Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 84


__ADS_3

Seusai mengambil absen sore Neera kembali keruangannya mendapati Ayyub yang masih setia disajadah dengan tangan menengadah merapalkan berbagai ungkapan permohonan dengan khusyuk.


Disanalah hati Neera selalu tersentuh melihat kedekatannya dengan Tuhan dan taat dalam beragama. Sosok yang mampu menenangkan meskipun ia telah menorehkan luka yang dalam dihatinya.


Entah apa yang menjadi permintaannya kali ini akantetapi ia sangat berharap terkabulnya do'a ini.


Senyum terlukis indah di bibir indah Neera sembari tiada henti mengucap syukur akan hadirnya.


Segera Neera menyelesaikan pemeriksaan laporan mahasiswa dan menempatkannya dalam suatu map kemudian merapikan kembali mejanya.


Selesai dengan ibadahnya, Ayyub dihampiri oleh Neera untuk membereskan sajadahnya. Merekapun saling bersitatap dalam yang diakhiri dengan kecupan dalam pada dahi Neera sembari Ayyub membacakan do'a dan mengusap lembut pucuk kepala istrinya.


"Semoga kamu menjadi istri yang sholeh dan dimudahkan kelak menuju syurganya, Amiin" begitulah do'a Ayyub.


"Amiin sayang, terima kasih sudah menjadi suami yang baik untuk Neera" ucap Neera yang juga mencium punggung tangan Ayyub.


Selesai dengan keharuan itu, mereka segera bersiap untuk pulang karena hari juga sudah sore.


Ayyub menggendong ketiga buah hati mereka dengan bantuan kain gendongan sementara Neera membawa tas beserta pakaian ganti mereka yang kotor.


Jadilah malam ini mereka hanya memesan makanan untuk mengisi perut di malam hari. Menu korea menjadi pilihan mereka dengan berbagai sayuran lengkap dengan buah yang sudah dikupas dan dipotong oleh Neera.


Sembari anak-anak tidur kedua pasangan suami istri itu menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga sembari berbicara dari hati ke hati.


"Sayang, Neera tau kan bahwa Uda sangat sayang pada Neera. Apapun akan Uda lakukan untuk Neera meski itu harus mengorbankan diri Uda sendiri" mulai Ayyub.

__ADS_1


"Uda, kenapa tiba-tiba bebicara seperti itu, ada apa sebenarnya" cemas Neera.


"Tidak ada apa-apa sayang, cuma Uda hanya ingin kamu tau bahwasanya apapun yang Uda lakukan semuanya demi kalian bukan keegoisan Uda semata ya walaupun dulu Uda sudah pernah melakukan hal bodoh yang akhirnya menorehkan luka dihati kamu sayang"


"Jangan diungkit lagi Uda, semua sudah terjadi di masa lalu. Katakan saja apa yang ingin Uda sampaikan" lirih Neera.


Memang benar ia sudah memaafkan akantetapi luka itu tetap ada, bukan berarti ia melupakan. Betapa sulitnya dulu ia bertahan hanya dirinya yang tau bagaimana perjuangannya membawa triplets kedunia.


"Sayang, kamu jangan marah saat Uda mengatakan ini ya" bujuk Ayyub.


"Ya, Neera akan dengarkan" balas Neera dengan mata penuh keyakinan.


"Sayang, Neera tau sendiri bahwasanya Uda memiliki orang tua dan mereka juga sangat menginginkan cucu karena bagaimanapun hingga saat ini kakak maupun adik Uda belum memiliki keturunan" jeda Ayyub yang mulai gamang.


"Sayang, walau bagaimanapun anak kita tetap cucu mereka. Uda ingin anak kita mengetahui bahwa mereka juga memiliki kakek dan nenek begitupun dengan keluarga Uda, agar silaturrahmi mereka tidak terputus jika suatu saat mereka bertemu" jelas Ayyub.


Neera masih setia dengan kebisuannya, jujur saja banyak kekhawatiran dirinya entah itu takut triplets akan diambil ataupun yang lebih buruk penolakan dari keluarga besar Ayyub terhadap anaknya. Tidakkah itu akan semakin menyakiti mereka.


