronge rover keluaran terbarunya.
"Wah, mobilnya keren sekali ya Mbak, pasti mbaknya orang berduit ya" sumringah ibu itu yang mulai kepo.
"Alhamdulillah Bu, tapi ini mobil suami saya. Saya hanya pekerja biasa" ujar Neera tetap sopan.
"Si mbak mah ada-ada aja, mobil suami ya mobil istri juga toh" canda ibu itu.
"Ohiya Bu, kenapa bisa sampai di pinggir jalan tadi" tanya Neera yang mencoba mengalihkan jiwa kepo ibu itu.
__ADS_1
Lebih baik ibu itu bergosip yang entah Neera tidak tau siapa yang diceritakan daripada harus mengulik tentang keluarganya.
"Yah.... beginilah mbak, nasib istri abdi negara. Kalau ada tugas darurat atau panggilan dari atasan maka harus selalu siap. Saya ini selalu di nomor duakan mbak, lah saingan saya sangat berat mbak" curhat ibu itu pada Neera.
"Loh memangnya siapa saingannya Ibu ?" tanya Neera penasaran.
"Ya itu mbak negara. Kan saya gak mungkin cemburu sama negara. Mau unjuk diri eh sudah kalah saing dari awal" cerocos ibu itu dengan muka sedikit kesal.
"Yang sabar Bu, katanya istri abdi negata itu wanita yang kuat, tegar dan mandiri" seloroh Neera.
"Ya ini salah satunya mbak, kuat ditinggalkan kapanpun dalam keadaan apapun" balas ibu itu disertai tawanya.
"Si mbaknya pasti gak pernah ditinggal-tinggal ya" ujar Ibu itu yang mulai kepo.
"Ya pasti lah Bu, kalau saya mah ditinggalnya berbulan-bulan Bu" ujar Neera yang malah ikutan curhat colongan.
"Kalau begitu, kita senasib ya mbak. Single fighter" ujar ibu itu diiringi tawanya.
Ayyub yang tersindir hanya diam dan mendengarkan dua wanita itu bersahut-sahut kata. Lebih tepatnya ibu itu yang bercerita sementara istrinya hanya menanggapi saja.
Cukup lama mereka berada diperjalanan hingga akhirnya mereka sampai di gedung apartemen ibu itu. Namun, sebelum ibu dan anak itu turun wanita itu kembali mencolek Neera.
"Mbak, ingat gak pasangan yang saya ceritakan tadi di kolam waterboom, itu tuh mereka. Lihat mbak, kasihan sekali kan istrinya. Diambil uangnya, dipukul di depan umum, tubuh istrinya sudah kurus begitu masih juga dianiaya di depan banyak orang. Mana gandeng perempuan lain lagi, dasar lelaki setengah buaya titisan kucing garong" omel ibu itu sembari menunjuk-nunjuk pasangan yang juga tengah menjadi pusat perhatian sekitar.
"Yasudah mbak dan masnya terima kasih atas tumpangannya. Semoga keluarganya sehat selalu dan diberi kebahagiaan. Sampai jumpa lagi ya mbak dan masnya" pamit ibu itu yang sudah menggendong anaknya sembari menyandang tas di bahu kanannya.
"Iya Bu, hati-hati. Sampai jumpa kembali" balas Neera ramah pada teman barunya yang ternyata mengasikkan itu. Terbukti membuat ia tidak dilanda bosan selama perjalanan. Biasanya ia akan langsung tertidur begitu nyender tetapi hari ini sama sekali ia tidak mengantuk.
Berbanding terbalik dengan Ayyub yang malah memasang muka datar dan dinginnya sedari awal penumpang itu masuk. Ia jadi tidak bisa bermesraan dan bercengkrama dengan istri tercintanya.
__ADS_1
"Sayang, sayang tunggu dulu. Coba lebih dekat ke arah sana" ujar Neera pada suaminya yang akan memundurkan mobilnya untuk putar balik.