Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 104


__ADS_3

Akhirnya pergulatan kasarpun terjadi di atas ranjang mereka dan berakhir dengan Ayyub yang memandikan istrinya dengan sabar.


Setelah itu dengan penuh kelembutan Ayyub mengeringkan tubuh istrinya dan membawa Neera ke ranjang mereka dan memeluknya.


Perlahan air mata Neera terjatuh dengan tatapan nanar. Ternyata hatinya tidak sekuat itu, setelah merasakan pelukan hangat dan kenyamanan yang ditawarkan Ayyub membuat pertahanannya runtuh seketika.


Ayyub membiarkan Neera melepaskan segala sakit dihatinya, menumpahkan beban yang selama ini dipendamnya. Tangan kekar itu membawa Neera lebih dalam menuju dekapannya.


Merengkuh posesif bak porselen yang takut akan tergores apalagi pecah. Ia benamkan tubuh mungil istrinya dalam kungkungan tubuh besar dan kekar miliknya. Seakan memberikan perlindungan dan keamanan sehingga tidak ada yang perlu ditakutkan lagi.


Tetapi justru itu yang membuat Neera semakin takut. Semakin ia terhanyut semakin ia berkubang dalam limpahan perasaan butuh itu sehingga suatu saat hilang ia akan terburai layaknya gelas yang tinggal serpihan saja.


"Kenapa sayang ?" tanya Ayyub lembut sembari membelai belakang kepala Neera yang malah membuat tangisannya kian menjadi.


Sejam Ayyub membiarkan Neera menangis dan akhirnya kini tinggal sedu sedan yang dihiasi hidung merah dengan leleran air mata dan ingus.


Dengan sabar Ayyub menghapus dengan lengan bathrobe yang ia pakai setelahnya menekan hidung Neera untuk mengeluarkan ingusnya. Tanpa perasaan jijik sedikitpun Ayyub mencari tisu yang ternyata ada di nakas disudut ranjang yang dari tadi tidak terpikirkan olehnya.


Segera Ayyub menjangkau benda putih itu dan kembali mengusap lembut wajah Neera.


Tidak lupa juga Ayyub memberikan kecupan hangat dan belaian di wajah yang sudah basah oleh keringat dan air mata itu.


Dengan menyandarkan tubuh Neera didadanya. Ayyub menggenggam tangan kecil itu dan menciumi puncak kepalanya yang kini berada dibawah dagunya.


Tinggi mereka yang terpaut jauh membuat Ayyub leluasa akan tubuh Neera. Hal inilah salah satu yang ia senangi dari tubuh istrinya seakan ia bisa memberikan perlindungan penuh atas perempuan yang berada dalam dekapannya itu.


"Sayang, sekarang bisakah kamu cerita ada apa. Apa Uda ada salah sama kamu ?" tanya Ayyub lembut.


"Lihat, kamu sampai nangis kayak triplets gini" sambung Ayyub dengan sedikit candaan.


Neera yang telah menguasai dirinya dan mendapati pertanyaan itu segera memutar sedikit wajahnya dan mendongak menatap mata elang suaminya.


"Siapa perempuan di NY itu ?" tanya Neera dengan tatapan rapuh disertai cebekkan yang nyaris menjadi tangisan jika saja ia terus bertanya.


Ayyub yang melihat tatapan itu menjadi terenyuh dan sakit menghujam seketika didadanya. Wajah Neera yang persis seperti anak kecil yang hendak menangis ketika tidak mendapati keinginannya membuat Ayyub mengerti betapa istrinya adalah seorang perempuan rapuh tanpa daya.


Dengan lembuat Ayyub membelai wajah Neera dan memberikan kecupan singkat dibibir merah merekah akibat tangisan itu. Tatapan lembut ia berikan seakan mengartikan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Dia Hanna, wanita yang dibawa mama waktu liburan ke NY dan meminta Uda untuk menemaninya" lirih Ayyub.