"Sayang, kamu harus ingat umur siapa yang tau. Uda ingin memberitahu orang tua Uda agar tidak ada penyesalan nantinya. Bagaimanapun mereka tetap garis keturunan kakek dan neneknya. Entah itu esok atau nanti mereka atau kita meninggal tidak ada yang tau sayang, ini rahasia Tuhan"


"Jadi Uda mohon, berikan Uda satu kesempatan lagi untuk memperbaikinya. Semua terjadi juga karena kelalaian Uda, Uda meminta sama Neera biarkan Uda menyelesaikan benang kusut yang masih belum terurai"


"Kamu sendiri juga sudah lama tidak pulang kampung, apakah istri Uda ini tidak rindu kampung halamannya. Sampai kapan kita lari dari masalah sayang, bukankah seharusnya kita menyelesaikannya bukan malah meninggalkannya agar kedepannya tidak ada lagi kekhawatiran di hati istri Uda yang cantik ini"


"Lagi pula, apakah Neera tidak kasihan terhadap triplets. Mereka juga ingin mengunjungi Atuk dan Nana dikampung bundanya tetapi selalu tertunda. Kita beri mereka semua kesempatan untuk bahagia, ya sayang?"

__ADS_1


Neera terdiam memikirkan penuturan dari suaminya yang walau bagaimanapun benar adanya. Lama Neera termenung menimbang baik buruknya sembari elusan lembut pada punggung tangannya yang semakin menghangat hingga terdengar helaan napas panjang itu.


"Tapi apapun yang terjadi Neera tidak ingin anak Neera yang menjadi korbannya, mereka sama sekali tidak boleh terluka" tegas Neera yang sudah mulai berkaca-kaca.


Ya sebesar itulah rasa cinta kasih dan sayang Neera pada buah hatinya. Bahkan nyamuk pun tak akan ia izinkan untuk sekedar mendekat pada mereka apalagi hal yang besar nantinya.


"Hei..., tenanglah sayang. Mereka juga anak Uda, jika ada hal yang akan menyakiti mereka Uda yang akan maju ke garda depan. Apapun akan Uda lakukan untuk memastikan mereka bahagia tanpa luka"


"Begitu besar cintamu pada anak kita, sungguh Uda beruntung memiliki istri seperti kamu sayang. Uda yakin jika kita punya anak lagi pasti mereka juga akan sangat bahagia memiliki bunda seperti kamu" ucap Ayyub yang mulai tersenyum jahat.


"Eh ?! maksud Uda apa ?" kaget Neera yang salah fokus dengan kalimat terakhir Ayyub.


"Ya bagaimana jika kita punya anak lagi sayang ?" pinta Ayyub dengan senyum bodohnya.


"Uda selesaikan saja masalah ini dulu, pakai segala mau nambah anak lagi. Bukannya Uda mau menyelesaikan benang kusut yang tadi kalau disibukkan mengurus bayi lagi apakah benangnya akan selesai. Lagian rezeki anak itu rahasia Tuhan, kita hanya bisa berdo'a. Toh Neera juga tidak pernah memakai KB" omel Neera.


Bagaikan senjata makan tuan, Ayyub seperti didepak oleh perkataannya sendiri. Sugguh ia ingin Neera hamil lagi. Ia ingin menjadi ayah siaga yang mendampingi kehamilan istrinya dan memenuhi segala idaman. Terlebih lagi ia ingin mendampingi proses kelahiran anak mereka nantinya seperti cerita beberapa temannya.


Memang benar Neera tidak pernah menggunakan perencana kehamilan tetapi istrinya itu memberi jatah juga sesuai dengan tanggal dirinya tidak subur alias tanggal aman Neera dan lagi pula rasio percintaan mereka juga terbatas baik karena pekerjaan Ayyub maupun adanya triplets ditengah mereka.


'Memiliki istri yang terlalu pintar juga sulit untuk diatasi, apalagi dalam hal ini jelas Neera lebih paham. Nasib' batin Ayyub.


Neera bukannya tidak ingin untuk memiliki anak lagi tetapi dengan keadaan mereka sekarang rasanya ia belum sanggup untuk menjalaninya. Sifatnya yang perfectionis menginginkan segala yang terbaik bagi mereka kelak, oleh karena itu ia harus mempersiapkan situasi dan kondisi yang baik untuk kehadiran mereka.


Meskipun demikian Neera tidak akan menolak jika rezeki itu datang padanya akantetapi ia belum ingin untuk mengikuti program hamil dalam waktu dekat.

__ADS_1


__ADS_2