__ADS_1


"Tapi dia dijodohkan sama Uda kan ?" tanya Neera disertai luruhnya air mata dari mata indahnya.


Mungkin inilah yang dimaksud feeling seorang istri tanpa diberi tahupun mereka sudah mengetahui itu.


"Iya sayang, mama memang mengusahakan itu tetapi Uda memiliki perjanjian dengan mama bahwa Uda mengikuti kemauan mama untuk menemani Hanna saat itu dan gantinya mama akan menuruti kemauan Uda setelahnya mama juga berjanji tidak akan memaksakan kehendaknya jika ternyata dalam waktu liburan kemarin Uda tidak tertarik dengan Hanna." jelas Ayyub tanpa keraguan.


"Tapi Uda terlihat nyaman saat bersamanya" satu lelehan lagi tumpah dimata bening istrinya menandakan begitu terlukanya perempuan dalam dekapannya.


Disinilah Ayyub terdiam, ia menyadari kesalahannya bahwa tidak seharusnya ia terhanyut dalam hubungannya dengan wanita lain meskipun itu hanya pertemanan.


Ada hati yang mesti ia jaga, ada keutuhan yang tidak boleh ia kurangi dan ada rumah tangga yang tak boleh ia rusak.


"Tapi saat itu Uda hanya menuruti kemauan mama sayang, Uda sama sekali tidak tertarik padanya. Cinta Uda hanya kamu satu takkan mungkin bisa Uda berpaling sayang" jelas Ayyub dengan nada permohonan dan pengharapan.


"Apapun alasannya bukankah Uda tau bahwa tidak baik laki-laki dan perempuan tanpa hubungan mahram atau pernikahan melakukan hal seperti itu. Bersentuhan dengan sengaja, bergelayut manja atau bahkan berpelukan" jelas Neera.


"Sumpah demi Tuhan sayang, Uda tidak melakukan hal itu. Uda tidak pernah berpelukan dengannya hanya membiarkan dia memegang tangan Uda" jelas Ayyub bersungguh-sungguh.


Saat itu Ayyub tersadar Neera mengetahui semuanya bahkan malam itu ia mengecek bahwa Neera juga tinggal dihotel yang sama.


"Sayang.., kamu lihat semua itu ?" tanya Ayyub ragu sembari memperhatikan wajah Neera.


Anggukan lemah yang ia dapatkan disertai tumpahan air mata yang terus keluar dari mata istrinya seakan tidak pernah habis semenjak tadi.


"Jadi karena itu kamu dan anak-anak pergi selama seminggu itu dan ini juga alasan kamu menghindari Uda seminggu ini ?" tanya Ayyub yang kembali mendapatkan anggukan.


"Ya Allah sayang....., Uda takut sekali kalian pergi lagi sampai Uda mengambil jadwal full agar bisa menemukan kalian. Uda sudah putus asa mencari kalian. Bagaimana bisa kamu melakukan ini semua. Bahkan Uda melihat semua jadwal penerbangan dan penginapan tetap tidak bisa menemukan kalian" desah Ayyub sembari memeluk erat tubuh Neera seakan menunjukkan betapa takutnya ia kehilangan istrinya.


Neera hanya bisa diam menanggapi ucapan suaminya. Seperti dugaannya, ternyata benar suaminya itu melakukan hal yang sudah dibayanhkannya beruntung ia sudah memperhitungkan semua dengan magang.


"Jadi kemana kalian pergi saat itu ?" tanya Ayyub sembari membelai lembut pipi Neera.


"Rahasia" jawab singkat disertai senyuman yang membuat Ayyub gemas dan mengecup bibir istrinya.


"Kenapa tidak mau dikasih tau, bahkan triplets pun juga bungkam" lirih Ayyub dengan tatapan lembutnya.


"Biar nanti bisa kabur kesana saat Uda berulah lagi" balas Neera cengengesan yang mendapatkan tatapan tajam Ayyub.


"Uda tidak akan pernah membiarkan itu terjadi lagi" tegas Ayyub.

__ADS_1


"Kalau begitu berjanjilah untuk tidak berulah lagi" sambung Neera sembari menatap mata Ayyub.


"I promise tak akan lagi" ucap Ayyub dalam seakan menunjukkan kesungguhannya.


"Baiklah, berjanjilah pada diri sendiri dan Allah" tungkas Neera.


"I promise sayang, tolong percaya Uda kali ini saja" yakin Ayyub.


"Oke, let's see. No more after this" pungkas Neera.


Menatap dalam mata istrinya Ayyub seakan dipenuhi rasa kebahagiaan melihat sosok perempuan yang sangat dicintainya itu. Tatapan memuja bercampur kerinduan menjadi sebuah sinar cinta yang tiada habisnya.


"Kenapa melihat seperti itu ?" tanya Neera yang masih setia dalam dekapan suaminya.


Bukannya mendapatkan jawaban malah ciuman yang ia miliki untuk balasan. Ciuman yang penuh cinta dan kerinduan, sangat lembut dan menyentuh bukan seperti tadi yang penuh gairah.


Mengingat hal tadi membuat Neera meradang dan melepaskan ciuman mereka.


"Kenapa sayang ?" tanya Ayyub sembari mengelap bibir Neera sisa saliva mereka.


"Jangan lagi seperti tadi" ungkap Neera dengan nada kesal yang malah membuat Ayyub semakin gemas.


"Seperti tadi gimana ?" pancing Ayyub dengan senyum nakalnya.


"Pokoknya seperti tadi Neera takut" jelas Neera yang mukanya kembali memerah.


"Bukannya nikmat sayang" goda Ayyub yang mendapatkan dengusan Neera.


Tidak bisa ia pungkiri penyatuan mereka tadi memberikan sensasi tersendiri bagi Ayyub. Serasa mendapatkan permainan baru yang menggelitik jiwanya.


"Baiklah, tapi tidak janji sayang" balas Ayyub yang setelahnya menghujani Neera dengan kecupan di wajahnya sehingga membungkam mulut kecilnya dan mengalihkan pikirannya.


Untuk hal satu itu jelas saja Ayyub tidak akan bisa berjanji bahkan ia berencana mengulanginya lagi saat nanti diwaktu yang tepat. Melihat wajah marah, kesal, namun penuh ketakutan dari istrinya membuat jiwa kelelakiannya terasa mendominasi dan inilah efeknya Neera terlihat lebih leluasa mengeluarkan sifat manja dan rapuhnya dihadapan Ayyub bahkan lebih terkesan seperti anak kecil membuatnya semakin gemas dan aura perlindungannya semakin menguar.


Bukan lagi Neera yang tegar dan mandiri. Neera yang kuat dan bisa melakukan apapun sendiri. Ternyata pertempuran mereka diranjang dalam artian sebenarnya memberikan dampak yang berbeda dalam rumah tangganya. Mungkin inilah salah satu cara penyelesaian masalah dan pelepasan emosi yang disarankan dalam hubungan suami istri.


"Sekarang tidurlah, kamu pasti lelah saat ini" lembut Ayyub sembari merebahkan badannya dan juga Neera.


Dengan posisi telentang Ayyub menarik tubuh mungil istrinya untuk menindih sebelah tubuhnya dan membawa Neera dalam dekapannya. Membelai lembut surai indah itu hingga mata yang bengkak akibat tangisan menutup sempurna menuju alam mimpi.

__ADS_1


Begitupun dengan Ayyub setelah memastikan istrinya tidak ia mencium dalam puncak kepala Neera dan menghirup aroma yang sangat ia rindukan itu bersamaan dengan itu ia menutup mata untuk mengistiratkan lelahnya.


'Semua sudah berakhir untuk hari ini, semoga rumah tangga kita akan terjaga selamanya meskipun nanti akan banyak halangan dan rintangan yang harus kita lewati' batin Ayyub sebelum benar-benar terlelap.


__ADS_2